
Keesokan paginya Widya terlihat sangat kesal karena setelah pulang dari kantor Ari langsung menghampiri Nazwa dan tidak kembali lagi ke kamarnya. Saat Widya baru keluar dari kamar, saat itu pula Nazwa keluar dengan rambut basah dan ia keringkan dengan handuk.
"Selamat pagi, maduku! " sapa Nazwa pada Widya.
"Mana suami aku? "
"Suami kamu? Nggak salah dengar nih aku? Kalau kamu cari suamiku, dia masih tidur tuh di kamaŕ. Semalam dia habis bekerja keras denganku, " kata Nazwa sengaja mengompori Widya.
"Dasar perempuan licik! Kamu sengaja merayu Mas Ari ' Kan? "
"Bukankah hal yang wajar jika seorang istri merayu suaminya? Kurasa tidak ada yang salah," kata Nazwa.
Widya semakin merasa kesal mendengar perkataan Nazwa, ia pun langsung pergi ke dapur untuk sarapan terlebih dahulu. Nazwa merasa senang melihat ekspresi wajah Widya, fakta yang sebenarnya adalah semalam tidak terjadi apapun. Ari hanya tidur di kamar Nazwa mereka berbincang sampai larut malam, Nazwa bercerita tentang proses pengobatan yang sudah ia lewati kemarin.
Sejujurnya Ari memang sangat merindukan Nazwa, pelukan hangat dari Nazwa sangat ia rindukan. Tetapi semalam Nazwa menghindar dari Ari dan menolaknya secara halus.
"Na, aku menginginkannya malam ini.. Sudah lama aku tidak sedekat ini denganmu.. Boleh? " tanya Ari.
"Maaf, Mas... tidak malam ini. Setelah semua yang kamu lakukan padaku, aku belum siap memberikan hak itu padamu, " ujar Nazwa.
"Tidak apa-apa aku mengerti, tapi apa aku masih boleh tidur di kamar ini? "
"Tentu saja boleh, ini juga kamarmu."
Nazwa tersenyum mengingat kejadian semalam, meskipun ia belum bisa menerima Ari kembali setidaknya komunikasi diantara mereka kembali lebih dekat.
Widya yang masih kesal makan dengan terburu-buru, Bi Minah menggelengkan kepala melihat kelakuan Widya.
"Pelan-pelan makannya, Non! Nanti tersedak, " ucap Bi Minah.
Bukannya mendengar perkataan Bi Minah, Widya justru semakin kesal. Baginya Bi Minah sama saja, Bi Minah dan Nazwa telah berkonspirasi melawannya.
Tak lama kemudian Ari dan Nazwa bersamaan ke dapur, Widya melihatnya dan semakin bertambah rasa kesalnya.
"Pagi, Wid! " sapa Ari.
__ADS_1
Bukannya menjawab Widya justru meninggalkan meja makan begitu saja. Ari merasa heran melihat tingkah Widya, ia pun segera menyusul istri mudanya itu ke kamar.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu kesal begitu? " tanya Ari.
"Kamu masih tanya kenapa aku kesal? Semalam kamu tidur di kamar perempuan itu! Kamu tinggalkan aku sendirian, sekarang malah tidak merasa bersalah? " ucap Widya meledak-ledak.
"Kamu serius? Kamu marah karena hal ini? Bukankah sejak awal kita sudah bicarakan hal ini, kamu setuju menjadi istriku dan konsekuensinya kamu harus siap berbagi."
"Iya kemarin aku setuju karena kupikir dia tidak akan pernah sembuh, tapi sekarang dia akan kembali menjadi istri yang sempurna di matamu. Sementara aku pasti akan kamu lupain," kata Widya.
"Kamu bicara apa sih? Kamu yang sejak awal mendekatiku, meskipun kamu tahu aku sudah beristri. Dan sekarang kamu marah saat aku membagi waktuku dengan istriku yang lain! "
"Bukan begitu, Mas... Tapi cara kamu semalam..."
"Udah cukup ya! Aku nggak mau lagi lihat drama seperti ini lain kali, siap menjadi istriku maka harus siap pula berbagi. Lihat Nazwa, dia masih bisa menerima kehadiran kamu.."
Setelah mengatakan itu Ari keluar dari kamar dan menghampiri Nazwa di meja makan. Setelah berbicara berdua semalam, Ari merasa ia harus kembali mendekati Nazwa bahkan ia bertekad kembali meraih hatinya.
"Sarapan, Mas... " Nazwa menyajikan makanan untuk Ari.
"Mas, setelah ini mungkin aku akan bekerja.. Aku bosan jika terus di rumah, " kata Nazwa.
"Kamu mau kerja? Kerja dimana? Bukannya dulu kamu lebih suka di rumah daripada bekerja di kantor, " tanya Ari.
"Iya itu dulu, Mas... Tapi setelah kupikirkan sepertinya sangat sayang ijazahku jika hanya di simpan di lemar. Aku juga akan kembali memegang bisnis yang ibu kelola."
"Na, tapi kamu kan baru sembuh. Apa nggak sebaiknya kamu di rumah saja? "
"Kenapa, Mas? Widya masih boleh bekerja setelah kalian menikah, kenapa aku tidak boleh? "
"Karena kamu lebih pantas di rumah dan menjadi ibu rumah tangga, jadi istri yang penurut saja!" sahut Widya setelah sejak tadi menguping pembicaraan Nazwa dan Ari.
"Memangnya kamu bisa apa jika bekerja? Kamu lebih pantas jadi pembantu di rumah daripada bekerja di kantor! " lanjut Widya.
"Widya, cukup! " bentak Ari.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau aku bekerja? Kamu takut tersaingi? Perempuan seperti kamu harusnya tahu diri, sudah bagus aku masih mau menampung kamu di rumah ini! " sahut Nazwa.
Widya geram mendengar perkataan Nazwa, tangannya terangkat hendak menampar pipi Nazwa namun gerakannya sudah terbaca oleh Nazwa hingga dapat ditangkap olehnya.
"Harusnya kamu yang lebih pantas di rumah, masih untung suamiku mau menikahi kamu. Jika tidak, mungkin kamu tidak ada bedanya dengan kupu-kupu malam! "
"Kurang ajar!! "
Widya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Nazwa tetapi tidak bisa, Nazwa mencengkeram tangannya dengan kuat hingga Widya merasa sakit di pergelangan tangannya.
"Sudah kalian jangan bertengkar lagi! Nana, tidak apa-apa jika kamu ingin bekerja. Tapi ingat, jangan terlalu lelah! Kamu baru saja pulih!"
Nazwa melepaskan tangan Widya dan tersenyum pada Ari. "Terima kasih, Mas. Kamu memang suami paling pengertian, aku sayang kamu! "
Nazwa memeluk Ari dan mengecup pipinya, hal itu disaksikan oleh Widya yang masih merasa sakit di pergelangan tangannya. Widya heran kenapa Ari bisa luluh begitu saja, padahal kemarin ia terlihat sangat membenci Nazwa.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Jika perempuan ini bekerja, maka pasti dia akan semakin sok berkuasa. Secepatnya aku harus segera hamil supaya mas Ari menjadi milikku sepenuhnya! " batin Widya .
Nazwa tersenyum penuh kemenangan melihat Widya, setelah ini akan ada kejutan baru lagi untuk sepasang suami istri itu.
...****************...
1 minggu berlalu saat Widya dan Ari tiba di kantor, para karyawan sedang berkumpul dan bergosip. Menurut kabar yang beredar, ada direktur baru yang masuk ke kantor mereka.
"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini? " tanya Widya pada rekan kerjanya.
"Kamu belum dengar? Kita kedatangan direktur baru yang menggantikan posisi Pak Bram."
"Oh ya? Siapa? "
"Kami juga belum tahu, makanya seluruh staff kantor diminta berkumpul di sini. Kita akan menyambut kedatangannya, " jawab teman Widya.
Beberapa saat kemudian HRD meminta semua karyawan berbaris dengan rapi. Dari pintu masuk kantor terlihat seorang wanita dengan setelan kantor yang sangat rapi memasuki loby kantor. Widya terkejut melihat wanita itu, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ini tidak mungkin!!!"
__ADS_1