
Ari pulang ke rumah Widya dengan wajah lesu, kejadian hari ini benar-benar diluar dugaan. Widya yang melihat Ari kembali lagi ke rumah merasa heran.
"Lho, Mas... kenapa kok pulang lagi?" tanya Widya.
"Aku di rumahkan karena masalah itu."
"Apa? Kok bisa? Terus sekarang bagaimana? Kita butuh banyak biaya buat lahiran, Mas. Kalau kamu nggak kerja nanti gimana?"
"Kamu sabar dulu, ini cuma sementara. Nanti aku akan bicara lagi dengan pihak kantor, sementara itu biarkan gosip ini mereda terlebih dahulu."
"Ini semua gara-gara Nazwa, kenapa dia harus sebarin video itu ke kantor. Pasti dia sengaja mau balas dendam!" ujar Widya .
"Wid, kamu bisa nggak sih introspeksi diri? Nazwa Nggak akan seperti itu kalau kamu tidak mulai duluan, kenapa juga kamu harus sebar gosip tentang dia? Kamu tahu posisi dia sekarang sebagai apa di kantor, dia bukan lawan yang seimbang untuk kita!" kata Ari.
"Ya habisnya aku kesal, Mas... Dia selalu cari alasan untuk dekat sama kamu, aku lagi hamil dan butuh kamu!"
"Wajarlah kalau dia ingin dekat denganku, dia masih istriku. Kamu egois kalau mau terus sama aku, dari awal kita sudah sepakat dan kamu setuju untuk berbagi. "
"Itu kan dulu, Mas... Aku nggak mau berbagi sama siapapun, anak kita butuh kamu!!"
Kedua pasangan itu saling berdebat, Widya selalu menggunakan kehamilannya sebagai alasan. Sementara Ari masih mencoba untuk menasehati Widya yang berujung Ari mengalah akan perdebatan itu.
.
.
Keesokan paginya saat Nazwa baru saja tiba di kantor, langkahnya terhenti saat seseorang menghadangnya. Widya berdiri di depannya menggunakan kacamata dan selendang yang menutupi kepalanya.
"Wah pagi buta seperti ini aku sudah kedatangan tamu ya," kata Nazwa.
"Nazwa, jangan jadi perempuan yang angkuh! Gara-gara kamu suamiku kehilangan pekerjaannya, apa kamu masih belum puas juga?" tanya Widya.
"Belum! Aku akan terus seperti ini sampai dia mau menandatangani surat cerai. Jadi kalau kamu mau aku berhenti, maka buatlah ia segera tanda tangani surat itu!" kata Nazwa.
__ADS_1
"Jadi kamu..."
"Tapi wajar sih kalau dia tidak mau pisah, karena ada pepatah yang mengatakan 'Jika seorang pemain hanya mencari kenyamanan di luar tanpa berniat meninggalkan pusat demi selingkuhan' kamu paham itu?"
"Kurang ajar kamu ya!" Widya mengangkat tangan hendak menampar Nazwa, tetapi Nazwa berhasil menangkap tangannya.
"Jangan berani coba-coba menamparku! Aku tidak pernah main kekerasan, tapi kalau kamu memaksa, baiklah!" ucap Nazwa.
Tiba-tiba Nazwa melepaskan tangan Widya dan ia menjatuhkan diri ke lantai seolah baru saja di dorong oleh Widya.
"Aaww!! " pekik Nazwa membuat orang di sekitar kantor memperhatikannya.
"Bu Nazwa, ada apa? Ibu nggak apa-apa?" tanya karyawan perempuan yang membantu Nazwa bangun.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih. "
Kemudian karyawan perempuan itu melihat wanita dihadapan mereka dan tahu jika itu adalah Widya.
"Kamu masih berani datang ke sini? Nggak tahu malu! Sudah merebut suami orang, sekarang malah mau mencelakakan istri sahnya!" kata karyawan perempuan itu.
...****************...
"Na, kamu serius mau kita pisah? Aku masih mencintai kamu, " ucap Ari saat bertemu Nazwa di sebuah restoran.
"Aku tidak peduli, Mas. Harusnya ini kulakukan sejak awal, tapi aku bertahan karena ingin membalas semua perbuatan kalian. Sekarang semua tujuanku sudah tercapai artinya sudah waktunya aku mengakhiri semua permainan ini."
"Kenapa kamu berubah seperti ini, Na? Apa kamu tidak ingat bagaimana Waktu kuliah dulu kita saling mencintai? Kita berjuang sama-sama untuk bisa selesai kuliah, apa kamu sudah melupakan hal itu?" tanya Ari.
"Aku tidak lupa, Mas... Aku nggak akan pernah lupa setiap hal yang pernah kita lakukan dulu, tapi perlakuanmu sungguh telah membuatku kecewa dan aku tidak bisa menjadi Nazwa yang dulu.. Kamu yang terlebih dahulu meninggalkan aku dengan memilih berkhianat," kata Nazwa.
"Maaf, Na... Maafkan aku, kumohon beri aku satu kesempatan lagi dan aku berjanji akan bersikap adil pada kalian berdua!"
"Aku sudah memaafkanmu tapi aku tidak bisa lagi kembali bersamamu apalagi memberikan kesempatan. Selingkuh itu penyakit, sekali sudah dilakukan maka selanjutnya akan ada perselingkuhan lagi. Dan aku tidak mau dikhianati lagi."
__ADS_1
"Lepaskan aku, Mas... Biarkan aku melanjutkan hidupku, aku juga berhak bahagia.. " lanjut Nazwa.
Ari menangis mendengar perkataan Nazwa, wanita yang dulunya begitu ia cintai bahkan selalu ada dan ikut berjuang dalam sebagian perjalanan hidupnya, kini wanita itu akan pergi dari hidupnya. Ari hanya bisa menyesali semua perbuatannya.
Dengan berat Hati Ari mengambil Pulpen di atas meja dan membuka map yang dibawa Nazwa, air matanya kembali jatuh saat melihat namanya dan Nazwa di atas surat cerai. Perpisahan di antara keduanya sudah tidak bisa lagi dihalangi, akhirnya Ari menyerah dan menandatangani surat cerai.
"Terima kasih sudah mempermudah proses perceraian kita, Semoga kamu dan istri barumu itu selalu hidup dipenuhi dengan kebahagiaan.." kata Nazwa .
Tak lama kemudian Iqbal muncul dan mengajak Nazwa pulang. "Sudah selesai? "
"Sudah, ayo kita pulang!"
Ari terkejut melihat kedatangan dokter Iqbal dan mengajak Nazwa pulang. Ia tidak terima melihat kedekatan keduanya dan menghalangi kepergian Nazwa.
"Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa selalu ada dia diantara kita, kenapa kamu harus mengajaknya?" tanya Ari.
"Kalau begitu kenapa kemarin ada Widya dalam rumah tangga kita? Sudahlah, Mas.. Kamu Sudah menandatangani surat cerai dan soal Iqbal aku yang mengajaknya. lebih baik sekarang kamu fokus saja pada anak kamu, aku permisi dulu.." Nazwa menggandeng tangan Iqbal terang-terangan di hadapan Ari dan berlalu pergi begitu saja.
Sebagai laki-laki Arisangat terluka egonya melihat hal itu, ternyata sesakit ini rasanya ketika melihat seseorang yang kita cintai lebih memilih pergi bersama orang lain.
.
.
"Bal, Maaf tadi aku terpaksa gandeng tangan kamu."
"Tidak apa-apa, Na.. Aku senang bisa membantumu, sekarang lebih baik kita cari tempat untuk menenangkan pikiran saja!" kata Iqbal sambil tersenyum.
"Tapi kemana?" tanya Nazwa.
"Sudah, kamu ikut saja dijamin nanti kamu bakalan suka setelah melihat suasananya... "
"Baiklah, Pak Dokter. Aku akan percaya sepenuhnya kepada anda," kata Nazwa dengan nada bercanda.
__ADS_1
Pagi itu Iqbal membawa Najwa jalan-jalan menuju puncak, hal itu ia lakukan untuk menghibur sahabatnya itu. Iqbal paham betul Nazwa pasti akan langsung kepikiran setelah ia nanti kembali ke rumah maka dari itu ia akan membawa Najwa untuk menjernihkan pikiran sejenak.