Belenggu Cinta Tuan Kejam

Belenggu Cinta Tuan Kejam
Bab 14 ~ Perhatian Kecil


__ADS_3

"Cih, sudah setengah hari aku menghindar kenapa masih saja ketemu dengan wanita jahat ini," sarkasnya dengan suara melengking. Tak peduli jika Ayla mendengarnya, bahkan mungkin ia sengaja.


"Wajahnya mirip Kiara," batin Ayla. Namun gadis itu memilih abai, sudah tak kegirangan seperti kemarin lagi ketika bertemu seseorang yang ia kenal.


Ayla tetap melanjutkan makannya sembari sesekali tersenyum kala Alya mengambilkannya lauk atau sayur.


Merasa tak digubris, Audi bertambah kesal.


BRAK.


"Hey, wanita jahat. Kau tuli ya?" pekik Audi sembari mendorong kursi Ayla hingga terjungkal.


Alya menatap tak percaya, Audi yang dikenalnya sebagai nona muda baik hati itu bisa berlaku seperti ini.


"Non, kenapa mendorong Ayla?" ujar Alya sembari membantu Ayla untuk bangun.


"Itu pantas untuknya. Tempatnya memang di bawah, bahkan makan bersama kalian juga tidak sebanding dengannya. Dasar pembunuh!" Setelah berkata seperti itu, Audi berjalan keluar dengan emosi.


Sementara Daisy yang melihat kejadian ini, semakin merasa berada di atas awan. Kedua majikannya tidak menyukai Ayla, bukankah dia juga boleh menunjukkan sikap yang sama?


Ah, rasanya bahagia sekali bisa membalaskan rasa sakit hati setelah ditinggal pergi oleh tuan muda kedua Prado, yang merupakan kekasih gelapnya.


"Kamu tidak papa?" tanya Alya sembari memperhatikan tubuh Ayla.


"Tidak papa, auww."


"Apanya yang tidak papa? Tanganmu lebam. Duduk disini, aku akan mengambil minyak gosok dulu."


Di sisi lain, ternyata ada dua orang pria yang sudah memperhatikan apa yang terjadi sedari tadi walau dari sisi yang berbeda. Jika Genio tidak berani masuk karena takut dipecat oleh Audi, maka Marvel tidak masuk karena merasa tidak harus peduli pada wanita itu.


Tapi melihat Ayla yang terluka membuatnya refleks melangkah untuk mendekat, walau langkahnya kalah cepat dengan Genio yang berlari.


"La, kamu tidak papa?" tanya Genio, gurat wajah khawatir terpancar jelas di wajahnya.


Ayla mengerutkan kening, kenapa ia seperti pernah melihat pria ini? "Kamu yang tadi menolongku, ya?" tanya Ayla dengan suara lembutnya.


Mendengar pertanyaan itu, Genio malah menggaruk keningnya lalu tertawa garing. "Hehe, sebenarnya aku bukan sedang menolong mu tadi. Tapi sedang mempertaruhkan nyawa," jawab Genio sembari terkekeh.


Membuat Ayla juga ikut terciprat, gadis itu juga tertawa kecil. Tawa yang baru pertama kali dilihat oleh Marvel sejak mengenal Ayla. Seketika kedua tangannya terkepal erat.


"Seharusnya kau tidak perlu menolongku, bagaimana jika dia menembak mu?"


"Aku tidak takut. Aku bahkan pernah mati berulang kali," sahut Genio, berbangga diri.


"Di dalam game?"


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Hahaha." Ayla tergelak, entah kenapa Genio mengingatkannya dengan seseorang. "Darier," batin gadis itu.

__ADS_1


"La."


"Hem."


"Aku mau bilang sesuatu ... Sebenarnya, aku adalah ...."


"Genio Asher."


Deg.


"Ya-ya, Tuan," jawab Genio dengan terbata. Sementara Ayla sudah menunduk, entah kenapa melihat Marvel membuat semua keberaniannya jadi ciut.


"Pergilah lihat keadaan Audi!"


"Tapi, Tuan ...." Tenggorokan Genio terasa tercekat kala mendapat hujaman tajam netra sang majikan.


Glek.


Susah payah ia menelan salivanya. "Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu."


Sebelum pergi ia masih sempat mengelus kepala Ayla yang entah mengapa semakin membuat dada Marvel terasa panas.


"Ikut aku!" ujar Marvel sembari menarik tangan Ayla kasar.


"Aww," pekik gadis itu membuat Marvel menoleh. Tatapannya terkunci pada siku Ayla yang lebam.


"Ayla, aku sudah membawa minyaknya ... Tuan?"


"Iya, eh, baik Tuan."


Ayla mendongak setelah mendengar perkataan pria itu. Apa maksudnya meminta Alya membawa minyak ke kamar pria itu?


Deg.


Hatinya berdenyut kala melihat seringai sebelah kiri milik sang suami. Seringai paling menyeramkan yang pernah Ayla lihat.


"Eh, Tu-tuan lepaskan saya!" pekik Ayla ketika Marvel menggendongnya seperti sebuah karung beras.


Sungguh kepalanya pusing dalam posisi seperti ini. "Tuan, lepas!" pekiknya lagi sembari memukul punggung pria itu.


"Aww." Namun pada akhirnya ia yang merasa sakit sendiri karena memukul dengan tangannya yang terluka.


PLAKKK.


"Akh, Tuan," pekik Ayla marah, bagaimana tidak marah? Pria ini selain kejam juga cabul, tadi menciumnya dan sekarang malah menepuk dan meremas bokongnya dengan keras.


"Patuh atau aku akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman seperti tadi siang," ujar pria itu mengancam hingga berhasil membuat Ayla terdiam, rasa kesal harus ia pendam dalam hati.


Saat ini keduanya sedang berada di dalam lift. Lantai 3 di rumah ini adalah daerah Marvel, tidak boleh ada satupun pelayan yang boleh berkeliaran di sini kecuali bibi Rachel, Agya dan Alya. Oleh karenanya keadaan tampak sepi saat mereka sampai disana, hanya terlihat beberapa bodyguard yang berdiri seperti patung.

__ADS_1


"Tuan."


"Sstt."


Sama seperti markas utama Silent Sparta. Lantai 3 rumah ini juga memiliki keamanan tingkat tinggi. Dengan berdiri di depan pintu, sebuah alat pemindai langsung bersinar dan pintu kamar pria itu terbuka perlahan.


"Tuan, ini minyak gosoknya," ujar Alya dengan napas terengah. Maklum saja, ia naik tangga sementara sang majikan enak-enakan naik lift.


Marvel mengambil minyak itu dengan sebelah tangannya. Lalu memberi kode lewat lirikan mata, bahwa Alya sudah boleh pergi.


Sementara dengan Ayla yang berada di atas punggungnya, pria itu lanjut beranjak tanpa mempedulikan Alya yang masih berdiri sembari menormalkan napasnya.


Klik.


Pintu otomatis terkunci setelah Marvel masuk ke dalam.


"Aku harap kau tidak ikut campur terlalu dalam pada urusan wanita itu," ujar Agya yang memang sengaja mengikuti sang adik.


"Memangnya kenapa? terserah aku dong," ketus Alya sembari pergi meninggalkan sang kakak yang memandangnya kesal.


Masuk ke dalam ruang paling pribadinya, Marvel menjatuhkan Ayla di atas sofa, tidak kuat namun cukup membuat Ayla kembali meringis. Pasalnya siku tangannya yang sakit kembali terlantuk pegangan sofa.


Tanpa banyak berkata Marvel duduk di samping gadis itu dan meraih tangan kanannya kemudian mulai menggosokkan minyak yang dibawa Alya tadi.


"Argh, jangan keras-keras," pekik Ayla spontan. Rasa takutnya pada pria kejam ini pun entah hilang kemana sekarang.


Marvel mendongak sejenak, entah kenapa pekikan kesakitan Ayla malah terdengar seperti desah yang memanjakan telinga. Namun pria itu cepat-cepat menurunkan pandangannya, tidak hanya suara, bahkan ekspresi kesakitan yang tercetak di wajah Ayla mampu membuat jantungnya berdegup tidak jelas.


"Apa sih yang aku pikirkan? Apa karena Morgan bilang kalau mereka duduk bersama, jadi aku berharap kalau wanita ini adalah Lala," batin pria itu.


Pikiran waras nya pun kembali mendominasi. Apa yang ia lakukan? Kenapa bersikap lembut dan kembali membantu wanita ini? Dan kenapa membawanya ke kamar yang bahkan belum pernah dimasuki oleh orang lain?


Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benak. Tanpa sadar ia malah mengurut lebam di siku Ayla dengan keras.


"Akkh, sakit Tuan."


Refleks pria itu menghempaskan tangan Ayla. "Jangan berpikir bahwa aku melakukan ini karena perhatian dengan mu. Kebetulan saja aku melihat yang membuatmu terluka adalah Audi. Jadi aku tidak mau kau menggunakan Audi sebagai alasan di saat aku menyuruh-nyuruhmu nanti."


Ayla terhenyak, baru saja ia merasa sedikit hangat di hati. Kini malah sudah kembali disiram air es.


"Satu lagi, apa kau belum ingat sama sekali perihal kalung ini?"


Ayla menggeleng, sungguh ia sama sekali tidak mengingat apapun selain kehidupannya sebagai Alice.


"Ck, benar-benar tidak berguna."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


__ADS_2