Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
28. Curiga


__ADS_3

Pagi hari jam 7, Arfian sudah tiba di rumah sakit. Sebelum masuk ke gedung rumah sakit, Arfian mampir ke kantin rumah sakit untuk membeli sarapan karena dia tidak sempat makan di rumah. Arfian juga berniat membelikan Early sarapan.


Ketika berjalan di lorong rumah sakit menuju ke ruang perawatan Early, Arfian melihat seorang pria yang baru saja keluar dari kamar perawatan Early. Arfian merasa familiar dengan wajah pria tersebut. Arfian mencoba mengingat-ngingat wajah pria tersebut.


“Siapa pria itu. Sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi aku lupa dimana pernah melihat wajahnya.” Gumam Arfian.


Setelah termenung agak lama, Arfian teringat bahwa pria itu adalah pria yang bersama dengan Early di dalam foto yang dikirimkan oleh Keisha lewat email. Arfian mengenali wajah pria tersebut sebagai kakak laki-laki dari Early.


“Dia kakaknya Early. Bukankah dia tinggal di luar kota. Oh, mungkin Early menghubungi pria itu supaya kakaknya itu dapat menemani Early di rumah sakit.” batin Arfian.


Arfian masuk ke dalam ruang perawatan Early.


“Mas, kamu kemana saja?....kenapa baru sekarang kamu menemui aku lagi. Semalaman aku kangen sama kamu Mas. Aku sedih kamu tidak ada bersamaku tadi malam.” Ujar Early dengan nada suaranya yang terdengar kecewa.


“Maafkan aku Sayang. Tubuh, jiwa dan pikiranku sangat letih. Tidak sengaja aku tertidur.”


Arfian kemudian mengecup puncak kepala Early.


“Sekali lagi, maafkan aku.”


“Iya Mas, tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih kamu tidak bersamaku tadi malam. Aku takut kamu tidak akan pernah kembali lagi ke sisiku. Setelah bayi kita meninggalkan aku, aku takut kalau kamu juga akan meninggalkan aku, Mas.” Air mata Early kembali menggenang.


“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku…” bibir Arfian terus melafalkan kata maaf. Kembali wajah Keisha hadir dalam pikirannya membuat Arfian semakin merasa bersalah.


Arfian terus menemani Early dari pagi hingga sekarang, siang hari waktu jam makan siang. Seorang suster masuk ke dalam ruang perawatan Early sambil mendorong roda yang berisi makanan untuk pasien. Suster tersebut menyiapkan makan siang untuk Early di atas meja disamping kasur pasien.

__ADS_1


“Kamu makan dulu ya. Aku suapin kamu.” Tawar Arfian.


“Iya Mas.”


Arfian dengan telaten menyuapi makan siang Early sampai habis.


“Kamu gak ke kantor, Mas?” Tanya Early setelah menghabiskan makan siangnya.


“Iya sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Tapi aku takut kamu sendiri di sini seperti tadi malam.” Ujar Arfian merasa khawatir.


“Aku tidak apa-apa ditinggal sendiri. Aku tidak akan bosan, aku bisa beristirahat sambil menonton TV. Asal kamu janji akan segera kembali, aku tidak apa-apa ditinggal sendiri sekarang, Mas.”


“Benar kamu tidak akan apa-apa jika aku tinggal sebentar…?” Tanya Arfian masih meragu.


“Iya Mas. Kamu tenang saja. Selesaikan pekerjaan kamu dengan cepat dan segeralah kembali kesini untuk menemani aku.” Jawab Early yakin.


**************************


Sore harinya, Arfian kembali ke rumah sakit. Sebelum pergi ke ruang perawatan Early, Arfian hendak menemui dokter yang pertama kali menangani Early di ruang UGD.


Baruntung setelah bertanya pada suster yang juga ada saat penanganan Early di UGD, suster yang bernama Ana itu mengantarkan Arfian untuk menemui dokter Aziz, dokter yang menangani Early di UGD. Suster Ana mengetuk ruangan dokter Aziz dan meminta izin untuk memasuki ruangannya


“Selamat Sore, Dok.” Suster Ana memberi salam.


“Sore…” jawab dokter Aziz singkat.

__ADS_1


“Maaf Dok, ada keluarga pasien yang ingin menemui dokter.” Sambung suster Ana.


“Selamat sore, Dok.” Arfian memberi salam sambil menjabat tangan dokter Aziz.


“Dok, saya pamit.” Ujar suster Ana


“Terima kasih suster.” Ucap Arfian berterima kasih


Setelah suster Ana meninggalkan ruangan, Arfian memperkenalkan dirinya kepada dokter Aziz.


“Saya Arfian, keluarga dari pasien yang bernama Early, yang dokter tangani di ruang UGD” ujar Arfian.


“Ada yang bisa saya bantu?...” Tanya dokter Aziz sopan.


“Kalau boleh saya bertanya kepada dokter. Saya ingin menanyakan tentang kondisi kehamilan pasien saat mengalami pendarahan yang akhirnya membuat dia keguguran. Boleh saya menanyakan sudah berapa bulan dia hamil, Dok” Tanya Arfian hati-hati.


“Saya tidak bisa memastikan berapa bulan dia hamil saat mengalami keguguran karena saya bukan dokter kandungan dan tidak bisa menghitung usia kehamilannya sebelum dia mengalami keguguran. Kemungkinan pasien juga tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil sehingga kurang hati-hati. Tapi biasanya kasus keguguran cenderung terjadi pada trimester pertama kehamilan. Saya hanya bisa menduga berdasarkan kondisi pasien saat itu, kehamilannya mungkin sekitar 8 sampai 10 minggu, atau 2 sampai 3 bulan.


“Apakah dia bisa hamil lagi di kemudian hari, Dok.?... Saya khawatir kejadian ini mengakibatkan dia susah lagi untuk hamil di kemudian hari.” Tanya Arfian.


“Untuk mengetahui kondisi istri anda lebih jauh lagi, sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter kandungan. Saya do’akan kondisi istri anda akan baik-baik saja.” Jawab dokter Aziz.


“Terima kasih atas informasinya, Dok. Dan sekali lagi, saya sangat berterima kasih karena anda sudah menyelamatkan nyawa istri saya” ujar Arfian, yang selama berbicara dengan dokter Aziz menyebut Early sebagai istrinya. Dia merasa malu dengan perbuatan dosanya jika mengakui pasien yang keguguran itu bukanlah istrinya melainkan baru menjadi kekasihnya.


Setelah keluar dari ruangan dokter Aziz, Arfian berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang perawatan Early. Sesampainya di depan pintu masuk ruang perawatan Early, Arfian berdiri terdiam memandang seorang pria yang sedang duduk di samping kasur pasien. Pria tersebut berdiri membelakangi arah pintu masuk. Posisi Arfian tidak terlihat dari tempat Early dan pria yang sedang beragumen dengan sengit itu. Arfian membuka pintu dengan sangat perlahan sampai tidak terdengar suara pintu yang dibuka. Kemudian dia mendengar suara Early yang berteriak.

__ADS_1


“Pergi kamu dari sini, Ryan. Aku tidak ingin dia melihat kamu ada di sini.” Teriak Early pada pria tersebut.


Arfian berdiri bergeming demi mendengar apa yang diteriakan oleh Early.


__ADS_2