
Acara syukuran dimulai setelah dzuhur dan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama.
Keisha, Prita dan Alena duduk bersama di kursi taman yang mengelilingi meja bundar berukuran mini.
Keisha melihat Kagendra datang membawa dua anak yang wajahnya mirip.
“Len, anak kembar yang dibawa sama orangtua kamu itu siapa?” tanya Keisha.
“Ponakan aku.” Jawab Alena singkat.
“What?” teriak Keisha dan Prita bersamaan.
“Gak usah teriak-teriak kaya gitu deh.” Ucap Alena kalem.
“Jadi mereka itu anaknya A Endra?” tanya Keisha
“Yes.”
“Kok bisa?” Keisha semakin heran.
“Ya bisalah.” Sahut Alena malas.
“Maksudnya gimana caranya Kakak kamu dapetin tuh anak kembar?” Keisha memperjelas pertanyaannya.
“Itu anak A Endra sama istrinya lah.” Jawab Alena dengan mulut penuh makanan.
“Oh, Kakak kamu udah nikah ternyata.” Keisha baru paham dengan kabar yang baru didengarnya ini karena selama pelariannya ia tidak mengetahui kabar selain tentang keluarga dan sahabat-sahabatnya.
‘Bukannya istrinya kabur?” tanya Prita menyelidik.
“Udah ketemu, tapi belum balikan. Syukurin deh, A Endra emang orangnya nyebelin.” Sahut Alena.
“Ponakan kamu lucu-lucu. Bisa minta satu gak buat jodohnya si Ara?” Canda Prita.
“Asal kamu sanggup aja punya menantu yang kemungkinan besar nurun kelakuan nyebelinnya yang mirip ayahnya.” Alena masih saja menjelek-jelekkan kakak kandungnya sendiri.
“Gak jadi deh.” Ujar Prita bergidik.
Keisha dan Alena tertawa terbahak mendengar ucapan Prita yang sedikit ketakutan membayangkan mempunyai menantu yang kelakuannya banyak minusnya.
Keisha memandang pria yang berdiri di samping Kagendra. Pria yang selama satu bulan ini selalu hadir hampir setiap malam dalam lamunannya menjelang tidur.
__ADS_1
Seperti menangkap sinyal, Arfian juga memandang ke arah Keisha.
Keisha segera memalingkan wajahnya dan beranjak dari duduknya menuju ke arah meja tampat berbagai kue-kue tersaji.
Ketika Keisha berjalan kembali menuju tempat duduknya, ia melihat Arfian berjalan mendekat ke arahnya.
Keisha salah tingkah, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Terlebih ketika ia tidak melihat Alena dan Prita yang tadi duduk bersama-sama.
Keisha mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu. Ia berjalan perlahan menuju tempat yang tadi didudukinya.
Ketika Keisha duduk di kursinya, Arfian menghampirnya dan duduk di kursi di hadapannya.
“Apa kabar, Kei?” sapa Arfian.
“Baik.” Jawab Keisha singkat.
“Syukurlah.”
Mereka berdua terdiam tak lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
“Hmmmm….” Arfian mencoba memecahkan suasana yang sedingin kutub utara.
“Tentang?” Keisha balik bertanya
“Kita.”
“Untuk apa?” tanya Keisha lagi.
“Menjernihkan semua salah paham yang mungkin sedikit merusak hubungan kita.” Jawab Arfian.
“Hubungan apa maksudnya?” tanya Keisha ketus.
Arfian menghela nafasnya dengan kasar.
“Hubungan pertemanan, persahabatan, keluarga, atau apalah terserah kamu bagaimana melabeli hubungan kita.” Sahut Arfian sedikit kesal.
“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Keisha dengan nada suara yang masih terdengar sedikit ketus.
“Kalau bicara, pandang mata lawan bicaranya. Gak sopan kalau kamu sedang bicara dengan saya tapi kamu tidak memandang ke arah saya.” Arfian menggunakan kata ‘saya’ untuk menyebut dirinya.
Keisha tetap tidak mau mengalihkan pandangannya yang melihat ke arah kolam ikan.
__ADS_1
“Gak usah ngatur-ngatur deh. Kalau kamu mau bicara, ya cepetan ngomong.” Ujar Keisha kesal.
“Kita bicara di kamar saya.” Arfian beranjak dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah menuju kamarnya.
Dengan enggan Keisha melangkahkan kakinya mengikuti Arfian.
Setelah Keisha berada di dalam kamarnya, Arfian mengunci pintu kamarnya.
“Apa-apaan sih.” Keisha berteriak sambil berusaha membuka pintu kamar.
“Duduk!” perintah Arfian dengan menggunakan dagunya menyuruh Keisha duduk di sofa dekat jendela.
Keisha menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
“Mau ngomong apa? Cepetan!” Ujar Keisha dengan nada tinggi.
“Kamu marah?” tanya Arfian lembut.
Keisha diam tak menjawab.
“Kenapa kamu marah?”
“Pikir saja sendiri.” Sahut Keisha ketus.
“Saya tidak tahu alasan kamu marah. Kalau kamu marah pada saya karena saya bikin salah sama kamu, saya minta maaf.” Ujar Arfian sambil menggeser kursi kecil dan duduk di hadapan keisha.
“Pandang saya kalau kamu lagi bicara sama saya.”
“Aku benci kamu. Aku gak mau mandangin wajah kamu.” Desis Keisha yang pandangannya masih ke arah lain.
Arfian menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. Batinnya terus menguatkan agar ia terus bersabar.
“Sabar…sabar…sabar Arfian…” batinnya mengulang kata sabar berkali-kali.
“Keisha, saya tidak akan tahu alasan kamu membenci saya dan alasan kamu marah pada saya kalau kamu tidak mengungkapkannya. Saya ini bukan ‘orang pintar’ atau paranormal yang bisa menebak pikiran orang lain.” Arfian mencoba membujuk Keisha dengan perkataan yang sehalus mungkin.
Air mata mulai merembes dari sudut kedua mata Keisha. Punggung tangannya dengan cepat mengusap air mata yang hendak keluar itu.
********
to be continued....
__ADS_1