
Tok…tok…tok…
Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Keisha.
“Masuk.” Keisha mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya agar masuk ke ruangannya.
“Permisi bu. Ini beberapa rancangan yang diajukan oleh tim. Pak Dimas meminta ibu untuk memeriksanya.” Lestari, asistennya membawakan beberapa berkas berisi rancangan terbaru.
Keisha sekarang bekerja di perusahaan papanya yang bergerak di bidang fashion. Sudah sejak lama kakek dan papanya membangun kerajaan fashion di negeri ini sehingga perusahaannya menjadi salah satu perusahan besar yang ada di negeri ini. Sekarang ini, Keisha berada di divisi baru yang fokus pada pembuatan jaket untuk keperluan olahraga atau hiking. Keisha bertanggung jawab penuh untuk membangun divisi baru yang diluncurkan oleh perusahaanya.
Ketika Keisha memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan milik papanya itu, perusahaan sedang merencanakan untuk menambah divisi, yaitu divisi pakaian olahraga. Ken, kakak laki-lakinya yang sudah lebih dahulu bergabung dengan perusahaan keluarga itu melihat potensi yang dimiliki oleh adik perempuan satu-satunya itu.
Ken melihat potensi Keisha yang akan mampu untuk mengembangkan divisi baru ini karena hobi Keisha dalam olahraga dan hiking. Ditambah lagi, ilmu fashion yang didapatkan Keisha ketika berada di Milan diharapkan dapat menopang kemampuannya dalam mengembangkan divisi baru di perusahaan.
“Tari, bilang sama tim kita, 30 menit lagi kita rapat.” Seru Keisha pada asisten sekaligus sekertarisnya itu.
Ada empat orang di dalam tim yang dibentuk Keisha. Memang Keisha yang meminta kepada Kakaknya untuk membentuk tim sendiri. Keisha yang langsung mewawancarai dan memilih orang-orang yang akan menjadi timnya. Keempat orang itu terdiri dari 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Empat orang tersebut sebenarnya pegawai yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut dan disinilah keempat orang tersebut yang dipilih oleh Keisha sendiri secara langsung untuk membangun divisi baru ini bersama-sama.
Satu orang pekerja dari bagian produksi, satu orang dari bidang pemasaran, satu orang dari bidang Research and Development (R&D) dan satu lagi adalah asistennya, Lestari sekaligus adik kelasnya sewaktu menimba ilmu di Istituto Marangoni Milan.
Dua orang dalam timnya adalah orang-orang yang sudah dikenal baik oleh Keisha. Selain Lestari, ada Daffa teman satu hobinya dalam menaklukkan puncak-puncak gunung termasuk puncak gunung tertinggi di dunia. Tak disangka, Daffa yang mengambil jurusan manajeman bisnis ketika kuliah dulu terdampar di perusahaan milik papanya ini.
Sebelumnya Daffa bekerja di bagian pemasaran, tapi di tim ini, Keisha akan mengkolaborasikan Daffa dengan Salma yang bekerja di bidang R&D atau riset dan pengembangan produk. Keisha sangat mengetahui jika hobi Daffa dalam menanjak gunung akan membantu Salma dalam menciptakan inovasi dan ide-ide baru.
Satu lagi orang yang berada di tim Keisha adalah Umar. Umar bertanggung jawab dalam mewujudkan ide-ide dan inovasi yang diciptakan oleh tim menjadi sebuah bentuk yang kongkrit atau dengan kata lain, Umar akan membantu untuk menjahit potongan-potongan kain itu menjadi sebuah produk yang dijadikan sebagai contoh sebelum diproduksi secara masal.
Keisha cukup puas dengan tim yang dimiliknya sekarang. Dia akan berusaha untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa dia mendapatkan posisi kepala divisi ini bukan karena anak dari pemilik perusahaan tapi memang karena dia mampu mendapatkan posisi tersebut.
Ken, kakak laki-lakinya yang telah menempati posisi CEO di perusahaan juga percaya adiknya akan mampu mengemban Amanah menjadi kepala divisi baru. Tapi sebagai seorang kakak tentu saja Ken tidak tinggal diam membiarkan adiknya berjuang sendiri.
Hari ini, Ken meminta Keisha untuk menemuinya di ruangannya. Tampak seorang pria berperawakan tegap dan berwajah tampan berada di ruangan Ken.
Tok…tok…tok…
“Masuk, Kei.”
__ADS_1
“Ada apa, bang?” tanya Keisha.
“Kenalkan, ini Bayu, kepala bagian pemasaran.” Ken memperkenalkan pria tegap berwajah tampan itu.
“Keisha Arrasyid.” Keisha memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Bayu.
“Bayu Agung Pratama.” Bayu memperkenalkan diri sambil membalas jabatan tangan Keisha dengan erat.
“Bayu akan membantu kamu di pemasaran, walaupun di tim kamu sudah ada orang pemasaran tapi sepertinya kamu masih membutuhkan tambahan bantuan.” Ken menjelaskan peran Bayu.
“Baik, Bang.” Jawab Keisha
“Nanti urusan promosi dan pemasaran bakal ditangani timnya Bayu. Kamu konsentrasi penuh saja dengan pengembangan divisi kamu. Itu orang pemasaran yang sudah ada di tim kamu, perbantukan saja di bagian R&D nya.
“Siap, Bang. Kei juga udah merencanakan seperti itu. Daffa, orang pemasaran kan ternyata teman nanjak aku. Jadi dia udah berpengalaman dengan pakaian yang enak buat hiking atau olahraga jadi bisa bantu buat riset dan pengembangannya.” Keisha menjelaskan tentang rencana yang akan dia terapkan pada timnya.
“Good job.” Puji Ken pada Keisha. “Abang yakin divisi yang kamu pimpin bakalan berhasil.”
“Sudah jam makan siang. Abang pulang dulu ya Kei, kakak ipar kamu udah telfon abang buat makan siang bareng di rumah. Kamu makan siang bareng sama Bayu. Oke Bay, kalian makan siang bareng sambil ngobrol-ngobrol tentang rencana pemasarannya.” Ken memberikan perintah kepada Keisha dan Bayu untuk makan siang bersama secara halus.
“Ayo deh.” Sambil mengangguk, Keisha tidak bisa menolak ajakan Bayu.
*************
Arfian bertemu dengan Kagendra dan Revan di sebuah restoran. Sudah lama mereka tidak makan siang bersama. Biasanya mereka bertiga sering bertemu untuk makan siang, nge gym atau main futsal bersama.
Sejak Revan menikah, Kagendra sibuk mencari istrinya yang kabur, dan Arfian galau dengan hilangnya Keisha, mereka bertiga menjadi jarang bertemu. Hari ini adalah pertemuan pertama mereka setelah 1 bulan tidak bertemu sama sekali.
“Yan, kamu masih ingat kabar si Early mantan kamu itu kan? Kamu mau tahu gak kabar si Early sekarang?” tanya Revan iseng.
“Udah gak peduli.” jawab Arfian tak acuh.
“Gue mau cerita walau lo gak mau tau lagi kabar tentang dia. Sekarang si Early itu udah jadi cewe kaya raya. Beberapa tahun lalu dia menikah dengan bos besar, dia jadi istri mudanya. Satu tahun yang lalu, suaminya yang kaya raya itu mati dan meninggalkan warisan yang lumayan banyak buat si Early. Menang banyak dia walaupun dia dihujat sama anak-anaknya dari istri tua.” Revan menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak berarti pada Arfian.
“Berarti mimpi dia tercapai. Dia memang mau jadi istri orang kaya.” Sahut Arfian datar.
__ADS_1
“Lo gak mau tuh balikan sama dia. Sekarang dia makin cantik plus body nya makin aduhai.” Tawar Revan iseng.
“Never thought of that in my life.” Sahut Arfian datar, dia sudah tidak mungkin lagi menyimpan rasa apapun pada Early.
“Lo beraninya muji cewek lain di belakang istri lo. Mau gue laporin ke istri lo.” Ujar Kagendra bermaksud membela Arfian.
“Kampr*t lo. Awas kalau lo berani ngadu sama istri gue. Gue cincang abis lo.” Seru Revan sambil melempar sepotong tempe goreng ke arah Kagendra.
“Pamali lempar-lempar makanan. Nanti kualat lo.” Ujar Kagendra sambil menangkap potongan tempe tersebut dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri.
“Eh, Yan. Itu Keisha sama seorang cowok lagi duduk di meja sudut sana.” Seru Revan sambil menunjuk ke arah dua orang yang duduk di meja di bagian sudut restoran.
Arfian dan Kagendra kompak menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Revan.
“Jrit beneran itu Keisha sama cowok. Siapa tuh cowok?” seru Kagendra.
Arfian segera beranjak dari tempat duduknya, dengan sedikit emosi dia hendak menghampiri Keisha dan Bayu yang sedang makan siang bersama.
“Lo mau kemana?” Kagendra bertanya sambil menahan lengan Arfian yang berencana untuk menghampiri Keisha dan laki-laki yang bersamanya.
“Lepas. Sialan tuh cowok beraninya makan siang bareng cewek gue.” Seru Arfian dengan nada suara meninggi sambil berusaha melepaskan lengannya yang dicengkram oleh Kagendra.
“Lo jangan gegabah Yan. Keisha cuma makan siang aja sama cowok itu. Lo jangan permalukan diri lo sendiri di tempat umum kaya gini. Sabar, bro.” ujar Kagendra menenangkan emosi Arfian yang sudah mulai menggelegak.
Arfian kembali duduk. Kedua tangannya mengepal kencang di atas meja hingga terlihat jelas urat urat nadi di tangannya yang menyembul menandakan dirinya sedang menahan emosi tingkat tinggi.
“Udah, lo musti sabar, bro.” ujar Revan sambil menepuk bahu Arfian.
“Gue balik duluan.” Seru Arfian sambil bangkit dari tempat duduknya dan menyambar jasnya yang tersampir di kursi.
Revan dan Kagendra hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
“Dia cemburu berat.” Ucap Revan lirih.
“Hmmm….” Kagendra hanya bisa merespon dengan gumaman, dia bisa merasakan apa yang sedang Arfian rasakan sekarang karena ternyata nasibnya juga sama dengan Arfian, merasakan kecemburuan yang sangat.
__ADS_1
***************