
"Bawang merah, Bawang putih, kencur, kemiri, cabai merah, cabai kriting, Rawit di blender halus"
"Tidak, tidak, bukan seperti itu. potong dulu semua bumbunya."
"Kau akan merusak blendernya. Kenapa tidak kau beri minyak dulu..tuukan jadi macet!"
"Sini!!biar aku saja yang blender bumbunya..kau bersihkan saja ceker itu jangan lupa potong kukunya. kemudian rebus ya!!"
Akhhh...
" Ya Tuhan!!,
Kenapa kau tidak hati-hati dengan pisau ituu!! Jadi luka kan."
"Sini!aku obatin dulu"
"Katanya mau bikinin aku seblak..ehh malah buat repot diriku.
Lukanya tidak terlalu dalam jadi cepat selesaikan masakanmu akuu sudah sangat lapar!!"
"Kenapa kau memasukkan wortel, bodoh???"
"Lihat ituu!! Kau menjatuhkan kerupuknya!!"
"Ihh...ini Garamnya terlalu banyak!!! Kau ingin membunuhku???"
"Masukkan baksonya juga!!"
"Aku sudah bilang pelan-pelan aduknya!!! Jadi tumpahkan"
Dengan darah, keringat, dan air mata, Zayn selesai membuat semangkuk seblak. Dengan menambah potongan tomat dan daun bawang diatasnya membuat masakannya semakin menarik, Zayn menatap bangga masakannya itu, membawanya dihadapan Nana, Entah rasanya akan enak atau tidak. Tapi ini kali pertama Zayn membuat masakkan berkuah pedas. Bukan hanya pedas tapi super duper pedas, bahkan Zayn sempat menjauhkan kepalanya yang basah beberapa centi dari mangkuk seblak itu, matanya mengeluarkan airmata dan hidungnya berair sebab berulang kali bersin gara-gara aroma seblak yang begitu strong..
Zayn meletakkan piring itu di atas permukaan meja, tepat di hadapan Nana. "Selamat makan, Tuan Putri."
"Terimakasih." Ceria Nana yang duduk sambil menatap seblaknya dengan mata berbinar.
Sedangkan Zayn sendiri duduk di samping Nana sambil menatap wajah antusias istrinya. Nana terlihat bersenandung ria saat mengambil sendok dan garpu lalu mengelapnya dengan tisu. Zayn sempat tersenyum karenanya. Namun saat Nana bersiap meluncurkan sendok dan garpunya, raut wajah Nana terlihat sedih.
Zayn mengerutkan alisnya bingung. "Kenapa? Apa itu buruk?" tanyanya pada Nana.
Nana menatap Zayn dengan sendu. "Bukan itu. Tapi,,,Aku tidak tega memakannya."aku nana dengan tatapan iba.
"Apa?"
"Ini buatanmu. Untuk pertama kalinya, kau memasak makanan untukku. Bagimana bisa aku menghancurkan hasil karyamu ini? Bibi sering bercerita kalau kau juga bisa memasak. Tapi ini..kali pertama kau membuatkan makanan untukku dengan tanganmu sendiri. Aku tak tega memakannya"
__ADS_1
Zayn mengerjapkan matanya pelan. Dia mulai berpikir. "...OkeZayn. Ibu hamil itu sensitif. Jadi, istrimu ini pasti akan gampang terharu...."pikir Zayn
"Makanlah.. seblak tidak akan enak bila dimakan dingin"jawab Zayn kemudian.
"Tapi.."
"Cobalah dulu!!Aku belum pernah masak makanan berkuah pedas sebelumnya"
Raut wajah Nana berubah murka. "Jadi, kau ingin menjadikanku bahan percobaan???" amuknya.
Zayn mengerjapkan matanya dengan kaget. "Hah!!Ti-tidak. Maksudku, aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri bagaimana rasanya tentang masakan pedas pertamaku ini?"
Nana cemberut seketika. Dia menghela napas panjang. "Heemm...tapi aku sudah tidak selera makan seblak lagi"
" Lalu siapa yang akan memakannya?"
"Kau saja."Nana bangkit dari kursi duduknya berniat meninggalkan Zayn disana. Dengan sigap Zayn menahan pergerakan Nana.
"Makanlah sedikit saja. Setidaknya hargai usahaku membuat ini untukmu" lirih Zayn.
"Kau sedih??Baiklah aku akan memakannya. Dan Sepertinya, selera makanku akan kembali jika...
"Jika apa?"
Nana menatap Zayn dengan lekat. "Jika kau dulu yang memakan seblak ini." Ucapnya sendu.
Nana tersentak kaget mendengar suara Zayn yang meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kau hanya perlu mengatakan jika kau tidak mau. Tidak perlu membentakku begitu. Hiks!" dan akhirnya Nana mulai menangis.
Zayn kelabakan seketika. Ia memeluk Nana dari samping " Oh god!! Baru saja aku membawanya pulang dalam kondisi seperti ini. Dia sudah membuat kepala seakan ingin pecah". Ucap Zayn dalam hatinya sambil mengambil semangkuk seblak itu. "Syutt,, maafkan aku ya? Aku hanya kaget. Tadi itu hanya refleks."
Nana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya mengencang. "Kau pasti marah padaku. Hiks, kau akan menyiramku dengan seblak itu kan? Hiks hiks."
"Apa?? Ahahaha itu tidak mungkin."
"Lalu kenapa kau menggeser piring itu?"
..Aku berniat membuangnya... Zayn mengerjap cepat. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. "Ahaha, aku akan memakannya. Sesuai permintaanmu."
"Benarkah?" tanya Nana dengan tangan yang lepas dari wajahnya. Matanya menatap Zayn dengan berbinar.
Zayn tersenyum paksa. "Ya. Aku akan melakukannya demi dirimu."
Nana tersenyum senang. "Asiikk! Ayo makan seblaknya." Serunya.
Alhasil, mata Zayn benar-benar merah dan mengucurkan air matanya lagi saat menghabiskan seblak yang amat pedas itu di depan Nana." Badan sebesar itu tapi nangis setelah makan seblak"ejek Nana padanya dengan mengusap keringan Zayn.
__ADS_1
Sialan, seblak. Makanan ini seperti racun bagi tubuhku.. Batin Zayn mendendam pada seblak.
_________________
Angin yang berhembus pelan menyibak rambut Seseorang yang sedang duduk termenung ditepi danau, tidak banyak yang ia lakukan, hanya mencoba memendam penderitaan yang selama ini dia simpan sendiri.
Setetes airmata jatuh membasahai pipi Alsyad, yang langsung dihapusnya tanpa menghilangkan jejak yang berarti.
Sentuhan lembut dipundaknya menyadarkan Alsyad dalam lamunannya, "Rayna!ngapain lo disini?"senyuman damai Rayna hadir sebagai jawabannya.
"Gue tau kalo lo sedih lo pasti datang kesini!"
"Danau inikan deket bengkel, jadi gue kesinilah. Lagi pula tempat ini juga sepi, sangat cocok sama suasana hati gue"jawab enteng Alsyad
Rayna duduk disamping Alsyad mensejajarkan dirinya, melemparkan batu krikil kedalam danau sama seperti yang dilakukan Alsyad saat ini." Kalau lo mau. Lo bisa berbagi sama gue setidaknya hal itu bisa mengurangi beban lo" sedetik kemudian Alsyad menatap Rayna penuh arti.
Alsyad menghempuskan nafasnya kasar"Gue gak mau berbagi masalah sama lo. Gue juga tau kali ...masalah hidup lo jauh lebih berat dari gue" ucapan Alsyad mampu membuat keduanya tertawa sumbang.
"Lo tau apa masalah gue??"
"Lo cewek terkuat yang gue temui Ra!"
"..Ehmm??"
"Lo mampu memikul beban sebesar itu sendiri tanpa mengeluh. Lo korbanin pendidikan lo. Lo banting tulang cari uang buat keluarga lo. Lo bertahan tanpa ngeluh padahal lo juga sakit. Gue bener-bener salut sama berjuangan lo ra!" Rayna tersenyum mendengar akuan Alsyad padanya.
"Gue gak sehebat itu kali!!"
"Jujur..lo salah satu motivasi gue"
"Oke..gue motivator sekerang..hehhe"
"Kalau gue diposisi lo gue akan pergi menjauh dari keluarga seperti itu!"
"Takdir sudah digariskan Al. jadi kita hanya perlu menjalaninya. Gue yakin kok, suatu saat nanti pasti ada jalan terbaik untuk gue"
"Gue berharap seperti itu. Harapan yang selalu hadir dibenak gue..disayangi dihargai dicintai tanpa syarat" Alsyad menatap lurus kearah danau.
.
.
Jangan lupa dan coment genk♥️
__ADS_1