Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
49. Wow


__ADS_3

Air mata mulai merembes dari sudut kedua mata Keisha. Punggung tangannya dengan cepat mengusap air mata yang hendak keluar itu.


Dengan kasar Arfian menggosokkan telapak tangan pada wajahnya demi meredam emosi yang bergejolak dalam hatinya.


“Kei…kalau kamu diam begini, saya tidak akan pernah mengerti apa yang kamu pikirkan tentang saya. Saya minta maaf kalau memang saya melakukan kesalahan pada kamu.” Ujar Arfian putus asa.


“Bukan aku yang marah tapi kamu yang marah marah duluan. Kamu marah hanya karena aku minta kamu untuk menunggu sebentar saja. Kamu gak ngertiin perasaan aku. Kamu egois!!!” Keisha melempari Arfian dengan buku-buku yang terletak di meja kecil di samping sofa.


“Maaf…maafkan saya.” Arfian memeluk Keisha.


Keisha berontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Arfian tapi Arfian semakin erat memeluknya.


“Kamu gak ngertiin perasaan aku. 10 tahun aku berusaha membunuh rasa cinta ini. 10 tahun aku berusaha untuk melupakan semua rasa sakit ini. 10 tahun aku berjuang untuk menata kembali hatiku yang hancur. Tapi dengan seenaknya kamu menyatakan cinta dan ingin segera mendapatkan jawabannya. Ketika aku minta kamu untuk menunggu sebentar saja, kamu malah marah.” Keisha mengeluarkan segala uneg-unegnya.


“Maaf, Kei….” Arfian masih memeluk Keisha dengan erat walapun dadanya mulai terasa sakit terkena pukulan tangan Keisha.


“Aku cuma minta kamu nunggu sebentar, tapi kamu gak sabaran dan malah marah. Kamu itu memang manusia paling menyebalkan di dunia.” Keisha terisak.


“Boleh Kakak tanya kenapa Kakak harus menunggu?” tanya Arfian hati-hati. Ia mulai paham alasan Keisha marah padanya.


“Lepasin dulu.” Keisha mendorong dada Arfian dengan tangannya.


Arfian melepaskan pelukannya.


“Aku memberikan ciuman pertamaku buat kamu. Selama 10 tahun ini, aku menjaga diriku dari sentuhan laki-laki lain. Aku bertekad untuk memberikan ciuman dan pelukan aku selanjutnya hanya untuk suamiku nanti. Tapi….” Keisha menjeda penjelasannya.


“Tapi apa Kei?” tanya Arfian tidak sabar.


“Tapi aku tahu kalau kamu memberikan hal ‘pertama’ kamu buat pacar kamu itu sampai dia hamil. Inilah yang jadi pertimbangan aku buat nerima cinta kamu. Aku masih belum bisa terima kalau kelak pasangan halalku sudah melakukan hal yang terlarang. Itulah kenapa aku minta kamu buat menunggu. Aku ingin meyakinkan diri dan hatiku untuk menerima kamu yang tidak akan bisa memberikan hal ‘pertama’ kamu buat aku. Kamu ngerti kan?” jelas Keisha.


Arfian menarik nafasnya perlahan dan mengeluarkannya juga dengan perlahan. Ia merasa lega karena akhirnya Keisha mengungkapkan kegalauan hatinya.


Arfian sudah tahu alasan Keisha menunda untuk menjawab pernyataan cintanya saat menguping pembicaraan antara Keisha dan Prita tadi. Tapi Arfian menunggu Keisha sendiri lah yang mengungkapkan hal sensitif tersebut.


“Kei, ada hal penting yang harus kamu tahu. Seharusnya Kakak menjelaskan hal penting ini terlebih dahulu sebelum menyatakan cinta.” Arfian sudah menggunakan kata ‘kakak’ kembali untuk menyebut dirinya.


“Kakak dan Early tidak pernah melakukan hal sampai sejauh itu. Memang kami juga pernah berciuman dan hampir melewati batas, tapi Kakak bersyukur hal itu tidak pernah terjadi. Early hamil bukan oleh Kakak. Kakak tidak pernah menyentuh dia sampai sejauh itu.” Arfian menjelaskan dengan gamblang.


Keisha terdiam mendengarkan penjelasan Arfian.


“Kakak mengetahui kalau bukan Kakak yang menghamili Early itu keesokan harinya setelah kejadian ciuman pertama kita. Hmmmm…ciuman pertama kita di sini, di kamar ini.” ujar Arfian sambil menatap lekat wajah Keisha dan mempelajari ekspresi yang ditampilkan oleh wajahnya.


Keisha merasa wajahnya memanas dan Arfian merasa bahagia melihat warna kulit wajah Keisha yang berubah warna menjadi merona kemerahan.

__ADS_1


“Setelah ciuman pertama kita itu, Kakak menyadari bahwa gadis yang selama ini Kakak cintai itu memang kamu.”


“Jangan ngomongin tentang ciuman itu.” Ucap Keisha ketus karena malu.


Arfian tidak mengindahkan perkataan Keisha dan meneruskan penjelasannya.


“Setelah ciuman itu dan kamu pergi dari kamar ini. Kakak tidak bisa melupakannya. Semalaman Kakak merenung dan sampai pada keputusan bahwa kamulah yang Kakak cintai. Seharusnya Kakak menyadarinya jauh sebelumnya. Kalau dipikir-pikir, Kakak ini kan selalu memaafkan kamu walaupun berulang kali kamu mencoba merusak hubungan Kakak dengan Early saat itu. Sepertinya di bawah alam sadar, Kakak memang sudah mencintai kamu.”


Keisha terkesiap mendengar penjelasan Arfian. Ia tidak menyangka bahwa sebenarnya Arfian memang mencintainya sejak lama. Hanya saja memang Arfian itu bo-doh sampai tidak bisa menyadari perasaannya sendiri.


“Saat itu Kakak berpikir bahwa Kakak tidak boleh jadi pria yang kejam yang langsung mengeksekusi Early. Walaupun Kakak tahu bahwa Early sudah berselingkuh sampai hamil, tapi Kakak tidak sakit hati, malah Kakak merasa sedikit bersyukur karena memiliki alasan untuk memutuskan Early. Tapi Kakak tidak mau bersikap kejam dengan memutuskan dia ketika masih terbaring di rumah sakit. Kakak berusaha untuk menunggu Early sehat dulu baru memutuskan hubungan kami.” Tangan Arfian mengelus puncak kepala Keisha.


Keisha memandang lekat wajah Arfian. Ia merasa, sekarang ini Arfian terlihat sangat tampan.


“Kamu tahu, Kei. Setelah Kakak memutuskan Early, Kakak ingin segera menemui kamu dan menyatakan rasa cinta Kakak sama kamu. Tapi ketika Kakak akan berangkat ke rumah kamu, Paijo memberikan surat dari kamu. Seminggu setelah kepergian kamu, Kakak baru menerima dan membaca surat dari kamu.”


Arfian beranjak dari duduknya dan membuka laci untuk mengambil sepucuk surat yang sudah terlihat lecek.


“Ini surat dari kamu. Entah berapa ratus kali Kakak membacanya selama 10 tahun ini.” Arfian memperlihatkan bentuk surat yang sudah terlihat kusam dan lecek itu.


Keisha beranjak dari duduknyu dan memandang wajah Arfian.


“Maafkan, kei.” Keisha menghamburkan tubuhnya memeluk Arfian dengan erat.


Arfian membalas pelukan Keisha dan merasakan beban yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya bisa terlepas juga.


Keisha mengangguk-anggukkan kepalanya dalam perlukan Arfian.


“I love you more.” Ucap Keisha dalam hati. Keisha masih merasa gengsi untuk menyatakannya cintanya pada Arfian.


“Kita menikah yuk” ucap Arfian.


Keisha berontak berusaha melepaskan diri dari pelukan Arfian.


“Apaan sih. Melamar perempuan gak ada romantis-romantisnya. Gak mau.” Ketus Keisha kesal.


“Umur Kakak sudah 36 tahun, kamu sudah 28 tahun. Bukan waktunya memikirkan yang romantis-romantis. Yang terpenting sekarang, Kakak mau melamar kamu langsung sama orangtua kamu. Mumpung semua lagi ngumpul disini, Kakak mau melamar kamu hari ini juga.”


“Gak bisa. Kakak gak boleh melamar hari ini. Kei pengen kita rahasiain dulu. Lagian Kei belum terima cinta Kakak.” Ungkap Keisha.


“Kamu terima cinta Kakak kan Kei?” tanya Arfian khawatir.


“Hmmp….” Keisha menahan tawanya melihat wajah Arfian yang terlihat nelangsa.

__ADS_1


“Jawab Kei.” Geram Arfian.


“Jawab gak yaaaa…..” Keisha mengerlingkan matanya.


Arfian menangkup wajah Keisha dengan kedua telapak tangannya dan memandang dalam mata Keisha. Arfian semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Keisha. Hidung mereka sudah saling menyentuh. Bibir Arfian mengecup ujung hidung Keisha.


“Mau yang lebih?” tanya Arfian nakal.


Keisha menutup mulutnya dengan tangannya.


“Kamu cinta Kakak kan? Jawab sekarang atau….” Ancam Arfian.


Keisha mengangguk-anggukkan kepalanya dalam tangkupan telapak tangan Arfian.


“I love you, too.” Arfian mengecup kening Keisha dan melepaskan tangkupan tangannya.


“Dasar manusia nyebelin.” Keisha memeluk Arfian erat.


“Boleh ya, Kakak menemui orangtua kamu dan melamar kamu hari ini juga.” Tanya Arfian lagi.


Keisha menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?”


“Kei malu.” Jawab Keisha lirih.


“Kenapa malu?”


“Malu saja. Kei udah pergi menghindar selama 10 tahun. Masa pas ketemu lagi langsung menikah. Mau ditaruh dimana muka Kei?”


“Ya muka tetap ditaruh ditempatnya. Masa mau dipindah ke kaki, jadi aneh dong.” Canda Arfian.


“Nyebelin.” Keisha mulai memukul-mukul dada Arfian.


“Tunggu disini, Kei!” Arfian melepaskan pelukannya.


Arfian membuka kunci kamarnya.


“Mau kemana, Kak?” tanya Keisha cepat.


“Mau menemui Om Surya dan Tante Arin.” Arfian melesat keluar kamar.


“Kakaaaaaaak……” Teriak Keisha.

__ADS_1


***********


to be continued


__ADS_2