Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
39. Bimbang


__ADS_3

“Tante Maya sama Om Farid kemana sih, kok lama gak balik-balik kesini?” tanya Keisha dalam hati.


Kemudian Keisha mengirimkan pesan teks.


Keisha: Tante dimana? kapan kesini?


Maya: Maaf Kei, Tante sama Om pulang dulu. Ada urusan mendadak. Tolong jagain Fian ya, nanti sore Tante balik lagi ke rumah sakit.


Keisha: Iya, Tan.


“Tante Maya kok gak bilang-bilang sih kalau pulang duluan.” Gerutu Keisha dalam hati.


Bukannya Keisha tidak ikhlas merawat Arfian, malahan Keisha sangat ikhlas dan bahagia bisa merawat Arfian. Hanya saja sikap Arfian yang tidak mau menghabiskan makannya tadi membuat Keisha kesal sehingga berdampak negatif pada moodnya.


Selama empat hari Arfian dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Keisha merawatnya dengan telaten walaupun mereka kerap bersitegang karena urusan kecil. Seringnya Keisha kesal karena Arfian enggan menghabiskan makanannya ataupun Arfian yang mengkritik kebiasaan Keisha yang sering nonton drama korea ataupun main game online di ponselnya sehingga sering mengabaikan Arfian.


Hari Minggu, keluarga Arasyid pergi ke rumah keluarga Wirahadikusuma yang mengadakan anniversary pernikahan Farid dan Maya yang ke 38 sekaligus syukuran akan kesembuhan Arfian.


Farid dan Maya hanya mengundang keluarga dan teman-teman terdekatnya saja. Syukuran diadakan di taman belakang rumah mereka yang luas.


Hari itu, Keisha memakai dress terusan berwarna biru dongker yang walaupun desainnya sederhana tapi membuat Keisha terlihat lebih feminin dan anggun. Rambutnya yang pendek dihiasi jepitan rambut berwarna senada dengan dressnya.


Keisha melihat Arfian yang sedang duduk sendirian di kursi taman. Keisha menghampiri Arfian sambil membawa piring kecil berisi Pai Apel dan Pastel kesukaan Arfian.


“Kak, ni kue kesukaan Kakak. Khusus mama yang bikin buat Kakak.” Keisha menyodorkan piring kecil berisi pai apel dan pastel itu ke tangan Arfian.


“Makasih.” Ucap Arfian.


Keisha menganggukan kepalanya dan duduk di samping Arfian.


“Nanti, Kakak pengen makan kue buatan kamu.” Arfian berkata sambil memasukan pai apel ke mulutnya.


“Pai apelnya enak walaupun rasanya tidak seperti biasanya.” Ujar Arfian.


“Ituuuu….aku juga bantu mama bikinnya.” Sahut Keisha.


“Nanti kamu bikin sendiri ya. Kakak pengen nyoba kue bikinan kamu.” Pinta Arfian.


“Iya.” Keisha menjawab sambil menundukkan kepala memperhatikan sepatu barunya yang membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas rumput taman.


Sebenarnya Keisha lah yang membuat pai apel dan pastelnya. Keisha Latihan membuat pai apel dan pastel ketika sedang di Milan.

__ADS_1


“Nanti, aku bikinin pizza sama spaghetti ya Kak. Aku belajar bikinnya pas lagi di Italy. Rasanya otentik banget, aku belajar bikinnya dari tetangga aku di Milan.” Keisha bercerita kalau dia sudah belajar banyak membuat makanan khas Italy dan berjanji akan membuatkannya untuk Arfian.


“Kei….” Panggil Arfian.


“Hmm…”


“Kamu…hmmm…boleh gak kalau….gak jadi deh.”  Arfian batal untuk menanyakan sesuatu pada Keisha.


“Apa sih Ka…?” tanya Keisha penasaran.


“Waktu dulu kamu pergi…. Boleh gak kalau Kakak tahu kemana aja kamu pergi?” tanya Arfian hati-hati.


“Hmmm…” Keisha mulai memikirkan apakah dia akan menceritakan petualangannya dalam menyembuhkan hatinya.


“Kamu gak mau cerita?” Arfian bertanya dengan nada suara kecewa karena merasa Keisha sedang menutup diri darinya.


Keisha masih terdiam, hati dan pikirannya sedang menimbang-nimbang apakah dia sudah siap menceritakannya.


“Kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa. Sekarang kamu ceritakan saja rencana kamu kedepannya apa? Apa kamu mau kerja di perusahaan Papa kamu atau ada passion yang lain?” tanya Arfian mengubah topik dari kisah menghilangnya Keisha.


“Sepertinya begitu. Aku belajar fashion design di Milan. Sepertinya akan cocok kerja di tempat Papa.” Keisha menceritakan sedikit tentang rencananya di masa depan.


Arfian merasa jarak antara dirinya dengan Keisha agak menjauh. Baru saja Keisha menyebutkan kata ‘aku’ untuk menyebut dirinya. Biasanya dia menyebut ‘Kei’ untuk menyebut dirinya jika mengobrol dengan Arfian. Sewaktu di rumah sakit saja Keisha masih menyebut dirinya ‘Kei’.  Arfian tidak mengerti apa yang membuat Keisha menyebut dirinya ‘aku’.


“Kei…. kamu udah makan sayang?” teriakan Maya memecahkan keheningan diantara mereka.


“Udah, Tan.” Jawab Keisha sambil menganggukan kepalanya.


“Suruh Fian makan, Kei. Dia ini sejak keluar dari rumah sakit, selera makannya belum meningkat. Masih malas makan dia kalau gak dipaksa-paksa.” Ujar Maya sambil menyendokkan nasi di piringnya dan mendekatkan ke arah mulut Arfian.


Arfian menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


“Fian gak lapar, Mam. Lagian barusan udah makan pai apel sama pastel.” Arfian menunjukkan piring kecil yang masih menyisakan satu buah pai apel.


“Tadi pagi, kamu cuma makan oatmeal dua sendok, sekarang cuma makan kue. Nanti kamu gak ada tenaganya. Kapan kamu bisa beraktivitas seperti biasanya?” omel Maya.


“Iya nanti Fian makan kalau lapar. Mami cerewet banget sih.” Ujar Arfian kesal karena Maminya memperlakukan dia seperti anak kecil.


“Kalau Mami cerewet itu tandanya Mami sayang banget sama kamu, Nak.” Ujar Maya sambil memeluk dan menciumi pipi putra sulungnya itu.


“Mami apa-apaan sih….” Arfian berusaha melepaskan pelukan Maminya dan melap pipinya yang ternoda lipstick berwarna merah hasil dari ciuman bertubi-tubi dari Maminya.

__ADS_1


Karena kesal dengan ulah Maminya, Arfian beranjak dari kursi taman kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di kamarnya. Arfian sedang tidak ingin diganggu ataupun bertemu dengan siapapun.


Setelah berada di dalam kamarnya, Arfian mengganti kameja dan celana kainnya dengan celana pendek dan kaos oblong. Moodnya sudah benar-benar rusak. Saat ini dia hanya ingin membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk memejamkan matanya berharap pikirannya bisa sedikit tenang. Ada rasa marah dan kecewa ketika mendengar jawaban-jawaban Keisha.


Tadinya Arfian berharap besar dengan kepulangan Keisha. Dia berharap hubungannya dengan Keisha bisa membaik. Tapi memperhatikan interaksinya dengan Keisha di taman tadi, sepertinya harapan Arfian hanyalah tinggal harapan. Arfian merasa jika hubungannya dengan Keisha tidak akan sebaik seperti dulu.


Walaupun Keisha sudah kembali, tapi Keisha kembali bukan untuk dirinya.


Arfian membuka lagi surat dari Keisha dan membaca kembali baris demi baris yang sudah sangat dihapalnya itu.


Di suatu tempat, Kei akan mencoba menumbuhkan kembali cinta yang selayaknya pada Kak Fian, cinta seorang adik perempuan kepada kakak laki-lakinya. Kak Fian akan lihat cinta Kei yang seperti dulu, cinta seorang Kei yang berumur lima tahun kepada Kak Fian yang berumur dua belas tahun. Cinta murni seorang adik kepada kakaknya.


Kei tidak tahu berapa lama Kei sanggup untuk menyembuhkan luka hati Kei dan mengubah kembali rasa cinta itu. Mungkin hati Kei bisa sembuh dalam waktu satu tahun atau dua tahun atau mungkin lima tahun. Mungkin juga lebih lama. Tapi Kei janji Kei akan kembali pada Kak Fian. Berdiri di hadapan Kak Fian dengan senyum yang tulus.


Arfian mengulang-ngulang membaca barisan kalimat ini dan semakin yakin bahwa hati Keisha yang sekarang sudah bukan untuknya. Cinta Keisha yang sekarang adalah cinta seorang adik kepada kakak laki-lakinya.


Setelah selesai membaca habis surat Keisha yang entahlah untuk keberapa kalinya. Arfian melipat surat yang sudah tampak kucel itu karena saking seringnya dibuka, dibaca, dan dilipat kembali.


Setelah menyimpan suratnya ke dalam laci dekat tempat tidurnya, Arfian kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya.


Tok….tok….tok…


Seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Arfian tidak mengindahkannya dan tetap berbaring serta memejamkan matanya.


Tok…tok…tok…


Kembali terdengar ketukan yang terdengar lebih keras.


Arfian inginnya tetap tidak mengindahkannya, tapi ketukan keras dipintu kamarnya itu sangat mengganggu waktunya yang tenang.


Setelah dua kali ketukan tidak diindahkan oleh manusia yang ada di dalam kamar, manusia yang ada di luar kamar itu menggedor pintu kamarnya.


Dok…dok…dok…


Arfian membuka matanya yang terpejam dan segera terbangun dengan enggan dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya. Arfian berharap orang yang mengetuk pintu kamarnya itu Keisha tapi mendengar gedorannya yang seperti orang gila, tidak mungkin yang mengetuk pintunya itu Keisha.


***********


to be continued

__ADS_1


Baca juga ceritaku yang lainnya ya....judulnya Kutemukan Cinta Bersama Denganmu


ini tentang kisah cinta Kagendra dan Sadiyah.


__ADS_2