
Hari Jum’at pagi, Arfian menelepon Arini.
“Assalamu’alaikum, Tan.” Arfian memberi salam.
“Wa’alaikumsalam. Jadi kamu nanti sore mengajak Kei jalan-jalan?” tanya Arini.
“Jadi, Tan. Tolong siapkan baju gantinya Keisha ya Tan. Nanti Fian yang ambil tas nya Keisha ke rumah. Fian mau buat kejutan buat Keisha. Tante ngizinin kan, Fian bawa Keisha menginap?” tanya Arfian kembali meyakinkan Arini agar mengizinkannya untuk membawa Keisha menginap satu malam di pantai yang jauh dari hiruk pikuk kota besar.
Arfian ingin meyakinkan dan memperjelas hubungan antara dirinya dan Keisha. Arfian merasa sekarang ini hubungan antara dirinya dan Keisha masih tidak jelas apakah mereka kembali seperti semula atau ada rasa yang berbeda diantara mereka berdua. Arfian harus segera mendapatkan kejelasan. Dia tidak ingin terlambat lagi karena sudah cukup mereka membuang-buang waktu selama 10 tahun tanpa kejelasan. Jika memang rasa cinta Keisha pada Arfian kembali pada rasa seperti mereka masih anak-anak, maka Arfian akan menyerah tapi jika ada rasa yang berbeda maka Arfian akan memperjuangkan cintanya.
“Jadi kamu belum ngomong sama Kei kalau kamu mau mengajak dia ke pantai?” tanya Arini.
“Belum, Tan. Nanti siang baru Fian mau ngajaknya.” Sahut Arfian.
“Untung saja Tante belum bilang apa-apa sama Kei. Ya sudah, Tante siapin dulu baju gantinya, nanti kamu kesini jangan terlalu siang karena Tante mau siap-siap pergi ngedate juga sama mantan pacar nya Tante yang ganteng itu.” Tukas Arini yang hatinya sedang berbunga-bunga karena diajak ngedate ke Lombok oleh suaminya.
************
Tak lama setelah Arini selesai packing, Arfian mengucapkan salam di depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam.” Arini dan Surya yang sedang bercengkrama di sofa ruang keluarga menjawab salam dari Arfian dengan kompak.
“Om sama Tante makin mesra saja nih.” Arfian masuk ke ruang keluarga dan mencium punggung tangan Arini dan Surya.
“Makanya cepet halalin anak Om, biar kamu juga bisa mesra-mesraan sama pasangan kamu.” Ujar Surya sambil memeluk mesra istrinya.
“Maunya juga gitu Om. Tapi anak Om itu dinginnya sedingin kulkas.” Sahut Arfian.
“Salah kamu juga kan, anak Om sampai jadi dingin kaya kulkas tiga pintu itu. Kelamaan tinggal di Antartika sepertinya.” Canda Surya.
Suasana menjadi hening. Akhir-akhir ini, Arfian menjadi lebih sensitif sampai-sampai dia tidak bisa menanggapi candaan Surya.
“Sudah sudah, Papah ini hobinya godain anak muda yang lagi patah hati saja. Tunggu ya Fian, tante ambilin tas nya Kei dulu ke atas.” Arini mencoba mengalihkan pembicaraan Surya yang agak sensitif.
“Emang kamu mau ajak anak Om kemana? Awas jangan apa-apain anak Om. Dia harus kembali dengan utuh. Kalau sampai anak Om kenapa-napa, lihat saja apa yang akan Om lakuin ke kamu.” Ancam Surya serius. Walaupun Surya senang bercanda, tapi dia akan menjadi sangat serius jika berkaitan dengan istri atau anak-anaknya.
“Tenang saja Om. Fian cuma mau ngajak Kei jalan-jalan ke pantai di Sukabumi, nginep semalam, boleh kan Om?. Tenang saja nginepnya juga gak akan sekamar Om. Fian udah booking dua kamar.” Arfian menjelaskan sejelas-jelasnya pada Surya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Om yakin kamu bakal jaga anak Om. Tapi kok ngajak jalan-jalan ngirit amat sih. Kamu kan mau berjuang tuh buat dapetin hatinya anak Om kok mainnya deket amat sih. Ajak dong anak Om itu ke tempat yang agak jauh, minimal ke Bali lah. Om aja ajak ngedate tante kamu itu ke Lombok. Masa anak muda seperti kalian mainnya deket sih” Surya kembali bercanda dengan Arfian.
“Om ngedate nya sudah terlalu mainstream. Kalau Bali atau Lombok sih sudah terlalu ramai sama wisatawan. Fian kan ngajaknya ke pantai yang masih sepi tapi indah, biar bisa lebih berkonstrasi buat proses penjajakannya tanpa diganggu banyak orang. Fian mau ngajak Kei ke pantai yang gak ada wisatawannya.” Arfian menjelaskan alasan kenapa dia mengajak Keisha ke Pantai yang sepi.
__ADS_1
“Awas ya kalau kalian sampai kebablasan saking sepinya. Om gak mau kamu apa-apain anak Om sebelum kamu halalin. Kalau sampai anak Om ternoda, bukan hanya Om yang bakal habisin kamu tapi juga istri, anak-anak Om yang lain dan akan Om ajakin Papi dan Mami kamu buat ikut ngabisin kamu juga.” Ancam Surya.
Arfian meringis mendengar ancaman Surya yang terdengar seperti candaan tapi jika memang terjadi apa-apa dengan anak kesayangannya, dipastikan Arfian akan tinggal nama saja.
Arini turun dari lantai dua sambil menenteng tas berisi pakaian ganti Keisha.
“Tan, si Om galak amat sih ya.” Ujar Arfian sambil menghampiri Arini untuk membantu membawakan tas milik Keisha yang berat, kemudian berdiri di belakang Arini seakan-akan meminta perlindungan dari Arini.
“Emang bener apa yang dikatakan Om kamu. Kalau sampai Keisha gimana-gimana, bukan hanya Papi sama Mami kamu yang Tante ajak berkolaborasi tapi Tante juga bakal ngajakin Om sama Tante kamu yang lain plus adik kembar dan sepupu-sepupu kamu yang gahar-gahar itu buat ngabisin kamu juga. Pasti mereka dengan senang hati menyambut tawaran kolaborasi dari tante.
“Om dan Tante sama-sama kejamnya. Fian permisi dulu deh. Do’a in Fian berhasil ya.” Pinta Arfian sambil mencium punggung tangan Surya dan Arini.
Surya dan Arini tertawa terbahak-bahak melihat wajah calon menantunya yang sudah pucat pasi itu.
**************
Setelah dari rumah Keisha, Arfian langsung menelepon Keisha.
“Halo, Kei.”
“Iya Kak.”
“Kita makan siang bareng yuk.” Ajak Arfian.
“Nanti sore, Kakak jemput kamu di kantor kamu. Kita jalan-jalan aja ya, makan malamnya agak jauhan dikit.” Arfian mencoba membujuk Keisha untuk ikut bersama dengannya.
“Boleh deh.” Ujar Keisha singkat.
“Ya udah, sampai nanti sore ya.” Arfian menutup sambungan teleponnya dan berharap rencananya akan berjalan dengan sukses.
************************
Kei, Kakak tunggu di ruang tunggu depan lobi.
Jam 4 sore, Arfian mengirimkan pesan teks pada Keisha.
10 menit berlalu….
30 menit berlalu….
Keisha belum membalas pesan teks Arfian.
Kei, kamu lagi sibuk?....
__ADS_1
Arfian kembali mengirimkan pesan teks pada Keisha. Tampak dua centang belum berwarna biru pada pesan Arfian yang pertama menandakan Keisha belum membaca teksnya.
Arfian memutuskan untuk sabar menunggu dengan duduk manis di sofa ruang tunggu sambil memeriksa beberapa file yang belum sempat ia periksa.
1 jam berlalu….
Arfian memeriksa pesan teks yang dikirimkan pada Keisha yang warna centangnya belum berubah menjadi biru.
Arfian memutuskan untuk menghubungi Ken, yang menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan ini.
“Halo, ada apa Bang?” Ken menjawab panggilan telepon dan tanpa basa basi menanyakan keperluan Arfian.
“Kamu dimana, Ken?” tanya Arfian.
“Aku udah di rumah, Bang. Tadi istri aku minta tolong belikan buah di supermarket, jadi aku pulang agak cepat.” Ken tidak sungkan menceritakan apa yang dilakukannya untuk membahagiakan sang istri dan tidak malu menunjukkan cintanya yang mendalam pada istrinya.
“Suami siaga banget sih kamu Ken.” Ujar Arfian.
“Ya gimana lagi Bang, cinta banget sih sama istri, jadi harus dituruti segala kemauan istri apalagi lagi hamil gini.” Ken semakin menunjukkan cintanya pada sang istri yang sedang mengandung anaknya.
“Dasar bucin.” Sungut Arfian.
“Jomblo kaya Abang emang gak akan pernah ngerti.” Ejek Ken.
“Dasar, bapak sama anak sama aja.” Arfian semakin kesal mengingat Surya yang juga menunjukkan cintanya yang besar pada Arini. Mengingat dirinya yang masih sendiri semakin membuat dirinya kesal.
“Ada perlu apa Bang Fian telpon? Kalau gak ada yang penting, aku tutup telponnya ya. Istri aku udah manggil-manggil.” Ujar Ken di seberang sana.
“Gak ada yang penting. Bye.” Setelah menjawab, Arfian langsung menutup teleponnya.
“Dasar laki-laki bucin.” Sungut Arfian.
Waktu menunjukkan jam 5.45 sore.
Telepon Arfian berbunyi, tampak nama Keisha memanggil di layar teleponnya.
“Halo, Kak. Udah lama nunggu ya Kak? Maaf Kak, tadi aku sibuk banget, gak sempet pegang hape.” Suara di seberang sana menjelaskan alasan dia tidak membalas pesan.
“Kakak nunggu dari jam 4 tadi. Sekarang kerjaan kamu udah beres kan?” tanya Arfian.
“Sebentar lagi Kak, aku lagi beres-beres dulu. Kita sholat magrib di ruangan aku aja ya kak. Aku ada di lantai lima. Kakak naik aja kesini.” Keisha berkata dengan nafas yang tersengal-sengal tanda dia sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
“Ya udah, Kakak ke ruangan kamu.” Arfian menutup teleponnya dan segera beranjak menaiki lift ke lantai lima tempat ruangan Keisha berada.
__ADS_1