
Ayla membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Keresahan nampak jelas di wajah cantik itu. Keadaannya sudah baik bahkan sangat baik, bekas luka pun sudah tidak terlihat sama sekali. Begitu juga mentalnya yang sudah sembuh berkat dokter Rose.
"Akh." Kedua tangannya terangkat dan mengacak rambut frustasi.
"Kenapa aku bimbang sekarang?" batinnya.
"Tidak, aku bahkan berpura-pura gila hanya untuk mendapatkan kesempatan ini. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya." Wanita itu bertekad, memandang langit-langit kamar dengan tatapan yang begitu rumit. Lalu ia bangkit duduk, resah sekali rasanya meski sudah ada tekad yang tak bisa diganggu gugat.
Namun suara pintu terbuka membuat ia buru-buru berbaring kembali. Ayla tahu siapa itu. Siapa lagi yang akan menyelinap malam-malam ke kamarnya. Bahkan setiap malam.
Dan entah kenapa Ayla yang awalnya takut kini malah menantikan waktu tengah malam ini.
"My love," bisik Marvel sembari membenarkan anak rambut yang menutup pandangan nya pada wajah cantik sang istri.
Seperti biasa Ayla akan pura-pura tertidur lelap, membiarkan sang suami menatapnya sepuas hati. Bercerita tentang harinya dengan pelan, juga kata-kata manis yang lama-lama menyentuh hati Ayla.
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh lengah!" Antara pikiran dan hati kini berkecamuk. Pikiran memintanya untuk tetap melanjutkan rencana sementara hati memintanya untuk tetap tinggal dan mulai menerima pria kejam yang entah kenapa berubah semanis ini.
"Mungkin dengan begini akan lebih baik. Karena kamu tidak akan pernah berpikir untuk pergi dariku." Marvel berbicara dengan pelan.
"Maksudnya aku yang gila lebih baik?" batin Ayla tidak terima.
"Kau tahu? Aku tidak masalah meski mentalmu terganggu, asalkan kamu selalu ada di sampingku."
Deg.
Seketika rekaman suara yang diberikan Alya memenuhi kepala Ayla.
...
"Yang pertama, Ayla adalah istriku. Yang ke-dua, aku tidak akan menggantikannya dengan siapapun bahkan pengganti itu seribu kali lipat lebih baik daripada istriku. Dan yang ke-tiga, aku Marvelio Prado adalah milik Ayla Navara. Selamanya hanya milik Lalaku."
...
Awalnya Ayla takut ketika mendengar suara dingin itu, namun lama kelamaan rekaman itu malah seperti candu yang selalu membuatnya memutarnya ulang bagai lagu.
"Aku mau menghabiskan sisa hidupku hanya denganmu," lanjut pria itu lagi sembari membenamkan ciuman dalam di kening sang istri.
Tanpa sadar air mata Ayla jatuh begitu saja. Ya, kini ia bukan sekedar tersentuh lagi. Pria ini setiap malam selalu memberikan kata-kata yang berhasil membuat benteng yang ia bangun sedikit demi sedikit retak dan entah kapan itu akan hancur.
.
.
.
"Kakak ipar," pekik Audi dengan ceria sembari mendekati Ayla yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
Ayla tersentak, pura-pura memasang wajah waspada nan takut pada gadis itu.
"Pergi, pergi dari sini!" pekik Ayla yang membuat Audi memandangnya sedih.
"Kakak ipar, aku benar-benar meminta maaf padamu. Aku tahu kalau aku selama ini banyak salah pada Kakak ipar."
__ADS_1
Namun Ayla tetap berteriak, mengusirnya dengan pandangan takut.
"Huft, baiklah. Aku akan pergi, tapi aku harap Kakak mau menerima ini." Audi meletakkan sebuah kotak, kemudian menatap Ayla yang masih tidak mau memandang ke arahnya. Lalu berbalik pergi dengan wajah sedih.
Setelah kepergian gadis itu, Ayla menatap kotak yang ia tinggalkan. Lalu tersenyum kecil, selama dua minggu ini kedua saudara itu memang bersikap manis. Hanya demi mendapat maaf darinya.
Penasaran, ia membuka kotak itu. Sepucuk surat menjadi sambutan pertama bagi Ayla.
"Seperti anak kecil," gumam Ayla dengan senyuman merekah. Lantas ia membuka surat itu dan membacanya.
...----------------...
Kakak ipar.
Aku tahu banyak kesalahanku di masa lalu yang memang sulit untuk dimaafkan.
Tapi aku akan tetap memohon maaf padamu, aku juga tidak tahu kenapa bisa sangat membencimu.
Padahal meninggalnya kakak keduaku bukan kesalahanmu sama sekali.
Aku hanya terlalu sedih, sehingga melampiaskan semua dendam ku pada Kakak yang merupakan orang terdekat pembunuh itu.
Kalau Kakak tidak mau memaafkan ku mungkin itu wajar.
Tapi jangan melampiaskan kesalahanku pada Kak Lio.
Walau pada awalnya dia tidak menyukaimu, tapi aku melihat sendiri sikapnya perlahan berubah hanya untuk kakak.
Bahkan aku merasa sedikit cemburu padamu.
Baiklah, tanganku capek menulis panjang lebar.
Sebenarnya masih banyak ceritaku yang aku ingin Kakak dengar.
Aku ini sebenarnya banyak bicara, dan aku ingin Kakak menjadi Kakak ipar sekaligus sahabat untukku nanti.
......................
"Kekanakan," gumam Ayla sembari tertawa kecil.
......................
Tunggu, Kakak jangan menganggap ku kekanakan ya!
Aku mendapat ide ini dari Genio.
Dia menyuruhku minta maaf dengan sebuah surat jika Kakak belum mau bicara padaku.
Lihatlah kedalam kotak.
Aku membelikan baju couple yang sangat cantik.
Baju itu untuk sekeluarga.
__ADS_1
Aku harap dengan motivasi baju itu, Kakak akan bertahan dengan kak Lio dan melahirkan keponakan tampan dan cantik untukku.
Aku janji akan menjadi Aunty yang sangat menyayangi mereka.
...----------------...
Kedua tangan Ayla menegang, memegang kertas itu hingga nyaris remuk dan tercabik. Tak pernah terpikirkan sebelumnya tentang ia yang menjadi seorang ibu. Tiba-tiba semua tekadnya menjadi abu. Lalu bergerak untuk mengeluarkan isi kotak berwarna merah itu. Memang benar baju couple, untuk sepasang suami istri dan untuk sepasang bayi.
Tanpa sadar sebelah tangannya mengarah pada perutnya yang masih datar dan mengusapnya dengan lembut. Begitu juga dengan keduanya netranya yang berkaca-kaca tanpa diminta.
"Ada apa ini? Jangan ragu Ayla! Tidak, namaku Alice. Kau harus berpendirian pada keyakinan mu, Alice! Harus!" batin wanita itu sembari menghapus air matanya yang jatuh.
Wanita itu berusaha menguasai diri. Wajahnya mendongak demi memasukkan kembali air mata yang semakin mengembun.
"Kau tidak boleh lemah, Alice!" batinnya lagi setelah hatinya cukup tenang. Lalu kembali memandang taman di bawah yang nampak segar di pagi hari. Sepertinya akan menyenangkan jalan-jalan di sana. Namun paginya kali ini cukup buruk dan ia tidak memiliki mood untuk itu.
"Tunggu, bukankah itu Daisy?" gumam Ayla sembari terus menatap titik di mana pelayan pengkhianat itu berada.
"Aku harus mengikutinya."
Tanpa berpikir panjang Ayla berjalan keluar kamar. Mengendap-endap hingga ke taman mansion. Ada sedikit rasa aneh mengingat betapa mulusnya jalan keluar ini. Biasanya banyak pengawal yang akan mencegat.
Namun Daisy yang telah berjalan menjauh membuatnya semakin penasaran. Hingga tanpa sadar ia mengikuti wanita itu sampai ke sebuah hutan di sebelah utara mansion Prado.
.
.
.
Di markas Silent Sparta.
"Bagaimana? Apa sudah ada pergerakan?" tanya Skala pada Marvel yang dijawab gelengan kepala.
"Sepertinya mereka masih bermain kucing-kucingan dengan kita."
"Pengecut," sarkas Enzo sembari tertawa jenaka.
"Sial," geram Morgan sembari menatap laptopnya.
"Ada apa?"
"Pengawalmu dibius."
"Apa? Istriku. Di mana dia berada?"
"Aku tidak bisa menemukannya," jawab Morgan sembari terus memindai setiap kamera CCTV yang ia pasang diam-diam.
"Bajiingan!" geram Marvel dan berlari keluar markas dengan terburu-buru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼