
Malam itu, Arfian dan Keisha tidak mampu memejamkan mata mereka barang sejenak pun. Sampai waktu shubuh tiba, keduanya masih asyik dengan lamunan mereka masing-masing. Mereka hanyut dalam pikiran mereka hingga tidak mengindahkan tubuh mereka yang sudah letih karena perjalanan.
Setelah shubuh, mereka berdua baru bisa memejamkan matanya. Mereka berdua tertidur hingga menjelang siang hari.
Paijo dan istrinya tidak berani untuk membangunkan mereka untuk sarapan. Hingga waktu makan siang sudah mendekat, Paijo memberanikan diri untuk mengetuk kamar Arfian.
Setelah beberapa kali ketukan, tidak ada sahutan dari dalam kamar sehingga Paijo kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang sehingga jika sewaktu-waktu majikannya bangun, makanan sudah siap tersedia.
Beberapa saat kemudian, Keisha keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Setelah bangun, Keisha merasakan lapar yang amat sangat.
Sampai di dapur, Keisha melihat Paijo dan istrinya yang sedang makan siang.
“Mas Paijo, apa ada makanan yang bisa dimakan?” Keisha bertanya pada Paijo di ambang pintu dapur.
“Ada, Neng. Makan siang sudah siap. Istri saya sudah masak dari tadi. Sayurnya mau dipanaskan lagi, Neng?” tanya Paijo sambil berdiri mengambilkan piring dan gelas untuk Keisha
“Gak usah, Mas. Mas Paijo teruskan saja makannya. Saya ambil piring sendiri. Saya sudah lapar sekali, mau makan langsung saja.” Sahut Keisha sambil mengambil piring dan gelas di rak.
Keisha mengisi gelas dangan air teh dari teko, kemudian menyendokkan nasi, lauk dan sayurnya langsung dalam satu piring.
“Neng, Den Arfian masih tidur ya?” tanya Paijo
“Mungkin.” Jawab Keisha pendek.
“Duh, saya khawatir Den Arfian kan baru sembuh terus tadi pagi juga tidak sarapan. Saya takut kalau sakitnya kambuh.” Ujar Paijo cemas.
“Iya, nanti saya bangunkan.” Sahut Keisha datar.
Paijo merasa heran dengan sikap Keisha yang dingin pada Arfian sekarang ini, padahal Paijo sangat ingat sekali bagaimana perhatiannya Keisha dulu pada Arfian. Tapi Paijo tidak ingin ikut campur dalam masalah majikannya lebih jauh lagi.
Setelah Keisha menyelesaikan makan siangnya, dia naik ke lantai dua untuk membangunkan Arfian.
__ADS_1
Belum sampai Keisha ke depan kamarnya, Arfian terlihat membuka pintu kamarnya dengan wajah yang terlihat pucat dan rambut yang acak-acakan.
“Kak, Kakak sakit?” tanya Keisha sambil menghampiri Arfian.
Ketika Keisha hendak menempelkan punggung tangannya di dahi Arfian untuk mengecek suhu tubuhnya, tangan Arfian menepis tangan Keisha.
Arfian berjalan melewati Keisha, menuruni tangga dan berjalan ke dapur untuk makan.
Keisha mengikuti Arfian dan duduk di meja makan di hadapan Arfian.
“Kamu bereskan barang-barang kamu, kita pulang setelah dzuhur.” Ujar Arfian sebelum dia mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
“Iya, Kak.” Jawab Keisha sambil tetap duduk di kursinya.
“Ngapain kamu duduk santai disini nontonin orang yang lagi makan. Kita berangkat 1 jam lagi biar tidak terlalu malam sampai rumah.” Ujar Arfian dingin sambil terus menyuapkan nasinya.
Keisha beranjak dari kursinya dalam diam. Ia masuk ke kamarnya dan mulai mengemas barang-barangnya yang tidak terlalu banyak. Ia merasa matanya kembali memanas dan air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Aku gak boleh cengeng.” Punggung tangan Keisha semakin sering menyusut air matanya.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Keisha masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan membasuh wajahnya dengan air hangat supaya tidak terlihat habis menangis.
“Dasar Arfian si manusia ke-jam, manusia gak punya hati, manusia paling nyebelin sedunia. Dia yang salah kenapa dia yang marah-marah.” Keisha membasuh wajahnya sambil memaki Arfian.
Keisha memakai kaos oblong dan celana pendek, duduk di sofa ruang tengah dengan tasnya yang disimpan di sampingnya, menunggu Arfian keluar dari kamarnya dengan tidak sabar. Ia berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya.
“Dia yang nyuruh cepat-cepat tapi malah dia yang lambat. Dasar manusia nyebelin.” Sungut Keisha.
Tak lama kemudian, Arfian keluar dari kamar sambil menenteng tasnya.
“Jo, mobilnya sudah siap?” tanya Arfian pada Paijo yang masih bersiap-siap di dalam kamarnya.
__ADS_1
Paijo dan istrinya segera keluar dari kamarnya.
“Siap, Den.” Jawab Paijo sambil mengambil tas yang ditenteng Arfian dan menyimpannya di bagasi mobil. Istri Paijo menghampiri Keisha dan hendak membawakan tasnya.
“Gak usah, Mbak. Biar saya sendiri yang bawa tasnya. Segini sih enteng dan gak perlu bantuan orang lain buat bawanya.” Keisha menyindir sambil mendelikkan matanya pada Arfian.
Arfian dan Keisha duduk di kursi belakang karena dalam perjalanan pulang ini, Paijo yang menyupir dengan istrinya yang duduk di kursi penumpang bagian depan.
Sebenarnya pagi ini Arfian berniat untuk mengajak Keisha ke Geopark Ciletuh dulu sebelum pulang. Arfian ingin mengabadikan kebersamaannya dengan berswafoto bersama dengan Keisha di jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara itu. Tapi penolakan Keisha malam sebelumnya telah menghancurkan mood Arfian.
Pagi tadi, Mood Arfian benar-benar buruk, ia baru bisa tertidur setelah shubuh alhasil ketika bangun, kepalanya terasa sangat sakit. Perkataan ketus yang Arfian lontarkan pada Keisha dikarenakan mood nya yang sangat buruk dan perasaan bersalahnya yang dia sendiri tidak sanggup mengontrolnya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Arfian maupun Keisha selama perjalanan. Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya terdengar musik yang Paijo nyalakan dengan suara yang sangat pelan.
Mobil Arfian sampai di depan rumah Keisha ketika menjelang magrib.
Keisha keluar dari mobil tanpa berkata-kata. Setelah ia mengambil tasnya dari bagasi, ia mengucapkan terima kasih pada Paijo dan istrinya kemudian langsung masuk ke dalam rumahnya. Keisha masih merasa kesal karena perlakuan Arfian padanya sebelum pulang tadi siang.
Di dalam mobil, Arfian hanya bisa menghela dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rencana menjadikan Keisha sebagai kekasihnya telah gagal.
“Jo, antar aku ke apartemen.” Perintah Arfian.
“Siap, Den.”
Arfian memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ia butuh untuk menyendiri dan tidak ingin ditanya-tanya oleh orangtua dan adik-adiknya perihal nasib percintaannya dengan Keisha. Seluruh orang di rumah Arfian mengetahui rencananya untuk menjadikan Keisha sebagai kekasihnya. Dengan kegagalannya, ia merasa malu jika kembali ke rumah dengan tangan hampa. Itulah mengapa, Arfian memutuskan untuk pulang ke apartemennya demi menghindari keluarganya.
*********
to be continued...
Baca juga ceritaku yang lain, Kutemukan Cinta Bersama Denganmu.
__ADS_1