
Ketika Arfian mengedarkan pandangan matanya sekali lagi, dia terkejut melihat seorang perempuan yang sedang tertidur di sofa dekat jendela. Dia memfokuskan matanya yang masih kabur untuk mengetahui siapa perempuan yang sedang tertidur itu.
Arfian melihat seorang perempuan yang walapun berambut pendek masih terlihat feminine, memakai pakaian santai: kaos oblong, rok sebetis dan sepatu sporty.
Deg
Jantungnya berpacu dengan sangat kencang. Perempuan itu sangat mirip dengan Keisha. Arfian merasa jika dia sedang bermimpi, dan dalam mimpinya itu Keisha sedang berada di rumah sakit untuk menamani dirinya.
uhuk….uhuk….uhuk….
Arfian terbatuk karena tenggorokannya yang kering. Dia merasa sangat haus sekali. Tangannya berusaha meraih gelas berisi air minum yang terletak di atas nakas. Namun karena tangannya masih lemah, dia tidak berhasil meraih gelas tersebut dan mengakibatkan tutup gelasnya jatuh ke lantai sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Prang….
Keisha terbangun mendengar suara benda yang jatuh ke lantai. Dia melihat Arfian yang sudah terbangun dan sedang berusaha meraih gelas yang ada di atas nakas.
“Kak Fian.” Pekik Keisha.
Keisha segera menghambur ke sisi ranjang Arfian dan membantu Arfian untuk mengambil gelas berisi air minum tersebut.
“Kak Fian, haus?” tanya Keisha.
Arfian hanya menganggukan kepalanya.
Keisha menaikan sedikit tempat tidurnya supaya Arfian merasa nyaman. Setelahnya Keisha mendekatkan sedotan ke bibir Arfian agar memudahkannya untuk minum.
Setelah Arfian selesai minum, Keisha hendak kembali menurunkan kembali posisi tempat tidurnya agar Arfian bisa berbaring dengan nyaman. Tapi tangan Arfian yang terbebas dari selang infus mencegah Keisha untuk mengembalikan posisi tempat tidurnya.
“Kei….” Arfian memanggil dengan suara lirih.
“Jangan ngomong dulu, Kak. Nanti tenggorokan Kak Fian makin sakit kalau ngomong.”
Arfian menggelengkan kepalanya.
“Maafkan Kak Fian…” Arfian berusaha mengucapkan kata maaf yang ingin dia ucapkan sejak 10 tahun yang lalu.
“Kei yang harus minta maaf sama Kak Fian. Maafkan Kei…Kei yang salah, Kei yang terlalu keras kepala, Kei yang terlalu kekanak-kanakan… Maafkan Kei, karena ulah Kei semuanya jadi berantakan.” Air mata mulai merembes dari netranya.
Arfian menggelengkan kepalanya. Tangannya berusaha meraih wajah Keisha. Tangan Keisha meraih tangan Arfian dan menuntun tangan Arfian untuk menangkup wajahnya. Pipi Keisha merasakan hangatnya tangan Arfian.
__ADS_1
Mata mereka saling memandang satu sama lainnya seperti mengungkapkan kerinduan yang tertahan selama 10 tahun ini. Mata mereka saling berbicara mengungkapkan bahwa mereka saling merindu.
Keisha tidak tahan lagi, dia menghambur memeluk erat Arfian dan menumpahkan air matanya di atas bahu Arfian. Dengan mengerahkan semua tenaga yang dimiliki saat ini, Arfian membalas pelukan Keisha. Mereka saling berpelukan lama sekali seakan mereka ingin mengentaskan semua rasa rindu yang mereka tahan selama 10 tahun lamanya.
*************************
Waktu shubuh, Keisha terbangun dan melihat ke arah tempat tidur. Dia melihat Arfian masih tertidur pulas.
Dengan langkah tanpa suara, Keisha berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai menunaikan sholat shubuh, Keisha mencoba membangunkan Arfian untuk sholat.
“Kak…Kak Fian…bangun Kak.” Keisha menggoyangkan lengan Arfian.
Arfian masih belum terbangun. Keisha memegang dahinya Arfian dan merasakan kulit dahi Arfian sangat panas. Keisha mencoba untuk membangunkan Arfian dengan mengguncang pelan lengannya.
“Kak…Kak Fian…Kak Fian bangun….” Keisha mulai terisak.
Arfian masih tetap dengan diamnya.
Keisha panik dan segera keluar kamar untuk memanggil perawat jaga.
“Suster, tolong. Pasien di kamar nomor 304, suhu badannya tinggi dan saya coba bangunkan tapi tidak bangun-bangun.” Keisha menceritakan kondisi Arfian yang tidak sadarkan diri pada perawat jaga.
“Mbak, kemungkinan pasien pingsan atau tidak sadarkan diri karena suhu tubuhnya yang tinggi. Untuk sementara bisa dikompres dengan alat penurun suhu tubuh.” Perawat tersebut menjelaskan kondisi Arfian dan memberikan alat kompres.
“Untuk pemeriksaan lebih detail, nanti akan dilakukan oleh dokter.”
Setelah perawat meninggalkan kamar, Keisha mendekati tempat tidur Arfian dan menempelkan kompres di dahi Arfian. Keisha juga melap lengan dan tangan Arfian dengan handuk basah berharap bisa membantu menurunkan suhu tubuh Arfian yang tinggi.
Keisha menatap wajah Arfian lama. Dia melihat lingkaran hitam di dekat matanya. Pipi Arfian terlihat jauh lebih tirus dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bulu-bulu halus mulai bermunculan di wajah pucat Arfian pertanda sudah beberapa hari sang pemilik wajah tidak bercukur.
Air mata mulai menetes turun mengaliri pipi Keisha. Keisha membelai wajah Arfian dengan sayang.
“Maafkan aku, Kak.” Ucap Keisha lirih
***************
Jam 7 pagi, seorang dokter masuk ke ruang rawat Arfian. Dokter tersebut memeriksa keadaan tubuh Arfian dengan seksama.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dokter yang bernama dr. Gilang itu menjelaskan kondisi Arfian.
__ADS_1
“Dokter, kenapa Kak Fian belum sadar?” tanya Keisha cemas.
“Kemungkinan pasien pingsan atau tidak sadarkan diri karena suhu tubuh yang sangat tinggi sehingga tubuh mengalami dehidrasi. Saya akan memberikan obat dan infus baru.” Jawab dr. Gilang.
Dr. Gilang memerintahkan perawat yang berada di sisinya untuk mengganti labu infus dan menyuntikkan obat yang baru melalui selang infus.
“Insya Allah setelah diberi infus baru, kondisi pasien akan segera membaik.” Ujar dr. Gilang.
Keisha menanggukan kepala sambil mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih, dok.”
Keisha mengambil ponselnya untuk menelepon mamanya.
“Halo, Mah. Kapan Mamah ke rumah sakit?” tanya Keisha.
“Kemungkinan nanti siang, Kei. Mamah ada keperluan dulu. Memangnya kenapa dengan Fian, Kei?” Arini menanyakan kondisi Arfian karena mendengar nada suara Keisha yang sedih.
“Tadi shubuh Kak Fian pingsan, Mah.” Jawab Keisha
“Sudah diperiksa dokter?” tanya Arini cemas.
“Sudah, Mah. Tadi juga dokter kasih infus baru. Mudah-mudahan bentar lagi suhu tubuhnya bisa turun. Kata dokter dehidrasi. Suhu badannya sampe 40 derajat. Kei khawatir banget, Mah. Sekarang juga Kak Fian belum sadar.” Keisha menceritakan kondisi Arfian saat ini.
Hening sesaat.
“Mah, tolong antarkan baju ganti Kei ke rumah sakit. Minta tolong saja Mang Ujang buat antar bajunya. Atau kalau Mang Ujang gak bisa antar, minta tolong sama siapa aja deh. Badan Kei udah gak enak banget nih dari kemarin gak ganti baju.” Pinta Kei.
“Iya, nanti Mamah suruh Jono buat antar baju kamu. Kamu juga harus jaga kondisi kamu Kei. Kamu juga kan baru pulang dan belum sempat istirahat. Jangan lupa makan dan minum vitaminnya. Nanti Mamah sekalian titipkan sarapan buat kamu ke si Jono.” Arini juga mengkhawatirkan kondisi Keisha yang memang belum sempat istirahat setelah kepulangannya dari luar negeri.
“Kei juga bakal telepon Tante Maya.”
“Biar Mamah aja yang telepon Tante Maya.” Ujar Arini.
“Iya, Mah” jawah Keisha lemah.
Sebenarnya Keisha juga mengalami keletihan yang sangat. Memang benar dia belum sempat istirahat sejak kepulangannya dari luar negeri. Keisha hanya bisa berharap tubuhnya akan baik-baik saja agar bisa terus merawat Arfian.
Keisha sangat menyadari bahwa sakitnya Arfian ini gara-gara dirinya. Kemarin ketika bertemu dengan Lena dan Prita di Café, Lena menceritakan tentang perjalanan Arfian ke Italy dan Paris untuk mencari dirinya dan kemudian langsung pulang ke Indonesia setelah Kagendra memberitahu keberadaan Keisha di Bandung. Kagendra, kakak laki-laki Lena yang memberitahu Lena tentang hal itu.
__ADS_1
************************