Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 7


__ADS_3

Ari menatap wajah Nazwa dengan lekat, tatapan kedua mata mereka bertemu. Entah kapan terakhir kali mereka duduk dengan jarak sedekat itu, Ari merasakan ada debaran dalam dadanya seperti awal ia jatuh cinta pada Nazwa dulu. Tetapi karena keegoisannya membuat hubungan diantara mereka semakin menjauh.


Tangan Ari terulur mengelus kepala Nazwa, ia sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Nazwa. Namun belum sempat mencium kening istrinya, tiba-tiba ponsel Ari berdering. Nazwa sedikit kecewa karena momen mereka terganggu oleh panggilan masuk di ponsel Ari.


"Aku angkat telepon sebentar, " Ari keluar dari Apartemen untuk mengangkat telepon dari Widya.


.


.


"Hallo, Sayang.. Sudah sampai? Kenapa nggak kasih kabar?" tanya Widya dengan suara yang dibuat manja.


"Aku baru saja sampai, tadi mampir sebentar beli buah-buahan. Baru kutinggal 5 menit sudah kangen aja kamu," kata Ari.


"Mas, alihkan ke panggilan video dong, aku mau lihat kamu!"


Ari lalu merubah panggilan video dan Widya tampil mengenakan gaun malam yang baru saja mereka beli tadi sebelum ke hotel. Hal itu sengaja Widya lakukan supaya Ari tidak berlama-lama berada di apartemen milik Nazwa.


"Eh, Sayang.. kenapa kamu pakai sekarang? Kamu sengaja menggodaku ya? " tanya Ari.


"Aku gerah, Mas. Lagi pula seperti ini lebih nyaman, dan kenapa wajahmu merah, Mas? "


"Tunggu satu jam lagi, aku akan datang! Sekarang aku masuk dulu, kamu jangan nakal ya "


"Huh.. cepat sekali, baru juga telpon 5 menit. Aku tunggu ya, Mas! "


.


.


Setelah teleponnya Ari kembali masuk ke dalam dan Nazwa telah menunggunya di dekat pintu. "Siapa yang telepon, Mas? Kok jawabnya harus keluar? " tanya Nazwa.


"Itu tadi rekan kerjaku, dia tanya aku ada di mana. Sudahlah tidak usah di bahas, kita pergi jalan-jalan saja yuk! Sudah lama kita tidak refreshing, " jawab Ari lalu ia mengajak Najwa untuk keluar jalan-jalan.


Nazwa hanya tersenyum menyetujui ajakan dari suaminya, padahal jelas Tadi ia sudah mendengar dan melihat semuanya. Nazwa tahu jika Ari sudah membohonginya tetapi ia masih memilih untuk diam sebab ada rencana yang sudah ia susun sendiri untuk membalas perlakuan Ari di belakangnya selama ini.


"Dasar munafik!" desis Nazwa .

__ADS_1


"Apa kamu bilang sesuatu? " tanya Ari yang mendengar sedikit gumaman dari sang istri.


"Tidak, Mas.. Ayo kita berangkat sekarang!"


Mereka berdua pun akhirnya pergi Ari mendorong kursi roda Nazwa menuju mobil. Selama perjalanan Najwa lebih banyak diam dan melihat keluar jendela mobil, hal itu tentu membuat Ari sedikit kebingungan biasanya Nazwa akan banyak bicara dan cerewet tetapi kali ini suasananya terasa sedikit Canggung.


"jadi kapan kamu terapi lagi, Na? " tanya Ari mencoba mencairkan suasana.


"Besok, Mas.. kenapa memang? "


"Tidak apa-apa, besok akan kutemani."


"Kamu yakin kamu nggak sibuk besok? Kalau kamu ada urusan ya nggak apa-apa, Mas. Aku bisa kok pergi sendiri, " ujar Nazwa.


"Aku ke sini untuk menemui kamu, jadi aku akan menemani kamu besok. "


Nazwa hanya mengangguk saja mendengar perkataan Ari, jika sebelumnya ia akan senang saat Ari akan menemaninya tapi kali ini rasanya biasa saja. Bahkan Nazwa mengira jika besok pasti Ari akan memberi alasan supaya tidak datang.


Hari itu mereka habiskan waktu dengan pergi mengelilingi kota Bandung, mereka mampir di sebuah kedai untuk mengisi perut yang sudah mulai terasa lapar. Ari terus menatap Nazwa, seminggu tidak bertemu rasanya sedikit ada rindu.


"Ayo makan, Mas! Kok malah lihat aku gitu, " tutur Nazwa.


"Beda apanya, Mas? Perasaan biasa aja ah nggak ada yang berubah. "


"Entahlah mungkin hanya perasaanku saja, tapi kamu terlihat sangat cantik hari ini."


Nazwa merona mendengar kalimat pujian dari suaminya, setelah sekian lama akhirnya baru hari ini Ari kembali memujinya cantik. Dulu setiap bangun tidur, sebelum berangkat kerja, atau bahkan setiap menit Ari selalu memberikan pujian. Tak bisa dipungkiri memang rasa cinta itu masih ada di hati keduanya.


"Mas, boleh kutanya sesuatu?"


"Mau tanya apa? "


"Kata ibu kemarin beliau ke rumah kita ada sepupu kamu, siapa, Mas?" tanya Nazwa.


Ari tersedak makanan mendengar pertanyaan itu. Nazwa segera menyodorkan minuman untuk Ari.


"Oh itu memang sepupuku, dia baru di sini jadi tidak ada tempat tinggal. Sementara aku suruh menginap dulu di rumah kita, " jelas Ari sedikit gugup.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang padaku? Padahal kan aku bisa pulang dan menyambut kedatangannya. Aku jadi tidak enak dengan sepupu kamu," ujar Nazwa berpura-pura sedih.


"Aku lupa, lagian kamu sedang berobat jadi fokus saja pada pengobatan kamu.. Lagi pula dia akan segera mencari rumah kontrakan, " kata Ari.


"Oh begitu rupanya, sampaikan salamku padanya ya, Mas! Maaf aku belum bisa bertemu dengannya. "


"Iya kamu tidak usah khawatir. "


.


...----------------...


Widya berjalan mondar-mandir gelisah, sejak panggilan videonya bersama Ari mati Ari belum juga kembali ke hotel atau pun mengabarinya. Janji satu jam yang Ari katakan tadi rupanya bohong. Sudah 3 jam ia menunggu namun Ari belum juga datang.


"Kemana sih kamu, Mas? Dari tadi malah nggak sampai," rutuk Widya kesal.


Tak lama kemudian pintu hotel diketuk, Widya buru-buru membukanya. Dan yang datang ternyata Ari yang datang, meskipun senang tapi Widya pura-pura marah.


"Masih ingat jalan ke sini? " tanya Widya kesal pada lelaki di hadapannya itu.


"Maaf, Sayang... Aku terlambat karena harus menjawab pertanyaan darinya. Dia sudah tau tentang kamu tinggal di rumah, " jelas Ari.


"Hm pasti nenek sihir itu yang memberi tahunya. Ya sudah ayo masuk!"


Mereka berdua masuk dalam kamar dan Ari mencoba membujuk Widya agar tidak marah lagi padanya.


"Aku mau periksa, apa kamu tadi macam-macam atau tidak dengan si lumpuh itu! " Widya mulai melepaskan kancing kemeja yang Ari kenakan. Dan ya seperti yang kalian kira, mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.


.


.


"Sayang, setelah ini aku mau kamu nikahi aku! Aku tidak mau terus seperti ini, aku tau kamu tidak bisa meninggalkan si lumpuh itu. Tapi setidaknya aku ingin punya status walaupun hanya sebagai istri siri."


Ari terdiam mencerna perkataan Widya, ia tahu apa yang dirasakan oleh Widya. Wanita itu pasti tidak ingin terus menerus menjadi simpanan dan suatu hari permintaan ini pasti akan terdengar dari mulut Widya.


"Baiklah, setelah pulang dari sini kita akan menikah.. Tapi maaf aku belum bisa meninggalkan istriku begitu saja. Kamu mengerti kan? " ucap Ari.

__ADS_1


"Aku mengerti, Mas.. Terima kasih, setidaknya aku bisa membuat ibuku lebih tenang. "


Widya memeluk erat tubuh Ari dan menghujaninya dengan ciuman.


__ADS_2