Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 25


__ADS_3

Ari begitu bahagia dengan kelahiran putra pertamanya, ia tak sabar ingin segera memberikan kabar bahagia ini pada Nazwa.


"Halo, bagaimana keadaan Widya? Apa sudah lahiran? " tanya Nazwa saat menerima telepon dari Ari.


"Sudah, Na.. anak kami sudah lahir, dia laki-laki tapi masih harus dirawat karena lahir prematur, " jawab Ari terdengar antusias.


Nazwa terdiam sejenak menperkataan Ari,terdengar dari suaranya Ari begitu bahagia.


"Syukurlah kalau begitu, nanti aku akan kabarkan pada rekan yang lain. Aku tutup telponnya dlu," Nazwa segera mengakhiri teleponnya.


...****************...


Setelah beberapa waktu mendapatkan perawatan khusus, akhirnya anak Ari dan Widya sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang. Ari dengan telaten membantu Widya menggendong bayi mungil itu.


"Awas pelan-pelan, nanti dia jatuh!" ucap Ari khawatir.


Sejak bayi itu dilahirkan Ari menjadi lebih protektif, tetapi bukan pada Widya melainkan hanya pada bayinya. Semua perhatian Ari hanya tertuju pada anak mereka, tak dapat dipungkiri Widya merasa sedikit cemburu karena tidak dapat perhatian dari Ari.


"Mas, tolong ambilkan aku minum dong.. Haus ini," kata Widya.


"Ambil sendiri aja ya, aku masih mau main sama adek."


Jawaban Ari membuat Widya kesal, bukan sekali ini saja tapi sudah berulang kali Ari selalu mengabaikan Widya.


"Kamu tuh gimana sih, Mas? Masa cuma perhatian sama anak kita aja, aku yang melahirkan dan aku juga butuh perhatian dari kamu!" kata Widya dengan suara marah membuat bayi mereka terkejut dan menangis.


"Widya! Kamu tuh kenapa sih harus teriak seperti itu? Kaget kan jadinya," balas Ari.


Melihat bayi mereka menangis semakin membuat Ari mengabaikan Widya, Ari langsung membawa anak mereka keluar dari kamar. Widya teriak frustasi, semenjak pulang dari rumah sakit Ari tidak lagi perhatian padanya.


Sejak saat itu pula Widya jadi enggan memberikan asi pada bayinya. Ia takut *********** kendur jika harus menyusui. Hal itu menjadi perdebatan antara mereka berdua.


"Adek sepertinya haus, coba kamu susui!" kata Ari.


"Aku nggak mau, Mas.. Nanti punyaku kendur, dia minum dari dot saja.. Itu sudah kusiapkan!" Widya menunjuk botol dot bayi berisi susu.

__ADS_1


"Kamu aneh, bayi umur segini seharusnya menyusu pada ibunya. Kamu kok tega sih seperti ini, dia anak kamu lho!" ucap Ari.


"Iya ku tahu, tapi kan sama saja. Dia masih minum susu, daripada dia menangis terus. Sudahlah, Mas.. Aku ngantuk mau tidur. "


Ari menggelengkan kepala melihat kelakuan Widya, semakin hari Widya semakin berubah. Padahal saat masih hamil Widya sangat menjaga kandungannya, tetapi setelah melahirkan Widya malah tidak mau menyusuinya. Ari masih terus bersabar menghadapi perubahan sikap Widya yang secara tiba-tiba itu.


"Sabar ya, Sayang.. Mama lagi capek, sekarang minum susunya pakai dot dulu ya," kata Ari bicara pada bayinya.


Sambil menggendong bayi Ari memberikan susu, anaknya sudah tidak menangis lagi sekarang. Sementara Widya sudah hanyut dalam mimpi.


...----------------...


"Lho, kamu kok sudah rapi begitu? Mau kemana?" tanya Ari saat melihat Widya sedang berdandan di depan cermin.


"Aku mau melamar kerja, Mas. "


"Kamu kok mau kerja? Terus yang mengurus anak kita siapa? Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal!" kata Ari.


"Aku akan sewa jasa babysitter, lagian kamu juga masih cuti jadi sementara kamu urus dulu dia!" ucap Widya santai.


"Mas, setelah anak kita lahir pengeluaran akan semakin banyak. Kebutuhan kita juga meningkat, uang dari kamu nggak akan cukup. Harusnya kamu tuh senang karena aku mau bantu kamu cari uang!" balas Widya.


"Aku nggak perlu kamu ikut-ikutan cari uang, aku cuma mau kamu di rumah saja dulu jagain anak kita. Itu ada udah cukup, kalau emang ada yang kurang kamu tinggal bilang aja sama aku!" kata Ari.


"Udah lah, Mas.. Aku udah terlambat, pokoknya aku tetap mau kerja!"


Widya pergi begitu saja meninggalkan rumah, baru dua bulan ia melahirkan tetapi sudah ingin bekerja. Padahal kebutuhan mereka belum terlalu banyak, Ari terus memanggil Widya yang sudah masuk ke dalam taksi yang ia pesan.


...----------------...


Ari terpaksa mengambil alih tugas Widya, Ari begitu telaten mengurus anak mereka. Dimulai dari memandikan, memakaikan baju, serta memberinya susu. Ari tidak punya siapapun lagi, kedua orang tuanya telah lama tiada. Sementara ibu mertuanya terkesan tidak perduli bahkan setelah tahu putrinya melahirkan beliau tidak datang menjenguk. Ibu mertuanya hanya akan datang jika sedang memerlukan uang.


Ari mengutuk dirinya sendiri, dulu saat bersama Nazwa ia tidak pernah merasa seperti ini. Ia bahkan diperlukan bagai seorang raja, dan mantan ibu mertuanya tidak pernah meminta uang padanya. Bahkan dulu saat mereka masih pacaran, ibu Nazwa selalu memberikan dukungan secara finansial.


"Jika sedang seperti ini... aku sangat merindukan kamu, Na."

__ADS_1


Ari menidurkan anaknya ke atas ranjang setelah itu ia mulai membereskan popok dan baju kotor milik anaknya.


...---...


Tak lama kemudian pintu rumah terdengar suara diketuk, Ari segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Seorang wanita muda dengan seragam seperti seorang suster berdiri di depan pintu.


"Cari siapa?" tanya Ari.


"Saya Bella, Pak. Bu Widya kemarin mencari babysitter, kebetulan saya yang akan mengurus anaknya. "


Ari menelisik wanita itu dari atas sampai bawah, wajahnya tertunduk dan senyumnya terlihat manis. Widya benar-benar sudah mempersiapkan segalanya.


"Kamu yakin bisa mengurus bayi?" tanya Ari.


"Saya sudah ada pengalaman 2 tahun, Pak.. Tapi kalau bapak kurang suka terhadap kinerja saya, Bapak boleh meminta lembaga mencari babysitter pengganti.." kata wanita bernama Bella itu.


"Ya sudah kalau begitu, masuklah! Akan kutunjukkan kamarmu," kata Ari.


Bella mengikuti langkah Ari masuk ke dalam rumah, pertama Ari menjelaskan tentang kesibukannya dan menunjukkan kamar anak mereka pada Bella.


"Sekarang istirahatlah dulu, anakku juga sedang tidur. Kalau mau makan, pesan saja nanti saya bayar!" kata Ari.


"Maaf,Pak.. Apa boleh saya memasak?" tanya Bella.


"Boleh, tapi maaf stok di kulkas hanya seadanya. Kami belum belanja soalnya, " kata Ari.


Bella mengangguk dan segera menuju dapur yang terlihat sedikit berantakan. Pertama-tama Bella membereskan dapur dan mencuci beberapa piring kotor, lalu kemudian ia membuka kulkas dan ada beberapa bahan yang bisa dimasak.


Bella berinisiatif membuatkan secangkir kopi untuk Ari yang terlihat sedang duduk di teras rumah sambil merokok. Pak Ari terlihat begitu baik, pasti Bu Widya juga orang baik, begitu pikir Bella.


"Ini, Pak, saya buatkan kopi."


"Oh iya terima kasih ya, Bella.. Maaf merepotkan, " kata Ari.

__ADS_1


__ADS_2