
Nana duduk diteras belakang Mansion dengan santaynya melihat susunan kaktus didepannya dengan diam, dan juga sedang melamunkan sesuatu.
Nana mulai berfikir tentang semua ini. Dia sudah tinggal disini selama hampir 2 bulan tapi tak ada titik terang. Dimana keluarganya?? Kenapa seperti tak ada yang mencarinya? Bahkan saat ia menanyakan tentang hal itu suaminya, seolah-olah Zayn menyembunyikan banyak hal darinya...
Nana menggelengkan kepalanya dan melamun lagi. Zayn yang memperhatikan wanita didepannya hanya bisa memandangnya dan menggeleng.
"Sayang." Nana tersadar kembali ke dunia nyata.
"Ya?" Nana gugup.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Zayn ingin tahu, terduduk disebuah bangku disamping Nana.
"Ah-tidak. Kepalaku hanya sedikit pusing." ucao Nana tidak sepenuhnya ia berbohong. Kepalanya memang sedikit pusing dan sakit secara bersamaan.
"Kamu sakit? Apa perlu ke dokter. Wajahmu sedikit pucat." Zayn terlihat khawatir. "Tak perlu. Aku hanya butuh istirahat. Mungkin karna semalam aku berenang." Jawab Nana meyakinkan.
"Besok jangan renang malam-malam. Aku khawatir padamu... Aku sangat menyesal tak bisa menemanimu saat seperti ini. Setelah ini Aku pergi. ada urusan bisnis." Jelas Zayn.
"Kemana? Berapa lama? Bukankah baru kemarin kau pulang dan sekarang kau ingin pergi lagi?sebegitu banyaknya tugasmu?" Zayn tersenyum dengan rentetan pertanyaan dari nana.
"Tak akan lama, hanya 1 minggu. Apa kau akan merindukanku jikalau aku tak ada?" Zayn tersenyum. "Setelah urusan ku selesai aku akan menunjukkan padamu sesuatu. Aku akan pergi dengan Ronald.
Jika kau ingin pergi ke suatu tempat ijin padaku dulu dan harus ditemani Herry, aku juga menyewa beberapa bodyguard yang akan mengawasimu! Jangan coba-coba ingin pergi ketempat-tempat aneh! Kalau kau memintanya pada Herry saat aku sudah melarangnya. Herry yang akan menanggung hukumannya! Kau paham sayang?" ucapan Zayn dingin seperti biasa.
"Baiklah!"
"Dan satu hal lagi selama aku tak ada. Kau harus menyalakan ponsel mu." Nana bingung apa yang harus di ucapkan. Nana hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Hati-hati dimana pun. Jika ada sesuatu telfon bodyguard atau aku." Nana hanya diam mengangguk.
"Aku pergi dulu sayang! Ingat ucapanku tadi." Pamit Zayn dengan mengelus rambur halusnya, Nana yang membalasnya dengan senyum manisnya.
"hati-hati."
Zayn tersenyum singkat lalu mencium puncak kepala Nana dan mulai memasuki mobil yang akan mengantarnya ke bandara.
Mobil pun mulai meninggalkan mansion. Nana masuk ke dalam kamar dan mulai merebahkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang biasa di tiduri oleh nya dan suaminya. Nana mengingat saat Suaminya tidur bersamanya disetiap malam dengan memelukkan erat sampai pagi menjelang. Nana tersenyum mengingatnya, kamar tidurnya dominan berbau Parfum pria itu, nana menciumnya dalam-dalam terasa menengkan tapi juga ada rasa takut mengingat dirinya.
Nana sendiri juga tak mengerti, ada sedikit ketakutan dan trauma yang di rasakan. Tapi Nana tidak tahu trauma dalam hal apa. Nana mulai mencoba tidur di bantai yang biasa pria itu pakai. Tangan Nana mencoba bergelung di bawah bantal dengan badan yang tengkurap agar nyaman tapi ia menemukan sesuatu di bawah bantal yang ia pakai. Saat di buka bantalnya. Nana sangat terkejut. Senjata.
Senjata siapa ini? Milik Zayn? Kenapa pria itu menaruh senjata di bawah bantalnya?
Lamunan Nana buyar saat salah seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Tok..
Tok..
Nona anda didalam?
Nana dengan cepat menyembunyikan benda itu dibawah bantal lagi, dan menghampiri pelayan.
"Ada apa??"
"Ada yang ingin bertemu anda dibawah"
"Siapa?"
__ADS_1
"Teman-teman anda"
"Temanku?"
Pelayan mengangguk sebagai jawaban dan pergi meninggalkan Nana dengan membungkukkan tubuhnya.
Nana menghampiri mereka dengan ragu, karena memang ia tak memingat mereka semua.
"Nana...
Na gue kangen banget sama lo"salah satu perempuan itu memeluknya dengan erat.
"Kenapa lo gak kuliah lagi??"
"Iya, kau juga gak pernah hubungi kami!"
"Kita kuwatir sama lo Na ..kita pengen denger kabar dari lo? Lo kemana aja siih? Gak ada kabar.."Nana menatap bergantian mereka, bingung ingin menjawab apa.
"Kalian.."
"Ini bibi bawakan minum dan camilan untuk kalian"Meridith datang memotong ucapan Nana
"Terima kasih bi"
"Nyonya! Tuan Zayn menelpon anda.
Jawablah telponnya"
"Menelfonku?"
"Iya datanglah keruang utama"
"Kalian sahabatnya nyonya kan?"
"Iya"jawab mereka serempak.
"Ada banyak hal yang terjadi selama 2 bulan ini!
Meridith menghembuskan nafasnya kasar sebelum melanjutkan ucapannya"nyonya mengalami amnesia sementara, jadi nyonya tak bisa mengingat kalian semua!"
"Apa amnesia?"ucap mereka berbarengan
"Iya.."
"Dan untuk sementara tuan juga melarang nyonya pergi kekampus!"
"Maka dari itu, kedatangan kami kesini
ingin menyampaikan pesan dekan, kalau Nana akan diDO!"ucap yuna menyampaikan pada Meridith.
"Ini sudah semester 5 bi! Kalau Nana sampai di DO perjuangannya selama ini akan musnah!"
"Apa lagi kalau sampai kak Vio tau ini!! Pasti pikirannya disana hanya tertuju pada Nana..
Tapi tunggu..apa Nana juga melupakan Kakaknya bi?"tanya Rayna pada Meridith
Meridith tak mampu menjawabnya, ia hanya mampu menganggukan kepalanya. Tak lama Nana datang menyapa dengan senyuman.
__ADS_1
"Bibi tinggal dulu ya!"
"Na. Apa kamu bener-bener gak ingat kami?"
"Maaf.. aku tak bisa mengingat siapapun"Nana mendudukkan tubuhnya disamping Rayna.
"Tak perlu terlalu diingat! Kami akan memberitahukannya padamu..kami sahabatmu Na! Aku Rayna, ini yuna dan dia..Alsyad!" Rayna menjelaskannya pada Nana dengan menunjuk mereka pergantian.
Alsyad...
Nana tak asing dengan nama itu, dia ..
Samar-samar bayangan hitam hadir dibenak Nana, Nana memegang kepalanya yang terasa pusing.
Ahh..
"Jangan dipaksa na!! Kalau kamu tidak mengingatnya tidak apa"
"Guys sepertinya Nana harus istirahat deh, kita pulang aja yuuk!" Usul Yuna menatap Nana kwuatir.
"Iya lebih baik kami pulang! Kamu istirahat ya Na jangan terlalu dipaksa mengingatnya!"
Rayna dan yuna berlalu meninggalkan Nana yang masing memegang kepalanya. Alsyad mendekati Nana dengan hati-hati, mengambil duduk disampingnya dan menatapnya sedih.
"Na.."nana mengangkat kepalanya memandang wajah Alsyad
"Gue yakin lo masih belum inget gue.. tapi perlu gue ingatkan lagi janji gue pada lo, kalau gue akan selalu ada saat lo butuh dan gue akan bawa lo pergi saat lo sudah nyerah.."setelah mengucapkan kata itu Alsyad pergi dari mansion menyusul kedua wanita itu.
NATASYA POV
Gue yakin lo masih belum inget gue.. tapi perlu gue ingatkan lagi janji gue pada lo, kalau gue akan selalu ada saat lo butuh dan gue akan bawa lo pergi saat lo sudah nyerah.."
Ucapan pria itu terus terngiang dipikiranku, setiap kali aku mengingat ucapannya, bayangannya selalu muncul dipikiranku tak hanya dia tapi juga ada satu pria lagi, dan wanita paruh baya yang selalu mengusap ramputku penuh kasih sayang..
"Apa dia keluargaku?? Pria itu..
Akhhh.."Kepalaku tak mampu lagi mengingatnya lebih jauh hanya kilas potongan kejadian itu saja yang dapat ku ingat.
"Nak, kau tidak papa?"
"Apa bibi mengengal pria itu??"
"Siapa??".
"Pria yang datang bersama dua wanita tadi!"
"Mereka sabahatmu, nak! Kalian sering bercanda gurau bersama"
"Apa aku punya hubungan lebih dari sekedar sahabat sama pria itu bi??"ucap ku penasaran.
"Yang bibi tau kau sangat dekat dengan mereka".
Kepala semakin pusing memikirkannya. Lebih baik aku tak perlu memikirkannya lebih jauh, aku akan langsung pertanyakan masalah ini pada Zayn, dia suamiku dan pastinya dia tau asal usulku.
🌹TBC🌹
jangan lupa untuk Vote, like dan coment...
__ADS_1
Thanks genk♥️