
Setelah menyimpan kembali suratnya ke dalam laci dekat tempat tidurnya, Arfian kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya.
Tok….tok….tok…
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Arfian tidak mengindahkannya dan tetap berbaring dan memejamkan matanya.
Tok…tok…tok…
Kembali terdengar ketukan yang terdengar lebih keras.
Arfian inginnya tetap tidak mengindahkannya, tapi ketukan keras dipintu kamarnya itu sangat mengganggu waktunya yang tenang.
Setelah dua kali ketukan tidak diindahkan oleh manusia yang ada di dalam kamar, manusia yang ada di luar kamar itu menggedor pintu kamarnya.
Dok…dok…dok…
Arfian membuka matanya yang terpejam dan segera terbangun dengan enggan dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya. Arfian berharap orang yang mengetuk pintu kamarnya itu Keisha tapi mendengar gedorannya yang seperti orang gila, tidak mungkin yang mengetuk pintunya itu Keisha.
“Yaelah,… ternyata orang-orangan sawah yang dateng. Mau ngapain lo kemari?” umpat Arfian kesal ketika mengetahui bahwa yang mengetuk pintu kamarnya itu Kagendra, sepupu yang nasibnya sama-sama belangsak.
“Gue cari-cari lo di bawah gak nemu. Kata Tante, lo kabur dari pesta gara-gara ciuman dahsyat Mami lo.” Ujar Kagendra sambil tertawa terbahak-bahak membayangkan Tantenya yang ceriwis itu menciumi putranya di depan banyak orang. Tingkah adik dari abahnya itu memang ajaib.
Arfian kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya, berbaring dengan posisi telentang dengan kedua tangannya di bawah kepala dijadikan sebagai bantal.
“Lo kenapa?” tanya Kagendra tanpa basa-basi.
Alih alih menjawab pertanyaan Kagendra, Arfian malah asyik memandangi langit-langit di atas kamarnya.
“Keisha nyuekin lo?” tanya Kagendra.
“Hmmmm…..”
“Terus lo nyerah gini aja?”
Hening
“Penantian lo selama 10 tahun bakalan sia-sia kalau sikap lo gini.” Ujar Kagendra yang duduk di samping Arfian yang sedang terbaring di atas kasur.
__ADS_1
“Terus gue musti gimana?” tanya Arfian datar.
“Ya lo pikirin sendiri lah.” Sahut Kagendra kesal.
Arfian membuang nafasnya dengan kasar.
Kagendra menarik dan menghembuskan nafasnya juga dengan kasar.
“Gimana gue mau kasih ide sama lo, Yan. Gue aja lagi bingung ngadepin istri gue yang sekarang jadi galak banget.” Ujar Kagendra sambil ikut membaringkan tubuhnya di samping Arfian.
“Hmmmm…”
“Nasib kita berdua tragis begini yah. Kita itu ganteng dan juga mapan. Kurang apa lagi coba?” Kagendra menanyakan pertanyaan yang anehnya tidak bisa mereka temukan jawabannya yang tepat.
“Kurangnya kita itu…. kita adalah pria yang berengs*k. Kita gak bisa menjaga dan melindungi perempuan yang kita cintai” sahut Arfian.
“Hmmm…” Kagendra ikut-ikutan menatap langit-langit kamar Arfian.
“Sekarang lo beneran cinta banget sama istri lo ya Ndra?” tanya Arfian.
“Hmmm…” jawab Kagendra.
“Sepertinya gue udah cinta ama istri gue dari sebelum dia kabur dari gue.” Kagendra mengungkapkan isi hatinya dengan sedih.
“Sudah terlambat.” Ucap Arfian.
“Apa maksud lo?” Kagendra mengalihkan pandangannya ke arah Arfian.
“Kita berdua sudah terlambat. Kita terlambat menyadari perasaan kita. Ketika kita menyadarinya, semua sudah terlambat dan kita masih tetap di tempat yang sama tidak melakukan apapun.” Ujar Arfian.
“Lo bener…”. Sahut Kagendra.
“Apa kita harus pasrah saja dengan keadaan seperti ini?” tanya Arfian lebih pada menanyakannya pada diri sendiri.
Suasana kembali hening. Keduanya kembali termenung dengan pikirannya masing-masing.
Arfian tiba-tiba bangkit dari posisi berbaringnya.
“Gue gak mau pasrah seperti ini, Ndra. Gue nunggu dia selama 10 tahun dan gak mau waktu itu jadi sia-sia. Gue harus siapin amunisi buat berjuang mendapatkan kembali cinta Keisha.” ujar Arfian berapi-api.
__ADS_1
Kagendra juga bangkit dari berbaringnya.
“Gue setuju. Gue mau jadi orang yang bahagia bersama perempuan yang gue cintai dan juga anak-anak gue. Gue gak bisa ngebayangin ada laki-laki lain yang dipanggil ayah oleh anak-anak gue. Gue gak akan rela.” Kagendra juga menguatkan tekadnya untuk mendapatkan kembali cinta istri dan anak-anaknya.
Mata kedua pria dewasa yang nelangsa itu kembali berkobar menandakan semangat untuk mendapatkan cinta mereka yang sempat hilang.
********************
“Halo, Tan. Fian mau minta izin buat ngajak Kei pergi jalan-jalan. Boleh kan Tan?” Arfian menelepon Arini untuk meminta izin membawa Keisha pergi ke suatu tempat. Arfian ingin berbicara serius dengan Keisha tanpa gangguan siapapun.
“Pergi ke mana, Fian?” tanya Arini.
“Rencananya Fian mau ngajak Kei ke pantai. Perginya Jum’at sore sepulang kerja langsung Fian jemput Keisha. Boleh kan Tan?” Arfian Kembali meminta izin dengan harapan pintanya terkabul.
“Kalian mau nginap bareng?” tanya Arini menaikkan nada suaranya beberapa oktaf.
“Ya gak nginep satu kamar lah Tan. Kita stay nya di kamar yang berbeda. Kalau kita sekamar, bisa-bisa Om Surya bunuh Fian sebelum Fian jadi suaminya Kei.” Arfian merasa ngeri juga mendengar teriakan Tante Arini.
“Beneran kamu mau Kei jadi istri kamu?” Arini bertanya dengan hati-hati.
“Iya, Tan.” Arfian menjawab cepat.
“Kamu yakin? Bukan hanya dengan keyakinan akan hati kamu, tapi apakah kamu juga yakin dengan hati Kei buat kamu?” tanya Arini lagi.
“Itulah mengapa Fian ingin bicara serius dengan Kei. Fian ingin menanyakan Kembali posisi Fian di hati Kei. Mudah-mudahan masih ada nama Fian di hati Kei.” Jawab Arfian yang sebenarnya kurang percaya diri dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Ya sudah, Tante izinin kamu buat bawa Kei. Tapi ingat, kamu harus jaga Kei, jangan sampai kamu mengkhianati kepercayaan Tante sama Om terhadap kamu. Bisa?” tanya Arini.
“Insya Allah, Tan. Keisha adalah perempuan yang paling Fian sayangi setelah Mami. Pastinya akan Fian jaga seperti Fian menjaga Mami.” Jawab Arfian lugas.
****************
Siang ini, di ruang kerjanya, Keisha tampak termenung memikirkan sikap Arfian sejak pertemuan pertama mereka setelah 10 tahun berpisah. Keisha merasa sikap Arfian sudah benar-benar berubah dalam memandangnya. Bukan lagi pandangan seorang kakak laki-laki terhadap adik perempuannya.
Susah payah Keisha berusaha melupakan cintanya pada sosok Arfian. 10 tahun dia mencoba dan berusaha untuk menyembuhkan hatinya yang hancur berkeping-keping dan menghilangkan rasa cintanya pada Arfian. Hasilnya dia gagal total. 10 tahun usahanya sia-sia ketika dia kembali bertemu dengan Arfian di rumah sakit dalam keadaan yang tidak menyenangkan.
Ketika Keisha melihat Arfian terbaring tidak sadarkan diri di ruang perawatan, saat itu dia merasa yakin bahwa rasa cintanya pada Arfian sudah berubah kembali menjadi rasa sayang seorang adik kepada kakaknya. Tapi saat Arfian siuman, dan mata mereka saling memandang, keyakinannya langsung hancur. Tatapan Arfian padanya berhasil menggoyahkan keyakinannya yang dibangun selama 10 tahun pelarian dirinya. Detik itu juga Keisha yakin bahwa cintanya pada Arfian tidak berubah sejak 10 tahun yang lalu. Bukan 10 tahun tapi lebih dari itu karena Keisha sudah mencintai Arfian sejak Arfian menjanjikan pernikahan diusianya yang ketujuh tahun.
Tapi Keisha merasa takut. Dia takut hatinya akan kembali hancur dan tersakiti. Sebut saja sekarang Keisha seorang pengecut karena memang kenyataannya seperti itu. Keisha tidak ingin merasakan lagi perasaaanya yang menyakitkan sampai hampir menghancurkan jiwa dan raganya.
__ADS_1