
Arfian membuka matanya dan memandang sekelilingnya. Dia terbaring di atas kasur di sebuah kamar perawatan di Rumah Sakit tidak jauh dari bandara Soetta. Tampak selang infus yang menempel di lengan kirinya.
Arfian teringat bahwa dia sebelumnya masih berada di bandara. Dia merasakan tubuhnya yang jatuh ke lantai dan setelahnya dia tidak mampu mengingat apa yang terjadi setelah dia terjatuh.
Arfian kembali memejamkan matanya karena dia merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Dia bisa merasakan kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri. Tenggorokannya pun terasa kering dan dia merasa sangat haus.
Arfian mencoba membuka lagi matanya dan berusaha mencari tombol di atas kasurnya untuk memanggil perawat tapi sayangnya tidak berhasil dia temukan. Arfian menyerah dan kembali memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
****************
“Halo, Bu. Den Fian masuk rumah sakit.” Paijo menelepon Maya, maminya Arfian untuk mengabarkan keadaan Arfian yang terbaring di rumah sakit.
“Astaghfirulloh. Fian kenapa, Jo?” tanya Maya cemas.
“Tadi pas saya jemput Den Fian di bandara, saya lihat Den Fian pingsan. Terus dibantu sama orang-orang di bandara, saya bawa Den Fian ke rumah sakit dekat bandara, Bu.” Jawab Paijo.
“Makasih Jo, kamu jangan kemana-mana, pantau terus keadaan Fian. Sekarang gimana keadaannya, Jo? Dia udah sadar lagi belum?” tanya Maya yang sudah mulai terisak.
“Tadi sih masih diperiksa sama dokter terus dikasih infus.” Jawab Paijo.
“Jo, temenin Fian. Kamu jangan kemana-mana.” Perintah Maya tegas.
“Siap Bu Bos.” Paijo menjawab perintah majikannya sambil menganggukan kepalanya.
Maya segera menghubungi suaminya yang sedang bermain tennis di lapangan komplek. Tapi sayang, Farid tidak menjawab panggilan teleponnya. Kemudian Maya memerintahkan Jono untuk menyusul Farid ke lapang tennis dan memberitahukan kabar bahwa Arfian dirawat di rumah sakit.
10 menit kemudian, Farid sudah tiba di rumah dan segera membersihkan diri dan tak lama kemudian dia berangkat bersama Maya ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Maya menghubungi Arini lewat sambungan telepon.
“Rin, Fian dirawat di rumah sakit dekat bandara Soetta.” Maya memberitahu Arini.
“Kenapa dia, May?” tanya Arini.
“Gak tau May. Dia pingsan di bandara setelah balik dari Paris. Kamu tahu kan dia nyari-nyari Keisha. Mungkin dia kecapean melakukan perjalanan non-stop.” Jelas Maya.
“Aku sama Mas Surya langsung meluncur ke sana. Kamu jangan khawatir May. Fian, anak yang kuat, dia gak akan kenapa-napa.” Arini berusaha menenangkan Maya yang sudah mulai terisak.
“Iya Rin. Kamu langsung ke rumah sakit aja ya. Kita ketemu disana. Kalau memungkinkan kamu kabari juga Keisha. Mungkin Fian bakal cepat sehat lagi kalau ketemu sama Keisha.” Pinta Maya.
“Pasti May. Aku bakal kasih kabar ini ke Keisha. Dasar emang tuh anak bener-bener hobi bikin masalah. 10 tahun menghilang dan bikin orang jadi sakit gini. Aku bener-bener minta maaf May” Arini merasa bersalah karena gara-gara ulah Keisha, Arfian harus dirawat.
“Bukan salah Keisha kok May. Itu mah emang si Fian aja yang salah. Dia yang bikin Keisha pergi. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu Rin. Gara-gara ulah anak aku yang berengs*k itu, kamu jadi gak bisa berkumpul sama anak perempuan kesayangan kamu.”
“Lah kenapa kita jadi maaf-maafan sih May. Udah deh, kalau ngobrol terus kapan aku berangkat ke rumah sakitnya.” Arini memutuskan sambungan teleponnya. Dia langsung menghubungi Keisha untuk memberikan kabar tentang Arfian.
__ADS_1
“Kei, kamu lagi mana?” tanya Arini langsung setelah Keisha menjawab teleponnya.
“Lagi ketemuan sama Lena dan Prita di Café Mercusuar.” Jawab Keisha.
“Kei, Sekarang kamu pergi rumah sakit dekat bandara Soetta ya.” Perintah Arini.
“Siapa yang sakit Mah?” tanya Keisha cemas.
“Arfian yang sakit. Dia pingsan di bandara.” Jawab Arini.
Keisha langsung terdiam setelah mendengar kabar Arfian yang masuk rumah sakit. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya masih sangat menyayangi Arfian. Waktu 10 tahun tanpa bertemu tidak mampu menghapuskan rasa cintanya pada Arfian. Jadi ketika Keisha mendengar kabar Arfian masuk rumah sakit, dia juga merasakan sakit.
“Kei, kamu dengar kan?” tanya Arini setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari Keisha.
Masih hening.
“Kei, kamu masih disitu kan? Kamu denger suara Mamah gak?” tanya Arini lagi.
Keisha tersadar dari lamunannya.
“Iya, Mah. Kei denger. Kei langsung berangkat ke rumah sakit dari sini. Kei berangkat bareng Prita dan Lena.” Sahut Keisha cepat dan menutup sambungan teleponnya.
“Ada apa, Kei?” tanya Lena.
Keisha segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tas miliknya yang disimpan di atas kursi.
“Kei, aku antar kamu kesana. Kita bareng ke rumah sakitnya.” Tawar Prita.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Café menuju rumah sakit menggunakan mobil yang dikendarai oleh Prita.
Tiba di rumah sakit, Keisha langsung pergi ke ruang UGD. Di sana, dia melihat orangtua Arfian yang sedang duduk di luar ruangan UGD.
“Tante, Om…. Gimana keadaan Kak Fian?” tanya Keisha cemas. Prita dan Lena mengikuti dari belakang.
“Masih belum sadar, Kei.” Jawab Maya dengan mata yang terlihat sembab.
“Kak Fian belum dipindahkan ke ruang perawatan, Om?” tanya Keisha pada Farid.
“Kita sedang minta pertimbangan dokter untuk memindahkan Fian ke rumah sakit lain.” Jawab Farid.
“Apa gak sebaiknya, Kak Fian dirawat di sini saja? Kasihan kalau harus pindah rumah sakit.” tanya Keisha hati-hati.
“Om juga mikirnya sih gitu. Tapi Maminya bersikeras memindahkan Fian ke rumah sakit yang lebih besar. Emang Tante kamu itu ngeyel orangnya.” Sahut Farid yang setelah mengatai istrinya ngeyel langsung mendapatkan cubitan di perutnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, orangtua Keisha tiba juga di rumah sakit. Disusul tak lama kemudian adik kembar Arfian, Arfan dan Arfin yang tiba di rumah sakit.
Akhirnya orangtua Arfian memutuskan untuk melanjutkan perawatan di rumah sakit ini. Mereka khawatir jika mereka berpindah rumah sakit akan mengakibatkan efek yang buruk pada Arfian.
Malam telah tiba. Arfian sudah berada di ruang rawat inap tapi masih belum sadar. Di dalam kamar ada Maya dan Arini, sedangkan yang lain menunggu di luar kamar.
Keisha masuk ke dalam kamar tempat Arfian di rawat.
“Tante, Mah. Kalian pulang saja. Biar Kei yang tunggu Kak Fian di sini.” Tawar Keisha.
Maya dan Arini menganggukan kepalanya.
“Tolong jaga Fian, Kei. Besok, Tante ke sini lagi buat gantiin kamu jaga. Makasih ya Kei.” Maya memeluk Keisha sambil mengucapkan terima kasih.
Keisha hanya menganggukan kepalanya.
“Kei, Mamah pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi kami.” Ujar Arini.
“Iya, Mah.”
Maya dan Arini pun meninggalkan ruangan menyisakan Keisha dan Arfian yang masih belum sadar.”
Keisha duduk di samping tempat tidur Arfian dan memandang wajah Arfian yang terlihat sangat pucat. Terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Bibirnya pun terlihat berwarna putih pucat menandakan sang pemilik bibir sedang tidak baik-baik saja.
Keisha meraih tangan Arfian dan mendekatkannya ke bibirnya. Diciumnya tangan Arfian yang terasa hangat itu.
“Kak, maafkan aku. Gara-gara aku Kakak jadi begini. Aku tidak pernah menyangka kalau nasib kita akan seperti ini. Aku sangka Kakak sudah hidup Bahagia dengan pacar Kakak itu. Aku bodoh Kak. Aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mau tau keadaan Kakak saat itu.” Keisha mulai terisak menyesali keputusannya dulu.
Keisha menyesal dia telah membuat keputusan untuk tidak menerima kabar apapun yang berkaitan dengan Arfian. Setiap kali teman dan keluarganya ingin membicarakan Arfian ketika Keisha sesekali menghubungi mereka, dengan keras kepalanya Keisha selalu menolak apapun kabar mengenai Arfian.
Keisha tidak pernah mau membaca email-email yang dikirimkan baik oleh Arfian, keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Andai saja, Keisha mau membaca email dari Lena yang memberitahunya tentang batalnya pernikahan Arfian dan Early, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin Keisha bisa memperjuangkan cintanya dan sekarang sudah bahagia dalam sebuah pernikahan.
“Kak, bangun Kak. Apa Kak Fian gak rindu sama aku? Aku disini Ka, ada di dekat Kak Fian.” Air mata Keisha mulai menetes.
Keisha membelai pipi Arfian dengan lembut. Kemudian tangannya berpindah ke atas kepala Arfian dan mulai membelai rambut Arfian dengan sayang.
“Malam ini, Kak Fian istirahat saja ya. Besok pagi, Kak Fian harus bangun. Tidurnya kelamaan Kak.” Bujuk Keisha sambil terus membelai rambut Arfian dengan lembut.
Tengah malam Arfian terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya lampu yang masuk ke dalam netranya. Arfian menutup matanya lagi karena matanya terasa sakit terkena silaunya lampu. Kemudian sedikit demi sedikit, Arfian kembali mencoba membuka matanya. Dia memandang ke sekeliling ruangan dan merasa dia sendirian berada di kamar rawat inap.
Ketika Arfian mengedarkan pandangan matanya sekali lagi, dia terkejut melihat seorang perempuan yang sedang tertidur di sofa dekat jendela. Dia memfokuskan matanya yang masih kabur untuk mengetahui siapa perempuan yang sedang tertidur itu.
Arfian melihat seorang perempuan yang walapun berambut pendek masih terlihat feminine, memakai pakaian santai: kaos oblong, rok sebetis dan sepatu sporty.
__ADS_1
Deg....