
2 Bulan sudah berlalu tetapi masih belum ada keputusan dari hakim soal perceraian antara Nazwa dan Ari, sebab Ari selalu datang ke persidangan dan menolak untuk berpisah dari Nazwa. Hakim telah berulang kali bertanya pada Nazwa Apakah ingin memberikan kesempatan untuk hari Tetapi jawaban Nazwa tetap sama, ia tidak ingin memberikan kesempatan itu.
"Maunya kamu tuh apa sih, Mas? Kita sudah sepakat sejak awal kamu bersedia untuk berpisah tapi kenapa sampai dengan hari ini kamu terus mempersulit proses perceraian kita?" tanya Nazwa kesal saat lagi-lagi keluar dari ruang sidang dengan hasil yang tidak diharapkan.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin kita berpisah, aku tidak rela Jika kamu bersama dengan pria itu!" kata Ari.
"Apaan sih, Mas? Itu bukan urusan kamu lagi, jangan jadi orang yang egois. Kamu bisa bersama Widya Kenapa aku tidak boleh bersama pria lain? Kita sudah mau pisah dan kamu sudah kehilangan hak atas diriku sejak kamu membawa perempuan itu masuk ke dalam rumah kita!" kata Nazwa.
"Aku nggak akan menyerah begitu saja, Na! Aku akan tetap mempertahankan kamu dan pernikahan kita!"
"Egois! Kamu benar-benar egois!" Nazwa pergi begitu saja meninggalkan Ari seorang diri.
Nazwa sudah lelah karena proses perceraian ini begitu panjang dan dipersulit. Nazwa tidak menyangka jika Ari akan berubah kepikiran begitu saja. Ia sudah tidak sanggup lagi jika harus terus bersama dengan pria yang telah menorehkan luka sebegitu dalam di hatinya.
.
Setelah pulang dari pengadilan agama Ari langsung disambut oleh Widya Yang penasaran atas hasil sidang hari ini. Sejak tadi Widya telah menunggu kepulangan Ari.
"Bagaimana, Mas? Apa hasil sidangnya?" tanya Widya.
"Kamu berharap apa? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah setuju untuk berpisah dengan Nazwa!" jawab Ari.
"Kok kamu gitu sih, Mas? Kamu nggak mikirin nasib aku sama anak kita?"
"Memangnya kenapa? Coba aja kemarin kamu tidak berbuat ulah, pasti Nazwa tidak akan minta pisah dariku. Sudah bener dia mau menerimamu dengan baik kemarin tetapi kamu malah membuat semuanya menjadi hancur! Sekarang aku kehilangan pekerjaan, kehilangan istri.."
"Tega kamu ya ngomong gitu? Kamu anggap aku ini apa, Mas? Aku ini juga istri kamu!" kata Widya .
__ADS_1
"Tapi kamu bukan Nazwa! Kamu datang disaat kondisi aku sudah menjadi seorang manajer, sementara Nazwa dia adalah perempuan yang sejak dulu selalu mendukungku dan berdiri di sampingku sampai dengan saat ini.."
"Sudah seperti ini kamu malah bicara begini? Harusnya kamu sadar sebelum kamu mau sama aku! Sekarang giliran Nazwa minta cerai, kamu malah bicara begini! Nggak konsisten banget sih, Mas!" ujar Widya.
Tiba-tiba saja Widya memegangi perutnya yang terasa kram. Perdebatan itu cukup menguras emosi dan tenaga Widya hingga menyebabkan reaksi pada perutnya yang saat ini mulai kelihatan membesar. Widya meringis menahan sakit pada perutnya.
"Aduh... Sakit, Mas...tolong!" kata Widya sambil memegang perutnya.
Ari menoleh ke belakang melihat Widya yang telah terduduk di sofa sambil memegang perut meringis kesakitan.
"Kenapa? Apa yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Ari panik.
Ari pun segera menggendong Widya dan membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Setibanya di rumah sakit Widya segera ditolong oleh dokter.
"Kenapa dengan istri saya, Dok? Kandungannya baik-baik saja kan?" tanya Ari.
Ari menyimak semua penjelasan dari dokter, untuk sesaat Ari merenung memikirkan sikapnya pada Widya akhir-akhir ini. Ari bahkan telah mengabaikan janin yang ada di perut Widya.
Ari pun segera ke apotek untuk mengambil obat Setelah itu mereka Langsung kembali pulang ke rumah. Sejak kembali dari rumah sakit hingga masuk ke dalam kamar Widya terus diam dan enggan bicara pada Ari. Widya merasa sakit hati akan sikap Ari tadi.
"Sayang, makanlah dulu setelah itu minum obat.. Ingat kata dokter tadi kamu tidak boleh stres dan banyak pikiran!" kata Ari.
" Bagaimana aku tidak stres dan banyak pikiran kalau sikap kamu ke aku aja seperti tadi? Kamu sadar nggak sih kalau kamu adalah penyebab aku jadi seperti ini? Jahat banget sih kamu, Mas!" sahut Widya.
"Maafkan aku, Sayang.. Aku terlalu sibuk dengan urusan perceraian hingga aku mengabaikan kalian... Aku janji mulai hari ini aku akan belajar ikhlas dan menerima perpisahan kami, kamu jangan marah lagi ya!" bujuk Ari.
"Aku belum percaya jika belum terbukti, Mas! Sidang sekali lagi pokoknya aku mau ikut dan kamu harus buktikan ucapan kamu barusan. Kalau kamu sampai ingkar janji, Aku bersumpah Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu melihat anak ini!" ancam Widya.
__ADS_1
"Sayang, jangan bicara begini! Bagaimanapunjuga dia anakku, aku janji setelah ini aku tidak akan lagi mengabaikan kalian.. Kamu harus percaya denganku ya?" kata Ari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di persidangan selanjutnya Ari datang bersama Widya yang sejak turun dari mobil selalu menggandeng tangannya. Saat akan masuk ke ruang sidang kebetulan Nazwa juga akan masuk, ketiganya berhenti di depan pintu.
"Apa kabar, Na?" tanya Ari.
"Kabar ku baik, sangat baik! Aku senang melihat kalian berdua akur seperti itu!" kata Nazwa.
Ari ingin bicara lagi tetapi terhenti saat Widya mencengkram erat tangannya. Nazwa masuk terlebih dahulu barulah disusul dengan Ari dan Widya.
Pada akhirnya di hari itu keputusan pengadilan sudah dibuat. Ari menyerah atas Nazwa dan memilih untuk tetap bersama Widya.
Entah apa yang dirasakan Nazwa saat ini, ia merasa lega sekaligus senang karena telah terbebas dari hubungan yang telah menyakitinya, tetapi hatinya juga sakit karena ia telah kehilangan separuh dari jiwanya.
Tidak ada lagi yang tersisa di antara mereka berdua, hanya ada sisa kenangan yang tidak dapat diulang.
"Na, maaf atas segala rasa sakit yang kamu dapatkan dariku... Aku menyesal. "
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Aku senang karena akhirnya kamu tidak lgi mempersulit keadaan, kuharap kamu bahagia bersama dengan keluarga kecil kalian.." kata Nazwa terdengar tulus.
"Tidak ada yang perlu disesali lagi, Mas.. Bahagialah bersama pilihan kamu, maaf jika selama menjadi istri mu aku banyak kekurangan, " lanjut Nazwa.
Ari tak mampu lagi menjawab perkataan Nazwa, hatinya terasa sakit saat kalimat perpisahan begitu lancar diucapkan dari mulut Nazwa.
"Kalau begitu aku pamit Ya, Mas.. " Nazwa mengangkat tangan mengajak Ari berjabat tangan.
__ADS_1
Ari menyambut tangan Nazwa dengan air mata yang perlahan jatuh, ia tak perduli jika harus dilihat banyak orang. Hari ini benar-benar hari yang sangat menyedihkan untuk Ari.