Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 12 ~ Cinta dan Benci


__ADS_3

Dorrr.


"Suara tembakan lagi?" ujar Audi sembari menatap pada Genio yang masih berusaha menahannya untuk turun ke lantai bawah.


"Itu berasal dari gudang," sahut Genio dengan panik. Gudang berarti tempat dimana Ayla berada.


"Gudang? Kenapa kau terlihat panik?"


"Tentu saja, ada Ayla di dalam sana."


"Ayla Navara?" tanya Audi, sementara Genio tak menjawab, pria itu sudah mulai beranjak.


"Hey, kau mau kemana?"


"Tentu saja melihat apa yang terjadi."


"Kalau kau pergi, kau akan aku pecat."


"What?" Genio menatap Audi dengan tatapan tak percaya.


"Lagian aku yakin dia baik-baik saja."


"Kenapa kamu seyakin itu?"


"Karena kakakku tertarik padanya. Sudahlah, lebih baik kau antar aku jalan-jalan. Aku sedang suntuk di rumah," jawab Audi ingin mengalihkan perhatian Genio. Sebenarnya ia juga tidak yakin Ayla akan selamat atau tidak.


"Ck, ayo!" Melihat Genio yang masih berdiri dengan ragu, Audi segera menarik lengan pria itu dan membawanya pergi dari sana.


"Semoga saja dia tidak selamat," batin Audi sembari menyeringai.


...


Ayla tersentak kala sebuah peluru melesat tepat di sebelahnya, dekat sekali. Dengan tubuh yang semakin bergetar, gadis itu memberanikan diri untuk melihat dinding yang berlubang tepat di sampingnya.


Sementara Marvel berjalan mendekat, tangannya terangkat lalu membalikkan tubuh Ayla yang membelakanginya. Melihat Ayla yang bergetar hebat namun masih berusaha menatapnya nyalang membuat Marvel semakin mengembangkan senyuman iblis.


Dengan gerakan cepat ia dorong gadis itu hingga terbentur dinding, membelenggu kedua bahunya dan menyerang bibir yang dengan lancang telah menggigit lengannya tadi.


Dalam, brutal dan kasar. Ciuman yang tidak ada hangat-hangatnya bagi Ayla bahkan pria itu menggigit bibirnya dengan keras. Gadis itu dibuat kesulitan untuk bernapas. Terlebih tubuhnya yang bergemetar semakin gemetar saja.


"Manis," gumam Marvel setelah melepaskan pagutannya ketika menyadari Ayla kesulitan bernapas. Tak peduli rasa amis darah Ayla, Marvel tetap merasa pagutan itu manis dan tentunya akan menjadi candu tersendiri untuknya.


Ia tatap wajah merah di hadapannya, ekspresi ketakutan itu justru membuatnya merasa bahwa Ayla terlihat semakin menggoda. Tidak tahan, pria itu kembali memagut bibir manis itu dengan semakin menuntut.


Lama sekali, hingga seseorang datang dan mengetuk pintu. "Tuan," sapa orang itu membuat kedua matanya Marvel mendelik.

__ADS_1


Ia lepas ciumannya dengan napas memburu. Merapikan rambut Ayla yang berantakan dan mengusap bibir sang gadis yang berdarah dengan ibu jarinya. Kemudian beralih mengusap pelipis Ayla dengan lembut.


"Sekali lagi kau melawan, mungkin lubang di dinding ini akan bersarang di sini," ancamnya sembari menatap lubang di dinding dan beralih pada kedua mata Ayla.


Merasa intimidasinya cukup, pria itu mulai melepas belenggunya dan beranjak dari sana.


Terlihat senyuman puas saat ia melihat peluru yang tergeletak di lantai. Namun senyum itu luntur saat menatap celana yang ia kenakan, terdapat sesuatu yang menonjol ke depan di dalam sana. "Shiit!" umpatnya.


"Katakan pada mereka aku akan sampai dalam waktu satu jam."


"Baik, Tuan."


...


Sementara di dalam kamarnya, Ayla langsung luruh ke lantai dengan air mata yang mengalir deras. Walau tak bersuara tapi terlihat jelas Ayla sedang sangat terguncang.


Tiba-tiba sebuah sapu tangan muncul tepat saat ia mendongak setelah beberapa saat ia menunduk di antara kedua lututnya.


Melihat wajah yang tidak asing itu, air mata gadis itu meleleh semakin deras. "Menangislah, jangan ditahan. Tuan Marvel baru saja keluar."


Hancur sudah pertahanan Ayla kala Alya merengkuh tubuh ringkih itu kedalam pelukannya. Gadis itu menangis pilu, sementara Alya terus mengelus lembut punggung Ayla.


Tanpa sadar, gadis itu juga turut menjatuhkan air matanya. Mereka menangis bersama, saling mendekap dan saling berbagi kekuatan.


Hingga setengah jam lamanya akhirnya tangisan pilu itu mulai mereda. Hanya tersisa sesenggukan di sela pelukan erat dua orang gadis itu.


Ayla mengangguk. Baginya Alya seperti Melysa, kakak sepupunya yang jahat di awal dan berakhir baik dan sangat menyayanginya.


"Nama ku Alya Shelby. Aku adalah putri bungsu bibi Rachel."


Ayla mengangguk. "Apa aku boleh memanggilmu kakak?"


Tak lagi merasa aneh dan tidak terima. Kini Ayla sudah mengerti, satu per satu wajah yang berada di dalam ingatannya muncul dengan identitas dan perilaku yang berbeda. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa wanita itu juga akan muncul.


"Tentu saja, bukankah nama kita juga mirip," jawab Alya sembari tersenyum.


Ayla membalas senyuman itu, baginya Alya seperti cahaya di dalam kegelapan rumah ini.


"Kalau begitu aku keluar dulu, ya. Kamu istirahat lah. Oh iya, ini adalah catatan untuk setiap orang yang tinggal di rumah ini. Tentang apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan. Setelah merasa lebih baik, bacalah agar kamu mengerti dan tidak membuat tuan Marvel marah lagi."


Lagi-lagi Ayla hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tangan kanannya terulur untuk menerima setumpuk kertas HVS itu.


"Terima kasih, Kak," ucapnya lirih.


...

__ADS_1


Tiba di luar, Alya langsung berhadapan dengan sang ibu. "Bagaimana? Dia sudah tenang?"


"Hmm. Ibu, menurutmu kenapa tuan Marvel sangat kejam pada Ayla?"


Rachel menatap putrinya dalam, kedua tangannya terangkat untuk memegang kedua bahu sang putri.


"Kamu pernah dengar? Benci dan cinta adalah dua kata yang saling berlawanan, tapi keduanya selalu berjalan beriringan dan melengkapi satu sama lain. Baik itu benci atau cinta, sama-sama akan mengubah seseorang. Jika cinta akan membuat hatimu terganggu, sebaliknya benci juga akan mengganggu pikiranmu."


Alya mengangguk, gadis itu tersenyum penuh makna pada sang ibu.


.


.


.


"Non, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Genio bingung. Pasalnya Audi hanya meminta berputar-putar sejak tadi.


"Kemana saja, tempat yang bisa buat suasana hati jadi lebih baik," jawab Audi asal, sebenarnya ia juga tidak tahu mau kemana. Ia hanya tidak ingin Genio menolong wanita jahat itu tadi.


Ya, walaupun Ayla tidak bersalah. Tapi yang membunuh kakak keduanya adalah manajer wanita itu. Baik itu Ayla maupun manajernya, Audi tetap merasa Ayla ikut andil dalam hal ini.


Sementara Genio menatap sang nona dengan tatapan tak percaya. Jadi, sedari tadi mereka memang tidak punya tujuan yang jelas. Seandainya ia tidak butuh pekerjaan ini, sudah ia cabik-cabik gadis sombong, angkuh, dan semaunya yang duduk di sampingnya ini.


Tanpa membalas perkataan Audi, pria itu memutar balik perjalanan mereka dan melaju ke suatu tempat.


"Hey, kita mau kemana?" tanya Audi penasaran.


"Nanti Anda juga akan tahu, Nona," jawab Genio sembari tersenyum lebar dan begitu meyakinkan.


Kurang lebih 20 menit, mobil yang dikemudikan oleh Genio berhenti di sebuah rumah sederhana ber-cat putih. Halaman rumah itu luas, banyak di tumbuhi bunga-bunga yang indah. Terlihat juga banyak anak-anak yang bermain di sana.


Melihat kedatangan sebuah mobil, mata anak-anak itu menyipit. Sangat menunggu manusia di dalam sana untuk keluar dan menghilangkan rasa penasaran mereka.


"Ini dimana? Kenapa datang ke tempat seperti ini?" tanya Audi dengan kesal. Gadis itu tidak begitu menyukai anak-anak. Menurutnya mereka itu sangat berisik.


"Ini panti asuhan tempat dimana aku dibesarkan," jawab Genio singkat. Setelah itu ia meraih beberapa kantong kresek berisi makanan ringan yang sempat ia beli dalam perjalanan tadi.


"Ini adalah tempat yang membuat mood saya lebih baik. Jika Nona tidak mau ikut turun, Nona tunggu di sini saja. Saya tidak akan lama." Setelah berkata seperti itu, Genio turun dari mobil tanpa menunggu jawaban Audi.


Gadis itu terlihat bingung, turun atau tidak? Melihat banyaknya anak-anak yang berlari dan memeluk Genio membuat gadis itu sedikit bergidik ngeri. Namun saat melihat senyuman merekah di bibir semua anak itu, justru membuat Audi juga ikut tersenyum. Tanpa ragu ia pun mendorong pintu mobil dan ikut melangkah turun.


"Wah, kak Genio bawa gadis cantik," teriak salah anak dengan hebohnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2