
Widya menangis semalaman karena perkataan Ari begitu menusuk hatinya. Ari tertidur di sofa dan Widya melihatnya dengan tatapan penuh amarah. Rasanya Widya sudah tidak sanggup lagi berada di sisi pria itu.
Ari mengerjapkan matanya merasa kepalanya sedikit pusing, ia melihat dirinya tertidur di sofa ruang tamu dengan pakaian yang sudah kacau. Ari mendengar suara di dapur dan melihat Widya sedang membuat susu di sana.
"Widya ..." panggil Ari.
Namun wanita itu sama sekali tidak menjawab dan mengabaikannya. Ari berpikir sejenak, mungkinkah semalam ia mabuk berat dan tidak sadar?
Ari mendekati Widya yang tetap diam, ia ingin mencoba membantu Widya membuat susu untuk Abizar.
"Mau ngapain kamu?" tanya Widya.
"Biar aku bantu, kamu kesusahan seperti itu. "
"Tidak perlu! Aku masih bisa membuat susu untuk Abizar, aku masih berguna walaupun kakiku tidak bisa berjalan!" kata Widya.
Ari tertegun mendengar perkataan Widya, Ari menyadari jika semalam mungkin ia telah berbicara sembarangan dan membuat Widya bersikap ketus seperti itu.
"Kalau mau main-main sebaiknya jangan pulang ke rumah! Aku tidak mau anakku melihat kelakuan ayahnya seperti itu!" ujar Widya berlalu pergi.
...----------------...
Di kantor Nazwa semakin sibuk dan dibuat kelimpungan karena Ari belum juga datang ke kantor. Akhir-akhir ini kinerja pria itu semakin menurun, bahkan seringkali datang terlambat. Ini sudah 2 hari dan Nazwa ingin menanyakan hal terkait proyek yang ia tugaskan untuk Ari, tetapi pria itu malah belum datang.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan sang asisten memberitahu jika klien kemarin ingin bertemu. Nazwa segera menemui mereka dan ia berpikir Ari telah berhasil dengan tugasnya.
30 menit telah berlalu dan klien tersebut keluar dari ruang rapat dengan wajah yang tidak bersahabat, disusul dengan Nazwa yang tertunduk lesu. Proyek itu gagal mereka dapatkan dan Ari malah merusak nama baik perusahaan.
Kali ini yang dilakukan Ari benar-benar kelewat batas, ia bukan hanya membuat nama perusahaan tercoreng tetapi juga sudah membuat Nazwa dihina.
"Ada apa, Bu? Ibu nggak apa-apa kan? " tanya Asisten Nazwa.
__ADS_1
Nazwa tidak menjawab lagi, ia langsung terduduk di lantai. Tatapannya kosong dan tubuhnya lemas. Para karyawan melihat atasan mereka dengan tatapan bingung.
"Panggil Ari ke ruangan saya sekarang!" ucap Nazwa sambil berusaha berdiri dan dibantu oleh asistennya.
.
Lama Nazwa menunggu kedatangan Ari, tetapi pria itu masih belum juga datang ke kantor. Asisten Nazwa telah berusaha menghubungi Ari tapi ia tidak juga menjawab teleponnya.
Setengah jam kemudian Ari baru tiba di kantor, ia sangat terlambat datang. Ia pun langsung menghadap ke ruangan Nazwa.
"Kamu tahu kesalahan kamu sekali ini apa?" tanya Nazwa.
"Jawab pertanyaanku! Apa pendengaranmu sudah terganggu?" tanya Nazwa lagi.
"Apa kesalahanku, Na? Maaf aku terlambat tadi aku terjebak macet di jalan, " ucap Ari.
"Alasan! Lalu bagaimana dengan proyek yang kuberikan padamu kemarin? Apa sudah berhasil?" tanya Nazwa.
Melihat kesombongan di wajah Ari membuat Nazwa semakin muak, ia lalu melemparkan berkas yang tadi dikembalikan oleh klien padanya. Berkas itu tepat mengenai wajah Ari.
"Kamu gagal! Kamu bahkan telah merusak nama baik perusahaan! Kamu membuatku dihina hari ini! Apa yang kata mu sudah beres itu, ha? " kata Nazwa.
Ari terkejut melihat proposal yang ia berikan pada klien kemarin sudah ada di tangan Nazwa. Dan Nazwa terlihat marah besar karena hal itu, Ari masih belum tahu apa yang telah terjadi.
"Maksudnya apa?"
"Kamu masih tanya maksudnya apa? Kamu mendatangi mereka dan menawarkan kerjasama dengan cara yang kotor, dan pagi ini mereka datang ke sini mengatakan padaku Semua yang kamu lakukan. Bahkan mereka menghinaku," kata Nazwa.
"Mereka bilang kamu menawarkan mereka perempuan, dan kamu tahu apa yang mereka katakan tadi? Mereka menuduhku yang menyuruh kamu melakukan hal itu!".
Setengah jam lalu...
__ADS_1
"Bu Nazwa, kami benar-benar kecewa dengan perusahaan anda. Kami sudah berbaik hati memberi kalian waktu untuk presentasi masalah proyek kemarin, tapi kalian ingin menggunakan cara kotor untuk mendapatkan proyek itu."
"Maksudnya bagaimana ya, Pak?" tanya Nazwa.
"Pak Ari meminta kami datang ke cafe remang-remang dan menawari kami wanita sebagai imbalan untuk kerjasama ini, kami pikir dia adalah orang yang kompeten di bidang pekerjaan.. Kami tidak menduga dia akan melakukan hal seperti itu. Atau jangan-jangan Anda yang menyuruhnya seperti itu?"
"Bu Nazwa, kami tahu anda ini seorang wanita.. Kami beranggapan bahwa anda wanita elegan dan berkelas, tapi yang kami lihat sepertinya perusahaan ini tidak akan maju di tangan anda!" ujar klien itu.
"Sebaiknya anda tidak melibatkan urusan pribadi dalam hal pekerjaan, kami tahu kalian mantan suami istri tapi dengan cara seperti itu tidak akan membuat kami bekerja sama dengan perusahaan ini! Dan jika Ibu merasa kesepian, bisa langsung hubungi nomor pribadi saya," ujar klien tersebut sambil memainkan matanya.
Nazwa marah mendengar hal itu, ucapan yang mereka katakan tidak sesuai dengan perbuatan mereka. Mereka bilang tidak bisa menandatangani kontrak dengan cara kotor tetapi di akhir perkataan mereka malah merendahkan Najwa sebagai perempuan. Nazwa langsung mengusir mereka dan tidak akan mengajukan proposal kerja sama lagi dengan mereka.
...----------------...
Ari yang mendengar semua cerita Nazwa pun sedikit terkejut, tidak hanya perusahaan yang dibuat rugi tetapi juga Nazwa direndahkan seperti itu. Ari merasa sangat bersalah akan hal itu.
"Karena kamu sudah gagal dalam proyek ini, sesuai ucapanku dua hari yang lalu... Silahkan ajukan surat pengunduran diri dari perusahaan ini " ucap Nazwa.
Ari menatap Nazwa tak percaya, wanita itu benar-benar menyuruhnyamengundurkan diri.
"Tapi, Na... Aku nggak mau berhenti kerja di sini, aku punya anak dan istri.. hanya karena satu kesalahan kamu seenaknya memecatku begitu saja!"
"Kamu tahu bagaimana aku saat bekerja, aku tidak butuh orang yang tidak berkompeten berada dalam tim kerjaku! Jika kamu tidak mau berhenti, kamu bisa menduduki posisi staff biasa."
"Aku sudah selesai bicara, silahkan keluar!" kata Nazwa.
Ari merasa tidak terima dengan ucapan Nazwa, pria itu belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Jika aku berhenti dari sini apa kamu tidak memikirkan nasib Abidzar? Dia masih kecil dan butuh banyak biaya, kamu tidak kasihan?"
"Aku sama sekali tidak peduli, dia anakmu bukan Anakku. Jangan jadi orang manipulatif dan menggunakan anak sebagai alasan, urus sendiri anakmu!" sahut Nazwa.
__ADS_1
Nazwa sudah benar-benar muak menghadapi Ari, semakin hari pria itu semakin terlihat berbeda. Nazwa sudah tidak lagi melihat Ari yang dulu ia kenal.