
Ayla menggeliat, kedua alisnya berkerut menyatakan masih ada sakit yang terasa. Hingga lenguhan kecil berhasil mengalihkan atensi Alya yang duduk di sisi tempat tidurnya.
"Ayla, kamu sudah sadar?" ujarnya sembari tersenyum bahagia.
Perlahan kedua bola mata cokelat itu terbuka, memancarkan sinar yang sayu sama seperti kondisi tubuhnya saat ini. "Aku dimana?" lirihnya nyaris tak terdengar.
"Kamu ada di kamar tamu."
Sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut sang sahabat, tanpa sadar perkataan tanpa beban itu membuat Ayla membulatkan kedua mata indahnya.
"Kakak bilang apa?" tanyanya dengan tatapan tak percaya. Ia menelisik seluruh sudut ruangan dengan interior mewah itu sembari bergidik. Apalagi rencana tuan kejam itu dengan menempatkannya di ruangan seperti ini?
Jika hanya untuk menyiksa maka lebih baik ia kembali ke gudang yang sesak itu.
"Sekarang kita ada di kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar nona Audi." Sekali lagi kalimat yang keluar dari mulut Alya membuat Ayla kembali membelalak. Ternyata telinganya tidak salah menangkap.
"Tapi kenapa kita ada disini?" tanya gadis itu, masih dengan suara yang lemas.
"Entahlah, Ayla. Tuan Marvel sendiri yang membawamu kemari. Aku juga tidak tahu apa alasannya."
Ayla menarik napasnya kasar. Demi apapun ia tidak akan mau diperlakukan kasar lagi. Selama pria itu kekeh menahannya, selama itu pula ia akan melawan. Ia bukan gadis malaikat yang akan terima-terima saja diperlakukan seperti itu.
"Aku akan keluar sebentar ya, mengambilkan makanan untukmu. Sejak pagi kamu belum makan kan?" ujar Alya yang sudah beranjak berdiri dari sisi tempat tidur.
Ayla mengangguk samar, ia memang butuh makanan sekarang. Ia butuh kekuatan untuk memulihkan tubuhnya yang lemah ini.
Setelahnya terdengar suara pintu yang tertutup. Alya telah keluar meninggalkan Ayla dengan kedua netra kosongnya, seolah menerawang jauh tentang apa yang akan terjadi di kehidupannya mendatang.
.
.
.
"Dimana?" tanya Marvel dengan dingin setelah masuk ke dalam sebuah penthouse mewah bergaya klasik khas Eropa.
"Ada di ruang tahanan bawah tanah, Tuan." Kendrick langsung membawa jalan, menuntun Marvel menuju sel tahanan pengkhianat itu.
Ya, walaupun dari luar penthouse itu terlihat aman dan tenang, siapa yang tahu dibalik kemegahan itu terdapat sebuah penjara bawah tanah yang telah menelan banyak nyawa.
Dengan langkah lebar keduanya berjalan menyusuri sebuah terowongan gelap, menuju tempat dimana dua orang pengkhianat yang membuat Marvel harus merugi miliaran rupiah itu disekap.
Walau mereka berhasil tertangkap saat akan menyelundupkan senjata yang akan dikirim pada pelanggan, tapi hal itu tetap menyebabkan keterlambatan pengiriman hingga Marvel harus merugi sebagai permintaan maaf.
Sepanjang terowongan itu terdengar teriakan, cacian, makian, hingga permohonan ampun yang membuat orang biasa yang mendengarnya akan merinding dan sesak saat itu juga.
"Bawa mereka ke ruangan interogasi," titah Marvel sembari berseringai dengan sudut bibir sebelah kanan. Seringai psiko yang pastinya akan membuat kedua orang itu berakhir pindah ke dunia lain.
__ADS_1
Kendrick yang mendengar pun langsung mengangguk patuh. "Baik, Tuan," jawabnya dan berbelok ke arah sel dimana dua orang pengkhianat itu berada. Sementara Marvel sendiri menuju ruangan penyiksaan yang ia sebut ruang interogasi itu.
...
Bruk.
"Ampuni saya, Tuan. Saya hanya tergiur tawaran mereka. Saya sedang butuh uang untuk keluarga saya dan mereka memberi saya imbalan yang besar," mohon salah satu pria itu dengan wajah ketakutan yang jelas. Sementara satunya tampak tenang meski penampilan mereka sama-sama acak-acakan dengan darah mengalir di berbagai bagian tubuh.
Marvel tersenyum sinis, apapun alasannya ia tidak pernah mentolerir pengkhianatan bahkan orang terdekatnya sekalipun. "Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Marvel mulai menginterogasi.
Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan perlahan pada dua pria itu. Namun tanpa disangka Marvel malah melewati mereka begitu saja. Membuat pria tadi yang sudah menahan napas bisa menghembusnya dengan lega.
Namun itu hanyalah kelegaan sejenak, karena setelah itu wajah yang lebih ketakutan terpancar semakin jelas dari wajah bulatnya kala mendengar gesekan arang dengan sebuah benda.
"Sa-saya akan mengatakannya, Tuan. Tapi to-tolong ampuni saya. Saya berjanji akan setia dan mengabdikan seumur hidup saya pada Tuan. Saya mohon." Air mata pria itu luruh, membuat rekan disebelahnya berdecak.
"Katakanlah!" titah Marvel sembari meniup besi yang telah ia panaskan. Besi yang tampak merah menyala, bisa dipastikan akan sangat menyakitkan bila bersatu dengan kulit.
"Sa-saya."
"Cepat!"
"Dia ... Argh, tu-tuan tenggorokan saya. Arghhh." Dalam hitungan detik pria itu ambruk, dari dalam mulutnya mengalir darah segar. Racun telah menggerogoti nyawanya tanpa pria itu sadari.
"Sial," umpat Marvel murka.
Kendrick segera menendang pria itu namun terlambat, ia telah bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri. Sungguh setia pada sang majikan.
Prang.
Marvel membuang besi di tangannya begitu saja. "Urus mereka! Sepertinya binatang-binatang kesayanganku sudah lama tidak diberi makanan enak."
"Baik, Tuan."
Di tempat yang berbeda terlihat seorang pria dengan badan yang besar tengah menghisap sebuah cerutu. Dalam ruangan yang gelap kedua mata tajam itu menerawang jauh.
"Tuan, keduanya telah mati," lapor seorang bawahannya sembari menunduk hormat.
"Bagus, pastikan tidak ada bukti sekecil apapun yang tertinggal!"
.
.
.
"Ayla, apa makanannya sangat enak?" tanya Alya sembari memperhatikan cara makan Ayla yang terkesan rakus.
__ADS_1
Dengan mulut penuh Ayla mengangguk. Ia memang kelaparan, dari semalam perutnya belum terisi apapun. Gadis itu bahkan tidak mendongak sedikitpun, wajahnya masih setia menunduk sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sampai ia tidak menyadari bahwa posisi Alya telah diganti oleh sang suami yang kini menatapnya dengan intens.
"Kak, bagaimana kau bisa tahu makanan kesukaanku adalah omelette?" tanya Ayla sembari sedikit mendongak.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Ayla tersedak, sontak makanan yang berada di dalam mulutnya melambung pada wajah pria yang kini mengeras dengan tatapan yang mematikan.
"Tu-tuan."
"Buka mulutmu!"
"Apa?"
"Jilat semua makanan kotor ini dari wajahku!"
"Tidak, aku tidak mau."
"Kau berani membantahku?"
"Kalau berani kenapa memangnya?" balas Ayla dengan acuh tak acuh. Tangannya beralih pada lembaran tisu yang terletak di atas nakas samping tempat tidur.
"Aku bilang bersihkan dengan cara menjilat, bukan dengan tisu!"
"Siapa yang bilang aku akan membersihkan wajahmu? Aku ingin membersihkan sprei dengan menepuk-nepuk nya."
"Kau," geram Marvel dengan penuh amarah. Di detik berikutnya ia mencengkram dagu sang istri.
"Sa-kit, Tuan."
"Rupanya kau masih tahu rasa sakit? Aku kira kau sudah mati rasa terhadap penyiksaan ku," ujar Marvel dengan seringai kiri yang menyeramkan.
Sementara Ayla berkaca-kaca, sungguh ia tidak ingin terlihat lemah. Namun air mata itu keluar dengan sendirinya akibat sakit yang ia rasa.
"Sialan, bola mata cokelat itu selalu mengingatkanku pada Lala," batin Marvel sembari menatap dalam kedua netra Ayla yang menatap penuh kebencian padanya.
Tanpa sadar tangannya beralih ke leher gadis itu dan mencekiknya dengan erat.
"Ugh." Ayla kehabisan napas, tenaganya yang belum pulih membuat ia semakin sulit melawan pria ini.
"Memang lebih baik aku mati," batin Ayla yang sudah pasrah, gadis itu memejamkan kedua matanya. Dan kehilangan objek yang sejak tadi ia tatap membuat akal sehat Marvel kembali.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Ayla meraup udara dengan tergesa, sungguh paru-parunya sesak sekali.
"Sekali lagi kau berani melawan maka nyawamu yang kecil itu akan melayang." Ancaman yang berhasil membuat Ayla melayangkan tatapan kebencian yang semakin menjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼