Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 38


__ADS_3

Bella dan kedua orang tuanya sudah siap untuk berangkat ke kampung, mereka akan pergi setelah Ari berangkat ke kantor. Bella tidak mau berpamitan dengan pria itu, pasti ia akan menggunakan segala cara untuk menghalangi kepergian mereka.


"Bu, terima kasih banyak sudah menerima putri kami untuk kerja di sini.. Maaf kami harus membawanya pulang ke kampung, " ujar Ibu Bella.


"Iya, Bu, sama-sama. Saya senang dan sangat terbantu sejak adanya Bella di sini, semoga setelah ini Bella mendapat pekerjaan yang lebih baik dari ini. Terima kasih ya, Bel.." kata Widya.


Bella berjongkok dan memeluk Widya, rasa haru menyelimuti mereka. Meskipun baru beberapa bulan Bella bekerja di sana, mereka sudah sangat akrab. Widya Sudah seperti seorang kakak bagi Bella.


"Ibu jaga kesehatan ya, obat dan vitamin juga harus di minum. Nanti kita akan video call terus pokoknya... Abizar, kakak pergi dulu ya.. Nanti kita jumpa lagi," kata Bella lalu mencium pipi Abizar.


Setelah berpamitan mereka langsung naik taksi menuju stasiun kereta api. Hari itu juga suasana rumah Widya menjadi sangat sepi, hanya ada Widya dan Abizar. Suster pengganti Bella belum datang. Meski Widya tahu alasan Bella berhenti, tapi ia takut untuk mempertanyakannya. Widya tak punya cukup keberanian untuk bertanya pada Bella, ia takut apa yang dulu ia perbuat akan terjadi pada hidupnya. Widya tidak sanggup jika Ari akan direbut oleh orang lain.


Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil masuk ke pekarangan rumah, Widya sudah tahu kalau itu adalah suaminya. Tapi untuk apa Ari pulang jam segini?


Ari terburu-buru masuk ke dalam rumah seperti mencari sesuatu, ia menatap sekeliling rumah.


"Ada apa, Mas? Tumben jam segini kamu pulang?" tanya Widya.


"Tidak ada apa-apa.. Berkasku sepertinya ketinggalan. Oh iya, kok rumah sepi?" sahut Ari.


"Bella Sudah pulang ke kampung halamannya bersama orang tuanya, katanya di kampung akan ada acara. Mereka tidak sempat berpamitan sama kamu," ucap Widya.


Widya Sudah menduga maksud kepulangan Ari, hatinya terluka saat suaminya mencari keberadaan wanita lain di rumahnya. Meski begitu Widya tetap mencoba terlihat tenang dan tidak tahu apapun.


"Kenapa mereka tidak menungguku? Dan kamu kenapa tidak menelepon aku kalau mereka akan pulang hari ini?" tanya Ari.


"Tadi aku sudah mau menelepon kamu tapi kata mereka tidak perlu, mereka titip salam saja karena tidak ingin merepotkan kamu."

__ADS_1


Ari terduduk di sofa ruang tamu, ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan dan itu terlihat jelas oleh Widya.


"Kamu kenapa, Mas? Tidak jadi ambil berkas?" tanya Widya lagi.


"Tidak, aku akan kembali ke kantor saja."


Ari langsung pergi begitu saja tanpa kalimat basa-basi pada Widya.


"Sepanik itu kamu ditinggal oleh Bella, Mas? Kamu pikir aku tidak tahu alasan kamu yang tiba-tiba saja pulang... Dasar munafik!" umpat Widya


...----------------...


Ari mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat ini tujuannya adalah stasiun kereta api. Ari masih berharap Bella masih ada di sana, pria itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia sudah terobsesi oleh Bella sampai seperti itu. Setibanya di stasiun Ari segera berlari mencari keberadaan Bella. Ari mengelilingi seluruh penjuru stasiun tapi hasilnya nihil. Bella Sudah pergi dan kereta nya sudah berangkat sejak 10 menit yang lalu.


Ari mengacak rambutnya merasa frustasi karena tidak berhasil menghentikan kepergian Bella.


...----------------...


"Bella tahu dia akan mencari kita, Bu.. Tapi seperti rencana kita sebelumnya, untuk sementara kita akan tinggal di kampung sebelah supaya dia tidak bisa menemukan kita. Bella benar-benar takut, Bu."


"Kamu tidak perlu merasa takut, Nak! Bapak sudah menghubungi pamanmu, dia sudah urus semuanya di kampung, " sahut Bapak.


Bella merasa lega mendengar perkataan bapaknya, sejak Ari membawa kedua orang tuanya ke kota, besar kemungkinan jika Ari juga akan menyusulnya ke kampung. Bella tidak ingin terlibat apapun dengan Ari, bahkan sebisa mungkin ia harus menghindar dari pria itu.


...****************...


Nazwa dan rekan kerjanya yang lain sedang menunggkmu kedatangan Ari. Entah kemana pria itu tiba-tiba saja menghilang disaat rapat penting akan segera dimulai. Nazwa berulang kali mencoba menghubungi tetapi Ari tidak juga menjawab teleponnya.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Bu? Klien kita sudah menunggu sejak tadi, mereka bilang setelah ini masih ada urusan, " tanya asisten Nazwa.


"Pak Ari masih tidak bisa dihubungi, entah kemana dia pergi disaat penting seperti ini.." kata Nazwa.


Nazwa dan rekan yang lain merasa kesal dengan ulah Ari,klien penting pun sudah tidak sabar lagi menunggu karena harus ada pertemuan lain. Dengan berat hati akhirnya rapat itu dibubarkan tanpa adanya kesepakatan. Perusahaan mereka terancam gagal mendapatkan proyek besar.


Di sisi lain Ari terlihat sangat kesal, ia pun membuka ponselnya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Nazwa dan beberapa rekan kerjanya. Ari baru ingat Jika ia baru saja melewatkan meeting penting bersama klien. Ari segera memutar arah dan Kembali menuju kantor.


Setibanya di kantor Ari segera berlari menuju ruang rapat, dan ia melihat tidak ada siapapun di Sana hanya ada office boy Yang Sedang membereskan meja.


"Kemana yang lain?" tanya Ari.


"Bapak baru datang? Rapatnya sudah dibubarkan 10 menit yang lalu, Pak.. Dan Bapak diminta untuk segera menghadap Bu Nazwa," jawab OB tersebut.


Ari menepuk jidatnya sadar apa yang telah ia lakukan, Nazwa Pasti akan sangat marah padanya mengingat ini adalah rapat yang sangat penting. Apalagi Nazwa memiliki sifat yang tegas jika menyangkut soal pekerjaan, Najwa tidak ingin ada yang teledor dalam menangani pekerjaan di kantor. Kali ini Ari bersiap jika harus dimarahi oleh mantan istrinya itu.


Ari mengatur nafas sejenak dan mengetuk pintu ruangan Nazwa, setelah terdengar sahutan dari dalam barulah Ari masuk.


"Masih ingat rupanya dengan alamat kantor? Saya kira anda sudah lupa," ucap Nazwa dengan nada dingin.


"Maaf, Na.. Tadi aku ada urusan mendadak jadi aku harus pergi, " kata Ari.


"Saya tidak perduli dengan urusan anda, yang saya pedulikan adalah anda harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang sudah saya berikan! Gara-gara anda, perusahaan kita terancam tidak bisa mendapatkan proyek ini!"


"Iya aku tahu aku salah, tapi ini pertama kalinya aku buat kesalahan di kantor. Tolong maafkan aku, Na."


"Pokoknya saya tidak mau tahu, bagaimanapun caranya anda harus bisa mendapatkan proyek ini untuk perusahaan kita. Jika tidak, silakan Anda buat surat pengunduran diri dari sini!" tegas Nazwa.

__ADS_1


__ADS_2