
Ari baru saja menerima telepon dari Monica, ia langsung bergegas pulang ke rumah untuk menemui Widya. Dengan raut wajah penuh amarah Ari masuk ke dalam rumah berteriak memanggil nama Widya.
"Ada apa kamu teriak-teriak begitu? Abidzar lagi tidur nanti dia bangun," Sahut Widya.
"Kenapa kamu ikut campur dalam urusanku? Kenapa kamu menemui Monica?" tanya Ari.
"Kenapa kamu marah, Mas? Aku hanya sedang berusaha mengusir lalat yang mengganggu, kamu lebih marah karena aku datang menemuinya dan menyuruhnya menjauhi kamu? Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu, tega ya kamu selingkuhin aku di saat kondisiku lagi seperti ini dan Abidzar masih terlalu kecil!" ujar Widya.
"Aku tidak selingkuh! Kuperingatkan padamu sekali lagi jangan campuri urusanku, kamu hanya perlu diam di rumah dan urus saja kakimu yang tidak bisa berjalan itu! Abizar sudah ada Bibi yang merawat, sekali lagi Kamu berani ikut campur maka aku tidak akan segan-segan mencampakkan wanita tidak berguna seperti kamu," kata Ari.
"Laki-laki tidak sadar diri! Dulu kamu juga selingkuh denganku pada saat Nazwa sedang lumpuh, sekarang ketika aku yang lumpuh kamu juga berbuat hal yang sama? dulu kamu ingin sekali punya anak tetapi setelah punya anak kamu malah mencari wanita lain, kamu bilang aku tidak berguna?" sahut Widya.
Keduanya bersitegang di ruang tamu, hal itu di lihat oleh pengasuh Abidzar yang baru. Bi Romlah hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada mendengar teriakan kedua majikannya itu, bukan pemandangan baru lagi ia melihat majikannya bertengkar seperti itu. Hampir setiap hari Ari dan Widya selalu bertengkar, Tak jarang keduanya juga saling melempar barang. Melihat Hal itu membuat bi Romlah sedikit khawatir, Iya takut keadaan rumah yang seperti itu akan mempengaruhi tumbuh kembang Abidzar yang masih bayi.
"Iya, Aku bodoh saat itu tergiur dengan rayuanmu hingga, aku kehilangan wanita yang begitu berarti dalam kehidupanku. Aku kehilangan Nazwa gara-gara kamu, wanita sialan!"
"Jaga ucapan kamu, Mas! Di sini aku masih menghormatimu sebagai suami dan ayah dari Abidzar, kalau aku wanita sialan lantas pria sepertimu itu disebut apa? Bajingan?"
"Berani kamu ya!" Ari mendaratkan pukulan pada pipi Widya.
Pipi Widya terlihat memerah akibat tamparan dari Ari, melihat Hal itu membuat bi Romlah tidak tega dan berusaha melerai perkelahian antara dua majikannya.
"Ya ampun, Pak.. Stop, Pak! Berhenti.. jangan pukul Ibu lagi!" ujar Bi Romlah sambil menarik kursi roda Widya mundur.
__ADS_1
"Urus wanita tidak berguna ini dengan baik, Bi! Buat dia menutup mulutnya, Bila perlu ajari dia pekerjaan rumah supaya dia tidak ikut campur dengan urusanku!" ucap Ari lalu pergi.
Widya hanya diam membisu tak berdaya di atas kursi roda, pipinya terasa perih akibat tamparan itu. Hari Ini Ari telah mengangkat tangan padanya dan menamparnya demi membela wanita lain.
"Ibu nggak apa-apa kan? Ya Allah, Bu.. " tanya Bi Romlah sambil mendorong kursi roda Widya menuju ke dalam kamar.
Widya hanya bisa diam dan menangis tanpa suara, ia dipindahkan ke atas ranjang oleh Bi Romlah. "Aku tidak ingin hidup seperti ini, Bi.. Aku tidak mau lumpuh! Aku tidak mau!!"
Widya meronta dan menjambak rambutnya sendiri, Iya terlihat benar-benar frustasi dengan keadaan yang saat ini ia hadapi. Widya sedang menghadapi Karma atas apa yang telah Ia perbuat...
...----------------...
Seminggu berlalu Ari tidak lagi pulang ke rumah, bahkan untuk menjenguk Abidzar pun tidak. Widya pun juga tidak lagi mencemaskan keberadaan Ari, saat ini ia sedang sibuk mengemas barang-barangnya serta Abidzar. Widya memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Ari.
"Bukan salahku kalau semua hartamu habis, aku tidak segan menjual seluruh aset yang kamu punya. Setelah ini nikmati kehancuran kamu seorang diri!" kata Widya.
Widya terlihat menghubungi seseorang dan memberikan sedikit perintah, entah siapa yang ia hubungi tetapi melihat dari raut wajahnya sepertinya Widya terlihat sangat senang.
"Kita akan memulai hidup baru berdua, Nak.. Biarkan papa kamu menerima balasan setelah menghianati mama! Mama janji, akan membuat hidup kamu jauh lebih bahagia meskipun tanpa sosok seorang ayah!" ucap Widya sambil mencium pipi Abizar.
...****************...
Suasana kantor pagi itu sedikit gaduh, para karyawan berkumpul masing-masing dan sedang berbisik membicarakan sesuatu. Nazwa merasa heran kenapa jam sibuk seperti ini mereka bukannya malah bekerja tetapi asik bergosip.
__ADS_1
"Ehem... Ada apa ini? Kenapa kalian tidak bekerja?" tanya Nazwa.
para karyawan itu beberapa memilih membubarkan diri dan kembali ke meja masing-masing, dan ada beberapa pulau yang mendekati Nazwa berniat untuk memberitahukan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bu, apa Ibu belum melihat berita di sosial media? Pak Ari terlibat skandal lagi, hal ini benar-benar merusak citra perusahaan kita!" kata Bimo.
"Skandal? Skandal apa? Coba saya mau lihat!"
Bimo menunjukkan hp-nya agar Najwa bisa melihat dan membaca berita yang sedang viral di sosial media. Dan benar saja di sana terpampang jelas wajah Ari sedang bercumbu mesra dengan wanita lain.
"Bu, sejak tadi para klien kita sudah menelpon untuk konfirmasi berita ini, bahkan beberapa diantara mereka menarik kontrak dengan perusahaan. Dulu waktu Pak Ari terlibat skandal bersama Widya hanya kalangan kantor kita yang tahu, tapi skandalnya kali ini sudah diketahui oleh khalayak ramai!"
"Sebagai Direktur, Ibu harus segera menindak hal ini! Sebelum para investor menarik saham mereka!" lanjut Bimo.
Nazwa mengerti dengan keresahan para, tetapi Nazwa juga tidak menyangka jika Widya akan bertindak secepat ini. kali ini waktunya Ari yang akan menerima Karma atas apa yang telah Ia perbuat.
Ari lagi-lagi menghadap ke ruang direktur, dan kali ini wajahnya terlihat sangat takut. Jajaran direktur yang lain menatapnya dengan sinis.
"Sangat disayangkan orang yang berpendidikan tinggi seperti anda telah melakukan hal kotor semacam ini. Seharusnya sebelum anda bertindak, pikirkan terlebih dahulu apa akibatnya."
"Karena ini kesalahan kamu yang kedua, kami tidak bisa lagi mentolerir. Perusahaan bisa terancam jika kamu masih tetap bekerja! Dengan sangat terpaksa kamu harus dipecat dari perusahaan!" kata Nazwa.
"Tidak, tolong jangan pecat saya! Saya mohon! Nana, aku tidak melakukan itu, tolong percaya padaku, berita itu semuanya bohong! Pasti ada yang dengansengaja memfitnahku!" kata Ari.
__ADS_1
"Kami tidak memerlukan alasanmu, sebaiknya segera kemasi barang kamu secepatnya dan tinggalkan kantor ini!".