Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 28


__ADS_3

Keesokan harinya Widya terbangun saat Abizar menangis, rupanya bayi mungil itu lapar dan pampersnya penuh. Widya segera melepaskan diapers yang dipakai Abizar. Bella mengetuk pintu kamar Abizar dan masuk melihat Widya sedang mengurus Abizar.


"Selamat pagi, Bu.." sapa Bella.


"Pagi, hari ini biar aku aja yang memandikan dia. Kamu cukup kasih tau aja aku harus apa!" pinta Widya.


Bella mulai memberikan arahan kepada Widya, dimulai dari memandikan Abizar, lalu memakaikan baju, setelah itu Widya memberikan susu untuk Abizar. Tetapi yang berbeda kali ini adalah, Widya menyusui bayinya secara langsung.


"Kamu tolong buatkan sarapan saja ya, Abizar biar aku yang tidurin!" ujar Widya.


Bella hanya mengangguk patuh dan pergi ke dapur.


Widya memandang wajah putranya dengan seksama, setelah melahirkan ia hanya beberapa kali menyusuinya. Dan pagi ini entah kenapa Widya ingin menyusui bayinya. Ada perasaan yang berbeda, Widya sedang merindukan putranya.


Ari yang sudah siap dengan setelan kantornya, melihat Bella membawa nampan yang berisi sarapan. Ari sudah bisa menebak jika itu untuk Widya. Ia pun meminta Bella untuk menyerahkan nampan itu padanya.


"Selamat pagi, Sayangku.. Wah adek lagi minum susu ya," sapa Ari saat masuk ke dalam kamar putranya.


Widya hanya menengok sekilas, rasa kesalnya masih ada terhadap Ari.


"Kamu sambil sarapan juga, biar aku yang suapin!" kata Ari.


Widya hanya membuka mulutnya dan menerima setiap suapan dari Ari tanpa banyak protes, Widya memang merasa lapar. Bahkan Widya belum mandi karena sejak tadi ia mengurus Abizar.


"Kamu terlihat lebih cantik jika seperti ini! Kuharap bukan cuma hari ini saja, mungkin kamu bisa pertimbangkan sekali lagi ucapanku semalam."


"Mas, bisa nggak, jangan bahas itu sekarang? Aku nggak mau ribut!" sahut Widya yang merasa jengah dengan ucapan Ari.


"Oke, maaf.. Habiskan sarapannya setelah itu mandi!" kata Ari.


Setelah Abizar benar-benar tertidur, Widya langsung menaruhnya ke keranjang bayi. Widya akan segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor.


"Kamu masih mau ngantor?" tanya Ari.


"Hmm... "


"Ya sudahlah, susah kalau dibilangin " kata Ari.


...----------------...

__ADS_1


Hari itu tanpa diduga oleh Nazwa maupun Widya, ternyata perusahaan keduanya akan melakukan kerjasama. Saat Nazwa tiba untuk membicarakan soal kerjasama dengan perusahaan tempat Widya bekerja, kedua wanita itu tidak sengaja bertemu.


"Hei, lihat siapa yang sedang berdiri di depanku sekarang! Mantan istri tua suamiku, ya?" ujar Widya dengan nada mencemooh.


Nazwa hanya tersenyum simpul menanggapi gaya Widya yang masih terlihat sombong.


"Oh mantan maduku ternyata, eh salah.. lebih tepatnya mantan PELAKOR!" kata Nazwa.


"Sudah lama ya kita nggak ketemu, badanmu terlihat semakin berisi sekarang.. " lanjut Nazwa.


Disebut semakin berisi membuat Widya sedikit tersinggung, ia lantas memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.


"Sudahlah, aku sibuk dan tidak ada waktu untuk meladeni orang tidapenting sepertinya!" ucap Nazwa meninggalkan Widya.


Nazwa masuk ke ruang vip di restoran, tak lama kemudian Widya juga masuk ke dalam ruangan yang sama bersama atasannya.


"Hallo, Bu Nazwa. Apa kabar? " sapa atasan Widya.


"Hallo, Pak Rudi.. Kabar saya baik, mari silakan duduk!" kata Nazwa.


Widya terkejut melihat Nazwa ada di hadapannya, sementara Nazwa berpikir untuk menggunakan kesempatan ini dengan baik. Kali ini Nazwa akan membalas Widya.


Widya terus menundukkan kepala sambil mencatat beberapa hal penting. Widya takut jika Nazwa akan menceritakan segala hal yang dulu ia lakukan. Widya tak ingin kehilangan pekerjaannya lagi,sementara Nazwa hanya tersenyum sinis melihat ketakutan diwajah Widya.


Untuk sekarang Nazwa belum akan bertindak, Nazwa sedang mempersiapkan senjata agar bisa memberikan sedikit pelajaran pada Widya. Satu bukti sudah ia kantongi kemarin, sisanya ia akan mencarinya lagi.


...----------------...


Setelah kesepakatan kerjasama berhasil, Pak Rudi dan Nazwa berjabat tangan. Saat Widya hendak berjabat tangan, Nazwa malah memeluknya.


"Jika sejak awal aku tahu ini adalah perusahaan tempatmu bekerja, mungkin aku akan membatalkan kerjasama ini."


Widya mematung mendengar perkataan Nazwa, wanita itu benar-benar tidak bisa diprediksi. Sangat berbeda dengan yang Ari katakan dulu.


Nazwa melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Widya seolah tidak terjadi apapun, kemudian ia pun segera pamit.


"Apa kamu mengenalnya? Bukankah dulu kamu bekerja di perusahaan Bu Nazwa ?" tanya Pak Rudi.


"Iya, Pak. Beliau dulu adalah atasan saya, " kata Widya.

__ADS_1


Widya meremas ujung bajunya sendiri, ia merasa kesal karena Nazwa sudah mulai berani mengancamnya. Widya tidak akan diam saja, ia akan melakukan apapun asalkan bisa mengalahkan Nazwa.


...----------------...


Setelah kembali ke kantor, Nazwa memanggil Ari untuk datang ke dalam ruangannya. Nazwa menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi dokumen penting, Nazwa meminta Ari memeriksanya secara detail. Namun setelah Ari kembali ke ruang kerjanya, Nazwa tampak tersenyum puas.


.


Ari membuka flashdisk yang Nazwa berikan, ada beberapa dokumen kantor yang akan ia lihat. Tetapi ia tertarik pada satu file dengan sampul foto Nazwa. Tapi tak disangka isi di dalamnya adalah foto serta video yang menampakkan Widya sedang bergandengan tangan dengan pria lain.


Jantung Ari berdegup kencang, ia meng-copy semua foto dan video itu ke dalam komputer miliknya. Tak lama kemudian Nazwa masuk ke dalam ruangannya dan menanyakan flashdisk tersebut.


"Maaf, aku lupa sesuatu.. Apa kamu sudah menyalin dokumennya?" tanya Nazwa.


"Sudah, baru saja kupindahkan. "


"Oh kalau begitu aku akan ambil flashdisk nya.. Aku tunggu tugasmu secepatnya ya!" ujar Nazwa.


Ari hanya mengangguk patuh dan membiarkan Nazwa pergi, entah Nazwa sadar atau tidak, Ari sudah menyalin foto-foto itu. Kini Ari melihatnya lagi untuk memastikan, dan benar dalam foto itu adalah Widya. Dan entah siapa pria yang bersamanya itu.


"Beraninya kamu main-main dibelakangku! Ternyata ini alasan kenapa kamu bersikeras untuk kerja!" kata Ari.


...----------------...


Saat pulang dari kantor, Ari ingin menanyakan soal kebenaran tentang foto yang ia lihat tadi pada Widya. Namun niatnya itu ia urungkan saat melihat Widya sedang menggendong Abizar. Ari tidak ingin Abizar terganggu jika ia menanyakan soal itu sekarang.


"Sudah pulang, Mas?" tanya Widya.


Ari hanya menjawab sekenanya tanpa berniat untuk berhenti melihat Widya.


Widya heran melihat tingkah Ari yang tiba-tiba seperti itu, ia berpikir mungkin Ari sedang ada masalah di kantor.


.


"Aku mau bicara dengan kamu setelah ini, kuharap kamu bisa diajak kerjasama!" kata Ari.


"Bicara tentang apa, Mas? Kenapa tidak bicara sekarang saja?" Widya bertanya balik.


"Karena yang akan kubicarakan ini pasti akan membuat keributan.. Aku tidak ingin Abizar terganggu dengan suaramu yang besar itu!" kata Ari.

__ADS_1


__ADS_2