
"Eh Mbak Nazwa, tumben pulang ke rumah ini? Sejak dengar berita pisah kalian, saya nggak pernah lihat Mbak Nazwa pulang ke sini lagi. Lagi kangen ya sama rumah ini? Atau kangen sama kenangannya?" tanya seorang ibu-ibu yang kebetulan lewat.
Saat ini Nazwa sedang berada di rumah lamanya bersama Ari, saat ia baru saja tiba dan akan masuk ke dalam rumah ada seorang tetangga yang kebetulan lewat dan menyapa. Tetapi dari perkataannya jelas jika tetangga itu suka mengurusi urusan orang lain.
"Eh, Bu Neneng.. Iya nih saya lagi kangen sama rumah ini, kebetulan mau saya jual. Kalau Bu Neneng tertarik, bolehlah dibeli ini rumah, " kata Nazwa menawarkan rumahnya pada tetangga itu.
"Kenapa dijual, Mbak? Kan sayang rumah sebagus ini dijual, apalagi banyak kenangannya. Suami, eh maksudnya mantan suami Mbak Nazwa ya yang suruh jual?"
"Nggak kok, Bu.. Kebetulan rumah ini sudah atas nama saya, jadi kalau mau dijual ya nggak apa-apa. Barangkali Ibu mau bantu saya menawarkan rumah ini dengan yang lain? Nanti ada sedikit komisi untuk Bu Neneng, " ujar Nazwa.
"Wah beneran nih, Mbak? Saya dapat komisi kalau bantu jual?" tanya Bu Neneng.
"Iya, Bu.. Nanti saya kasih kalau calon pembelinya dari ibu jadi membeli rumah ini, nanti Ibu hubungi saja nomor saya!" sahut Nazwa.
Bu Neneng yang tadinya kepo mendadak berbinar matanya mendengar akan mendapat komisi jika berhasil mendapatkan pembeli rumah. Pada dasarnya semua manusia akan cepat berubah jika sudah menyangkut soal uang.
Setelah berhasil menangani Bu Neneng, Nazwa masuk ke dalam rumah bersama Bi Minah. Hari itu ia akan mengemasi barang-barangnya yang masih tertinggal. Nazwa ingin menjual rumah itu karena tidak ingin lagi ada satu kenangan bersama Ari yang tertinggal. Nazwa mengamati sekeliling rumah, kilasan momen bahagianya dulu bersama Ari tiba-tiba tergambar jelas di matanya. Bedanya sekarang Nazwa tersenyum saat memori indah itu kembali ia ingat.
"Semua sudah saya beresin, Mbak.. Tapi itu barang Pak Ari masih ada yang tersisa, mau dibawa juga?" tanya Bi Minah.
"Kirim aja ke rumahnya, Bi!"
Bi Minah mengangguk patuh dan segera mengemasi barang-barang milik Ari. Bi Minah turut bersyukur melihat keadaan Nazwa yang kini semakin baik dan jauh lebih bahagia. Tuhan memang akan selalu adil pada umat-Nya yang terzholimi.
Setelah selesai beres-beres mereka pun langsung pergi, dan tak lupa menempel papan bertuliskan 'Rumah ini dijual'.
.
__ADS_1
Ari yang sedang bersantai di depan rumah mendadak terkejut saat menerima 2 kardus paket, dan pengirimnya adalah Nazwa. Ari penasaran apa yang Nazwa kirimkan ke rumahnya, ia pun membuka sebuah amplop yang berisi pesan dari Nazwa.
'Itu semua barang-barang kamu yang masih tertinggal, aku sudah mengosongkan rumah dan mau kujual.'
Pesan singkat itu berhasil membuat hatinya berdesir, rumah yang penuh dengan kenangan mereka akan di jual. Artinya Nazwa benar-benar telah melupakan tentang mereka. Ari langsung meraih ponselnya dan menghubungi Nazwa tetapi tidak ada jawaban dari Nazwa. Ari tidak ingin rumah itu dijual, kalaupun harus dijual maka sebisa mungkin rumah itu kembali ke tangannya. Ari ingin membeli rumah itu lagi.
"Pak Ari telepon, Mbak. Nggak diangkat?" tanya Bi Minah.
"Udah biarin aja, Bi.. Paling juga nanti dia mau protes soal rumah itu," sahut Nazwa.
......................
"Kenapa kamu mau jual rumah itu, Na?" tanya Ari saat bertemu Nazwa di kantor.
"Ya terserah aku dong mau kujual atau nggak, kan rumah itu atas namaku. Jadi sebagai pemilik ya aku bebas mau jual atau nggak, " sahut Nazwa cuek.
"Tapi kan sayang, Na.. Banyak kenangan di rumah itu, aku nggak rela kalau rumah itu jadi milik orang lain!" kata Ari.
"Berapa kamu jual?"
"250 juta. Kalau kamu mau rumah itu sebaiknya cepat, sebelum orang lain yang membelinya. "
Nazwa langsung masuk terlebih dahulu ke dalam kantor, ia tahu Ari pasti akan mempertanyakan soal rumah itu. Nazwa benar-benar tidak ingin lagi terlibat apapun dengan masa lalu lagi.
...----------------...
Siang itu kantor mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk beberapa karyawan yang naik jabatan, salah satu diantaranya adalah Ari. Hal itu tentu membuatnya bangga karena saat ini gajinya pasti akan naik dua kali lipat begitu juga dengan uang tunjangan. Ari melihat Nazwa sedang memberi selamat kepada karyawan lain tetapi Nazwa tidak memberikan selamat padanya. Ari bingung kenapa Nazwa melewatinya begitu saja, ia pun mendekati Nazwa.
__ADS_1
"Kamu nggak mau kasih aku selamat atas pencapaian aku, Na? " tanya Ari.
Nazwa menoleh ke belakang dan melihat Ari, "Oh iya selamat ya!" kata Nazwa singkat.
"Hanya itu?"
"Lalu kamu maunya apa?" tanya Nazwa mulai jengah.
"Dulu saat aku dapat posisi manager, kamu sangat senang sampai memelukku. Kenapa sekarang tidak?"
"Itu dulu saat aku masih jadi istri kamu, sekarang kamu cuma masa lalu aku. Jadi sikapku padamu sekarang hanya sebatas rekan kerja!" ucap Nazwa.
"Kamu benar-benar mau melupakan aku, Na? Nggak ada lagi kesempatan untuk kita?" tanya Ari.
"Apaan sih? Kamu tuh udah punya istri dan anak, sebaiknya jaga sikap! Aku baru tahu ternyata selingkuh adalah tabiat asli kamu. Istrimu masih sakit tapi kamu malah mau mendekati aku lagi, benar-benar tidak berubah!" Nazwa hanya menatap sinis pada Ari lalu meninggalkannya.
Ari tidak menyangka Nazwa akan berkata seperti itu padanya. Benar-benar berbeda dari sikap Nazwa yang dulu, sekarang terasa dingin dan sedikit arogan padanya. Tetapi jika berhadapan dengan yang lain, Nazwa terlihat begitu ramah dan murah senyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bu, Karena Ibu sudah pulang ke rumah... Saya mau izin pamit, " ucap Bella dengan berat hati.
"Bel, kenapa aku merasa kamu sepertinya tidak akan kembali lagi ke rumah ini? Kamu baik-baik saja kan? Kalau ada masalah cerita aja sama aku," kata Widya.
"Tidak ada, Bu.. Saya hanya sedih karena akan meninggalkan Abizar, saya pasti akan sangat merindukan dia.."
"Cepat kembali lagi ke sini ya, Bel.. Saya nggak mau kamu di ganti sama yang lain, " ucap Widya.
__ADS_1
Ucapan Widya membuat hati Bella tersentuh, tetapi ia tidak bisa mundur lagi. Secepatnya Bella harus pergi, ia enggan jika harus menjadi duri dalam daging dikehidupanrumah tangga Widya.
"Terima kasih banyak ya, Bu.. Atas kebaikan ibu selama ini, saya akan mengingatnya.. Dan saya harap Abizar tumbuh jadi anak yang baik, maaf saya tidak bisa kembali lagi ke sini!" kata Bella dalam hatinya.