Belenggu Cinta

Belenggu Cinta
30. Berpisah


__ADS_3

“Aku mencintaimu dan aku yakin kamu juga mencintaiku. Malam-malam indah yang kita lewati bersama adalah saksi jika kita saling mencintai” Ucap Ryan sekali lagi meyakinkan cintanya pada Early.


“Tapi cinta kamu tidak bisa membuat impianku terwujud. Apa yang bisa kamu berikan padaku?” tanya Early sinis.


Ryan terdiam.


“Kamu hanya bisa memuaskan aku di ranjang yang nanti pun bisa aku dapatkan setelah menjadi istri Arfian. Aku berterima kasih atas kepuasan yang telah kamu berikan padaku. Tapi itu sudah cukup, aku tidak memerlukan lagi kepuasan semu yang kamu berikan. Aku akui kalau aku sangat menikmatinya. Tapi sekarang aku tidak membutuhkan kamu lagi. Jadi aku minta sekarang kamu pergi menjauh dariku. Jangan lagi muncul di hadapan aku.” Early berkata sambil memejamkan matanya.


Ryan bergeming.


“Pergi kamu dari sini. Jangan sampai Arfian melihat kamu disini.” Usir Early.


“Perbuatan kamu ini tidak benar. Laki-laki itu akan marah jika tahu yang sebenarnya.” Ryan masih mencoba membujuk Early.


“Dia tidak akan tahu jika kamu tidak memberitahunya. Jangan sampai dia tahu yang sebenarnya. Jika dia tahu hal ini dari kamu, maka saat itu juga, aku bakal mati di hadapan kamu.” Ancam Early.


Ryan hanya bisa diam mematung mendengar ancaman Early.


*************


“Permisi, Pak. Saya mau memeriksa kondisi pasien.” Seorang suster mencoba untuk melewati pintu ruang perawatan yang terhalangi oleh tubuh Arfian yang menegang.


“Maaf Suster.” Ucap Arfian sambil mencekal lengan suster perempuan tersebut dan menggiringnya menjauh dari pintu masuk kamar perawatan.


“Suster, saya mohon Suster jangan mengatakan pada pasien yang ada di dalam kalau saya berada di sini. Tolong anggap saja saya tidak ada disini.” Ujar arfian memohon.


“Baik, Pak.” Suster itu menjawab dengan heran.


Arfian berlalu dari ruang perawatan Early dan bersembunyi di balik tembok yang agak jauh lokasinya dari ruang perawatan Early tapi masih bisa mengawasi orang-orang yang masuk atau keluar dari ruang perawatan tersebut.


Setelah beberapa saat menunggu, Arfian melihat pria tersebut keluar dari ruang perawatan Early dan tak lama Suster yang memeriksa pun keluar dari ruangan tersebut. Arfian menunggu beberapa saat lagi sebelum dia memasuki kamar perawatan Early. Dia pergi ke lantai bawah menuju kantin untuk membeli beberapa kue dan camilan kesukaan Early.


*************


Setelah selesai membeli beberapa kue dan cemilan, Arfian kembali naik ke lantai tempat Early di rawat. Tiba di depan pintu kamar perawatan Early, Arfian menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Arfian berusaha menahan emosi yang bergejolak agar tidak meledak.


Arfian masuk ke ruang rawat Early dengan menenteng kantong belanjaannya. “Sayang, maaf kalau aku datangnya kesorean. Banyak banget pekerjaan yang harus aku selesaikan”


“Mas, aku kangen sama kamu.” Ucap Early sembari merentangkan lengannya berharap Arfian untuk memeluknya.

__ADS_1


Arfian memeluk Early dengan engan.


“Aku bawakan kue dan camilan kesukaan kamu.” Arfian membuka bungkus kue dan camilan yang dibawanya.


“Sayang, suapi.” Ujar Early dengan manja.


Arfian menyuapi kue yang telah dia buka bungkusnya ke mulut Early.


“Sudah kenyang?...” Tanya Arfian.


“Iya, terima kasih, Mas.” Sahut Early.


“Sekarang kamu istirahat dulu, wajah kamu masih terlihat pucat.” Ujar Arfian sambil membetulkan selimut Early.


Arfian bermalam di rumah sakit untuk menemani Early. Dia tidak ingin membuka kedok Early ketika dia masih dalam kondisi sakit. Arfian akan menunggu saat yang tepat untuk membuka kedok Early dan langsung akan memutuskan hubungan mereka setelah Arfian membeberkan pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Early.


Keesokan paginya, Arfian pamit pulang pada Early dan berjanji akan datang kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Selain masalahnya dengan Early, Arfian juga disibukkan dengan berbagai masalah di kantornya. Dua orang klien menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh tim Arfian sehingga dia harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Sudah satu minggu hari Arfian tidak pulang ke rumahnya. Dia bolak balik rumah sakit dan kantor untuk menemani Early di rumah sakit dan menyelesaikan masalah kliennya di kantor. Arfian ingin terus menemani Early di rumah sakit sebelum dia mengeksekusi keputusan mengenai hubungannya bersama Early. Arfian ingin memutuskan hubungannya dengan Early pada saat kondisi kesehatan Early sudah pulih.


Setelah satu minggu penuh dirawat di rumah sakit, hari ini Early diperbolehkan pulang. Arfian mengantar Early pulang sampai ke unitnya.


Arfian duduk di sofa di depan TV.


“Mau bicara apa, Mas. Wajah kamu terlihat sangat serius. Apa kita akan membicarakan sesuatu yang serius.?” Tanya Early.


“Duduklah!” perintah Arfian.


Early duduk di sofa tunggal di hadapan Arfian.


“Aku sudah tahu semuanya.” Ucap Arfian tanpa basa-basi.


“Maksud kamu apa, Mas…? Kamu sudah tahu apa…” Tanya Early


“Aku dengar apa yang kalian bicarakan saat itu di ruang perawatan kamu di rumah sakit. Pembicaraan kamu dengan laki-laki itu. Aku sudah dengar semuanya. Aku ada di dekat pintu saat itu.” Arfian menceritakan kejadian saat dia mendengar kenyataan yang membuatnya ji-jik.


“Tunggu Mas. Aku bisa menjelaskan semuanya. Itu tidak seperti yang kamu dengar. Kamu salah paham, Mas.” Early beranjak dari duduknya dan bergegas mendekati Arfian sambil memegang tangan Arfian yang terkepal. Air matanya sudah mulai merembes.


“Tidak perlu untuk kamu jelaskan. Semua yang aku dengar saat itu sudah sangat jelas dan sudah aku pahami dengan benar. Aku hanya menunggu kondisi kamu sudah benar-benar pulih sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kita.” Ucap Arfian tanpa jeda.

__ADS_1


“Tidak Mas, ini tidak seperti yang kamu dengar.” Early kembali mengiba


“Hubungan kita sudah berakhir. Kamu telah mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan. Saat itu aku percaya jika aku dan kamu saling mencintai. Tapi kamu sendiri yang telah merusaknya. Aku tidak tahu berapa lama kamu berhubungan dengan pria itu. Apakah kamu berhubungan dengan pria itu sebelum kamu berpacaran dengan aku atau setelah berpacaran dengan aku. Sejujurnya, aku tidak peduli lagi.” Ungkap Arfian.


Air mata terus bercucuran dari mata Early. Dia merasa kalau masa depannya bersama dengan Arfian sudah hancur sehancur-hancurnya. Early mengakui bahwa ambisinya untuk menikah dengan pria yang mapan telah membutakan mata hatinya. Early menundukkan kepalanya, dia menyesal telah mendua dan menikmati kepuasan yang semu itu bersama Ryan.


Early menyesal telah menukar kenikmatan yang sesaat itu dengan masa depannya bersama Arfian. Dia menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar yang telah memupus impiannya menjadi istri Arfian.


Arfian melanjutkan ucapannya.


“Aku minta, setelah hari ini, kamu jangan pernah lagi menemui aku ataupun menampakkan wajahmu di hadapanku. Pergilah jauh dari aku. Jika kamu tidak bisa pergi jauh, usahakan untuk tidak berpapasan denganku dalam kondisi apapun. Aku akan menghindar untuk bertemu dengan kamu, kamu pun harus menghindar dari bertemu denganku. Kamu paham?”


Early hanya bisa menganggukan kepalanya lemah.


“Maafkan aku, Mas. Aku bersalah padamu. Maafkan aku.” Air mata Early semakin deras mengalir.


“Simpan air matamu. Jangan habiskan karena menangisi hal ini karena itu akan sia-sia.” Ujar Arfian tegas.


Early semakin menundukkan kepalanya. Dia benar-benar menyesal dengan segala tindakannya yang telah mengkhianati Arfian.


“Satu lagi yang akan aku tanyakan pada kamu. Tentang malam di puncak, kita tidak melakukan hal itu kan?.... Kamu dengan sengaja yang membuat aku mabuk dan membawa aku ke kamar hotel. Jawab aku dengan jujur.” Cerca Arfian, tangannya mengepal menahan emosi.


“Maafkan aku, Mas. Aku bersalah. Tolong maafkan aku.” Early memohon dengan linangan air mata.


Arfian bersyukur malam itu tidak terjadi apa-apa. Dia mengakui kesalahannya sudah meminum minuman beralkohol dan dia berjanji tidak akan pernah menyentuh barang haram itu lagi.


“Selamat tinggal. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Ucap Arfian datar.


Arfian beranjak dari duduknya, membalikkan tubuhnya dan keluar dari unit milik Early tanpa melihat lagi ke belakang.


Arfian berjalan menuju mobilnya dengan langkah ringan. Arfian merasa sesuatu yang telah membuat dadanya terasa sesak selama beberapa hari ini telah menghilang. Arfian terdiam sejenak, memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya, semuanya terasa baik-baik saja. Tidak ada air mata kesedihan yang meluncur dari matanya. Semuanya terasa baik-baik saja.


Arfian melanjutkan langkahnya menuju mobilnya. Dia masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya dengan santai. Selama perjalanan pulang, Arfian tidak merasakan kecemasan apapun. Tubuhnya terasa rileks, pikirannya pun terasa tenang.


Sejujurnya, Arfian merasa ketakutan dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Dia khawatir dengan kondisinya yang terasa baik-baik saja setelah berakhirnya hubungan dia dengan sang kekasih. Arfian takut jika kondisi yang dialaminya saat ini adalah kondisi yang tenang sebelum badai menerjang.


Selama perjalanan pulang, wajah yang berkelebatan dalam pikirannya bukanlah wajah Early tapi wajah Keisha. Arfian sangat merindukan gadis itu. Tepat satu minggu setelah kejadian di kamarnya malam itu, dia belum bertemu lagi dengan Keisha.


Arfian sudah memutarkan arah mobilnya menuju rumah Keisha, tapi kemudian dia berubah pikiran. Dia akan menemui Keisha setelah hatinya benar-benar yakin. Malam ini dia akan menyelami hatinya dan setelah yakin baru dia akan menemui Keisha. Arfian kembali memutar mobilnya menuju rumahnya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Arfian segera naik ke kamarnya dan membersihkan dirinya. Setelah mandi, Arfian merasa tubuh dan pikirannya tenang. Setelah lama merenung dan menyelami hatinya, Arfian merasa yakin dengan hatinya. Malam ini, dia bisa tidur dengan nyenyak. Besok dia akan menemui Keisha dan membawa hatinya untuk diserahkan pada Keisha.


**************


__ADS_2