Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 29 ~ Hukuman


__ADS_3

"Uhuk, uhuk, uhuk." Sierra terbatuk karena terkejut. Wanita itu menatap Marvel dengan bola mata membesar. Takut? Tentu saja, siapa yang tidak takut dengan pria yang dijuluki tuan kejam ini. Jadi lebih baik ia memilih diam saja dan memperhatikan drama suami istri ini.


"Berani sekali kau kabur, hmm?" ujar Marvel dengan suara rendah namun menekan. Tangan kanannya bergerak dan mengangkat dagu sang istri untuk menatapnya.


Ayla bergeming, berbalik menantang sang suami dengan tatapan tajamnya. "Bukankah kemanapun aku kabur, kau akan menemukanku?"


Marvel tertawa kecil, menunduk dan mengecup bibir wanita cantik itu. "Tentu saja, Sayang. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari belenggu ku."


Keduanya saling menatap tajam, sementara Sierra duduk bagai patung dengan bersandar pada tiang gazebo. Mata membelalak tak percaya. "Marvel bisa bersikap seperti ini?"


"Sekarang waktu bermain mu sudah habis. Pulang dengan sukarela atau perlu kupaksa?"


Ayla mendengus, berdiri dan berjalan terlebih dahulu membuat Marvel tersenyum kecil kemudian mengikuti langkah sang istri. Sierra yang ditinggal sendirian menatap tidak percaya.


"Apa aku sedang dimanfaatkan?" gumamnya merasa bodoh sendiri. Ia jadi seperti tour guide yang menemani Ayla liburan dan setelah selesai ditinggal begitu saja. Tidak, tidak, tour guide bahkan masih diberi imbalan dan dia? Malah menghabiskan uang untuk menyewa seluruh pantai ini.


"Akh, bodoh!" geramnya cemberut.


.


.


.


Sepanjang perjalanan sepasang suami istri itu tidak berbicara sedikitpun. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, Ayla sibuk berpikir untuk menyusun rencana agar bisa kabur dari pria ini, sedangkan Marvel sibuk memikirkan hukuman apa yang akan ia berikan pada sang istri kecil karena telah berani kabur darinya.


Pria itu menarik sedikit sudut bibir kirinya setelah menemukan hukuman apa yang cocok. Ya, hukuman apalagi yang akan diberikan oleh seorang suami pada istrinya yang bersalah dalam dunia ntoon?


Berpikir bahwa mereka akan berbagi peluh malam ini membuat Marvel begitu bergelora. Bahkan lengannya yang masih dalam proses pengobatan pun tak ia hiraukan. Pria itu terus berpikir dalam diam dengan hati yang berbunga-bunga. "Kira-kira gaya apa yang harus aku berikan agar Lala semakin puas?" batinnya dengan tidak tahu malu.


Hingga tak terasa mobil yang mereka naiki sudah masuk ke dalam gerbang kediaman Prado. Ayla menatap nanar mansion mewah itu. Pada akhirnya ia kembali lagi kesini. Terperangkap dan terbelenggu dalam sangkar emas berkedok mansion ini lagi.


Tanpa banyak bicara Ayla turun setelah mobil itu berhenti. "Hei, berani sekali kau bersikap tak acuh padaku."


Ayla memutar bola matanya malas. "Aku lelah, aku mau beristirahat," ujar wanita itu akhirnya. Ia tidak bohong, tubuhnya memang terasa sangat lelah.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menggendong mu."

__ADS_1


"Tuan," panggil Kendrick dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanya Marvel dengan tatapan tak bersahabat.


Kendrick menelan ludahnya kasar kala melihat tatapan sang tuan. Terlebih kabar tidak mengenakkan yang ia bawa akan membuat pria itu semakin marah.


"Hem, tadi Willy menghubungiku. Willy mengatakan bahwa tuan Bob sedang membuat masalah di perusahaan. Dia bilang jika Tuan tidak menemuinya sekarang juga maka ia akan membawa bukti kerjasama ilegal kita ke jalur hukum."


Marvel mendecak. "Apa tikus kecil seperti itu juga perlu aku yang mengurusnya?"


"Maaf, Tuan."


"Sudahlah, aku akan segera kesana. Dan kau, saat pulang nanti aku akan menghukum mu karena sudah berani kabur hari ini."


Ayla bergeming, menatap kepergian Marvel tanpa bergerak sedikitpun. Baguslah, sepertinya Ayla harus berterima kasih pada orang yang bernama tuan Bob itu. Dengan masalah yang pria itu buat, ia bisa bebas sejenak dari suami jahatnya itu.


Di sisi lain, Audi tengah menatap interaksi itu dengan tatapan gusar. Ia jadi semakin benci pada Ayla. Bukan hanya menjadi alasan kakak keduanya mati, kini wanita itu juga merenggut semua kasih sayang kakak pertamanya.


"Nona, tadi tuan bilang akan menghukum jalaang itu. Bagaimana jika nona yang menggantikan tuan muda untuk menghukumnya?" bisik Daisy yang seperti bisikan iblis.


Audi menatap Daisy dengan takjub. Pelayan pribadinya memang sangat cerdas. Untuk apa menunggu sang kakak pulang untuk memberi hukuman? Ia bisa menggantikan Marvel untuk itu. Seketika senyuman iblis mewarnai sudut bibir gadis itu.


"Kakakku mengatakan akan menghukum wanita ini," lanjutnya yang membuat Ayla mendelik.


"Dan apa yang kalian lakukan, kenapa masih diam saja? Apa kalian mau membantah perintah kakak?"


"Tapi, Nona. Tuan mengatakan akan menghukum nyonya setelah beliau pulang."


"Memang apa bedanya? Sekarang atau nanti wanita ini akan dihukum karena berani kabur. Sekarang hukum dia sesuai peraturan yang berlaku untuk para pelayan!"


"Ta-tapi hukuman untuk pelayan yang berani kabur adalah ditembak dan tubuhnya diberikan pada Leo."


Ya, peraturan untuk setiap pelayan adalah seperti itu. Gaji yang besar tentu memiliki risiko yang lebih tinggi, sebelum masuk dan menjadi bagian mansion ini, semua pelayan telah menandatangani perjanjian mengenai semua peraturan yang harus diemban. Termasuk bahwa mereka tidak pernah boleh kabur, karena Marvel tak ingin kejadian dalam mansion sampai terbocor ke dunia luar.


"Kalau begitu kurung dia disebelah kandang besi Leo. Jangan biarkan dia mati dulu sebelum kakak pulang. Biarkan kakak yang mengeksekusinya sendiri."


"Tapi, Nona."

__ADS_1


"Kau mau membantahku? Bukankah aku adalah pengambil keputusan nomor dua setelah kakak di kediaman ini?"


"Maaf, Nona. Saya tidak berani."


"Sekarang juga kurung dia!"


"Baik, Nona."


"Hei, kalian mau apa? hei, Lepaskan! Lepaskan aku!" Ayla meronta kala dua orang pria menyeret tubuhnya.


Sungguh ia tidak habis pikir kenapa Audi selalu mencari masalah dengannya. Alya yang melihat sang nyonya diseret begitu berlari menghampiri, namun kedua tangannya segera dicekal oleh pengawal lainnya setelah menerima sinyal dari Audi.


"NYONYA. Jangan menyakiti nyonya, kalian mau tuan Marvel membunuh kalian?" teriaknya namun tak ada yang mendengarkan. Kedua pria itu tetap menyeret tubuh Ayla tanpa ampun.


"Tunggu," sanggah Audi yang membuat semua mata tertuju padanya.


"Aku bisa saja meminta kakak untuk mengampuni mu," lanjutnya membuat Alya menatap penuh harap. Ia tahu sang nona memang tidak sekeras hati itu. Sementara Daisy memuramkan wajahnya.


"Wanita bodoh, susah payah aku mempengaruhi pikirannya dan sekarang dia mau membatalkannya begitu saja?" rutuknya di dalam hati.


"Tapi kau harus berlutut dan mencium kaki ku dulu." Sebuah kalimat lanjutan yang membuat Daisy kembali tersenyum jahat sementara Alya membelalak marah.


Ayla mengepalkan kedua tangannya, tatapan tajam ia arahkan pada sang adik ipar laknat itu. "Aku tidak sudi berlutut di bawah kakimu. Lebih baik aku menghabiskan malam dengan binatang liar itu dibanding merendahkan diri pada wanita iblis seperti mu."


"Kau ... Bawa dia sekarang! Kita lihat apakah keberaniannya masih ada ketika bertemu dengan Leo dan teman-temannya."


Kedua pengawal itu kembali menarik tangan Ayla. "Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri."


"Nyonya."


"Tenanglah, Kak. Aku akan baik-baik saja." Alya menggeleng, ia jadi merasa tidak berguna sekarang.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah kandang besi besar di belakang mansion mewah itu. Seseorang dengan pakaian hitam dan topi senada terlihat tengah menyuntikkan sesuatu pada Leo yang tengah tertidur lelap.


Pria itu lalu membuka gembok rantai yang melilit sebuah pintu yang menghubungkan kandang milik Leo dengan kandang sebelah. Setelah mengendorkan sedikit lilitan rantai besi itu, pria misterius itu lalu pergi dan mengunci kembali kandang depan Leo sebelum Ayla dan dua pengawal itu datang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2