
Arfian membuka kunci kamarnya.
“Mau kemana, Kak?” tanya Keisha cepat.
“Mau menemui Om Surya dan Tante Arin.” Arfian melesat keluar kamar.
“Kakaaaaaaak……” Teriak Keisha.
Keisha berusaha mengejar Arfian dan mencegah Arfian untuk melamar pada orangtuanya hari ini.
****************************
Setelah membuka pintu kamarnya, Arfian langsung berlari menuruni tangga dan mencari keberadaan orangtuanya dan orangtua Keisha.
Keisha terdiam mematung menyaksikan kegesitan Arfian.
“Kakaaaaaaak……” Teriak Keisha.
Setelah menyadari situasinya, Keisha berusaha mengejar Arfian dan mencegah Arfian untuk melamar pada orangtuanya hari ini.
Keisha ikut berlari mengejar Arfian menuruni tangga.
“Itu Kak Fian sama Kei ngapain kejar-kejaran gitu?” tanya Alena heran melihat kelakuan sepupu dan sahabatnya yang saling kejar.
“Lagi main film India kali.” Jawab Prita asal.
Kemudian Alena dan Prita kembali menikmati makanan yang ada di atas piring mereka dan mengabaikan adegan kejar-kejaran antara Arfian dan Keisha.
Setelah mengelilingi rumahnya yang luas itu, Arfian menemukan orangtuanya, orangtua Keisha, dan orangtua Kagendra sedang mengobrol bersama di taman samping.
“Mam, Pap, Om Surya, Tante Arin, ada hal yang ingin aku utarakan pada kalian.” Arfian mendekati mereka dengan nafas tersengal.
“Kamu itu habis dikejar-kejar siapa sih Yan?” tanya Yusuf, abahnya Kagendra.
“Ada hal penting yang harus aku sampaikan pada Mami, Papi, Om Surya dan Tante Arin.” Sahut Arfian.
“Jadi Abah sama Ibu gak boleh tau nih hal yang mau kamu utarakan itu?” tanya Indriani, ibunya Kagendra.
“Boleh kok Bu.” Jawab Arfian.
Kemudian Arfian menarik kursi kosong yang ada di sudut dan duduk diantara para orangtua.
“Fian mau minta izin sekaligus minta restu sama Mami dan Papi buat….”
“Kaaaaak, tunggu….” Sebelum Arfian menyelesaikan kalimatnya, Keisha akhirnya menyuusul Arfian dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
“Ini lagi anak gadis ngapain juga lari-lari sampai ngos-ngosan begitu.” Omel Arini
“Kak….” Tampak wajah Keisha memelas, memberikan sinyal pada Arfian agar jangan dulu memberitahu rencananya untuk melamar Keisha langsung pada orangtuanya.
Tapi Arfian pura-pura tidak menangkap sinyal yang diberikan Keisha, ia sudah bertekad untuk melamar Keisha hari ini juga, ia tidak ingin terlambat lagi.
__ADS_1
“Fian mau minta izin sekaligus minta restu sama Mami dan Papi buat menikahi Keisha. Fian minta sama Papi dan Mami untuk melamarkan Keisha untuk Fian pada Om Surya dan Tante Arini.” Arfian mengungkapkan maksudnya ini dengan satu tarikan nafas.
Farid dan Maya tersenyum lega mendengar maksud dari anak sulungnya itu, terutama Maya yang sudah sangat tidak sabar untuk melihat anak sulungnya menikah.
“Alhamdulillah.” Surya, Arini, Farid, Maya, Yusuf dan Indriani kompak mengucapkan hamdalah.
Wajah pucat Keisha berubah warna menjadi merah merona, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan karena saking malunya.
“Sini Kei, duduk.” Panggil Maya sambil mendelik pada Arfian agar memberikan kursi yang didudukinya pada Keisha.
Arfian menghampiri Keisha dan menggandeng tangannya untuk duduk di hadapan para orangtua. Arfian mengambil kursi lain untuk diduduki dirinya.
“Ehem…” Farid berdehem untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Pandangan semua orang yang duduk di situ berpaling pada Farid, menunggu kata-kata yang akan dilontarkan oleh Farid.
“Baiklah, walaupun kondisi dan situasinya kurang kondusif untuk membicarakan hal yang begitu penting, tapi menimbang pada keadaan anak kami yang sudah tidak bisa lagi menahan sabar, maka saya dan istri akan langsung saja menyampaikan maksud baik anak kami.” Farid mulai dengan basa-basinya.
“Surya dan Arini, hari ini saya dan Maya, istri saya ingin menyampaikan maksud baik kami. Kami bermaksud untuk melamar putri kalian untuk putra sulung kami, Arfian. Saya berharap maksud baik kami ini mendapatkan respon yang positif dari kalian.” Harap Farid.
Surya dan Arini tersenyum mendengar lamaran yang disampaikan oleh sahabatnya, Farid.
Surya berdiri, kemudian Farid pun berdiri. Mereka berjabat tangan dan berpelukan bahagia. Begitu juga Arini dan Maya yang sudah saling berpelukan meluapkan kebahagiaan mereka. Yusuf dan Indriani hanya menonton kejadian unik yang terjadi di depan mata mereka dengan rasa haru.
Arfian mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Farid menepuk bahu putra sulungnya itu dengan bangga.
“Akhirnya, kamu mendapatkan kebahagian juga. Mami yakin, kamu bakal memetik buah dari kesabaran kamu ini.” Maya memeluk Arfian dengan erat.
Surya memeluk Arfian dengan erat sambil berbisik di telinga Arfian, “Awas kalau kamu menyakiti lagi anak Om, bakal habis kamu dicincang sama Om.”
Arfian menganggukan kepalanya dalam pelukan Surya.
“Sini, Kei.” Arini dan Maya memeluk Keisha berbarengan.
Mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
“Sur, nanti kita akan lakukan lamaran resminya, gak enak juga kan proses lamarannya dadakan begini.” Ujar Farid.
“Kapan?” tanya Surya tanpa basa-basi.
“Nanti malam.” Jawab Farid tanpa basa-basi juga.
“Siap. Kami tunggu di rumah malam ini.” Surya tak mau kalah gercep.
“Eeeeh tunggu dulu….” Arini dan Maya menginterupsi obrolan suami mereka.
“Gak bisa dadakan gini dong Pah. Kita harus menyiapkan jamuan istimewa untuk menerima tamu istimewa. Jangan main siap saja.” Omel Arini.
“Iya nih si Papi sok sok an banget sih. Kita harus mempersiapkan banyak hal buat melamar anak gadis orang. Jangan seenaknya saja melamar anak gadis orang tanpa membawa seserahan.” Omel Maya tak kalah galaknya.
“Jadi kapan?” tanya Farid dan Surya kompak.
__ADS_1
“Besok.” Jawab Maya dan Arini kompak juga.
Arfian dan Keisha ternganga melihat kelakuan orangtua mereka. Lain halnya dengan Yusuf dan Indriani yang langsung bertepuk tangan dengan riuh setelah mendengar kata ‘besok’ dari Maya dan Arini.
Tak lama kemudian, Arini langsung membuka ponselnya dan menelepon katering langganannya
“Iya, buat besok. Menunya jangan yang biasa, tambahkan beberapa menu tambahan. Iya…iya…iya besok siang harus sudah siap” Arini menelepon sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Jeng, pesenan cincin itu saya ambil sore ini, bisa kan?” Maya pun tak kalah cepatnya dalam mempersiapkan lamaran untuk putra sulungnya itu.
Maya memang telah memesan 6 pasang cincin untuk pertunangan dan pernikahan ketiga putranya. Setelah empat tahun lalu, Maya mengambil 2 pasang cincin untuk pertunangan dan pernikahan salah satu anak kembarnya, akhirnya hari ini, Maya akan mengambil 2 pasang cincin lagi untuk pertunangan dan pernikahan putra sulungnya.
Arfian dan Keisha terbengong-bengong melihat gerak cepat yang dilakukan oleh Mami dan Mamanya.
“Mala….” Arini berteriak memanggil Mala, adik iparnya yang sedang hamil muda.
“Ada apa, Mbak?” Mala menghampiri Arini sambil menggendong putrinya yang masih berusia dua tahun.
“Kamu anter si Kei ke salon buat perawatan. Besok ada yang mau ngelamar dia.” Sahut Arini.
“Siap, Mbak. Laksanakan!” Mala bersiap untuk mengantar Keisha.
“Ayo Kei, cepat kita pergi, nanti keburu kesorean.” Mala menghampiri Keisha dan menarik tangannya.
“Sini biar Kei yang gendong Acha.” Keisha mengulurkan tangannya untuk mengambil Acha dari gendongan Mala.
“Eeeeh jangan, biar tante titipin aja ama bapaknya.” Seru Mala.
“Sayang, titip dulu Acha. Aku mau nganter Keisha buat perawatan. Besok dia mau dilamar.” Jaka, suami Mala yang lebih muda 5 tahun itu menghampuri Mala dan mengambil putrinya dari gendongan istrinya.
“Mau aku anter?” tanya Jaka.
“Gak usah. Kita naik taksi online aja. Pulangnya juga tidak usah dijemput.” Jelas Mala sambil mengamit tangan Keisha.
Arfian memandang takjub pada gerak cepat yang dilakukan oleh Maya, Arini dan Mala.
Setelah mendapatkan wejangan yang panjang dan lebar dari Papinya, Papa Keisha dan Pamannya, Arfian masuk ke kamarnya dan bermaksud untuk merebahkan diri untuk beristirahat sebentar menurunkan ketegangan yang dialaminya sejak siang tadi.
Tok…tok…tok
Baru saja Arfian merebahkan tubuhnya di atas kasur, terdengar ketukan di pintu kamarnya.
“Masuk.”
Pintu kamarnya terbuka dan munculah wajah pria yang memiliki nasib yang sama dengan dirinya belakangan ini.
“Masuk, Ndra.”
Kagendra masuk sambil menuntun 2 anak berumur 5 tahun yang memiliki raut wajah yang mirip.
***********
__ADS_1
to be continued...