Balasan Pengkhianatan

Balasan Pengkhianatan
Episode 34


__ADS_3

Ari masih setia menunggu Widya di rumah sakit, berita kecelakaan Widya sudah tersebar di kantornya. Beberapa rekan kerjanya sudah datang menjenguknya, begitu pun dengan atasannya. Melihat kondisi Widya yang sekarang membuat Pak Rudi terpaksa untuk memberhentikan Widya, sebab tidak mungkin lagi Widya bekerja seperti biasa.


"Maaf, Widya .. Untuk sementara waktu kamu bisa beristirahat dulu di rumah, mengingat keadaan kamu yang seperti ini mungkin tidak akan bisa bekerja dengan baik," kata Pak Rudi.


"Tapi, Pak... Saya masih bisa bekerja sambil duduk, saya masih mampu mengerjakan pekerjaan kantor " ucap Widya.


"Maaf, Widya.. Saya turut prihatin dengan keadaan kamu, tapi kantor tidak mungkin memaksa pegawainya yang sedang sakit untuk tetap bekerja. Kamu istirahatlah sampai pulih, saya permisi dulu.." kata Pak Rudi.


Widya tidak bisa berkata-kata lagi, ia telah kehilangan pekerjaannya dan harus menerima nasibnya yang lumpuh. Tak lama kemudian Ari masuk ke dalam dan melihat Widya sedang menangis.


"Sudah jangan menangis lagi! Lebih baik kamu fokus dengan kesehatan kamu, biar aku yang kerja.. Aku masih sanggup membiayai hidup kamu.. Apa kamu sedih karena tidak bisa lagi dekat dengan Bos kamu itu?" ujar Ari.


Widya menoleh menatap Ari dengan raut wajah marah. "Kamu punya masalah apa sih, Mas? Bisa ya kamu bilang seperti itu padaku!"


"Kenapa tidak? Akui saja kalau kamu sempat menjalin hubungan dengan Bos kamu tadi. Lagi pula apa kamu tidak ingat dulu kamu juga menggodaku?" kata Ari.

__ADS_1


Perkataan Ari barusan membuat Widya benar-benar tidak menduganya, Ari bisa berkata seperti itu terhadap Widya.


"Aku mau pulang sebentar lihat Abizar, nanti kalau perlu apa-apa panggil saja suster.."


Ari berlalu pergi meninggalkan Widya.


Widya mendendam dalam hatinya, ia tidak terima jika harus duduk diam saja seperti itu.


...****************...


Setibanya di rumah Ari langsung mencari keberadaan Abizar, lebih tepatnya ia ingin melihat Bella. Beberapa hari menginap di rumah sakit membuat Ari tidak bisa melihat wajah manis milik babysitter anaknya itu.


"Bagaimana keadaan Bu Widya, Pak?" tanya Bella.


"Dia sudah baik-baik saja, hanya menunggu jadwal pulang dari dokter. "

__ADS_1


Bella hanya mengangguk dan meninggalkan Ari yang masih sibuk mencium Abizar. Tak lama ia kembali dan meminta izin untuk menjenguk Widya.


"Kamu mau bawa Abizar juga?" tanya Ari.


"Iya, Pak.. Mungkin Bu Widya merindukan putranya dan bisa lebih semangat untuk sembuh, " sahut Bella.


Ari mengerti maksud Bella tetapiia juga merasa jika Bella sedang menghindar darinya. "Apa kamu sengaja menghindariku?" tanya Ari.


Ditanya seperti itu membuat Bella sedikit was-was.


"Bella, aku jatuh cinta denganmu.. Aku tidak bisa lagi menahannya, kamu mau jadi istri kedua saya?" tanya Ari terus terang.


"Astaga! Dimana pikiran Bapak ini sebenarnya? Istri sedang sakit tapi malah menyukai wanita lain, apa Bapak sedang mabuk? Saya tidak mau, Pak! Tidak akan pernah mau!" tegas Bella.


"Kenapa tidak mau? Bukankah lebih enak kalau kamu jadi istri saya? Kamu bisa terus merawat Abizar, dan kamu juga tidak perlu lagi bekerja.." kata Ari.

__ADS_1


"Saya tetap tidak mau, Pak. Saya dapat pekerjaan ini dari Bu Widya, dan saya tidak akan mau mengkhianatSaya permisi!" Bella pergi ke rumah sakit dengan menggendong Abizar dan membawa rantang berisi makanan untuk Widya.


Bella tidak menyangka jika Ari akan mengatakan perasaannya, bukannya merasa senang Bella justru merasa jijik. Ia tidak habis pikir Ari akan melamar wanita lain saat istrinya sedang terbaring di rumah sakit. Bella malah takut berurusan dengan para orang kaya, mereka seperti menganggap semua bisa dibeli dengan uang dan Bella tidak mau mengambil keuntungan dari musibah yang dialami oleh Widya.


__ADS_2