Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
31. Surat


__ADS_3

Keesokan harinya, Arfian terbangun dengan hati dan semangat baru. Dia turun untuk sarapan sambil bersenandung riang. Maya, Maminya merasa heran dengan perilaku Arfian pagi ini.


“Tumben pagi-pagi buta begini, anak sulung Mami ini sudah terlihat ganteng. Mau pergi ke mana pagi-pagi begini Bang.” Tanya sang Mami.


“Rahasia.” Jawab Arfian.


Maya hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak sulungnya itu.


Bagi Arfian, pagi hari ini terasa sangat indah. Arfian membantu Maminya membuat sarapan dan mengatur meja untuk sarapan bersama keluarganya.


“Bang, kesambet jin apa sih tuh bibir senyum-senyum mulu?” Tanya Arfan, salah satu dari adik kembarnya.


“Kayanya lagi jatuh cinta tuh.” Ujar Arfin, kembarannya Arfan.


Arfian mengacuhkan perkataan kedua adik kembarnya itu.


Kamu itu kenapa sih Fian. Makan sambil senyum-senyum gak jelas begitu.” Farid, Papinya juga merasa heran.


Arfian bersiul-siul mengikuti nada lagu kesukaannya.


“Jangan bersiul-siul ketika lagi makan, pamali.” Hardik Maya.


Lagi-lagi Arfian mengacuhkan Papi, Mami dan adik-adiknya.


“Mam, Pap, Fian udah selesai sarapannya. Fian mau pergi dulu ya.” Pamit Arfian sambil mencium tangan Papi dan Maminya seakan meminta do’a restu.


“Mau kemana kamu, Bang.” Tanya Maminya.


“Rahasia….” sahut Arfian sambil berlalu dari meja makan.


Saat akan mengeluarkan mobilnya dari garasi, Paijo menghampiri Arfian.


“Den Fian, kemana saja?...saya cari-cari seminggu ini tapi gak ketemu” Tanya Paijo dengan aksen jawanya yang medok.


“Mau apa cari-cari saya, Mas?...” ucap Arfian balik bertanya.


“Ini loh Den, saya ketitipan surat dari Non Keisha seminggu yang lalu. Padahal Non Keisha minta ke saya buat kasiin suratnya itu minggu lalu. Tapi sudah 1 minggu ini saya gak bertemu sama Den Fian, jadi baru hari ini deh saya kasiin suratnya.” Ujar Paijo.


Arfian menerima sepucuk surat yang diserahkan oleh Paijo. Arfian merasa heran untuk apa Keisha memberinya surat. Dia buka surat itu dengan terburu-buru karena penasaran dengan isinya.


++++++++++


Dear, Kak Fian yang paling Kei sayangi selain Mama, Papa, Kakak dan adik Kei.

__ADS_1


Maaf yah, Kak Fian berada diurutan kelima dalam peringkat orang-orang yang Kei sayangi.


Kak Fian, sekali lagi Kei minta maaf sama Kak Fian, karena ulah Kei, Kak Fian jadi sedih.


Kei sangat menyesal sekali, Kak Fian tidak sempat bertemu dengan calon anak Kak Fian. Tapi Kei yakin anak Kak Fian sudah ada di surga.


Kak Fian, Kei juga minta maaf karena rasa cinta Kei yang berlebihan pada Kakak sudah membuat Kei buta, mata hati Kei sudah tertutup rasa cemburu yang tidak semestinya sehingga ulah Kei membuat Kak Fian dan pacar Kakak jadi susah.


Tolong sampaikan juga rasa menyesal Kei pada pacarnya Kakak. Kei janji Kei tidak akan pernah mengganggu kalian lagi.


Dulu Kei pernah bilang tidak akan pernah mendo’akan kebahagian buat kalian, tapi sekarang Kei berubah pikiran. Kei akan dengan tulus berdo’a buat kebahagian kalian. Semoga kalian dapat bersatu selamanya. Buat Kei, kebahagian Kak Fian adalah kebahagian Kei juga. Dan Kei sekarang sadar bahwa kebahagian Kak Fian adalah bersama dia bukan bersama dengan Kei.


Kak Fian, maaf kalau Kei pamit dengan cara seperti ini. Karena kalau Kei ketemu sama Kak Fian mungkin hati Kei gak akan kuat.


Kei pamit ya Kak.


Kei akan menghilang dari hidup Kak Fian. Bukan demi Kak Fian dan pacar Kakak tapi demi diri dan hati Kei.


Kei akan berusaha menyembuhkan hati Kei. Karena cinta Kei yang terlarang ini telah membuat Kei dan juga Kak Fian jadi sakit. Karena ini, Kei minta maaf sama Kak Fian. Maafkan Kei, karena cinta Kei telah menyakiti Kak Fian.


Tapi jangan mengkhawatirkan hidup Kei ya Kak. Kei akan baik-baik saja. Di suatu tempat Kei akan mencoba menyembuhkan luka hati Kei, berusaha melupakan rasa cinta Kei pada Kak Fian.


Kei janji ketika suatu hari nanti kita bertemu lagi, Kak Fian akan bertemu dengan diri Kei yang baru dengan semangat dan jiwa baru.


Kei tidak tahu berapa lama Kei sanggup untuk menyembuhkan luka hati Kei dan mengubah kembali rasa cinta itu. Mungkin hati Kei bisa sembuh dalam waktu satu tahun atau dua tahun atau mungkin lima tahun. Mungkin juga lebih lama. Tapi Kei janji Kei akan kembali pada Kak Fian. Berdiri di hadapan Kak Fian dengan senyum yang tulus.


Kak Fian….Thank you, I’m Sorry, I love you. Thank you for everything, I’m sorry for what I’ve done, I love you forever…


Sampai juga lagi….


Jaga diri Kak Fian…


Do’a Kei untuk Kak Fian, semoga Kak Fian selalu bahagia. Disini Kei juga akan berusaha untuk bahagia.


+++++++++


Arfian melipat kembali surat yang sudah dibacanya dengan tergesa. Dia keluarkan mobil dari garasi untuk kemudian melajukannya menuju rumah Keisha.


Setelah sampai rumah Keisha, dengan tergesa Arfian memasuki rumah Keisha.


“Assalamu’alaikum.” Arfian memberikan salam pada penghuni rumah.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Arini dari dalam rumah.

__ADS_1


Setelah Arini membukakan pintu rumah, Arfian segera mencium tangan Arini.


“Tante, dimana Keisha?” Tanya Arfian cepat.


“Tenanglah Fian, ayo kamu masuk dulu.” Arini mempersilahkan Arfian untuk masuk ke rumah dan duduk di ruang keluarga.


“Kamu sudah sarapan, Fian?....Mau minum apa?” Tanya Arini tenang.


“Sudah, terima kasih, Tan. Keisha ada dimana, Tan? Arfian balik bertanya.


Arini menghela dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


“Tante, ayo cepat bilang. Keisha ada dimana sekarang. Aku mau ketemu.”  tanya Arfian tak sabar.


“Maafkan Tante. Tante gak bisa kasih tahu kamu. Keisha yang minta pada Tante untuk tidak memberitahu kamu.” Ucap Arini dengan tenang.


“Tapi kenapa, Tan. Aku mau bertemu dengan Kei sekarang. Aku mohon pada Tante. Kasih tahu dimana Keisha sekarang.” Arfian memohon dengan wajah yang memelas.


“Tante harap kamu bersabar ya Fian. Tante yakin kalau Kei sudah tenang, dia pasti menemui kamu. Sekarang, biarkan dia menenangkan hati dan pikirannya dulu. Tante hanya bisa bilang kalau Kei pergi selama satu bulan. Mudah-mudahan satu bulan kemudian, hati dan pikiran dia sudah tenang. Kei itu anaknya pemberani yang tidak akan lari dari masalah. Tante yakin, nanti dia akan menemui kamu. Sekarang, kamu pulang saja, jangan mengkhawatirkan tentang Kei. Dia akan baik-baik saja.”


“Tante harus janji sama aku. Tante harus kasih tahu kalau nanti Kei pulang.” Pinta Arfian.


“Iya. Tante janji. Kamu orang pertama yang akan Tante kasih tahu.” Janji Arini.


“Terima kasih, Tan. Maafkan Fian. Fian yang membuat Kei pergi.” Ucap Arfian.


“Ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah proses pendewasaan buat kamu dan Kei. Biarkan Kei menjalankan proses pembelajarannya ini. Begitu juga dengan kamu. Nikmati saja proses pembelajaran ini. Tante yakin semua ada hikmahnya.” Nasihat Arini pada Arfian.


“Iya, Tan. Fian paham. Terima kasih. Salam buat Om Surya. Maaf kalau pagi-pagi sudah mengganggu. Assalamu’alaikum.” Arfian meninggalkan Arini dengan langkah gontai.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Arini sambil menatap punggung Arfian yang pergi menjauh. Sejujurnya hatinya merasa sedih melihat wajah Arfian yang terlihat nelangsa.


Arfian melajukan mobilnya kembali ke rumah. Dia langsung naik ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menerawang ke langit-langit rumahnya. Lama dia termenung, mencoba memahami hal-hal yang terjadi selama beberapa hari ini. Dari mulai kejadian di Café X, pertengkaran Keisha dan Early, kecelakaan dan kehamilan Early, sampai pada kepergian Keisha. Otak Arfian sudah tidak bisa lagi berpikir. Dia memejamkan matanya, mencoba untuk menghilangkan seluruh masalahnya. Namun wajah Keisha semakin berkelebatan dalam pikirannya.


Arfian tidak tahan lagi dengan semua masalah yang terjadi padanya. Dia tutup wajahnya dengan bantal mencoba untuk menahan tangisannya yang merangsek ingin keluar. Arfian merasa dadanya sangat sesak seperti terhimpit batu yang besar. Sungguh saat ini dia ingin bertemu dengan Keisha dan memeluknya dengan erat.


Arfian sangat merindukan Keisha. Satu minggu telah berlalu sejak Arfian mencium Keisha di kamar ini. Satu minggu tidak bertemu saja sudah membuat Arfian rindu, apalagi jika satu, dua atau lima tahun seperti yang dituliskan Keisha didalam suratnya.


Arfian tidak tahu bagaimana cara dia menahan rindunya pada Keisha nanti. Dulu, ketika Arfian sekolah di luar negeri, dia masih bisa menelepon. Tapi sekarang, tempat dimana Keisha berada saja dia tidak tahu.


Arfian masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia berharap dengan mandi akan sedikit menenangkan tubuh dan pikirannya.


Arfian akan berusaha tetap menjalankan kehidupannya sambil menunggu Keisha kembali dengan sabar. Dia yakin, Keisha akan segera pulang dan menemuinya.

__ADS_1


*****************


__ADS_2