BANDING Bastard Specialist

BANDING Bastard Specialist
RENCANA


__ADS_3

Meridith melihat kedua insan yang sudah terpisah lama mulai membuka lembaran batu sekarang, diapun ikut tersenyum kala tuannya tersenyum lebar. Selama ia bekerja menggantikan sang ibu, Zayn sangat sulit mengukir senyum diwajahnya seperti itu.


Nana hanya memasang wajah datar sebal karna sikap suaminya yang menyebalkan. Tanpa memikirkannya lagi Nana langsung masuk ke kamar tidur menyusul Zayn.


Di kamar sudah ada Zayn yang tidur terlentang di ranjangnya. Tanpa memperdulikan Zayn, Nana langsung menuju kamar mandi dan sedikit membanting pintu kamar mandi.


Sedangkan Zayn hanya tersenyum melihat sikap gadis-nya yang begitu menggemaskan saat gadis itu kesal.


Tak butuh waktu lama Nana langsung keluar dari kamar mandi dan menuju meja riasnya untuk tak lupa perawatan tubuh sebelum tidur. Seperti kegiatan harian, Nana hanya mengikuti gerak tubuhnya dan dirinya seperti sudah mulai terbiasa dengan kegiatan yang dulu sering ia lakukan.


Zayn masih setia menunggu gadis-nya. Nana pun langsung membaringkan tubuhnya di samping Zayn.


"Sayang, kau masih marah padaku?" Tanya Zayn lembut dengan tangannya yang memeluk tubuh Nana.


Wajah mereka sangat dekat.Nana terlihat gugup kembali, Zayn tahu itu tapi hanya tersenyum.


"T-tidak" jawab Nana gugup.


"Ah baiklah, kau tak marah padaku. Berarti bolehkah aku mencium bibir sexy-mu. Aku merindukannya." Bisik Zayn.


Wajah Nana langsung memerah. Jantungnya berdetak sangat kencang. Nana jadi takut kalau pria disampingnya bisa mendengar suara detak jantungnya.


Jantungnya semakin berdetak saat sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Pergerakam bibir itu begitu lembut membuat Nana ikut terhanyut tapi rasa takut itu tak pernah hilang.


Rasa takut yang Nana sendiri tak mengerti rasa takut seperti apa. Tapi dari reaksi tubuhnya jika dirinya takut jika berdekatan dengan pria itu. Nana sedang mencari-cari kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Pasti ada yang tak beres.


Ciuman itu begitu lama sampai Nana menggenggam erat baju Zayn yang menandakan Nana sudah tak ada pasokan oksigen. Zaynpun melepas ciuman itu. Nana langsung mengambil nafas dalam-dalam saat ciuman itu terlepas. Meskipun Nana tak membalas ciuman Zayn. Hanya membiarkan pria itu bermain dengan bibirnya, tapi Zayn tak mempermasalahkan hal itu.


"Terima kasih sayang untuk kiss night nya. Meskipun kau tak membalasnya. Tak masalah bagiku" Zayn mengecup bibir bengkak Nana akibat ulahnya.


Zayn pun kembali ke posisi semula. posisi tidur menghadap langit kamar dengan tangan kanannya sebagai bantal untuk Nana.


"Hem... aku ingin menanyakan sesuatu...kau tau banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan." Ucap Nana pelan.


"Tanyakan saja. Akan aku jawab." Balas Nana santai.


"Siapa aku? Dan siapa dirimu?" Nana menengok kearah pria yang tidur disampingnya.


"Kau istriku..Kau milikku dan aku Milikmu." Balas Zayn singkat tanpa menatap Nana.


"Dimana keluargaku?? Dan...."


Zayn menengok ke arah Nana di sampingnya mengecup keningnya lama. Dan memejamkan matanya, sebagai tanda tak ingin membahasanya lagi.


Hari berganti begitu cepat , Zayn masih setia memeluk erat tubuh wanita yang amat dirindukkannya saat lama tak bertemu dengannya kemarin.


Zayn telah bangun beberapa jam yang lalu tapi ia tak berniat membangunkan istrinya lebih awal. Zayn hanya memandangi wajah terpejam istrinya yang begitu indah..Akhirnya Nana menggeliat, kelopak matanya mulai terbuka dan melihat Zayn yang menatapnya dengan senyum yang manis.


"Selamat pagi sayang..." ucap Zayn sambil tersenyum.


Sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya sambil terus bermain di bibir Nana


"Morning kiss..." Nana tersipu. Wajahnya merah. Zayn hanya tersenyum melihat tingkah Wanitanya.


"Bagaimana tidurmu?? Bukankah ini kenangan terindah dihidupmu? Kau bisa tidur kembali dengan suami tampanmu ini!"


"Tidak. Ini tak berkenang sama sekali"jawab acuh Nana


"Ohhh jadi begitu! Baiklah nanti malam aku akan membuat malam kita berkesan untuk mu, kau akan mengenangnya setiap saat"ucap Zayn dengan mengedipkan satu matanya.


"Bangun lah, kita sarapan bersama. Aku ada meeting penting hari ini." Zayn mulai bangun dari tempat tidur, ingin melangkah tapi berhenti dan menengok ke arah Nana yang masih terduduk di ranjang. "Mau mandi bersama?"


Mata Nana membulat, wajahnya memerah. "A-apa?" Tanya Nana gugup.


"Tidak aku bercanda" Zayn tertawa saat melihat wajah Nana yang menurutnya menggemaskan.

__ADS_1


Nana terdiam sesaat dengan


engan degupan jantung yang tak berirama. Nana menyentuh dadanya, detakan itu....apa maksud dari detakan ini? Apa aku menyukainya? Tapi....aku baru mengenalnya 1 hari. Tidak mungkin.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk"


Masuklah seseorang yang cukup gagah.


"Tuan, anda tidak pulang ke mansion?" Tanya sang tangan kanan.


"Sebentar lagi jef..berkas ku belum selesai. oh iya.. carikan info tentang Natasya Closyi, info yang lengkap aku tidak mau tahu. Besok malam berikan padaku." Titah seorang pria gagah yang berwajah tampan tapi aura kejam nya terlihat jelas.


"Baik tuan." Jawab Jeff patuh.


"Bagus. Ah lelahnya ayo kita pulang.... kalau tidak salah besok aku ada meeting dengan perusahaan milik Jay kan?" Seringai muncul di wajah pria itu.


"Iya tuan untuk membahas proyek baru." Balas sopan kepada sang tuan.


"Ayo kita pulang, aku sungguh tidak sabar menanti besok." Senyum licik terukir di wajah pria itu.


"Mari tuan."


Kau menghancurkannya demi kekuranganku, kau menyakitinya demi menghilangkannya, kau lemah benar benar lemah...Jay!!


Malam pun berganti pagi. Sinar matahari mulai bersinar tapi untuk anak pasang adam yang masih tenang dalam mimpinya sambil berpelukan erat satu sama lain.


Nana menggeliat di dalam pelukan Zayn. Zayn pun secara otomatis langsung mengeratkan pelukan itu.


Nana merasa nyaman diposisi ini, karna pelukan suamunya, ia tak ingin bangun dan akhirnya tertidur lagi, sekarang Nana tak sungkan lagi mengumbar kemersaan dihadapan semua orang termasuk para pelayan dimansion Zayn.


Entah, terkadang Zayn merasa nyaman berada di dekata Nana. Zaynpun bingung dengan perasaan itu.


Pria yang menyandang gelar suami Nana itu, terus saja memperhatikan kecantikan wanita di hadapannya. Tidur nya begitu tenang, sangat cantik. Rambut merah, alis tebal tapi cukup rapi, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, bibir....untuk ukuran wajah gadis itu cukup sexy....


Wajah yang selalu menenangkan hatinya.


Nana menggeliat lagi, kelopak matanya mulai terbuka dan melihat Zayn di hadapannya dengan tangan sebagai penopang kepalanya.


"Selamat pagi sayang..." ucap Zayn sambil tersenyum.


Cup..


Sebuah kecupan singkat diberikan Zayn padanya.


"Seperti biasa. Harus ada morning kiss..."


"Kekantor??"


"Iya"


"Aku siapkan makanan ya?"


"Eehmm...pagi ini aku akan memakan nasi goreng kecap buatanmu!"


Nana mengerutkan keningnya,menatap curiga kearah suaminya"apa masakku tak enak??tapi..apa kamu sudah pernah mencobanya sebelumnya?"


"Kau lupa?, kau pernah memasak nasi goreng manis untukku?"


"Apa dulu aku tak bisa masak?"Nana semakin bingung dibuatnya, karena sejak kepulangannya dari rumah sakit Nana sering menghabiskan waktunya didapur, dia kira selama ini dia sangat suka memasak ternyata..kenapa lupa ingatan bisa merubah kepribadianku??..lirihnya

__ADS_1


"Siapa bilang kau tak bisa memasak! Kau bisa masak kok tapi yaa..nasi gorengmu dulu rasanya manis.. aku tidak suka makanan terlalu manis..apalagi notabenya nasi goreng masakan inti dan jelas rasanya akan gurih"


"Baiklah aku tak akan memasakan makanan untukmu"


"Eh..meridith bilang kau sering kedapur selama aku pergi kemarin. Mungkin selama itu kau mulai suka memasak dan tentunya nasi gorengmu berasa nasi goreng kebanyakan"goda Zayn pada Nana yang menatapnya bingung.


"Tidak. Kau menghina masakanku!


Cepatlah mandi! Katanya kau akan berangkat kerja. Nanti bisa terlambat kalau berdebat denganku!


"Kau memang istri pengertian"


Zayn tersenyum dari kejauhan saat melihat Nana sudah di meja makan dengan membunyikan piringnya.


Lelah menunggu, akhirnya terdengar suara ketukan sepatu berirama. Yap, Zayn datang dengan pakaian formalnya. Setelan jas tanpa dasi.


"Sudah menunggu lama?" Tanya Zayn sambil duduk di sebrang Nana.


"Tidak terlalu lama." Jawab Nana tanpa melihatnya.


Zayn mengangguk, menatap makanan yang sudah tertata rapih dimeja. "Kau tak jadi memasak nasi goreng untukku?


"Tidak jadi!katanya masakanku tak bisa diterima lidahmu, jadi dari pada mubazir aku tak usah masak saja"


Dan mereka mulai sarapan mereka.


Di beda tempat seorang pria juga sedang menikmati sarapan dengan diam, wajah dinginnya selalu membuat semua orang tertunduk takut padanya.


"Silahkan tuan!"


"Tuan. Tadi malam ada seorang wanita dari kemari!"salah satu pelayan memberitahukannya.


"Siapa?"


"Saya tidak tau tapi dia menitipkan surat ini pada tuan!"


Pria itu Alan Steinbergh, membuka surat yang diberikan salah satu pelayan padanya.


"dari Vellerie...?"


"Jeff!"


"Iya tuan"


"Kau sudah melaksanakan tugas yang kuberikan?"


"Sudah tuan. Saya sudah mengumpulkannya disini! Anda bisa melihatnya" Jeff memberikan sebuah dokumen bertutup amplop Coklat pada Alan.


"Bawa saja. kita bahas semua disana!"


"Baik tuan"


"Ayo kita berangkat." Titah sang pria.


"Langsung ke Crafair Group tuan?" Tanya jeff.


"Ya. Bukan kah kita ada jadwal meeting dengannya?"


"Iya tuan."


.


.


🌹TBC🌹

__ADS_1


jangan lupa VOTE LIKE COMENT sebanyak banyaknyaaa🙆‍♀️👍💟


__ADS_2