Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 9 ~ Sudah Tiada


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya seorang gadis yang mungkin sepantaran Ayla. Gadis itu menatap tajam pada beberapa temannya yang sedang bergosip ria padahal di dapur sedang banyak pekerjaan.


"Eh, ti-tidak ada," jawab mereka kompak.


Meski sama-sama pelayan, tapi status gadis di hadapan mereka ini berbeda. Gadis ini adalah Agya Shelby, putri pertama kepala pelayan yang bernama Rachel, dan kepala bodyguard yang bernama Jack.


Kedua orangtuanya telah mengabdi pada keluarga Prado sejak lama, sehingga keluarga kecilnya diperlakukan lebih istimewa. Oleh karenanya tak jarang ada pelayan yang merasa iri pada Agya dan adiknya Alya.


"Jangan terus bergosip. Ayo kembali bekerja." Agya mengintruksi dengan wajah yang terlihat datar.


...


"Ini kamarmu, nona."


"Panggil Ayla saja, Bibi."


Bibi Rachel mengangguk, sementara Ayla melongokkan kepalanya ke dalam ruangan yang disebut sebagai kamarnya itu. Dari luar terlihat besar, namun ruangan ini terletak paling belakang dekat dengan dapur.


"I-ini, kenapa banyak sekali barang-barangnya, Bik?" tanya Ayla sembari mengernyit.


"Sebenarnya ruangan ini adalah gudang, Ayla. Karena tidak ada kamar kosong yang tersisa, kamu terpaksa harus tinggal di kamar ini dulu," jelas Bibi Rachel merasa tidak enak hati, bagaimanapun seharusnya Ayla adalah nyonya rumah yang harus ia hormati.


Ayla menghela napasnya, ia yakin bukan itu alasan mengapa ia ditempatkan di gudang ini. Pasti semua adalah perintah pria iblis itu.


"Baiklah Bibi. Tidak papa kalau begitu," balas Ayla sembari memaksakan senyumnya.


"Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu."


Ayla mengangguk. Perlahan ia melangkah dan masuk ke gudang yang disebut kamar itu. "Setidaknya lebih baik daripada yang kemarin," gumamnya sembari menoleh kesana-sini.


.


.


.


"Hey, Audi Azera. Mau kah kau menjadi pacarku." Sebuah suara melengking berhasil mengalihkan atensi para mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang termasuk Audi.


Melihat Audi yang menatap ke arahnya, pria itu lantas mendekat pada sang gadis. "Audi Azera, aku telah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu. Mau kah kau menjadi kekasih ku?" ujarnya lagi dengan lantang, sembari berlutut sebelah kaki dan menyodorkan sebuket bunga mawar merah yang dirangkai dengan begitu indah.


Sementara Genio yang memperhatikan dari jauh hanya bisa mengingat kenangannya dulu bersama Kiara. Pria itu menarik napasnya berat. "Ingat, Gen. Dia bukan Kiara," gumamnya memperingatkan diri.


"Terima ... Terima ...." Pekikan para mahasiswa dan mahasiswi menggema di lapangan kampus swasta megah itu. Sementara Audi hanya tersenyum, ia tatap pria di hadapannya.


"Kamu tampan." Dua kata yang keluar dari bibir indah Audi membuat pria itu seakan melayang, ia yakin pasti cintanya akan diterima.


"Tapi sayang, pacarku lebih tampan," lanjut Audi sembari tersenyum semakin lebar. Wajahnya pun beralih pada Genio yang masih bersandar di samping mobil.


"Pacarmu? Kau pasti bohong kan? Tidak mungkin kau punya pacar."


"Tidak percaya? Pacarku bahkan setiap hari menjemput ku." Masih menatap Genio Audi melayangkan kedipan maut pada pria itu.


Deg.


"Ada yang tidak beres," batin Genio.


Dan benar saja, dalam sekejap Audi sudah berdiri di sampingnya setelah berlari kecil tadi.


Cup.


Satu kecupan di pipi membuat pria itu tak berkutik, bahkan ia berdiri kaku seperti sebuah patung.


"Sayang, pasti lelah setiap hari meluangkan waktu untuk menjemput ku di antara kesibukanmu. Ayo pulang, aku khawatir kalau kamu kelelahan," ujar Audi sembari menarik Genio ke kursi penumpang.


"Kali ini aku yang akan menyetir."

__ADS_1


Gadis itu lalu berjalan ke arah kemudi, dan melambaikan tangannya pada teman-teman yang masih menatap pada mereka.


"No-nona, a-apa maksud Nona berkata seperti itu?" tanya Genio setelah mereka di dalam mobil.


"Memangnya kenapa?" tanya Audi balik, ia tak menoleh. Sibuk pada apa yang ia kerjakan.


Brummm.


Mobil yang ia kendarai melesat dengan kecepatan tinggi. "Eh, No-nona. Kenapa cepat sekali?" pekik Genio panik.


"Sstt, diam lah! Kau terlalu banyak bicara."


"Ta-tapi Nona. Ini terlalu cepat. ARGHHHH."


"Hahaha." Tawa Audi menggema setelah melirik wajah Genio yang pucat pasi.


Lumayan, anggap saja hiburan setelah suntuk dengan kuliah dan sebelum menghadapi wanita jahat yang kini bersemayam di rumahnya.


Brummm.


"ARGH, NONAAA! HENTIKAN!"


"Hahaha."


...


"Uwekkk."


Audi menatap jijik pada Genio yang muntah-muntah setelah ia berbelas kasih menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan.


"Sudah?" Genio mengangguk lemah.


"Nih." Audi melempar sekotak tisu dan sebotol air.


"Terima kasih, Nona."


"Secara kinerja, kamu lelet jadi sopir. Bahkan dalam satu minggu, aku harus harus telat 3 kali."


"Tapi itu karena Nona yang bangun kesiangan."


"Kamu berani menyalahkan ku?"


"Huft."


"Tapi secara fisik, kamu boleh juga," lanjut Audi sembari memperhatikan tubuh Genio dari bawah ke atas.


"Eh, a-apa yang Nona lihat?" gugup Genio sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Tentu saja memperhatikan tubuh kamu." Audi melangkah, sementara Genio refleks mundur.


Dug.


Genio tersudut di pintu mobil. Sementara kedua tangan Audi berada di samping kanan kirinya.


Glek.


Genio menelan ludahnya kasar, gadis ini memang bar-bar.


Audi menarik kedua sudut bibirnya. "Aku akan tetap memperkerjakan kamu, tapi kamu harus pura-pura jadi pacar aku di depan teman-teman aku. Terutama pria tadi. Apa kamu mengerti?"


Hening, Genio tak menjawab. Bahkan tatapannya seperti kosong, entah melayang kemana pikiran pria itu.


"Hei, mengerti tidak?"


Hanya anggukan yang menjadi jawaban. Audi tersenyum puas, dengan wajah tanpa dosa ia kembali ke dalam mobil. Sementara Genio masih bersandar kaku.

__ADS_1


"Eh," kagetnya ketika merasakan jendela mobil yang turun.


"Mau pulang tidak? Kau mau aku tinggalkan?"


"Ya? ma-maaf Nona."


Dengan segera Genio ikut masuk, dan mobil kembali melaju. Laju yang normal, tidak seperti tadi.


.


.


.


"Tuan."


"Hem, katakan!"


"Kami berhasil menemukan seorang saksi yang selamat dalam kecelakaan itu, Tuan. Dari keterangan saksi itu, nona Lala dan Ayla memang berada di dalam bus yang sama. Bahkan mereka duduk bersisian."


Marvel mengeratkan rahangnya.


"Dalam kecelakaan itu, kebanyakan penumpang tidak berhasil selamat Tuan. Bahkan wajah-wajah mereka tidak dapat dikenali. Begitu juga dengan saksi yang kami temui, ada bekas luka bakar di sebelah wajahnya."


"Lalu kenapa wajah wanita itu baik-baik saja?" tanya Marvel dengan suara rendah. Berusaha ia tahan agar amarahnya tak keluar.


"Itu, sedang kami dalami, Tuan."


"Pergilah!"


Anak buahnya pun mengangguk, meninggalkan Marvel dengan segala pemikirannya.


Kini ia jadi ingin menyiksa wanita itu lagi, wanita yang selalu mengingatkannya dengan kekasih kecilnya yang kemungkinan telah tiada.


"Dimana dia?" tanya Marvel setelah turun ke lantai satu, kebetulan ini sudah waktunya makan siang.


"Dia siapa, Tuan?" tanya Bibi Rachel.


"Wanita itu."


"Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memanggilnya."


"Tidak perlu, biar aku saja."


Dengan langkah lebar, pria itu berjalan tegap ke arah gudang.


Ceklek.


Dengan mudah pria itu membuka pintu, kebetulan ia memang sengaja merusak kunci gudang ini. Agar ia bisa menyiksa Ayla kapan saja.


"Enak sekali dia malah tidur-tiduran di sini."


"Ambilkan air!" titahnya pada seorang pelayanan yang kebetulan lewat di sana.


"Baik, Tuan."


Setelah beberapa saat pelayan itu kembali dengan seember air di tangan.


"Ini Tuan." Dengan senang hati pelayanan itu menyodorkan ember tersebut pada Marvel. Bahkan ia melayangkan senyum bahagia.


Marvel sedikit mengernyit, namun ia tak mau ambil pusing. Ia ambil ember itu dan menumpahkan isinya tepat di wajah Ayla.


Byurr.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2