Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 47 ~ Mayat Hidup


__ADS_3

Sierra sedang bersenandung riang di dalam kamar apartemennya. Gadis itu baru saja selesai mandi dan menghirup wangi segar yang menyeruak dari tubuhnya.


"Hmm, wangi sekali. Aaa, aku yakin Austin akan semakin klepek-klepek sama aku," gumamnya sembari terkikik sendiri. Sudah sebulan ini ia memang seperti ulat bulu yang terus menempel pada Austin. Dan lama-lama Austin juga tidak mengusirnya lagi asalkan ia tidak mengganggu pekerjaan dokter tampan itu.


Masih mengenakan bathrobe ia menari kecil dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


"Bagaimana jadwalku hari ini?" tanya wanita itu setelah panggilan terhubung dengan sang asisten.


"...."


"Oh, baiklah. Berarti sampai jam 10 nanti jadwalku kosong kan?" tanya nya lagi dengan senyuman mengembang di sudut bibirnya.


"...."


"Yes," pekik Sierra karena hari ini pun ia memiliki waktu yang panjang untuk bersama Austin. Namun baru saja hendak berganti pakaian, suara bel apartemennya berbunyi dengan nyaring dan berulang.


"Siapa pagi-pagi begini? Tidak sabaran lagi," gerutu wanita itu sembari berjalan keluar kamar. Saking kesalnya ia langsung membuka pintu begitu saja tanpa memeriksa siapa itu. Ia kira pasti asistennya yang membawakan sarapan, tadi memang ia mengatakan akan mengantarnya.


Klek.


Baru saja ia membuka pintu beberapa orang berpakaian hitam menerobos masuk seenaknya.


"Akhh, kalian mau apa?" pekik gadis itu sembari mengeratkan bathrobe yang ia kenakan.


Orang-orang itu tidak menggubris, justru malah memojokkan dan menahan kedua tangannya, sedangkan yang lainnya masuk lebih dalam ke apartemen gadis itu.


"Lepaskan! Kalian mau apa, hah? Kalian tahu ini pelanggaran privasi? Aku bisa menuntut kalian jika mau," teriak Sierra tidak terima. Gadis itu mengira mereka adalah haters yang berusaha mencelakainya.


"Bagaimana?" tanya seseorang di belakang Sierra setelah melihat anak buahnya keluar satu per satu.


"Tidak ada, Bos," jawab mereka serentak yang membuat pria itu berjalan perlahan ke arah Sierra.


Tanpa aba-aba ia menarik rambut Sierra dengan kuat. "Akhh, sialan. Siapa kau?" teriak Sierra namun tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya ditahan dengan erat, bahkan untuk sekedar meronta pun ia tidak bisa.


"Katakan, di mana Austin berada!" titah pria itu dengan suara rendah. Sierra sampai tercengang melihat kedua netra yang begitu kelam menatapnya. Tanpa sadar tubuhnya sedikit bergetar dengan kedua mata berkaca-kaca menahan sakit rambutnya.


"Lepaskan aku! Austin pasti ada di rumah sakit," sahut gadis itu setelah mengumpulkan keberanian dan menatap balik pria berwajah rupawan itu dengan tajam.

__ADS_1


Skala berdecak, lalu semakin kuat menarik rambut indah bergelombang Sierra.


"Akh, sakit bodoh!" jerit Sierra sembari memberontak namun tubuhnya tetap tak bergerak sedikitpun.


"Katakan atau aku buat rambut kebanggaan mu ini menjadi gundul," ancam Skala dengan senyuman iblisnya.


Kedua mata Sierra membeliak, siapa sih pria ini? Diingat bagaimanapun juga rasanya mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


"Aku benar-benar tidak tahu, aku bahkan baru mau menyambanginya ke rumah sakit," pekik gadis itu dengan wajah memerah menahan sakit.


"Sialan!" geram Skala sembari menghempas kepala Sierra dengan kasar.


"Akh, shiit!" Sierra mengusap kepalanya yang sangat sakit setelah Skala memberi kode agar anak buahnya melepaskan gadis itu. Belum juga rasa sakit menghilang, sekarang dagunya yang dicengkeram dengan erat.


"Aku tidak akan melepaskan mu jika kau berbohong!" ucap Skala dengan suara beratnya menatap Sierra dengan mata kelamnya.


"Pria ini benar-benar menyeramkan," batin Sierra, namun tetap berusaha menarik bibirnya membentuk senyuman sinis.


"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya padamu," desis wanita itu membuat Skala mendelik.


"Akh." Skala menghempas wajah Sierra dengan kasar.


"Bajiingan! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" teriakan menggema Sierra tak ia hiraukan lagi, justru ia mempercepat langkah.


Masuk ke dalam lift, ia mengusap wajahnya lalu menarik napas dalam. Inilah alasan ia tidak mau terlibat dengan wanita. Karena baginya wanita itu sangat merepotkan. Contohnya saja yang paling nampak adalah Marvel sekarang, pria itu seperti orang gila jika saja dokter tidak memberinya obat penenang.


.


.


.


"La, kenalin ini bibi Lisa," ujar Austin membawa seorang wanita paruh baya dengan wajah teduh.


Ayla tak banyak menggubris, wanita itu hanya melirik sebentar kemudian membalikkan tubuhnya. Austin hanya bisa menghela napas kasar.


Tidak, ia harus sabar menghadapi wanita ini. Wanita yang ia ketahui tengah berbadan dua itu memang tidak memiliki emosi yang stabil.

__ADS_1


Sebenarnya hatinya sakit ketika mengetahui Ayla tengah mengandung anak pria lain. Namun jika mencintai ibunya bukankah juga harus menerima anaknya.


Sekali lagi ia menghela napasnya. "Aku akan keluar sebentar, La. Kalau kamu menginginkan sesuatu mintalah pada bibi Lisa ya!"


Lagi-lagi hanya keheningan yang menjawab, Ayla tidak punya niat untuk mengeluarkan suaranya.


Austin lalu tersenyum pada bibi Lisa. "Aku pergi dulu, Bi," ucapnya dan berlalu keluar dari sana.


Sudah beberapa hari sejak ia mengurung Ayla di sini, stok makanan juga hampir habis begitu juga dengan Ayla yang masih membutuhkan obat-obatan dan cairan infus karena wanita itu hampir tidak pernah menyentuh makanannya.


Bibi Lisa mengangguk penuh hormat pada sang majikan. Lalu menatap wanita yang berbaring di depannya, Ayla terlihat seperti mayat hidup. Wajah pucat, datar, tidak terlihat ada semangat sama sekali.


"Nona, jika menginginkan sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya ya," ujar bibi Lisa sembari tersenyum. Namun Ayla tetap tak menggubris, jika saja bibi Lisa tidak bisa melihat perut wanita itu yang naik turun yang berarti masih bernapas. Mungkin bibi Lisa akan mengira bahwa Ayla benar-benar sudah tidak bernyawa.


Cukup lama ia menunggu namun tak ada tanda-tanda Ayla akan berbicara. Akhirnya ia memilih menyerah. "Nona, jika butuh sesuatu teriak saja ya. Saya tidak akan kemana-mana. Saya akan berdiam di dapur," pamitnya sembari mundur dan akan pergi.


"Aku mau makan sesuatu." Akhirnya wanita itu membuka suara. Ayla perlahan bangkit, membuat bibi Lisa segera membantu menopang tubuh wanita yang masih lemah itu.


"Apa yang Anda inginkan, Nona?"


Ayla tampak berpikir sebentar. "Aku mau ... kebab."


"Kebab? Kalau begitu saya akan ke dapur dulu, mungkin ada bahan yang bisa saya gunakan untuk membuat kebab."


Bibi Lisa segera berjalan keluar, meninggalkan Ayla yang masih menatap datar. Setelah beberapa saat ia kembali.


"Maaf, Nona. Ternyata tidak terdapat bahan yang bisa saya gunakan. Bagaimana kalau saya menghubungi tuan Austin dan memintanya membeli kebab yang Nona inginkan?"


"Tidak perlu," jawab Ayla dengan cepat.


"Hem, sayang sekali. Padahal sekarang aku sangat ingin makan kebab." Ayla menundukkan wajahnya. Memasang wajah sedih yang membuat bibi Lisa turut merasakannya. Ia tahu seperti apa ketika wanita hamil mengidamkan sesuatu tapi tidak kesampaian.


"Kalau begitu Nona tunggu sebentar ya. Saya lihat ada sebuah pasar di bawah gunung."


Ayla mengangguk tanpa semangat. Namun raut sedih itu perlahan sirna setelah bibi Lisa meninggalkannya. Kedua mata wanita itu langsung memindai seisi ruangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


TBC


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2