Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
27. Pergi


__ADS_3

Setelah kepulangan Keisha, Arfian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa sangat letih sekali. Begitupun dengan hatinya yang terasa tak menentu. Arfian tidak mengerti mengapa dadanya merasa sakit seperti terhimpit batu besar. Arfian mencoba untuk memejamkan matanya berharap dia bisa mengistirahatkan tubuh, hati dan pikirannya.


Walaupun matanya terpejam, dadanya masih terasa sesak, jantungnya berdebar keras. Dalam pikirannya berkelebatan wajah Keisha dan Early. Sekarang ini dia merasa seperti pria paling berengs*k sedunia. Ketika kekasihnya terbaring lemah di ruang perawatan karena baru saja kehilangan bayi mereka, tanpa ragu-ragu dia mencium Keisha disini, di kamarnya sendiri.


Entah mengapa Arfian merasa tidak bersedih mengetahui jika dia telah kehilangan calon bayinya. Karena perasaan inilah Arfian merasa menjadi pria yang paling tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa hatinya tidak sakit mengetahui jika calon bayinya telah tiada. Entahlah apa karena dia tidak mengharapkan bayi tersebut ataukah dia tidak yakin bahwa dia adalah ayah dari bayi tersebut.


Arfian memutuskan untuk tidur di rumahnya malam ini, dia akan pergi ke rumah sakit esok pagi. Dia belum berani menceritakan kejadian ini kepada orangtuanya. Arfian takut akan membuat orangtuanya kecewa dengan perbuatannya melakukan hal yang dilarang. Dia tahu seorang bayi yang dihasilkan dari perbuatan terlarang itu tidak berdosa sama sekali. Kedua orangtuanya lah yang berdosa karena melakukan hal yang sangat dilarang oleh norma apapun. Arfian memutuskan akan memberitahu orangtuanya setelah situasinya sudah lebih kondusif. Dia juga akan meminta izin kepada orangtuanya untuk menikah dengan Early secepatnya.


***********************


Setelah sholat shubuh, Kei berencana untuk berangkat ke bandara dengan hanya diantar oleh Mang Ujang.


“Kei, Mamah pengen anter kamu ke bandara. Boleh ya Kei.” Rayu Arini.


“Gak boleh. Mamah gak boleh anter ke bandara. Kalau Mamah anter sampai bandara nanti Kei bisa nangis di bandara. Kei gak mau nangis di bandara. Malu-maluin.” Sahut Keisha.


“Kei, kamu kok tega sih sama Mamah sendiri.” Arini masih berusaha merayu Keisha agar diizinkan untuk mengantar sampai bandara.


“Biasanya juga Mamah gak pernah nganter kalau Kei mau nanjak.” Ujar Keisha cuek.


“Kan biasanya kamu cuma nanjak gunung-gunung yang deket aja Kei. Sekarang kamu kan bakal nanjak puncak tertinggi di dunia. Setidaknya Mamah pengen anter kamu sampai bandara. Kalau boleh sih, Mamah pengen nganternya sampai ke Nepal atau ke Tibet. Atau kalau bisa juga, Mamah anter kamu sampai ke puncak Everestnya.


“Iiiih, Mamah tuh suka ada-ada aja. Mahal Mah biayanya. Ini Kei pergi sendiri aja udah abis hampir 1 M, udah habis lah tabungan Kei, apalagi kalau pergi berdua sama Mamah, bisa habis tuh uangnya Papah.” Ujar Keisha gemas.


“Pakai tabungan kamu apaan.” Sambar Surya. “Bukan tabungan kamu yang habis, tapi tabungan Papah yang habis.”


Keisha terbahak mendengar omelan Papanya.


“Bukan cuma tabungan Mas yang habis, tabungan aku juga habis buat nambahin ongkosnya tuh.” Sela Mala, tantenya.


“Iya, makasih Papaaaah, makasih tanteeee.” Ucap Keisha sambil memeluk Papa dan tantenya bersamaan.


“Berapa lama kamu mendakinya, Kei?” Tanya Arini

__ADS_1


“Cuma 1 bulan.” Jawab Keisha asal.


“Apa…..? 1 bulan…..? Apa itu gak kelamaan Kei?... Nanti kamu disana sama siapa” Tanya Arini khawatir.


“Mamahku sayang, kan dari mulai perjalanan dari Indonesia sampai ke puncak Everest terus balik lagi memang biasanya menghabiskan waktu sekitar satu bulan. Lagian Kei kan perginya bareng sama Tim dari Indonesia, ada Kak Erza sama Daffa. Nanti di sana kita bakalan gabung sama Tim yang lainnya dari negara lain.


Arini mulai terisak.


“Mamah jangan nangis, nanti Kei ikutan sedih.” Keisha juga sudah mulai terisak.


Surya, Papanya hanya bisa menonton drama yang ditampilkan oleh putri dan istrinya tersayang.


Mala, tantenya Keisha yang ikut hadir mengantar Keisha di waktu shubuh ini juga mulai berlinang air mata. Keisha adalah keponakan kesayangannya. Hubungan mereka tante dan keponakan, tapi mereka sangat dekat karena usia mereka pun tidak terpaut jauh, hanya sepuluh tahun saja.


Keisha dan Arini berpelukan erat. Arini sepertinya engan melepaskan Keisha.


“Kalau kalian nangis-nangisan sambil pelik-pelukan begini, nanti kamu ketinggalan pesawatnya, Kei” ujar Surya ditengah drama yang dimainkan Keisha dan Arini.


Arini melepaskan pelukannya.


“Iya, Mah.”


Kemudian Keisha memeluk Papanya.


“Pah, Keisha pamit ya. Do’akan Keisha bisa berhasil sampai ke puncak Everest.” Keisha memeluk Papanya dengan erat.


“Papah selalu mendo’akan kamu. Kamu harus jaga diri kamu.” Surya memeluk erat dan mencium puncak kepala Keisha.


“Tante, Kei pamit ya.” Keisha memeluk Mala dengan erat.


“Jaga kondisi kamu selama pendakian, jangan sampai kamu drop.” Nasehat Mala.


“Tante, Kei mau minta tolong sama Tante. Tolong kirimkan koper yang sudah Kei siapkan di kamar Kei kalau sudah 30 hari. Nanti Tante kirimkan koper Kei ke alamat ini.” Keisha memberikan secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat kepada Mala.

__ADS_1


Mala menerima kertas tersebut dari Keisha dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Papah, Mamah, Tante, Kei pamit ya. Bilangin juga sama Kenzo, kalau kakaknya yang cantik ini mau pergi berpetualang.” Ucap Keisha sambil menahan tangisnya.


“Mbak…..” panggil Kenzo, adik laki-laki Keisha.


Keisha menoleh ke arah adik laki-lakinya yang baru muncul dari arah pintu.


“Dasar Kakak durhaka, gak pamit sama adik satu-satunya.” Ujar Kenzo kesal.


“Kamu kemana aja? Baru sekarang muncul.?” Tanya Keisha kesal.


“Tadi perut aku mules, jadi lama di toilet.” Sahut Kenzo.


Keisha kemudian memeluk Kenzo dengan erat.


“Mbak, jangan lupa oleh-olehnya buat aku ya.” Pinta Kenzo.


“Dasar adik durhaka, bukannya kasih do’a biar kakaknya selamat, ini malah minta oleh-oleh” ucap Keisha sambil menjitak kepala adiknya.


Kenzo nyengir kuda menerima jitakan dari Keisha.


Keisha kembali memeluk Mamanya sambil berbisik, “Mah, jangan kasih tahu Kak Fian kemana Kei pergi ya. Mamah harus janji.”


Arini menganggukan kepalanya, “Iya, Mamah janji.”


Mang Ujang membantu memasukkan tas-tas Keisha ke dalam bagasi.


Mobil yang disupiri Mang Ujang melaju menembus dinginnya udara shubuh kala itu menuju bandara.


Dua jam kemudian, Keisha sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya menuju negara Nepal.


“Selamat tinggal, Kak Fian. Aku sayang sama Kak Fian.” Ucap Keisha didalam hatinya.

__ADS_1


“Aku janji aku akan kembali jika luka di hatiku sudah sembuh. Aku akan kembali dengan jiwa dan semangat yang baru. Aku akan kembali dengan membawa hati yang baru dan sehat untuk kelak menemui dan mencintaimu dengan cara yang berbeda.”


***********************


__ADS_2