
“Kak, sekali ini saja.” Pinta Keisha.
**************
Arfian melepaskan pelukannya. Ditatapnya mata Keisha.
Arfian merangkum wajah Keisha dengan kedua tangannya.
“Kei, maafkan Kakak….”
“Ya Tuhan maafkan aku jika aku melakukan hal yang dilarang lagi.” Arfian mengucapkan kata-kata maaf di dalam hatinya.
Arfian mendekatkan wajahnya pada wajah Keisha.
Ibu jari tangan kanan Arfian mengusap lembut bibir Keisha yang tipis dan berwarna merah muda.
Arfian sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Kei….”
Keisha menutup kelopak matanya, tampak sebulir air mata menetes keluar melewati kelopak matanya yang tertutup.
Bibir arfian mengecup ringan kelopak mata Keisha yang sebelah kanan, kemudian dikecupnya kelopak mata yang sebelah kiri. Setelah itu bibir Arfian mengecup puncak hidung, pipi sebelah kiri dan kanan Keisha.
Mata Keisha terbuka. Bibirnya sedikit terbuka hendak mengatakan sesuatu.
Belum sempat Keisha membuka mulutnya, bibir Arfian mengecup ringan bibir Keisha.
Keisha kembali menutup kedua kelopak matanya. Dia sedang mencoba mengingat rasa bibir Arfian di bibirnya. Dia akan mengenang rasa ini sepanjang hidupnya. Mungkin Keisha tidak akan pernah lagi merasakan ciuman yang menyayat sekaligus melelehkan hatinya ini. Dia mencoba untuk menghayati dan menyimpan kenangan ini di dalam hatinya.
Keisha merasakan ibu jari tangan Arfian kembali mengelus bibirnya dengan lembut.
Keisha membuka matanya. Air mata bahagia tergenang.
“Terima kasih, Kak. Terima kasih atas ciuman pertama yang indah ini. Aku bahagia sekali.” Ucap Keisha dengan senyum bahagia yang terkembang di bibirnya.
“Kei….” Lirih Arfian
Arfian kembali membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya kembali menangkup wajah Keisha. Bibirnya kembali mengecup bibir Keisha. Kali ini bukan sekadar kecupan ringan. Bibir arfian mencium dalam bibir Keisha.
__ADS_1
Keisha membuka bibirnya yang terkatup untuk mengatakan sesuatu pada Arfian. Sebelum sempat Keisha mengeluarkan kata-kata, Arfian semakin memperdalam ciumannya.
Keisha kembali menutup matanya dan benar-benar menikmati apa yang dilakukan bibir Arfian pada bibirnya.
Arfian melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Keisha dengan ibu jarinya.
“Maafkan Kak Fian, Kei…..Kakak tidak….”
“Jangan minta maaf Kak.” Keisha memeluk erat tubuh Arfian seakan tidak mau kehilangan.
“Kak, terima kasih atas segalanya. Terima kasih sudah menyayangi Kei walaupun Kei sering sekali membuat Kakak sedih dan kecewa. Setelah ini, Kei janji tidak akan membuat Kak Fian sedih dan kecewa lagi.” Keisha semakin erat memeluk Arfian.
“Kak Fian sayang sekali sama kamu, Kei” Arfian tak kalah eratnya memeluk Keisha seakan tidak mau kehilangan juga. Arfian merasa bahwa Keisha benar-benar akan menghilang dari hidupnya jika tidak dia peluk. Arfian tidak mau hal itu terjadi sehingga membuat dia semakin mengeratkan pelukannya.
Keisha semakin terisak didalam pelukan Arfian.
“Aku sangat mencintai Kak Fian.” disela tangisnya, Keisha mengucapkan kalimat yang tidak pernah dia ucapkan sebelumnya. Kalimat cinta yang ditujukan dari seorang perempuan kepada seorang laki-laki.
“Aku juga mencintai kamu, Kei.” sahut Arfian lirih.
Keisha melepaskan pelukannya. Bibirnya tersenyum. Matanya menatap mata Arfian.
Arfian mencium puncak kepala Keisha.
“Selamat tinggal, Kak.” Ucap Keisha sambil memeluk kembali tubuh Arfian dengan erat.
****************
Keisha keluar dari kamar tidur Arfian. Air mata kembali meluncur deras dari matanya.
Keisha berjalan menuruni anak tangga. Setelah sampai di lantai bawah, dia tidak melihat kedua orangtua Arfian. Keisha berpikir mungkin kedua orangtua Arfian sudah masuk ke kamar tidur mereka. Keisha merasa beruntung dia tidak bertemu dengan Tante Maya dan Om Farid. Kalau dia bertemu dengan mereka, Keisha mungkin akan kebingungan mencari jawaban jika mereka menanyakan wajahnya yang berlinang air mata.
“Om….Tante….Kei pulang dulu yaaa….Assalamu’alaikum…..” Keisha segera berlari melintasi ruang keluarga dan ruang tamu untuk keluar dari rumah Arfian, dia takut kalau Om Farid dan Tante Maya memergokinya sedang menangis.
Di taman depan, Keisha bertemu dengan Mas Paijo, supir keluarga Arfian.
“Mas Paijo….” Panggil Keisha.
“Ada apa Non Kei…? Tanya Paijo.
__ADS_1
“Mas, ini aku titip surat ya.” Ujar Keisha.
“Surat buat siapa Non…? Buat saya?” Tanya Paijo.
“Buat Kak Fian lah, masa buat Mas Paijo sih.” Ujar Keisha kesal.
“Ya kirain Non Kei iseng kasih surat buat saya.” Sahut Paijo.
“Tapi kasiin suratnya jangan sekarang ya.” Pinta Keisha.
“Loh, jadi kapan saya harus kasih suratnya ke Den Fian…? Tanya Paijo
“Dua hari lagi baru kasiin suratnya ke Kak Fian yah. Mas Paijo harus merahasiakannya. Bisa kan…? Tanya Keisha.
“Siap Non Kei!!!....jadi hari Minggu baru saya kasiin ya Non…?” Tanya Paijo.
“Boleh…hari Senin juga gak apa apa. Pokoknya jangan sekarang atau besok ya.”
“Siap laksanakan…!” sahut Paijo sambil memberi sikap hormat.
“Makasih ya Mas Paijo.” Ucap Keisha berterima kasih.
“Sama-sama, Non. Hati-hati di jalan ya Non.”
“Dah Mas Paijo. Sampai jumpa lagi kapan-kapan ya.” Ucap Keisha.
“Loh memangnya Non Kei mau kemana bilang sampai jumpa kapan-kapan?” Tanya Paijo heran.
“Ada deh. Rahasia.” Sahut Keisha.
Keisha berlalu meninggalkan rumah Arfian menuju mobil. Disana sudah menunggu supir keluarga Arrasyid, Mang Ujang.
“Sudah selesai urusannya, Neng? “Tanya Mang Ujang.
“Udah Mang, sekarang kita langsung pulang ya. Mang Ujang kan harus tidur awal, besok shubuh antar Kei ke bandara.” Ujar Keisha.
“Siap, Neng.”
Mang Ujang segera menjalankan mobilnya mengantarkan Keisha pulang ke rumah. Hanya ada kesunyian selama perjalanan. Mang Ujang sudah mengetahui bahwa putri majikannya itu akan pergi jauh dan mungkin akan lama. Mang Ujang pasti merindukan keceriwisan putri majikannya itu.
__ADS_1
***********************