
Resepsi pernikahan Keisha dan Arfian diadakan di hotel milik kerabat Surya. Resepsi berjalan aman dan lancar dengan undangan berjumlah hampir 2000 orang yang terdiri dari teman dan kolega bisnis Surya dan Farid, teman-teman dari Arini dan Maya, serta teman dan kolega bisnis Arfian dan Keisha.
Jam 11 malam, resepsi baru selesai. Keisha duduk di atas kasur berusaha melepaskan segala macam pernak pernik yang menempel pada tubuhnya. Arfian baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.
“Perlu bantuan?” tanya Arfian sambil menghampiri Keisha yang duduk di atas kasur.
“Hmmmm….”
Arfian membantu Keisha melepaskan hiasan di atas kepalanya, kemudian ia juga membantu Keisha untuk melepaskan gaun pengantinnya.
“Kakak, lihatnya ke arah sana dulu. Kei mau lepas gaunnya.”
“Lepas aja sih Kei.”
“Gak mau. Malu.”
“Nanti juga Kakak bakal lihat semuanya.”
“Iiiiiih cerewet. Sudah lihat saja ke arah sana.” Keisha menangkup wajah Arfian dan memutar kepala Arfian agar menghadap ke arah berlawanan.
Setelah merasa aman dari tatapan Arfian, Keisha segera melepaskan gaun pengantinnya. Hanya memakai dalaman, ia berlari masuk ke kamar mandi. Hanya saja, Keisha tidak menyadari bahwa Arfian melihat semuanya dari pantulan cermin di hadapannya.
Setelah selesai membersihkan tubuh dan wajahnya, Keisha baru teringat bahwa ia tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Ia bingung bagaimana keluar kamar mandi jika hanya memakai handuk. Meminta Arfian mengambilkan baju dalam dan pakaian ganti pun ia malu.
Keisha membuka pintu kamar mandi pelan dan melongokkan kepalanya keluar. Matanya memandang ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Arfian. Ketika Keisha tidak melihat Arfian di dalam kamar, ia langsung melesat ke luar dari kamar mandi dan mencari pakaian dalam dan pakaian tidurnya di dalam koper.
Dengan cepat Keisha memakai ****** ******** dan celana piyamanya. Ketika ia sedang memasangkan kaitan branya, pintu kamar terbuka dan tampak Arfian masuk ke dalam kamar mereka.
“Aaaaaaaaaaaaaah….Kakak….jangan lihat kesini.” Keisha teriak melihat Arfian yang memandang ke arahnya yang belum memakai piyama atasnya.
“Jangan teriak-teriak, Kei. Berisik.” Arfian berkata ketus untuk menutupi detak jantungnya yang jumpalitan, berusaha mengontrol dirinya yang melihat Keisha yang topless.
Keisha memakai piyama atasannya secepat kecepatan cahaya.
“Nanti juga aku bakal melihatnya semuanya, Kei.” Batin Arfian.
“Kakak, tadi darimana?” tanya Keisha.
“Cari angin.” Jawab Arfian asal.
“Alasan gak masuk akal.” Desis Keisha pelan.
Arfian mematikan lampu kamar sehingga suasana kamar menjadi temaram hanya diterangi lampu tidur.
“Kenapa lampunya dimatiin, Kak?’ tanya Keisha takut-takut.
“Kita tidur.” Arfian melesakkan tubuhnya di atas kasur di samping kanan Keisha.
__ADS_1
“Alhamdulillah.” Ucap Keisha lirih.
“Alhamdulillah kenapa, Kei?” Arfian terduduk dan menatap Keisha yang sedang terbaring tegang. Arfian menahan senyumnya melihat wajah Keisha yang pucat pasi memikirkan malam pertama mereka.
“Ya Alhamdulillah kalau akad dan resepsi kita berlangsung lancar.” Ujar Keisha tergagap.
Arfian bergeser mendekat dan tidur sambil memeluk Keisha.
“Malam pertamanya dipending.” Bisik Arfian mengeratkan pelukannya.
“Nakal.” Keisha memukulkan tangannya ke dada bidang Arfian dan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Arfian menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
“I love you.” Arfian mengecup sayang puncak kepala Keisha.
“I love you more.” Bisik Keisha.
“I love you to the moon and back.” Balas Arfian.
**************
Dalam mimpinya, Keisha merasa tubuhnya digerayangi oleh tangan seseorang. Tangan itu menjelajahi seluruh anggota tubuh yang dimiliki Keisha. Ia merasa sesuatu yang basah menempel di kulit leher leher dan bahunya. Tangan itu mulai meremas bagian tubuhnya yang sensitif.
“Ah…..” satu ******* terlontar dari mulut Keisha. Seketika ia membuka lebar-lebar matanya.
Ini bukan mimpi. Tangan yang mengerayangi tubuhnya itu adalah tangan milik suaminya dan basah yang dirasakan di kulit leher dan bahunya adalah ciuman-ciuman yang dihujamkan Arfian suaminya.
“Kaaaak…..” Keisha mengeliatkan tubuhnya karena merasa geli.
“Kei, sekarang ya.” Bisik Arfian meminta izin.
“Takut.” Cicit Keisha.
“Stttt…..” Arfian membisikkan do’a di telinga Keisha.
Arfian menciumi wajah Keisha mulai dari kelopak mata, pipi, hidung, dagu, dan terakhir bibir. Bibir Arfian mencium bibir Keisha lama dan dalam. Ciumannya berpindah ke leher, bahu, lebih rendah lagi, lebih rendah lagi. Terus bibir Arfian menjelajahi seluruh anggota tubuh Keisha.
Malam itu, Arfian dan Keisha mereguk kenikmatan luar biasa yang menjadi ibadah bagi keduanya.
*************
Jam 5 pagi, Arfian terbangun dan melihat Keisha masih terlelap dalam pelukannya.
“Bangun, Kei. Kita sholat shubuh dulu.” Arfian menepuk-nepuk lembut pipi Keisha.
Mata Keisha terbuka sedikit demi sedikit dan merasakan tubuhnya seperti remuk tertimpa bebatuan.
“Kita mandi dulu, Kei.” Ajak Arfian.
__ADS_1
Bukannya bangun, Keisha menarik kembali selimutnya dan kembali tertidur.
“Bangun, sayang.” Arfian menepuk-nepuk pipi Keisha pelan.
Karena Keisha masih saja sulit untuk dibangunkan, Arfian menciumi wajah Keisha. Berhasil, Keisha langsung bangun tapi masih dalam posisi duduk di atas kasur.
“Gendong, Kak. Badan Kei serasa remuk semua.” Keisha mengulurkan tangannya tanda minta digendong pada Arfian.
“Manja banget sih.” Arfian protes dengan kemanjaan Keisha tapi tetap menggendongnya sampai ke kamar mandi.
Karena kelelahan akibat aktivitas yang mereka lakukan semalam suntuk hingga menjelang subuh, Arfian dan Keisha kemabali tidur sampai mereka terbangun karena dering telepon yang terus menerus berbunyi.
Maya menelepon mereka untuk segera ke restoran hotel untuk sarapan bersama.
Dengan enggan, Arfian dan Keisha bersiap untuk sarapan bersama dengan keluarga besar mereka yang masih berkumpul di hotel tempat resepsi berlangsung tadi malam.
“Arfian, Keisha. Ini hadiah dari Papi dan Mami untuk bulan madu kalian berdua.” Farid memberikan paket bulan madu full ke Maldives.
“Makasih, Om.” Ucap Keisha.
“Panggil Papi dong Kei. Masa masih panggil Om.” Protes Farid.
“Eh iya, Pap…makasih yah Papi dan Mami.” Keisha mengulangi ucapan terima kasih yang ditujukan pada Farid dan Maya.
Tidak mau kalah, Surya juga memberikan hadiah bulan madu untuk anak dan menantunya.
“Kalau ini hadiah bulan madu dari Mama dan Papa. Paket Umroh buat kalian berdua.” Ujar Surya tak mau kalah.
“Makasih, Mah Pah.” Ucap Arfian.
“Ini hadiah dari Mami.” Maya menyerahkan 1 set perhiasan yang dikemas dalam kotak beludru yang elegan.
“Hadiah dari Mamah apa yaaa…” Arini tidak memberikan hadiah barang pada Arfian dan Keisha. “Hadiah dari Mamah, do’a buat kalian agar pernikahan kalian langgeng sampai akhir dan kalian berjodoh di dunia dan akhirat.
Arini memeluk Keisha dan Arfian dengan erat.
“Terima kasih untuk semua hadiahnya, Mah Pah, Mam Pap. Tapi untuk bulan madu sesi pertama, kami akan pergi ke Pantai di Sukabumi saja. Itulah tempat kami mulai dari awal dan ada satu tempat yang belum sempat kami datangi saat itu.” Arfian menjelaskan tentang rencananya berbulan madu bersama Keisha.
“Ah gak seru kamu, Yan. Terlalu anti mainstream.” Protes Farid.
***************
Disinilah, Arfian dan Keisha hanya berdua berjalan bergandengan tangan di sepanjang jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara itu.
“Kamu tahu, Kei. Disinilah impian Kakak yang sangat sederhana terwujud, bisa bersama-sama dengan kamu menikmati pemandangan dari jembatan gantung ini.” Arfian memeluk Keisha dari belakang dan berdua menikmati keindahan alam sambil saling menggenggam tangan masing-masing.
“I love you, Kak.” Keisha mencium pipi Arfian.
__ADS_1
“I love you more. I love you to the moon and back.” Arfian semakin mempererat pelukannya.
The End