
Ari menatap kepergian Nazwa dengan wajah yang murung, hari ini semua hubungan diantara mereka sudah berakhir tetapi cinta dalam hatinya masih tetap ada untuk Nazwa. Widya jengah melihat suaminya terus menatap Nazwa, ia pun segera mengajak Ari untuk pulang.
"Ayo, Mas, kita pulang.." ajak Widya.
Ari hanya dapat menuruti Widya tanpa berkata apapun lagi. Rasanya semua yang terjadi seperti mimpi.
Sementara Nazwa pulang menggunakan taksi, kali ini ia akan pulang ke rumah ibunya. Nazwa belum siap pulang ke rumahnya sendiri, jika ia pulang ke sana pasti akan terus terbayang kenangan bersama Ari. Nazwa tidak ingin goyah lagi, sekali ini keputusannya sudah bulat dan tidak ada celah bagi Ari untuk kembali lagi.
"Assalamualaikum, Bu, Nana pulang..." ucapkan Nazwa saat tiba di rumah ibunya.
"Waalaikumsalam, sudah pulang ya?"
Nazwa menghambur memeluk sang ibu sambil menangis, sejak tadi air matanya ia tahan agar tidak jatuh. Tetapi dihadapan ibunya air mata itu tak dapat lagi disembunyikan.
"Sudah, tidak apa-apa.. Semua akan baik-baik saja. Menangislah sampai hatimu merasa lega!" kata ibu sambil mengelus kepala Nazwa.
Nazwa menumpahkan segala kesedihannya dipelukan ibunya. Perasaannya hancur, pernikahannya hancur, jalinan kasih selama beberapa tahun kandas karena orang ketiga.
"Bu, aku masih belum ikhlas.. Hatiku masih terasa sakit, aku belum ridho, Bu.." kata Nazwa disela tangisnya.
"Memang, Nak.. Ikhlas itu bohong, yang ada kita harus terpaksa lalu terbiasa.. Biarkan semua yang terjadi berlalu, besarkan hati kamu untuk menerima ketetapan dari-Nya."
...****************...
"Biar aku saja yang bawa mobil, Mas.. Aku tahu saat ini pikiranmu sedang kacau," ucap Widya .
"Kamu yakin?" tanya Ari.
"Iya, Mas... aku akan bawa dengan pelan. "
Percaya atau tidak saat ini Widya sedang menggunakan trik, ia tahu saat ini Ari tidak akan bisa diajak berbicara. Jadi salah satu caranya adalah mencoba menjadi seorang istri yang pengertian.
__ADS_1
Ari menyerahkan kunci mobil pada Widya, sepanjang jalan Ari hanya diam dan beberapa kali terdengar menghela napas berat. Widya sebenarnya muak melihat itu, tapi ia tidak ingin memancing kemarahan Ari saat ini.
"Mas, maafin aku ya.. Karena aku, kamu dan Nazwa jadi berpisah.. Aku merasa bersalah karena ini, Mas.." kata Widya saat mereka telah sampai di rumah.
"Ssttt... Sudah kamu jangan merasa bersalah seperti itu, semua sudah terjadi dan aku sudah memilih.. Sekarang kita sama-sama perbaiki diri saja dan fokus dengan anak kita, " kata Ari.
Widya terdiam mendengar perkataan Ari, tak diduga jawaban yang ia dapatkan justru seperti itu.
"Terima kasih banyak sudah memilihku, Mas.. Maaf aku egois, " kata Widya sambil menangis.
Ari memeluk Widya dengan erat, meskipun perasaannya hancur tetapi Ari berusaha untuk tetap tenang dihadapan Widya. Ari tidak ingin situasi saat ini mempengaruhi kehamilannya.
...****************...
Satu minggu berlalu semua keadaan kembali normal, Ari dipanggil lagi untuk bekerja di kantor dan Nazwa tetap menempati posisi direktur. Ada banyak pertimbangan sebelum Ari dipanggil lagi ke kantor, seluruh jajaran direksi berdiskusi akan hal itu bahkan ada beberapa yang memperdebatkan. Tetapi Nazwa yang turut hadir dalam rapat memohon untuk memberikan Ari kesempatan lagi untuk bekerja di kantor, selain karena kinerjanya yang bagus Nazwa juga memikirkan nasib anak mereka yang akan lahir suatu hari nanti.
1 Minggu lalu dalam ruang rapat...
"Tapi jika kita membuka lowongan pasti nanti akan membimbing orang baru tersebut dari awal, sementara itu selama ini kinerja Ari juga cukup bagus, Pak."
"Saya setuju dengan pendapat Pak Bayu, terlepas dari semua masalah yang terjadi itu semua sudah berlalu. Saya kira tidak adasalahnya memberikan Pak Ari kesempatan kedua, lagi pula Widya sudah mengajukan pengunduran diri," kata Nazwa.
"Tapi apakah kamu tidak keberatan jika dia kembali ke kantor ini?"
"Sama sekali tidak, karena kupikir dia cukup profesional dalam hal pekerjaan.. Sebagai syarat, dia harus tahu batasan saat di kantor. "
Akhirnya semua sepakat untuk memanggil Ari bekerja lagi. Setelah semua dewan direksi bubar, kini hanya tersisa Nazwa dan Pak Kusuma.
"Kamu yakin dengan perkataan kamu tadi?" tanya Pak Kusuma.
"Nana yakin, Om.. Maaf kemarin Nana emosional hingga menyebabkan kantor menjadi ricuh, terlepas dari semua itu sekarang kami sudah berpisah.. Nana tahu saat ini dia butuh pekerjaan apalagi Widya sedang hamil, mereka butuh biaya banyak untuk melahirkan.." jelas Nazwa.
__ADS_1
"Kamu benar-benar mirip seperti ibumu, hatimu begitu lembut.. Om yakin suatu saat nanti ada pria yang benar-benar beruntung dan bersyukur memiliki kamu," kata Pak Kusuma.
"Aamiin... Terima kasih, Om."
Nazwa tersenyum pada Pak Kusuma yang tak lain adalah adik dari ibunya. Di kantor ini tidak ada yang tahu jika mereka masih ada ikatan keluarga, Nazwa tidak ingin diperlakukan spesial hanya karena ia keponakan dari pemilik perusahaan.
...****************...
"Apa kabar, Na?" sapa Ari saat ia menyerahkan dokumen di ruangan Nazwa.
"Saya baik, bagaimana kabar Widya? Kandungannya sehat?"
"Mereka sehat."
"Syukurlah kalau begitu, " ucap Nazwa sambil terus membaca dokumen.
"Kamu tidak menanyakan kabar ku lagi, Na?" tanya Ari.
"Apakah itu perlu? Kupikir kamu baik-baik saja karena sudah bekerja hari ini, " balas Nazwa.
Ari sedih mendengar jawaban Nazwa, ditambah ekspresi Nazwa yang sepertinya sudah tidak lagi perduli akan keberadaannya. Setelah selesai mendapatkan tanda tangan, Ari segera pamit dari ruangan Nazwa.
Nazwa menghela napas panjang setelah Ari keluar, hatinya masih berat tetapi ia harus bersikap profesional di kantor.
"Bohong jika aku tidak perduli lagi dengan kabar mu, Mas.. Pada kenyataannya aku melakukan ini agar aku terbiasa dengan keadaan.. Aku tidak ingin menjadi pengecut yang terus menghindar, aku ingin segera melepaskan semua hal tentang kamu dari hidupku.." ucap Nazwa.
Ibu berkata benar, tidak ada yang benar-benar ikhlas setelah perpisahan. Jika memang ada itu semua karena terpaksa, Nazwa harus membiasakan diri tanpa kehadiran Ari. Kenangan masa mereka bersama mungkin tidak akan bisa dihapus, tapi Nazwa juga tidak ingin lagi menoleh ke belakang. Sekarang ia hanya akan melangkah maju dan berdamai dengan keadaan.
"Bu, besok kantor akan mengadakan acara ulang tahun perusahaan.. Semua karyawan wajib membawa pasangan masing-masing dan itu artinya..." perkataan Pak Rinal terhenti.
"Sebagai Direktur tentu saya harus datang, jika nanti dia ikut hadir maka kurasa tidak akan ada masalah. Hubungan diantara kami sudah selesai dan aku tidak akan terganggu dengan kehadiran mereka," kata Nazwa yang mengerti maksud ucapan dari asistennya itu.
__ADS_1