Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 30


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilan videonya bersama Bella, Ari jadi tidak sabar untuk segera pulang. Ari melihat jam di tangannya, masih tersisa 1 jam lagi untuk pulang. Pikiran Ari teralihkan semenjak diam-diam sering memperhatikan Bella, ia lupa jika pernikahan sebelumnya hancur karena ulahnya yang sering diam-diam itu. Ari tidak lagi berkaca pada pengalaman sebelumnya, Widya pun juga semakin abai kepada suaminya sejak kerja. Tak di pungkiri memang ada harga yang harus dibayar oleh Widya untuk diterima kerja di kantornya sekarang. Selain menjadi sekretaris, Widya juga ada tugas khusus dari atasannya.


...----------------...


Suatu hari saat Widya baru keluar dari toko perhiasan, tiba-tiba saja ibunya menghampiri dan merebut paksa perhiasan yang baru Widya beli. Hal itu tentu cukup mengejutkan Widya.


"Ibu! Kenapa main rebut gitu sih? Balikin perhiasannya sekarang!!" ucap Widya meminta pada ibunya.


"Enak aja minta balikin! Kamu tu jadi anak jangan pelit pelit lah! Sejak punya anak malah nggak pernah lagi kasih ibu jatah bulanan, suami kamu udah miskin ya? Cari sana laki-laki yang lebih kaya!" kata Ibu Widya sambil memakai gelang yang baru saja Widya beli.


"Ibu balikin gelang itu sekarang! Itu bukan punya aku, Bu.. Itu punya Bos aku," kata Widya.


"Nggak akan! Ibu suka sama gelang ini, Kamu minta lagi aja sama bos kamu!" ucap Ibu Widya sambil berlalu pergi meninggalkan Widya.


Selalu seperti itu setiap kali Widya bertemu sang ibu, yang beliau tahu hanyalah uang tanpa perduli Widya dapatkan uang dari mana. Hal itu pula yang menjadi alasan Widya mendesak Ari untuk menikahinya, jika waktu itu Ari tidak segera menikahinya mungkin sekarang Widya sudah jadi istri keempat juragan yang memberikan pinjaman kepada ibunya.


Widya memang dibesarkan oleh ibunya, ia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. Sejak kecil ia sudah dituntut untuk mencari uang oleh ibunya. Saat ia menjalin hubungan gelap dengan Ari, ia tahu jika Ari sudah memiliki istri. Ibunya selalu meminta uang padanya, jika Widya tidak memberikan uang maka pasti Widya akan dipaksa menikah dengan rentenir kenalan sang ibu.


Widya sebenarnya juga sudah lelah, ia ingin berhenti memperdulikan ibunya dan memberikan uang. Tapi ibunya selalu mengancam akan membongkar semua aibnya pada rekan kantornya, terlebih lagi ibunya mengancam akan memberi tahu Ari jika dulu ia sengaja menjerat Ari hanya untuk memanfaatkan uangnya.


Widya selalu merasa dunia ini tidak adil untuknya, ia iri saat melihat orang lain memiliki hubungan yang erat dengan ibu mereka. Sedangkan ia, hubungannya dengan sang ibu tak lain hanya karena uang. Widya bak mesin pencetak uang bagi ibunya.


"Sudah beli perhiasan?" tanya Pak Rudi menghampiri Widya yang melamun di depan toko perhiasan.


"Belum, lain kali aja aku belinya.. Soalnya model yang aku suka kemarin habis,jadi harus pesan dulu," kata Widya memberikan alasan.


Pak Rudi hanya mengangguk percaya pada alasan yang diberikan oleh Widya, mereka pun kembali ke kantor. Widya masih termenung mengingat perlakuan ibunya, kadang hatinya terasa perih tapi ia tidak bisa berbuat apapun.

__ADS_1


Saat sedang asik melamun, Widya menerima pesan chat dari Bella yang mengirimkan foto Abizar baru selesai mandi. Setidaknya hal itu membuat kegundahan dalam hati Widya sedikit terobati.


"Maafkan Mama ya, Sayang... Mama sudah mengabaikan kamu..." batin Widya.


...****************...


Saat malam hari Widya menunggu Ari selesai mandi, ada hal yang ingin ia bicarakan. Widya ingin menanyakan soal rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Ari bersama Nazwa. Pasalnya setelah mereka resmi bercerai, tidak ada pembicaraan mengenai harta gono-gini.


"Mas, aku mau bicara sesuatu sama kamu. "


"Soal apa?" tanya Ari kemudian ia duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya.


"Setelah kamu cerai dengan Nazwa, hak milik rumah kalian atas nama siapa?" tanya Widya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Memang kenapa? Aku membeli rumah itu sebagai hadiah pernikahan untuk Nazwa, apalagi rumah itu dibeli bukan sepenuhnya pakai uang aku. Nazwa yang lebih berhak atas rumah itu.."


"Kok gitu sih, Mas? Kan disitu ada uang kamu juga, minimal kalian bisa bagi dua. Kita punya anak, Mas.. Rumah itu bisa untuk tabungan Abizar nanti, " kata Widya.


"Kamu kenapa sih tanya soal ini? Kalau untuk Abizar kan sudah ada rumah ini, lagi pula dia masih kecil. Aku sudah persiapkan tabungan untuk masa depannya nanti, dan kamu juga kerja untuk Abizar kan? Terus kenapa khawatir?"


Widya terdiam mendengar perkataan Ari, bukan tanpa alasan Widya menanyakan hal ini. Saat ini Widya sedang butuh uang karena ulah ibunya. Lagi dan lagi ibunya berhutang dan kalah judi, pada akhirnya nama Widya yang menjadi jaminan hutangnya.


Widya tidak tahu lagi kemana ia mencari uang itu, tabungannya pun tidak cukup untuk membayar hutang ibunya. Widya merasa gelisah sebab penagih hutang itu terus menelponnya.


"Kamu kenapa seperti orang bingung gitu? Apa ada masalah? " tanya Ari saat melihat wajah Widya murung.

__ADS_1


"Nggak ada, Mas."


Ari tidak percaya begitu saja dengan ucapan Widya, Ari yakin pasti ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Ari berdiri lalu mendekat ke arah Widya dan memegang kedua bahunya.


"Cerita sama aku, ada apa?" tanya Ari sambil menatap mata Widya.


Ditatap seperti itu membuat Widya tak sanggup lagi untuk menahan air matanya.


"Mas..."


Widya menangis lalu memeluk Ari dengan erat, hatinya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan ketakutan yang ia simpan sendiri. Widya menceritakan segalanya pada Ari, tidak ada lagi yang Widya sembunyikan dari suaminya itu.


Ari yang mendengarnya sedikit terkejut dan tak menyangka jika Widya mempunyai beban seberat itu, selama ini ia menyimpan semua sendiri. Dan oleh sebab itulah Widya bersikeras untuk kerja, itu semua demi untuk menutup hutang ibunya.


"Kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanya Ari.


"Karena kupikir kamu tidak akan mau membantu aku, Mas.. Selama ini aku bekerja keras sendiri, tidak pernah mengandalkan siapapun.. "


Ari mendekap Widya yang menangis, dibalik kerasnya watak Widya tersimpan begitu banyak derita yang ia pikul sejak kecil.


"Aku akan bantu kamu, tapi sebelum itu kita harus buat ibu kamu berhenti berurusan dengan orang-orang itu. Setelah itu kita pikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini!" kata Ari.


"Terima kasih banyak, Mas... Maaf aku kurang terbuka denganmu selama ini," kata Widya.


"Sudah tugasku sebagai suami kamu... Tapi mungkin setelah ini kamu harus menuruti perkataanku, " ucap Ari.


Widya hanya mengangguk menerima segala bentuk persyaratan yang mungkin nanti akan diajukan oleh Ari

__ADS_1


__ADS_2