Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
44. Ke Pantai


__ADS_3

Dok…dok…dok….


Seseorang mengetuk pintu kaca mobil.


Keisha terlonjak kaget dan melihat ke arah orang yang menggedor kaca mobilnya.


Wajah Arfian muncul di depan Keisha.


Keisha bernafas lega melihat Arfian yang mengetuk kaca mobil.


Dengan tangannya, Arfian memberikan isyarat kepada Keisha untuk menurunkan kaca mobilnya.


Keisha memijit tombol untuk membuka kaca.


“Kamu mau kopi, Kei?” tanya Arfian.


“Ini dimana, Kak?” Keisha balik bertanya.


“Kita lagi di jalan menuju pantai.” Jawab Arfian santai.


“Serius, Kak?” Keisha membelalakan mata saking terkejutnya.


“Sebentar lagi waktu sholat Shubuh, kita sholat dulu di masjid setelah itu kita lanjutkan perjalanannya. 1 jam lagi kita sampai.


Keisha hanya bisa termangu mendengarkan perkataan Arfian.


Setelah sholat Shubuh, Arfian melajukan mobilnya meneruskan perjalanan menuju pantai.


“Tiba di pantai kita bakal melihat sunrise.” Ucap Arfian.


“Kak, ini kita mau ke pantai mana sih. Kok perjalanannya jauh banget sih?.” tanya Keisha bingung.


“Kita ke Pantai Amandaratu yang ada di Sukabumi.” Jawab Arfian singkat.


“Jauh banget, Kak. Aku gak bawa baju ganti. Mana baju aku udah lepek begini.”


“Baju ganti kamu udah siap di bagasi. Mama kamu yang nyiapin.” Ujar Arfian sambil terus memandang ke depan ke arah jalan.


“Nanti kita istirahat di mana. Pantai nya kan jauh dari keramaian. Memang ada penginapan?” tanya Keisha penasaran.


“Semua sudah disiapkan. Kita tinggal menikmati liburan kita.” Sahut Arfian.


“Pulangnya bagaimana? Gak mungkin kan Kak Fian bolak balik nyetir sendiri. Kak Fian baru sembuh loh.” Keisha mengkhawatirkan kesehatan Arfian yang balum lama pulang dari rumah sakit.


“Pulangnya disupirin Paijo. Kamu gak usah khawatir.” Arfian menjawab kekhawatiran Keisha.


“Kak Fian udah ngerencanain ini ya?” tanya Keisha.


“Dari seminggu yang lalu.” Jawab Arfian datar


“Ooooh….” Keisha ber oh ria.


***************


Arfian dan Keisha tiba di pantai sesaat sebelum matahari terbit. Arfian membangunkan Keisha yang kembali tertidur dalam perjalanan menuju pantai.


“Bangun, Kei.” Arfian menggoyangkan lengan Keisha.


Keisha membuka matanya sedikit demi sedikit dan menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal.


“Kita keluar, Kei.” Ajak Arfian.


Keisha dan Arfian menikmati sejuknya hawa pagi yang menerpa kulit mereka. Keisha memeluk dirinya sendiri untuk menahan hawa dingin. Di ufuk timur terlihat matahari mulai naik memperlihatkan sinarnya.


Keisha duduk di atas pasir, meregangkan otot-otot tubuhnya dan menselonjorkan kakinya yang terasa pegal karena semalaman tertekuk di atas mobil.


“Indah.” Keisha menikmati keindahan matahari terbit di pantai yang sepi ini.


Arfian ikut duduk berselonjor di samping Keisha. Dirinya pun ikut menikmati keindahan suasana matahari terbit.

__ADS_1


“Melihat indahnya matahari terbit tak seindah melihat senyuman yang kau berikan padaku.” Batin Arfian berbicara.


Arfian memandang wajah Keisha yang sedang tersenyum menatap matahari yang mulai beranjak.


“Cantik.” Ucap Arfian lirih.


“Huh?” Keisha memalingkan wajahnya dari melihat matahari yang terbit demi mendengar kata yang diucapkan Arfian dengan lirih.


“Sinar mataharinya cantik.” Ucap Arfian.


“Hmmm….”


“Tapi gak secantik kamu.” Kali ini batin Arfian yang berbicara.


Setelah mereka selesai menikmati matahari terbit, Arfian mengajak Keisha untuk sarapan dan beristirahat di villa yang disewa oleh Arfian.


“Sarapan yuk, Kei.”


Dengan enggan Keisha berdiri mengikuti Arfian yang kembali ke mobilnya.


“Kita jalan dari sini.” Arfian mengajak Keisha berjalan menuju ke penginapan.


Arfian mengambil tas miliknya dan tas milik Keisha dari bagasi dan menenteng kedua tas tersebut dengan tangan kanan dan kirinya.


Arfian berjalan sambil menenteng kedua tas besar tersebut diikuti oleh Keisha di belakangnya.


Sesampainya di villa, Paijo dan istrinya telah menyiapkan sarapan untuk Arfian dan Keisha.


Satu hari sebelumnya, Paijo dan istri telah sampai ke penginapan dan menyiapkan segala sesuatunya untuk Arfian dan Keisha.


“Kamar Den Fian di atas, kamar Neng Keisha di bawah.” Paijo menjelaskan pengaturan kamar untuk Arfian dan Keisha sambil mengambil alih tas yang ditenteng oleh Arfian. Istri Paijo menenteng tas milik Keisha dan menyimpannya di kamar bawah, sedangkan Paijo menenteng tas milik Arfian dan membawanya ke kamar atas.


Setelah menyimpan tas milik Arfian, Paijo kembali ke bawah untuk membantu istrinya menyiapkan sarapan.


“Kamu makan aja duluan, Kei. Kakak mau membersihkan badan dulu.” Arfian menyuruh Keisha untuk sarapan duluan sedangkan dia sendiri pergi ke kamarnya di atas. Tubuhnya sudah tidak tahan lagi menahan keletihan. Arfian berniat untuk tidur sejenak setelah membersihkan tubuhnya.


Keisha kembali ke dapur setelah selesai mandi dan berganti pakaian, tapi tidak terlihat Arfian di seluruh sudut ruangan di villa ini.


“Mas, Kak Fian kemana?” tanya Keisha pada Paijo yang sedang membereskan piring-piring bekas di meja makan.


“Den Fian belum turun lagi sejak tadi masuk kamar.” Paijo menjelaskan sambil membantu istrinya membersihkan dapur.


Setelah mendengar jawaban Paijo, Keisha segera naik menuju kamar Arfian di lantai 2.


Tok…tok…tok


Keisha mengetuk pintu kamar Arfian.


Tok…tok…tok


Belum ada sahutan dari dalam. Keisha kembali mengetuk pintu kamar Arfian.


Tok…tok…tok…


“Kak, aku masuk ya.” Keisha memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Arfian.


“Kak….”


Keisha melihat Arfian yang sedang berbaring di atas kasur.


Karena tidak ingin membangunkan Arfian yang sedang tertidur, Keisha kembali menutup pintu kamar Arfian dengan pelan-pelan.


“Mas Paijo, aku mau jalan-jalan dulu di pantai. Kalau nanti Kak Fian bangun dan menanyakan aku, bilang saja kalau aku sedang jalan-jalan di pantai.” Keisha memberitahu Paijo.


Keisha melirik jam tangan yang menunjukkan jarum jam ke angka sembilan di pergelangan tangannya. Cuaca di pantai pagi ini tidak terlalu menyengat. Keisha berjalan di sepanjang pesisir pantai. Suasana pantai sangat sepi, tidak ada satu pun wisatawan yang terlihat berjalan-jalan di pantai.


Setelah 1 jam berjalan-jalan di pantai, Keisha memutuskan untuk kembali ke penginapan.


“Mas Paijo, Kak Fian masih di kamarnya?” tanya Keisha pada Paijo.

__ADS_1


“Sepertinya masih tidur, Neng.” Jawab Paijo.


Keisha pergi ke dalam dapur dan meminta gelas kepada istri Paijo. Setelah meminum habis air di gelasnya, Keisha memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat saja karena tidak ada hal lain yang bisa Keisha lakukan.


Ketika akan memasuki kamarnya, tampak Arfian yang sudah terlihat rapi dengan memakai kaos oblong dan celana pendek menuruni tangga.


“Kei, kamu sudah sarapan?” tanya Arfian ketika melihat Keisha di depan pintu kamarnya.


“Sudah dari tadi, Kak. Aku juga sudah jalan-jalan di pantai. Mau ngajak Kak Fian, eh Kak Fian malah tidur. Capek ya kak semaleman nyetir?” tanya Keisha.


“Hmmmm…”


Arfian berjalan menuju dapur untuk meminta sarapan pada istri Paijo.


“Kak, kita mau ngapain aja di sini? Tadi aku jalan-jalan tapi pantainya sepi banget.” Keisha mengungkapkan kebosanannya.


“Nanti kita pergi ke Pantai Karangsari. Di sana banyak wahana airnya, kita bisa main banana boat, kayak layar, arung gelombang, dan banyak lagi deh. Kita ke sananya naik motor sewaan aja ya.” Arfian menjelaskan rencana liburan mereka sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Jam 10, Arfian dan Keisha sudah siap untuk pergi menuju Pantai Karangsari dengan menggunakan motor sewaan.


“Jangan lupa bawa baju ganti dan peralatan sholat.” Ujar Arfian sambil memasukan barang bawaannya ke dalam tas kecil.


“Sudah Kak.” Jawab Keisha.


Keisha memakan kaos lengan pendek dan celana pendek selutut.


“Pakai jaket dan celana panjang, perjalanan kita jauh. Kalau pakai kaos dan celana pendek nanti kulit kamu terbakar.” Arfian mengungkapkan keberatannya melihat Keisha memakai kaos dan celana pendek.


“Dari dulu, kulit aku udah biasa terbakar sinar matahari.” Sahut Keisha


“Setidaknya pakai jaket biar tidak masuk angin. Kita perginya pakai motor.” Arfian keukeuh agar Keisha memakai jaket.


“Iya…iya…” Keisha memakai jaketnya dengan kesal.


Arfian dan Keisha sudah siap di atas motor.


“Pegangan.” Perintah Arfian


Keisha melingkarkan tangannya di perut Arfian.


Jalanan yang kurang rata membuat Keisha semakin mengeratkan pegangan tangannya pada perut Arfian. Keisha tidak mengetahui bahwa Arfian memang sengaja mengambil jalan yang terjal untuk mengambil keuntungan dari Keisha.


“Kak, ini kok jalannya jelek banget sih. Apa gak ada jalan lain yang lebih mulus?” tanya Keisha kesal.


“Ini jalan pintas biar kita cepat sampai.” Sahut Arfian.


Jalan semakin terjal dan bergelombang sehingga Keisha harus memeluk tubuh Arfian dengan erat jika ia tidak mau terjatuh dari motor.


Setelah 1 jam lebih menempuh perjalanan yang menegangkan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.


Pantai yang sangat indah membuat Keisha tidak menyesal melewati jalan yang begitu terjal.


Mereka sampai saat jam makan siang. Setelah makan siang di warung pinggir pantai, mereka melaksanakan sholat dzuhur dulu sebelum bermain-main wahana air yang ada.


Setelah 2 jam bermain wahana di pantai, Arfian dan Keisha membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka. Setelah tubuh mereka bersih dari pasir dan kering, mereka bersiap-siap untuk kembali ke penginapan.


“Kak, ada jalan yang lebih mulus gak?” tanya Keisha.


“Ada sih tapi harus memutar jauh.” Sahut Arfian.


“Gak apa-apa deh jauh juga asal jalannya mulus.” Pinta Keisha.


Arfian mengambil jalan pulang memutar yang memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke penginapan.


Mereka sampai di penginapan menjelang matahari terbenam.


“Kei, kita lihat dulu matahari terbenam.” Ajak Arfian.


******

__ADS_1


__ADS_2