
Jam 9 pagi, Jono mengantarkan baju ganti dan sarapan untuk Keisha. Tak lama setelah itu, Maya datang Bersama suaminya.
“Gimana keadaan Fian, Kei” tanya Maya cemas.
“Masih belum sadar, Tan. Mungkin sebentar lagi. Tadi jam 7 sudah diperiksa sama dokter dan dikasih infus dan obat baru.” Keisha menerangkan kondisi Arfian dengan suara yang terdengar letih.
“Kei, kamu pulang aja. Biar Tante dan Om yang jaga Fian disini. Kamu juga belum sempet istirahat kan sejak kamu pulang.” Bujuk Maya karena khawatir kalau kondisi Keisha juga akan drop.
“Gak apa-apa, Tan. Aku masih kuat kok. Nanti Keisha pulang kalau Kak Fian udah siuman.” Keisha meyakinkan Maya agar bisa merawat Arfian di rumah sakit.
Keisha pamit untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya di kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.
***************
Beberapa saat setelah Keisha pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Arfian membuka matanya. Matanya terbuka perlahan mencoba untuk beradaptasi dengan sinar matahari yang masuk dari arah jendela.
Arfian melihat mami dan papinya sedang duduk di sofa dekat jendela.
“Mam.” Panggil Arfian lemah.
“Nak, kamu sudah sadar.” Maya menghampiri tempat tidur Arfian dan melihat kalau anaknya itu sudah benar-benar siuman.
“Haus, Mam.” Arfian meminta minum karena tenggorokannya terasa kering sekali.
Maya menyetel ranjangnya agar posisi Arfian nyaman untuk minum kemudian mendekatkan sedotan ke dekat bibir Arfian agar Arfian bisa minum dengan mudah.
“Keisha mana, Mam?” Setelah selesai minum, Arfian menanyakan keberadaan Keisha kerena dia tidak melihatnya di kamarnya.
Belum sempat Maya menjawab pertanyaan Arfian, Keisha membuka pintu kamar mandinya.
“Kak Fian, kamu udah siuman?” Keisha segera menghambur ke sisi ranjang Arfian setelah melihat Arfian yang sudah sadar dari tidur panjangnya.
Arfian tersenyum bahagia melihat Keisha masih ada di kamarnya.
Kemudian Keisha meraba kening Arfian.
“Alhamdulillah, udah gak panas lagi.” Keisha bersyukur mendapati suhu tubuh Arfian sudah kembali normal.
Senyum bahagia tersunging dari bibir Maya melihat interaksi antara putra sulungnya dan Keisha.
“Kepala Kak Fian masih sakit?” tanya Keisha cemas.
Arfian menggelengkan kepalanya.
“Kakak lapar? Mau makan apa? Biar Kei belikan makanan kesukaan Kak Fian.”
Arfian menggelengkan kepalanya lagi.
“Duduk sini Kei.” Arfian meminta Keisha untuk duduk di kursi di samping ranjangnya.
“Ehem, Mami sama Papi ke kantin dulu ya.” Maya mengambil tasnya di atas nakas kemudian menarik tangan suaminya yang sedang duduk di sofa untuk keluar dari ruang perawatan Arfian.
“Iya, Papi mau ngopi dulu di kantin. Tadi gak sempet ngopi di rumah.” Farid memberikan alasan.
Keisha menatap ke arah Maya dan Farid, lalu menganggukan kepalanya.
Setelah Maya dan Farid keluar dari kamar. Arfian meraih tangan Keisha dan menggenggamnya dengan erat.
“Kei, maafkan Kakak.” Arfian mengungkapkan permintaan maafnya sekali lagi. Dia merasa permintaan maaf malam tadi tidaklah cukup.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kak. Bukan Kak Fian yang salah tapi Kei yang salah. Kei yang egois. Maafkan Kei.” Keisha mulai terisak lagi. Dia tidak memahami dirinya yang sekarang ini sangat cengeng. Setiap melihat wajah Arfian, tanpa disadarinya dirinya sudah mulai terisak.
Keisha membalas genggaman tangan Arfian tak kalah eratnya.
Arfian terus menatap wajah Keisha sehingga membuat Keisha merona.
“Kak, jangan pandangi wajah Kei terus.” Keisha menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kakak sangat merindukanmu, Kei.” Tangan Arfian berusaha untuk menggapai wajah Keisha.
“Kei juga kangen sama Kakak. Kangen banget.” Sahut Keisha sambil mengangkat kepalanya dan menatap wajah Arfian.
Arfian tersenyum dengan bibir pucatnya yang kering tapi sudah mulai tampak berwarna.
“Sini mendekatlah Kei. Kak Fian ingin menyentuh wajah kamu. Bagi Kakak ini masih terasa seperti mimpi, melihat kamu disini di hadapan Kakak.”
Keisha mendekatkan wajahnya, kemudian tangannya menuntun tangan Arfian untuk menyentuh wajahnya.
Tangan Arfian menyentuh dan membelai pipi Keisha dengan lembut.
“Terima kasih, Kei. Terima kasih karena sudah kembali.” Tangan Arfian berpindah untuk membelai kepala Keisha dengan kelembutan yang sama.
Air mata kembali mengalir deras di pipi Keisha. Tampak sebutir air mata juga lolos dari mata Arfian.
Kruuuuuuuk….
Terdengar suara dari perut Keisha menandakan sang pemilik perut sedang kelaparan.
“Kamu belum makan, Kei?” tanya Arfian khawatir.
“Iya nih Kak.” Jawab Keisha sambil memegang perutnya malu.
“Sana kamu pergi ke kantin buat makan. Ini jam berapa?” tanya Arfian.
“Jam 10.” Jawab Keisha setelah melihat jam tangannya.
“Ini sudah lewat waktu sarapan. Kamu ini kok masih ceroboh sih Kei. Kalau kamu telat makan, nanti kamu sakit. Cepat sana kamu pergi ke kantin. Makan makanan yang sehat.” Arfian menceramahinya dengan suara yang masih terdengar lemah.
“Tadi Mamah bawain sarapan buat Kei. Kei makan di sini saja.” Keisha berjalan ke arah meja di depan sofa tempat dia meletakkan barang-barangnya.
Keisha duduk di sofa dan membuka kotak makan yang tadi dibawakan oleh Jono.
“Kak Fian mau makan juga?” tanya Keisha.
“Oh iya, Kak Fian kan gak boleh makan sembarangan. Nanti tunggu perawat bawa makanan aja ya.” Keisha berkata sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Arfian menyaksikan kegiatan Keisha yang sedang makan dan Arfian merasa Keisha yang sekarang berada di hadapannya telah berubah menjadi Keisha dewasa yang terlihat sangat cantik dalam pandangannya.
Setelah selesai makan, Keisha kembali duduk di kursi di samping ranjang Arfian.
“Kakak bosan tidak? Mau nonton TV?” tanya Keisha sambil menyalakan televisi.
Arfian hanya melongo melihat kelakuan Keisha yang bertanya tapi tidak menantikan jawabannya.
Keisha memijit tombol tombol remote control mencari acara televisi yang menurutnya menarik. Setelah berkali-kali berganti channel, akhirnya pilihan Keisha berakhir pada acara musik.
“Nonton video musik aja ya Kak. Soalnya gak ada acara yang rame.” Keisha berkata sambil meletakkan remote controlnya di atas nakas.
Mereka berdua menyaksikan video musik yang ditayangkan di televisi sambil sesekali mengomentari lagu, penyanyi atau video musik yang mereka tonton.
“Kei maunya nonton film Korea. Tapi takut Kak Fian gak suka.” Ujar Keisha sambil matanya tak lepas dari video musik yang menampilkan pria-pria muda asal negeri ginseng itu.
“Tapi sekarang yang kamu tonton juga manusia-manusia dari Korea kan.” Sahut Arfian kesal dan merasa cemburu.
“Hehehe. Iya juga ya. Kak Fian gak suka ya?” tanya Keisha sambil cengengesan.
“Umur kamu sekarang berapa, Kei?” Arfian bertanya sarkastik.
“Emang kenapa dengan umur Kei? Emang gak boleh yang umurnya 28 tahun nonton film atau video musik Korea?” tanya Keisha sambil memanyunkan bibirnya kesal.
“Bukannya begitu Kei. Kak Fian cuma becanda.” Ujar Arfian merasa menyesal.
“Ya udah deh, matiin aja TVnya.” Keisha meraih remote control di atas nakas dan mematikan televisinya.
“Gitu aja marah….” Ucap Arfian.
__ADS_1
“Bukannya marah. Tapi kan……” belum sempat Keisha melanjutkan bicaranya, 2 orang perawat masuk membawakan makan siang untuk Arfian.
Satu orang perawat memeriksa labu infus Arfian sedangkan perawat yang lainnya meletakkan piring berisi nasi dan lauknya, mangkok berisi sayur kuah bening, buah dan segelas air putih di atas meja makan lipat yang digeser dari ranjang pasien.
Setelah dua orang perawat itu meninggalkan ruangan, Keisha menghampiri ranjang Arfian dan mulai membuka plastik penutup makanan.
“Minum dulu, Kak.” Keisha menyodorkan sedotan ke dekat bibir Arfian.
Arfian mengambil sendok di pinggir piring dan mulai menyendokkan nasi di hadapannya.
“Kei bantu Kak Fian makan.” Keisha merebut sendok tersebut dari tangan Arfian dan mulai menyendokkan nasi bersama lauknya untuk disuapkan ke mulut Arfian.
Keisha ingin membantu menyuapi Arfian makan, walaupun dirinya masih merasa kesal gara-gara insiden pria-pria muda asal negeri ginseng itu.
Arfian melihat wajah Keisha yang terlihat kesal.
“Kalau gak ikhlas buat nyuapin, biar Kakak makan sendiri aja.” Sahut Arfian.
“Udah, Kak Fian jangan banyak ngomong kalau lagi makan.” Ujar Keisha sambil menyuapkan sesendok nasi dan sayur ke mulut Arfian.
Setelah suapan ketiga, Arfian menolak suapan selanjutnya.
“Sudah Kei, sudah kenyang.” Arfian menolak ketika Keisha memberikan suapan keempat.
“Apanya yang kenyang sih Kak. Kakak baru makan 3 sendok kok bilang udah kenyang sih. Ayo cepat buka mulutnya. Kalau gak buka mulut, aku pulang aja.” Ancam Keisha.
Arfian menggelengkan kepalanya.
“Cukup Kei. Beneran udah kenyang.” Tolak Arfian.
“ya udah, aku pulang aja.” Keisha meletakkan sendoknya di atas piring kemudian beranjak dari kursi di samping ranjang Arfian.
Arfian hanya bisa terdiam melihat kemarahan Keisha. Dia hanya bisa pasrah saja jika memang Keisha meninggalkan dirinya di kamar rawat inapnya. Arfian juga berpikir memang lebih baik Keisha pulang agar bisa beristirahat.
Keisha mulai membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja dan sofa.
“Aku beneran pulang.” Ujar Keisha kesal.
“Iya, kamu sebaiknya pulang dan istirahat di rumah. Kakak tau kalau kamu belum sempat istirahat sejak kepulangan kamu. Kakak takut kalau kamu juga nanti sakit gara-gara merawat Kakak disini.”
Setelah mendengarkan perkataan Arfian, Keisha melempar kembali tasnya ke atas sofa.
“Aku kesal sama Kakak.” Teriak Keisha.
Keisha berjalan ke arah tempat tidur Arfian dan memukul ruang kosong di samping Arfian.
“Kamu kenapa marah sih, Kei?” tanya Arfian bingung dengan tingkah Keisha.
Keisha kembali memukul-mukul bantal yang ditiduri Arfian.
“Ya ampun Kei. Salah bantal ini apa sampai kamu pukul?” canda Arfian.
“Kak Fian ngeselin.” Sekarang Keisha mencubit lengan Arfian.
‘Aww… sakit Kei.” Teriak Arfian kesakitan karena cubitan Keisha.
Kemudian Keisha kembali berdiri dan membereskan piring bekas Arfian makan.
“Ya udah kalau gak mau makan.” Keisha menyingkirkan piring, mangkuk dan gelas ke pinggir ranjang.
Setelah itu, Keisha menyetel tempat tidur Arfian sehingga posisi Arfian kembali terbaring.
“Kei…kenapa tempat tidurnya…” belum sempat Arfian menyelesaikan pertanyaannya Keisha berjalan menuju sofa dan duduk di atasnya sambil memainkan ponselnya.
Arfian hanya bisa pasrah menghadapi kemarahan Keisha.
*************
__ADS_1
baca juga ceritaku yang lain, "Kutemukan Cinta Bersama Denganmu"