Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 6


__ADS_3

Widya dan Ari benar-benar tidak berperasaan, mereka menghabiskan banyak waktu berdua di rumah sementara Nazwa sedang berjuang untuk sembuh. Keduanya sampai tidak ingat jika dinding pun mempunyai telinga.


Waktu itu hari sabtu, saat sedang asik bersantai di halaman belakang bersama Widya, Ari dikejutkan dengan kedatangan sang mertua ke rumah mereka.


"Pak, di depan ada Bu Ning."


Sontak saja Ari segera melepaskan pelukan Widya dan terkejut mendengar perkataan yang disampaikan Bi Minah.


"Ada apa sih, Mas? Siapa Bu Ning?" tanya Widya.


"Ibu mertuaku! Dengar, kamu harus bersikap seperti seorang sepupu nanti. Jangan sampai dia curiga!" titah Ari.


"Iya, Mas. "


Ari masuk ke dalam rumah untuk menemui mertuanya, benar saja ibu mertuanya sudah duduk di ruang tamu menunggunya.


"Bu, sudah lama sampai? Kenapa tidak mengabari kalau mau ke sini, Ari kan bisa jemput. "


Ari mencium tangan Bu Ning, ia sedikit gugup berhadapan dengan mertuanya.


"Memangnya salah jika saya datang ke rumah putri saya sendiri? Lagi pula saya tidak mau merepotkan, sepertinya juga kamu sedang ada tamu," sahut Bu Ning.


"Oh... itu sepupu Ari baru datang dari Jawa, Bu. Dia bekerja di kantor Ari dan baru pindah ke sini, karena belum ada tempat tinggal jadi sementara menginap di sini. "


"Nana sudah tahu tentang hal ini? " tanya Bu Ning.


"Eh... itu sudah, Bu.."


"Apa kamu tidak bisa menjenguk anak saya di Bandung? Apa pekerjaan kamu begitu banyak hingga tidak sempat mengabarinya? "


"Rencananya minggu saya akan ke sana, Bu. "


Tak lama kemudian percakapan di antara mereka terjeda saat Widya datang membawa nampan dengan dua gelas kopi dan teh di tangannya. Bu Ning hanya menatap Widya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan mata yang menyelidiki.


"Halo, Tante.. Saya Widya, sepupunya Mas Ari."


Widya memperkenalkan dirinya di hadapan bu Ning.


"Sepupu dari mana? "


"Dari Jawa, Tante . Kebetulan baru pindah ke sini, " jawab Widya.


"Oh... Ayo duduk, " bu Ning meminta Widya untuk duduk bersama mereka.

__ADS_1


Widya mendudukkan dirinya di samping Ari dengan jarak yang cukup dekat hal itu tak luput dari sorotan mata bu Ning. Ari yang menyadari tatapan tak biasa dari mertuanya itu segera menggeser posisinya sedikit menjauh dari Widya.


"Sampai kapan sepupumu ini akan tinggal di sini? Maaf, bukan saya tidak suka tapi saat ini istrimu sedang tidak berada di rumah takutnya akan timbul fitnah dan tetangga akan mengira kalian yang tidak tidak, " kata Bu Ning.


"Itu...."


" secepatnya saya akan mencari kos-kosan, Tante... Saya tidak mau merepotkan Mas Ari terlalu lama, " sahut Widya cepat.


"Oh Kalau begitu kamu bisa tinggal di rumah saya sementara kamu mencari kos-kosan, Kebetulan saya juga tinggal sendiri di rumah jadi bisa ada teman."


"Eh tidak usah, Tante.. Nanti malah merepotkan, " tolak Widya.


"Kenapa? Bukankah sama saja."


"Wanita tua ini! Benar-benar sangat merepotkan! Tunggu saja nanti, aku akan mengurusnya! " batin Widya geram.


Tak lama dari itu Bu Ning pulang, Ari dan Widya merasa benar-benar lega. Cukup banyak pertanyaan yang Bu Ning tanyakan tadi. Untungnya Widya bisa menjawabnya dengan mudah, tetapi tidak akan dipercayai oleh Bu Ning sebab beliau sudah mengetahui kebenarannya.


"Kenapa nasibmu harus seperti ini, Na? Pria yang seharusnya menjagamu, bertanggung jawab atas kebahagiaanmu malah justru memberikan luka seperti ini... " Bu Ning meneteskan air mata mengingat putrinya.


Ayah Nazwa sudah meninggal sejak ia berusia 5 tahun, Bu Ning benar-benar membesarkan Nazwa seorang diri. Menjadi orang tua tunggal tentu tidak mudah, tapi beruntung nasib baik selalu menyertai mereka.


...****************...


"Kamu serius mau pergi ke sana, Mas? "


"Iya, kamu dengar sendiri tadi Mertuaku bilang apa. Aku tidak mau nanti dia curiga dan semuanya jadi berantakan, " ujar Ari.


"Aku ikut! "


"Kamu boleh pergi asalkan aku ikut! " tekan Widya.


"Tapi, sayang...."


"Pokoknya aku mau ikut, Mas! Aku janji tidak akan macam-macam. Aku percaya padamu tapi tidak dengan wanita sialan itu! " kata Widya.


"Oke baiklah, kamu boleh ikut.. Tapi aku tidak bisa terus menemanimu, pasti aku akan bertemu dengan istriku terlebih dulu. "


"Iya, Mas aku mengerti. "


.


.

__ADS_1


Keesokan harinya Ari dan Widya telah bersiap untuk berangkat ke Bandung, Ari akan sekaligus mengajak Widya jalan-jalan. Mereka benar-benar memanfaatkan setiap momen untuk bisa berduaan.


"Nanti setelah sampai di sana aku akan mengantarmu ke hotel, setelah itu aku akan menemui Nazwa. "


"Kamu akan menginap di hotel Kan? " tanya Widya.


"Untuk semalam mungkin aku akan menginap di apartemen Nazwa, " kata Ari.


"Hmm sudah ku duga... Nasibku ini benar-benar tidak beruntung, aku akan kesepian pastinya.."


"Sayang, hanya untuk satu malam saja! Kamu kan sudah puas seminggu ini menghabiskan banyak waktu denganku, jadi tolong mengertilah! " bujuk Ari.


"Iya, Mas, aku mengerti. "


Sesampainya mereka di kota Bandung pertama-tama Ari menuju ke hotel Untuk mengantarkan Widya terlebih dahulu, Hotel itu tak jauh dari apartemen milik Nazwa. Ari sengaja memilih hotel di dekat situ agar ia lebih mudah untuk menemui Widya nantinya.


"Kamu jangan macam-macam dengannya ya, Mas! Ingat, tubuhmu hanya milikku seorang!" Widya bergelayut manja pada lengan kekar Ari.


"Iya, Sayang... kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam."


Ari pamit dan tak lupa mengecup kening Widya serta memberikan pelukan sebelum ia berangkat menuju apartemen milik Nazwa.


Ari tidak mengabari Nazwa terlebih dahulu Jika ia akan datang, hal itu ia lakukan agar menimbulkan kesan Jika ia sedang memberikan kejutan untuk Nazwa. Tak lupa pula iya mampir sebentar ke toko bunga dan toko kue untuk membelikan hadiah yang nanti akan Ia berikan pada istrinya itu.


"Mas Ari! Kamu di sini? Kapan sampai? Ini benar-benar nyata kan? " Nazwa terkejut melihat kedatangan suaminya.


"Iya, kamu sedang tidak bermimpi. "


"Ayo masuk, Mas.."


Nazwa mengajak Ari masuk ke dalam dan menyuruh asisten untuk membuatkan kopi.


"Bagaimana keadaan kamu, Na?" tanya Ari.


"Aku sudah jauh lebih baik, Mas.. Kata dokter juga sudah banyak perkembangan, " jawab Nazwa.


Ari memperhatikan penampilan Nazwa, istrinya itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Hari itu Nazwa lihat cantik di mata Ari, entah itu memang perasaan Ari saja atau efek sudah satu minggu ia tidak melihat istrinya itu.


"Ada apa, Mas? Kok bengong seperti itu? "


"Tidak ada.. Aku hanya senang melihat keadaanmu yang jauh lebih baik," kata Ari.


Nazwa mendorong kursi rodanya sedikit mendekat ke arah sang suami, Nazwa meraih tangan Ari lalu ia genggam dengan erat.

__ADS_1


"Sebentar lagi aku sembuh, Mas... Aku akan kembali berjalan seperti dulu.. Kuharap kamu bisa menunggu sampai waktu itu tiba. "


__ADS_2