
Pagi itu Nazwa sedang dalam perjalanan menuju ke kantor, tetapi sebelum ke kantor ia mampir sebentar ke toko kue. Tanpa diduga ia melihat sebuah pemandangan yang cukup menarik perhatiannya. Nazwa melihat Widya sedang bersama pria lain dan bergandengan tangan cukup mesra.
"Eh,bukannya itu Widya? Siapa pria itu? Sepertinya itu bukan Ari?" kata Nazwa lalu ia memutuskan untuk mengikuti mereka diam-diam.
Widya masuk ke dalam restoran dekat situ, tampak ia terus bergelayut manja pada lengan pria yang bersamanya itu. Nazwa bagai mendapatkan keberuntungan, ia pun mengabadikannya lewat ponsel.
"Sepertinya permainan akan seru jika aku memiliki video ini! Sekarang akan ku balas kau!" kata Nazwa.
Karena tak ingin keberadaannya disadari oleh Widya, Nazwa pun segera keluar dari restoran itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke kantor.
"Tidak ada obat yang mujarab untuk penyakit selingkuh. Sekali nya selingkuh, maka kedepannya pasti akan terulang lagi, " kata Nazwa.
.
Sementara itu di rumah, Bella masih sibuk dengan Abizar yang baru saja selesai dimandikan. Mungkin karena merasa dingin, bayi itu menangis. Ari yang mendengar suara tangisannya segera menghampiri untuk melihat.
"Uuh,Sayang... Dingin ya habis mandi? Cup cup jangan nangis ya, kan segar kalau sudah mandi.." kata Bella pada Abizar.
Hal itu terlihat oleh mata Ari, pemandangan yang sangat langka. Ia tak pernah melihat hal itu dari bibir Widya. Bella lebih bersikap keibuan, dan mungkin itu juga sudah jadi kewajibannya mejadi seorang babysitter. Tetapi entah kenapa Ari melihatnya sedikit berbeda, Bella terlihat lebih dewasa dari umurnya.
"Eh, ada apa, Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bella yang melihat Ari berdiri di ambang pintu.
"Tadi aku dengar Abizar menangis, jadi aku ke sini untuk melihat. "
"Oh.. dia nggak apa-apa kok, Pak, kedinginan tadi habis mandi. Sekarang sudah ganteng nih," kata Bella sambil menggendong Abizar menuju ayahnya.
"Wah, anak Papa ganteng banget.. Sini sama Papa," Ari mengambil Abizar dari gendongan Bella.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Ari selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan sang anak. Berbeda dengan Widya yang selalu pergi tanpa sarapan dan tanpa berpamitan. Hal itu semakin membuat hubungan diantara mereka semakin terasa hambar.
__ADS_1
"Bella, ini Abi sudah tidur. Saya mau berangkat kerja, " kata Ari.
Bella mengambil alih Abizar dan menidurkannya, sementara Ari langsung pergi ke kantor untuk bekerja.
"Andai saja Widya tidak egois, pasti Abizar akan tumbuh dibawah asuhan ibunya, bukan babysitter.."
Ari memijit pangkal hidungnya, sejak Widya kerja rumah tangganya semakin tak terurus. Bahkan Ari sering kali makan masakan yang dibuat oleh Bella.
...----------------...
"Widya, aku mau bicara sesuatu yang penting sama kamu!" kata Ari saat mereka berdua di dalam kamar.
"Bicara tentang apa, Mas?" tanya Ari.
"Bulan ini gajiku naik dan bonusku juga bertambah, Apa tidak sebaiknya kamu berhenti dulu bekerja? Kasihan Abizar, di umurnya yang segitu masih membutuhkan kamu sosok ibu kandungnya.." kata Ari.
"Bella hanya seorang babysitter sementara kamu adalah ibunya, Abizar butuh kamu... Bahkan kalau kuperhatikan sekalipun kamu tidak pernah menggendong Abidzar."
"Aku tuh kerja buat Abizar juga, Mas.. Kan sama aja digendong Bella ataupun digendong aku," sahut Widya.
"Kamu kok egois banget sih! Apa salahnya kamu berhenti kerja sebentar sampai Abizar sudah sedikit lebih besar? Gaji ku juga cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita!"
"Pokoknya aku tetap mau kerja, Mas! Apapun kata kamu, aku nggak akan berhenti dari pekerjaan aku!"
Selalu berakhir seperti itu setiap kali Ari mencoba berbicara baik-baik dengan Widya. Ari selalu mencoba mengalah dan menahan emosinya, Ari tidak ingin pakai kekerasan.
"Apa kamu lupa siapa yang dulu bersikeras ingin punya anak? Lalu sekarang setelah anak itu ada, kamu malah mengabaikannya dan lebih mementingkan pekerjaan. Kalau seperti ini lebih baik jangan dulu punya anak!" kata Ari menghentikan langkah Widya yang hendak ke dapur.
Widya menoleh ke arah Ari dan menajamkan penglihatannya, tatapan Widya terlihat sengit.
__ADS_1
"Iya, memang aku yang ingin punya anak! Itu semua aku lakukan supaya kamu tidak terus-menerus melihat Nazwa, tapi setelah punya anak apa balasanmu terhadapku? Kamu masih mencarinya, masih menghubunginya, bahkan mungkin kamu masih menyimpan perasaan padanya. Semua yang aku lakukan seperti tidak bernilai dimata kamu,Mas!" kata Widya.
"Aku istri kamu, aku baru melahirkan, tapi kamu malah sibuk ingin menelepon mantan istri kamu itu! Perhatian kamu selalu tertuju pada Abizar, sementara aku kamu abaikan.. Aku ini manusia, Mas! Aku punya perasaan dan aku juga butuh perhatian! Dan kamu tidak pernah mengerti itu! Selalu Nazwa, Nazwa dan Nazwa yang kamu sebut!" Widya meluapkan segala unek-uneknya malam itu.
"Kamu terlalu berlebihan, Widya. Wajar kalau aku perhatian pada anakku, kamu terlalu cemburuan bahkan pada anakmu sendiri.. Jika memang itu yang kamu butuhkan, maka baiklah... Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan kamu!" sahut Ari.
"Sudah terlambat, Mas.. Aku butuh setelah melahirkan kemarin, kalau sekarang semua lukaku sudah sembuh!"
Widya keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Ari sendirian di dalam kamar mereka.
Widya berjalan menuju kamar Abizar, rupanya masih ada Bella yang baru saja menidurkan anaknya.
"Sudah tidur ya?" tanya Widya.
"Sudah, Bu.. Baru saja saya taruh," jawab Bella.
"Ya sudah kalau kamu istirahatlah! Malam ini aku akan tidur di sini menemani Abizar. "
Bella mengangguk dan permisi keluar.
Widya menunduk melihat wajah anaknya, tak terasa air matanya jatuh. Beberapa hari ini memang ia sangat sibuk, bahkan tidak sempat menggendong Abizar.
Widya menggendong bayi mungil itu dan membawanya ke atas ranjang disebelah keranjang bayi.
"Maafin Mama ya, Sayang.. Mama memang egois, bahkan Mama tidak memperhatikan kamu. Mama lakukan ini semua demi kamu," ucap Widya pada bayi yang sedang tidur pulas itu.
Widya menangis terisak memeluk sang anak, ciuman tak henti ia berikan pada anak yang ia lahirkan itu. Sebagai seorang ibu tentu Widya ingin menyaksikan sendiri tumbuh kembang sang anak, tetapi Widya lebih mementingkan keegoisannya dibandingkan dengan anaknya.
Ari yang diam-diam mengikuti Widya, melihat pemandangan yang terjadi di kamar sang anak. Ari merasa bersalah, mendengar perkataan Widya tadi membuat hatinya sedikit tercubit. Ari masih belum bisa melepaskan Nazwa sehingga mengabaikan Widya.
__ADS_1