
Satu bulan telah berlalu. Arfian melajukannya mobilnya menuju rumah Keisha.
Setelah sampai di depan rumah Keisha, Arfian turun dari mobilnya dan menghampiri satpam yang sedang berjaga di posnya.
“Pagi, Mas Arfian.” Sapa Jono, satpam rumah Keisha.
“Pagi, Jon.” Jawab Arfian.
“Mas Arfian mau ketemu siapa nih?... Kebetulan sedang tidak ada siapa-siapa di rumah. Bapak sama ibu sedang pergi keliling Eropa, katanya sih mau bulan madu berdua. Perginya dari minggu lalu. Kalau Neng Mala, seperti biasa sudah pergi ke kantor. Den Ken masih di Jepang. Neng Keisha belum pulang dari mendaki gunungnya. Kalau Den Kenzo sih barusan baru berangkat ke sekolah. Di rumah cuma ada para bibik.” Jono menjelaskan dengan panjang lebar.
“Gak jadi deh Jon. Tadinya saya mau ketemu sama Kei. Ternyata dia belum pulang ya. Memangnya dia mendaki gunung kemana, Jon?...” Tanya Arfian.
“Wah kalau kemana nya sih saya gak tahu, Den.” Jawab Jono.
“Beneran kamu gak tau, Jon?....” Tanya Arfian sekali lagi.
“Bener Den, gak tau. Dulu perginya habis shubuh, belum bagian saya jaga. Yang antar Mang Ujang.” Ujar Jono.
“Sekarang Mang Ujang ada?....Saya mau ketemu sama Mang Ujang.” Tanya Arfian
“Ada. Sebentar saya panggilkan.” Jono masuk ke dalam rumah untuk memanggil Mang Ujang
Tak lama kemudian Mang Ujang keluar dari dalam rumah menemui Arfian.
“Dasar kamu Jon, kok Den Arfian tidak disuruh masuk ke dalam.” Ujar Mang Ujang kesal karena merasa Jono tidak sopan membiarkan Arfian menunggu di depan pintu gerbang.
“Masuk, Den.” Mang Ujang mempersilahkan Arfian untuk masuk ke dalam rumah.
“Tidak usah, Mang. Disini saja. Saya cuma mau tanya sedikit sama Mang Ujang.” Ujar Arfian.
“Mau tanya apa, Den” tanya Mang Ujang.
“Mang Ujang yang antar Kei pergi?...” tanya Arfian tanpa basa basi.
“Iya, Den. Mang Ujang antar Neng Kei ke bandara.” Jawab Mang Ujang.
“Mang Ujang tahu kemana Kei pergi…?” tanya Arfian lagi.
“Maaf, Den. Mang Ujang cuma antar ke bandara. Tidak tahu Neng Kei mau naik pesawat kemana. Tapi yang pasti Neng Kei pergi ke luar negeri karena bawa paspor. Sepertinya sih mau naik gunung tapi gak tau gunung di negara mana.” Jawab Mang Ujang.
Setelah mendengarkan penjelasan Mang Ujang, Arfian mencoba menerka nerka negara mana yang dikunjungi Keisha. Negara dengan tujuan untuk pendakian gunung. Dengan cepat Arfian menebak negara tujuan tersebut.
“Terima kasih infonya, Mang” ucap Arfian sambil memeluk Mang Ujang erat. Dia keluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya dan memberikannya pada Mang Ujang dan Jono.
“Ini Mang buat jajan. Ini juga Jon buat kamu.” Ujar Arfian sambil menyerahkan uang lembaran berwarna merah muda tersebut.
__ADS_1
Arfian segera melajukan mobilnya dengan cepat kembali ke rumahnya. Dengan segera dia mencari tiket pesawat untuk perjalanan ke negara Nepal. Arfian yakin jika Keisha pergi mendaki puncak gunung Everest.
Setelah tiketnya siap, arfian menyiapkan segala keperluannya dengan cepat. Dia akan berangkat besok pagi. Masalah visa, dia akan mengurusnya setelah tiba di Bandara Tribhuvan saja. Arfian mengecek dollar yang dimilikinya.
“Sepertinya cukup untuk dipakai selama di Nepal.” Ucap Arfian setelah mengecek dollar yang dimilikinya. Sudah tidak ada waktu lagi bagi Arfian untuk menukarkan mata uang rupiah ke dollar.
Keesokan harinya, setelah shubuh Arfian bergegas menuruni kamarnya sambil membawa tas gendong besar. Dia bertemu dengan maminya yang masih mengenakan mukena.
“Mam, Fian pamit yah. Mau pergi dulu.” Pamit Arfian pada Maminya.
“Kamu mau pergi kemana, Nak” tanya Maya heran dengan tas gendong besar yang dibawa Arfian.
“Mau pergi ke Nepal, Mam. Mau cari Keisha.” Sahut Arfian cepat.
Maya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat kelakuan putra sulungnya. Maya mengetahui dengan jelas masalah antara putranya dan Keisha. Tapi Maya dan suaminya tidak mau ikut campur dengan masalah yang sedang dihadapi oleh putrannya itu. Maya juga sering berkomunikasi dengan Arini mengenai masalah Arfian dan Keisha, tapi mereka sepakat untuk tidak ikut campur. Mereka hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk putra putri mereka.
“Ya sudah, kamu hati-hati di perjalanannya ya. Cepat kembali kalau sudah ketemu sama Keisha.” Ujar Maya lembut.
“Do’akan Arfian bisa ketemu sama Keisha ya Mam.” Pinta Arfian.
Maya menaanggukan kepalanya.
********************
Setelah menempuh perjalanan selama delapan jam lebih, akhirnya Arfian tiba di bandara Tribhuvan di Kathmandu Nepal. Arfian segera mengurus Visa on Arrivalnya langsung di bandara. Setelah semua urusannya selesai, Arfian segera pergi menuju pusat informasi di Kantor Asosiasi Operator Ekspedisi Nepal.
Arfian menanyakan keberadaan Tim Ekspedisi tersebut saat ini dan petugas informasi menjelaskan bahwa anggota tim yang berasal dari berbagai negara itu telah kembali ke negaranya masing-masing.
Arfian kemudian meminta kontak pendaki yang berasa dari Indonesia. Awalnya petugas informasi itu merasa ragu untuk memberikan nomer kontak pendaki asal Indonesia, tapi karena Arfian bersikeras bahwa salah satu dari tiga pendaki asal Indonesia itu kerabatnya, maka petugas informasi itu pun memberikan nomer kontak Keisha, Erza dan Daffa.
Arfian kemudian mencoba menghubungi nomer kontak Keisha yang diberikan oleh petugas informasi tersebut. Setelah beberapa kali mencoba, nomer kontak Keisha tidak bisa dihubungi lagi, sepertinya nomer tersebut sudah tidak aktif lagi. Arfian mencoba menghubungi nomer kontak Erza. Arfian tersenyum lega ketika dia mendengar nada sambung di telefon genggamnya.
“Halo.” Terdengar kata sapaan dari seberang sana.
“Halo. Apa benar saya bicara dengan Erza?”
“Iya betul. Saya bicara dengan siapa dan ada keperluan apa” tanya Erza langsung.
“Nama saya Arfian. Saya temannya Keisha. Kamu kenal sama Keisha, kan?.”
“Iya, saya kenal Keisha.”
“Boleh saya tahu keberadaan Keisha saat ini?” tanya Arfian.
“Maaf, Mas. Terakhir kali saya bertemu dengan Keisha pas pendakian kemarin. Setelah itu saya gak tau lagi dia ada dimana.” Jawab Erza sedikit curiga.
__ADS_1
“Kamu tau nomer kontak Keisha yang aktif.” Tanya Arfian.
“Maaf, Mas. Saya gak tau. Saya mau masuk kelas dulu ya, Mas.” Erza langsung mematikan sambungan teleponnya
Arfian mencoba menghubungi pendaki lainnya.
“Halo, apa benar saya bicara dengan Daffa.” Arfian mencoba menanyakan keberadaan Keisha pada Daffa.
“Iya, siapa nih?” jawab Daffa di seberang sana.
“Saya Arfian. Saya temannya Keisha. Saya ingin menanyakan keberadaan Keisha saat ini. Saya dengar kamu dan Keisha mendaki puncak Everest bersama-sama.”
“Iya benar. Memangnya kenapa?” tanya Daffa ketus. Dia tidak suka dengan nada bicara dari Arfian yang sudah terdengar mengintimidasi.
“Boleh saya tahu dimana Keisha sekarang.” Tanya Arfian.
“Saya gak tau dimana Keisha sekarang.” Jawab Daffa.
“Saya mohon, kalau kamu tahu sedikit saja info tentang Keisha. Saya mohon sama kamu. Saya ingin tahu dimana Keisha sekarang.” Arfian mulai melembutkan suaranya dan memohon pada Daffa.
“Saya bener-bener gak tau. Kami berpisah di bandara Tribhuvan. Saya sama Bang Erza balik ke Indonesia. Kalau Keisha sih gak ikut balik, dia bilang mau stay dulu di Nepal. Terus mau pergi ke Jepang atau Korea kalau gak salah sih. Mau ketemu sama actor Korea favoritnya katanya. Tapi saya juga gak yakin sih.” Jawab Daffa sedikit merasa kasihan pada Arfian yang memohon-mohon kepadanya.
Arfian sedikit mendapatkan pencerahan tentang keberadaan Keisha. Arfian akan mulai pencariannya dengan menghubungi abangnya Keisha yang sedang kuliah di Jepang.
“Halo, Ken.” teleponnya tersambung.
“Halo, bang Fian. Ada apa, Bang?” tanya Ken di seberang sana.
“Ken, Keisha ada berkunjung ke tempat kamu gak?” tanya Arfian langsung.
“Ada bang, tapi dua hari yang lalu dia udah pergi lagi. Gak tau deh kemana. Mungkin nyusul Mama dan Papa keliling Eropa.” Jawab Ken.
“Kamu ada nomer telepon Kei yang aktif gak? Nomer dia yang sebelumnya udah gak aktif.”
“Ada sih nomer barunya. Tapi kayanya udah gak aktif juga. Kemarin aku coba telepon dia tapi udah gak aktif.” Jawab Ken.
“Makasih Ken infonya.” Ucap Arfian.
“Iya, bang.”
“Kamu yang rajin kuliahnya biar cepat lulus.”
“Siap, Bang.”
Arfian mencoba menghubungi nomer telepon Arini dan Surya yang sedang berada di Eropa, entahlah mereka sedang berada di negara mana. Tapi sayang, baik Surya maupun Arini tidak mengangkat teleponnya.
__ADS_1
Akhirnya dengan hati yang kecewa, Arfian kembali ke Indonesia.
*******************