
Hari senin pagi, Keisha memulai kembali bekerja seperti biasa walaupun tubuh dan hatinya terasa letih sekali. Ia perlu menyibukkan diri untuk melupakan peristiwa yang dialaminya bersama Arfian. Untungnya, proyek yang ditangani oleh Keisha sangat membutuhkan konsentrasinya sehingga ia bisa sejenak melupakan Arfian.
Begitupun dengan Arfian yang semakin menengelamkan dirinya dalam pekerjaannya, baik pekerjaan di perusahaan keluarga maupun perusahaan yang dibangunnya sendiri. Dalam seminggu itu, Arfian benar-benar fokus hanya pada pekerjaannya.
************
Tak terasa 1 bulan telah berlalu sejak peristiwa ditolaknya Arfian oleh Keisha.
Hari Sabtu ini, keluarga Arrasyid berkunjung ke kediaman keluarga Wirahadikusuma untuk perayaan syukuran 4 bulanan cucu kedua Farid dan Maya. Salah satu dari anak kembarnya, Arfin yang menikah dengan Prita sedang menanti anaknya yang kedua.
Arfin dan Prita menikah 4 tahun yang lalu. Setelah Prita lulus kuliah, ia melamar kerja di perusahaan Arfian sebagai designer interior. Benih-benih cinta tumbuh antara Prita dan Arfin setelah Arfin diberi wewenang penuh untuk mengelola perusahaan yang didirikan oleh Arfian. Intensitas pertemuan yang sering diantara keduanya membuat benih-benih cinta tumbuh dan berkembang sehingga mereka memutuskan untuk menikah empat tahun yang lalu. Anak perempuan mereka yang pertama sekarang ini berusia 3 tahun dan sekarang mereka sedang menantikan anak yang kedua.
Walaupun sampai saat ini Keisha tidak ingin bertemu dengan Arfian karena masih kesal, mau tak mau Keisha harus hadir di acara syukuran empat bulanan sahabatnya, Prita.
Jam 10 pagi, Keisha dan keluarganya sampai di rumah keluarga Wirahadikusuma, mereka disambut oleh Farid dan Maya. Farid dan Surya saling berjabat tangan dan berangkulan khas sahabat lama sedangkan Arini dan Maya saling cium pipi kiri dan kanan. Keisha mencium punggung tangan Farid dan Maya.
“Tante dengar, anak Tante yang manis ini sedang sibuk sekali dengan proyek baru. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, Kei. Kapan nih kamu mau diresmiin jadi menantunya Tante?” tanya Maya sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Keisha.
Keisha hanya menjawab dengan senyuman dibibirnya.
“Tau nih, calon menantunya aku juga sepertinya makin sibuk saja, May.” Sahut Arini diikuti oleh tawa berderai Arini dan Maya.
“Tan, Kei mau ketemu sama Prita dulu.” Keisha ngeloyor masuk ke dalam rumah untuk mencari sahabatnya Prita. Ia malu mendengarkan ocehan Mamanya dan Mami Arfian yang makin semangat saja menjodohkan ia dan Arfian.
Keisha mencari-cari Prita di dalam rumah, setelah keliling mengitari rumah keluarga Wirahadikusuma yang luas, akhirnya Keisha menemukan Prita yang sedang asyik menidurkan Ammara, anak pertamanya di kamar.
“Ara, ponakan tante yang cantik sudah mau bobo ya?” Keisha memasuki kamar Ammara seraya menciumi anak sahabatnya yang sudah hampir terlelap itu.
Mendengar suara Keisha yang heboh, Ammara tidak jadi memejamkan matanya, anak lucu tersebut langsung membuka matanya ketika merasa seseorang menghujaninya dengan ciuman dan pelukan.
“Dasar tante durh*ka, ponakan udah mau merem, malah diganggu. Susah lagi buat bikin anak ini tidur, Kei.” Sungut Prita kesal.
“Biar aku yang nemenin Ara main.” Sahut Keisha sambil memangku dan menciumi Ammara.
Prita hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Sudah susah-susah dia mencoba menidurkan anaknya, hampir saja usahanya berhasil, sahabat perusuhnya ini datang mengganggu.
Karena kantuk memang sudah menyerang Ammara, baru saja digendong sebentar oleh Keisha, balita itu sudah tertidur lagi dalam gendongan Keisha.
Keisha memindahkan Ammara ke kasurnya dengan perlahan agar tidak mengganggu tidurnya Ammara. Setelah berhasil memindahkan Ammara ke atas kasurnya, Keisha duduk di sofa yang ada di kamar itu.
“Kamu gak bilang-bilang kalau kamu lagi hamil lagi, Ta.”
“Iya maaf. Aku gak sempet ngasih tahu ke kamu. Aku tahu kamu lagi banyak urusan, aku sampai kelupaan buat ngabarin berita bahagia ini.” Ujar Prita.
“Dasar sahabat lakn*t….” sungut Keisha kesal.
“Gimana kabar kamu sama Kak Fian?” tanya Prita.
“Gak tau deh.” Jawab Keisha asal.
“Aku denger dari Mami, kamu pergi ke pantai berdua saja sama Kak Fian. Gimana hasil dari liburan kalian itu?” tanya Prita makin penasaran.
“Makin runyam.” Jawab Keisha singkat.
__ADS_1
“Maksudnya runyam gimana nih? Kamu gak terima pernyataan cintanya Kak Fian?”
“Aku masih bingung dan sepertinya butuh waktu. Banyak pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya.” Jawab Keisha.
“Pertanyaan yang mana aja Kei?” tanya Prita menyelidik.
“Yah misalnya aja kenapa Kak Fian putus sama pacarnya dulu. Terus kenapa tiba-tiba Kak Fian bisa jadi cinta sama aku. Terus…banyak deh pertanyaannya.” Jawab Keisha ketus.
“Kanapa gak kamu tanya langsung sama kak Fian?”
“Belum sempet aku tanya-tanya, orangnya udah ngegas aja. Dia marah-marah dong gegara aku gak jawab pernyataan cinta dia. Dasar emang dia tuh manusia paling nyebelin sedunia.” Keisha semakin kesal mengingat amarah Arfian yang ditimpakan padanya.
“Mungkin bukannya marah tapi kecewa tepatnya. Banyangin aja Kei, dia nunggu kamu 10 tahun, pas ketemu malah kamu cuekin.” Prita mencoba membela kakak iparnya itu.
“Ah, aku aja mendam cinta ke dia 10 tahun juga, pas aku nyatain cinta, dia bikin hati aku sakit.” keluh Keisha.
“Jadi ceritanya mau balas dendam nih?” tanya Prita usil.
“Bukan balas dendam juga kali. Aku cuma minta dia buat nunggu sebentar. Aku harus konsultasi dulu sama hati dan pikiranku. Gak bisa dong setelah usaha aku selama 10 tahun buat bebenah hati dan berusaha ngelupain cinta terpendam selama 20 tahun ini, langsung ditodong buat nerima cinta dia.” Curhat Keisha.
“Kamu kan tinggal bilang sama Kak Fian buat nunggu kamu sebentar, gak usah langsung nolak gitu.” Prita masih berusaha membela Arfian.
“Udah aku bilangain Prita bundanya Ammara yang imut dan lucu, aku udah minta Kak Fian untuk nunggu sebentar. Eeeeh dia malah balik marah. Gimana aku gak kesel coba.” Ujar Keisha sambil mencubit pipi Prita yang mulai tembam dengan gemas.
“Sakiiiiiiit, Keisha….” Prita mendesis.
Keisha menutup mulutnya menahan tawa.
Setelah mendengar percakapan Keisha dan Prita, Arfian termenung, ia merasa memang dia yang salah karena telah salah mengartikan maksud Keisha. Setelah ini, Arfian bertekad untuk meminta maaf pada Keisha dan terus memperjuangkan cintanya.
Seseorang mengetuk pintu kamar Ammara dengan pelan.
“Haloooo semuanya…..” seru Alena.
“Lena…..” Keisha dan Prita berteriak dengan suara tertahan karena takut Ammara terbangun.
Meraka bertiga berpelukan layaknya sahabat yang telah lama terpisah, padahal baru 1 bulan yang lalu mereka kumpul-kumpul bersama.
“Gimana kabar hubungan kamu sama Kak Fian, Kei?” tanya Alena tanpa basa basi setelah mereka mengurai pelukan erat mereka.
“No comment.” Jawab Keisha singkat.
Alena menoyor kepala Keisha.
“Dasar perempuan kej*m ya. Apa di hati kamu udah gak ada lagi Kak Fian?” tanya Alena membela kakak sepupunya itu.
“Ini apa-apaan sih semua orang kok belain si Arfian itu sih. Tadi Prita yang belain sekarang kamu, Len.” Sungut Keisha kesal.
“Emang di Prita belain gimana?” tanya Alena penasaran.
“Tau ah.” Keisha mendengus kesal.
Prita dan Alena menutup erat mulutnya karena takut tawa mereka yang membahana membangunkan Ammara.
__ADS_1
“Dasar sahabat kurang aj*r. Bukannya sahabat sendiri yang dibela, ini malah ngebela orang lain” Keisha kembali bersungut-sungut.
“Bukannya gitu, Kei. Kita cuma kasian aja liat Kak Fian yang menderita selama ini. Kamu gak tau aja gimana kondisi dia selama 10 tahun nungguin kamu tanpa kejelasan.” ungkap Alena.
“Kalian kan tahu gimana menderitanya aku 10 tahun buat menata hati aku yang remuk seremuk-remuknya.” Ujar Keisha membela diri.
“Iya, kita tahu kalian berdua menderita. Makanya kita pengen kalian berdua bahagia.” Ucap Prita sambil memeluk bahu Keisha.
“Hmmmm…..”
“Udah deh bosen ngomongin masalah aku terus. Gimana kabar mahasiswa-mahasiswa kamu, Len?” Keisha mengalihkan pertanyaan pada Alena.
“Ya gitu deh. Bikin hati senewen.” Jawab Alena singkat.
“Ya, kamu musti sabar deh ngadepin mahasiswa-mahasiswa itu. Mereka kan anak-anak yang masih butuh bimbingan.” Keisha mencoba membesarkan hati Alena.
“Kalau bikin sebelnya sampai ubun-ubun sih udah keterlaluan, dasar tuh mahasiswa songong itu.” Kesal Alena.
“Tunggu-tunggu sebentar. Sepertinya bakalan ada kisah seru nih.” Seru Prita jahil.
“Siapa dia, Len?” tanya Keisha penasaran.
“Udah lah jangan ngomongin mahasiswa gendeng kaya dia. Bikin stress.” Jawab Alena penuh dengan teka teki.
“Kamu wajib cerita ke kita, Len.” Tegas Prita.
“Gak boleh ada yang ditutup-tutupi atau maen skip-skip an.” Keisha menambahkan.
“Ya itulah, ada seorang mahasiswa yang aku bimbing skripsinya. Tapi naudzubillah, songongnya itu gak ketulungan. Udah tahu kalau aku itu dosen pembimbingnya, eeeh dia berani-beraninya maen debat terus. Kan kurang aj*r banget tuh mahasiswa. Aku benci banget sama dia. Kalau bukan karena aku jadi dosen pembimbingnya udah aku gamparin tuh orang” Jelas Alena penuh emosi.
“Mahasiswa yang songongnya itu laki atau perempuan?” tanya Keisha.
“Laki.”
“Awas loh hati-hati, nanti dari benci malah jadi cinta.” Kata Prita.
“Iiiiiih amit-amit deh.” Sungut Alena sambil mengetukan buku-buku jari tangannya ke meja.
“Jangan gitu, Len. Nanti kamu kena batunya, malah cinta banget sama tuh mahasiswa.” Sela Keisha.
Keisha dan Prita terbahak-bahak tak kuasa lagi menahan tawa mereka.
Oaaaaaa…..oaaaaaaaa….
Ammara terbangun mendengar tawa ibu dan para tantenya yang mengagetkan. Dengan refleks, Prita menepuk-nepuk punggung Ammara pelan agar balita itu bisa tertidur kembali.
“Keluar kalian berdua, tante-tante durh*ka!” Prita mengusir Keisha dan Alena dari kamar anaknya.
Keisha dan Alena keluar dari kamar sambil menahan tawa.
***********
to be continued...
__ADS_1