
Enam tahun berlalu setelah kepergian Keisha dari kehidupan Arfian.
Tujuh tahun….
Delapan tahun….
Sembilan tahun….
Sepuluh tahun….
Arfian semakin menengelamkan dirinya pada pekerjaan, karir, dan perusahaannya. Perusahaan yang didirikannya sendiri sudah semakin besar dan dia percayakan pada adiknya, Arfin untuk mengelolanya. Sedangkan dia sendiri sudah benar-benar memegang perusahaan besar milik papinya. Papinya sudah dari dua tahun yang lalu benar-benar pensiun dan melepaskan perusahaannya untuk dipegang Arfian, putra sulungnya.
Farid tidak memaksakan adik-adiknya Arfian untuk mewarisi perusahaannya karena Farid menyadari bahwa passion dari putra-putranya bukan pada bidang yang digeluti oleh dirinya. Farid memiliki pabrik tekstil yang sangat besar berskala internasional. Dia sebenarnya sadar bahwa passion Arfian juga bukan pada bidang usaha tekstil, tapi sebagai putra sulung sekaligus putra mahkotanya, Farid harus memberikan estafet kepemimpinan itu kepada Arfian.
Beruntung Arfian adalah anak yang bertanggung jawab. Arfian menyadari bahwa banyak jiwa yang bernaung di bawah perusahaan papinya. Dia tidak bisa egois untuk tidak meneruskan estafet kepemimpinan dari papinya. Toh, arfian masih bisa menyalurkan passionnya di perusahaan yang dia bangun sendiri.
Adiknya Arfin memiliki passion yang sama dengan dirinya yang menyukai bidang property. Sedangkan adiknya yang lain memilih profesi sebagai dosen, sama seperti profesi maminya dulu.
****************
“Fian, nanti malam Mami mau datang ke apartemen kamu.” Ucap Maya di sambungan telepon.
“Mau apa sih mam ke apartemen Fian. Fian janji nanti sore, Fian pulang ke rumah.” Jawab Arfian.
“Awas kalau kamu bohong. Mami bakal jewer kuping kamu sampai putus kalau kamu berani ingkar janji.” Ancam Maya.
“Ya ampum Mam, kejam banget sih sama anak sendiri.”
“Kamu tuh umur udah banyak, tapi kelakuan kamu bikin Mami pengen jewer kuping kamu.” Ujar Maya kesal.
“Fian janji. Bye…” Arfian langsung memutus sambungan telepon.
__ADS_1
“Dasar anak kurang aj*r.” umpat Maya.
**********************
Sore harinya, Arfian menepati janjinya untuk pulang ke rumah.
Arfian mencium tangan dan pipi kanan kiri maminya.
“Duduk!” perintah Maya.
“Ya ampun, Mam. Anak baru pulang kerja udah dijudesin gini. Apa gak dikasih minum dulu. Anak Mami ini baru pulang dari kerja mempertahankan perusahaan yang sudah dibangun oleh kakek buyut dan kakek dari zaman penjajahan Belanda. Susah loh Mam mempertahankan perusahaan yang sudah berdiri lama itu. Perusahaan yang sudah banyak umurnya, banyak juga masalahnya.” Jelas Arfian.
“Aaaah kamu jangan banyak ngoceh omong kosong. Mami tahu, kamu bisa menjalankan perusahaan dengan baik. Pakai ngoceh banyak masalah segala.” Omel Maya.
“Ya itu kan hasil kerja anak Mami yang ganteng ini.” Sahut Arfian sedikit menyombong.
“Kamu sadar kalau kamu itu ganteng?” tanya Maya.
Arfian dengan percaya dirinya menganggukkan kepala.
Arfian hanya mengedikkan bahunya cuek.
“Adik kamu, Arfin udah nikah setahun yang lalu. Adik kamu Arfan juga sekarang kabarnya sedang pendekatan dengan seorang perempuan yang katanya sih mahasiswanya. Sekarang Mami tanya kabar kamu gimana?... Kapan kamu bawa calon menantu Mami?... Mami sama Papi udah tua. Kami ingin melihat kamu bahagia dalam sebuah pernikahan. Umur kamu sudah 36 tahun, sudah sangat cukup untuk menikah. Kamu tunggu apa lagi? Kerjaan kamu udah mapan. Kamu udah punya rumah sendiri. Jangan ngelak, karena Mami tahu kamu lagi bangun rumah kamu sendiri.” Ungkap Maya jengkel.
“Mami tau kan apa dan siapa yang Fian tunggu.” Jawab Arfian lirih.
“Fian, sayang. Ini sudah 10 tahun. Seharusnya kamu bisa move on. Mami tahu kamu lagi menunggu Keisha. Tapi apa kamu yakin kalau Keisha pengen kamu tungguin. Mungkin aja sekarang Keisha udah menemukan kebahagiannya sendiri. Apa yang akan kamu lakukan jika nanti Keisha pulang dan membawa kebahagiannya sendiri?” tanya Maya sedih.
Maya tahu kalau putra sulungnya itu sangat mencintai Keisha dan rela menunggu Keisha untuk kembali. Hanya saja Maya merasa khawatir kalau Keisha sudah melupakan Arfian dan menemukan cinta yang baru. Maya tidak ingin Arfian lebih patah hati ketika saat itu tiba.
“Mam, Fian bakal menyerah kalau memang suatu saat nanti Keisha pulang dengan membawa kebahagiannya sendiri. Jika memang itu terjadi, Fian bakal menyerah. Tapi untuk sekarang, izinkan Fian untuk terus menunggu Keisha.” Pinta Arfian.
__ADS_1
Maya tak kuasa membendung air matanya. Dipeluknya erat putra sulungnya itu.
“Fian, tiap malam Mami berdo’a buat kebahagiaan kamu. Tiap malam Mami memohon pada Allah untuk mengembalikan Keisha pada kamu. Tiap selesai sholat Mami meminta supaya kamu berjodoh sama Keisha biar kamu bahagia. Mami harap kamu bersabar ya. Kamu akan menjadi suami dari Keisha jika memang Allah berkehendak. Tapi kamu jangan marah dan kecewa jika kelak jodoh kamu bukan Keisha.” Maya terisak dipelukan putra sulungnya itu.
Arfian pun membalas memeluk maminya dengan tak kalah eratnya. Dia tumpahkan kesedihan dan kerinduannya terhadap Keisha di dalam pelukan maminya. Tangisnya yang dia tahan selama 10 tahun, dia tumpahkan di pelukan maminya sore ini. Mereka berdua, ibu dan anak berpelukan erat sambil menumpahkan air mata kesedihan mereka masing-masing.
“Fian, malam ini kamu tidur disini ya.” Pinta Maya.
Arfian menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai makan malam, Arfian pamit untuk naik ke kamarnya.
Di kamar ini, 10 tahun yang lalu, ciuman pertama mereka dan juga pertemuan terakhir mereka. Arfian mengenangnya dengan sangat jelas. Dia masih mengenang bagaimana bibirnya mengecup bibir Keisha untuk pertama kalinya. Di kamar ini, Keisha mengungkapkan rasa cintanya dan di kamar ini juga Arfian menyadari jika cinta sejatinya itu Keisha.
Terlalu banyak kenangan di kamar ini yang membuat Arfian tidak sanggup lagi bertahan untuk tetap tinggal di kamar ini dan memilih untuk tinggal di apartemen sendirian. Di tempat yang tidak terdapat kenangan sedikitpun tentang Keisha.
Tapi sekarang, malam ini, kenangan itu kembali menyeruak masuk ke dalam ruang memorinya. Kenangan ketika mereka masih kanak-kanak dan sering menghabiskan waktu di kamar Arfian. Kenangan ketika Keisha minta diajari bermain gitar. Dan yang paling kuat tertanam dalam ingatannya adalah kenangan ciuman pertama itu. Arfian merasakan dadanya sakit menahan rasa rindu selama 10 tahun ini. Dia tidak bisa menemukan obat untuk meringankan sakit di dadanya.
“Kei, kamu ada dimana? Aku sangat merindukan kamu, apa kamu tidak merindukan aku? Kapan kamu akan kembali? Apakah kamu belum bisa menata hatimu? Apakah hatimu tidak berubah? Apakah kamu masih mencintai aku” tanya Arfian dalam hati.
Arfian pun tertidur dengan kenangan-kenangan indah bersama Keisha berharap dia dapat bertemu dengan Keisha walau hanya di dalam mimpinya malam ini.
Tapi sayang, ketika adzan shubuh berkumandang dan Arfian terbangun. Keisha ternyata tidak juga hadir dalam mimpinya malam tadi.
*********************
Mah, minggu depan Kei pulang.
Begitu isi pesan teks yang dikirimkan Keisha lewat whatsapp pada Arini, mamanya.
***************
__ADS_1
Bersambung
Ikuti kisah cinta Kagendra dan Sadiyah di cerita berjudul, "Kutemukan Cinta Bersama Denganmu"