
Audi yang kebetulan baru turun dari kamarnya hanya mendengus melihat tingkah sang pelayan. "Lemah," cemoohnya. Tidak perlu ditanya, ia sudah tahu apa tujuan Alya membawa benda-benda itu.
Melihat Genio yang ingin mengikuti langkah Alya, gadis itu cepat-cepat memanggilnya.
"Genio!" pekiknya sembari melangkah cepat ke arah pria itu.
"Antar aku ke suatu tempat!" lanjutnya tanpa berbasa-basi.
"Tapi ... emh, baiklah." Genio akhirnya mengalah setelah melihat tatapan menghujam milik gadis di hadapannya.
"Ayo!" paksa Audi sembari menarik tangan sang sopir.
Sementara Genio hanya bisa mengikuti langkah sang gadis dan menyetir mobil yang entah mau dibawa kemana.
Beberapa saat setelah mobil Audi keluar, masuk mobil Austin yang melaju dengan cepat ke halaman luas itu.
"Dokter," pekik Alya yang memang telah menunggu dari tadi.
"Ada apa dengan Marvel?" tanya Austin panik sembari mengikuti langkah Alya. Namun melihat Alya yang tidak naik ke lantai atas dan malah berbelok ke arah belakang tangga membuat pria itu mengernyit.
"Bukan tuan Marvel, tapi istrinya, Dokter."
"Ayla?"
Alya mengangguk, saat ini mereka telah tiba di depan pintu kamar Ayla.
"Bukankah ini gudang?"
"Sekarang adalah kamar Ayla."
"What? Apa Marvel sudah gila?"
"Sudah dokter, jangan membahas kegilaan tuan dulu. Lebih baik sekarang dokter periksa keadaan Ayla."
Austin mengangguk, pria itu melangkah masuk. Hatinya berdenyut nyeri kala melihat Ayla yang tertidur meringkuk di sebuah kasur tipis di antara tumpukan barang.
"Demamnya sangat tinggi, juga dehidrasi. Aku akan memberinya infus. Tapi kita harus memindahkannya terlebih dahulu dari tempat ini. Dia perlu tempat yang lebih nyaman."
"Baiklah, pindahkan ke kamarku saja."
"Akan lebih baik jika langsung membawanya ke rumah sakit."
Alya mengangguk. "Menurut dokter saja, baiknya bagaimana."
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama Austin meraih tubuh ringkih nan lemah itu ke dalam pelukannya. Membawa gadis itu keluar dari mansion itu untuk ia antar ke rumah sakit.
Namun siapa sangka baru keluar menuju teras, Austin langsung menerima hadiah sebuah bogem mentah dari suami sah wanita yang saat ini sedang ia rengkuh.
"Argh," pekik pria itu namun tetap mempertahankan tegak tubuh agar tidak tersungkur, terlebih ada Ayla yang berada di dalam dekapannya.
"Apa yang kau lakukan?" pekiknya marah.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Berani sekali kau menyentuh istriku," geram Marvel dengan suara dingin nan menusuk.
Austin tertawa kecil, ia balas tatapan tajam itu tanpa takut. "Istri yang tak kau anggap?"
"Kau."
"Jika kau sungguh tidak akan bisa tulus padanya, lepaskanlah! Aku yang akan menggantikan mu untuk memberinya perlindungan yang semestinya ia dapatkan darimu."
"Ken, usir dokter tidak tahu diri ini!" titah Marvel dengan penuh amarah.
"Baik, Tuan."
Marvel langsung mendorong tubuh Austin dengan kuat sembari merebut Ayla yang berada di dalam pelukan pria itu. Lalu berbalik dan melangkah tanpa menoleh lagi.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, aku harus menyelamatkannya," pekik Austin sembari meronta dari belenggu erat Kendrick.
"Tuan," pekik gadis itu menghentikan langkah Marvel yang sudah cukup jauh. Alya berlari kecil dan langsung bersimpuh di hadapan sang tuan.
"Ampuni saya, Tuan. Saya yang sudah meminta dokter Austin untuk melakukan pengobatan terbaik untuk nona Ayla. Ta-tapi saya mohon, jangan usir dokter Austin dulu sebelum dia mengobati nona Ayla, Tuan. Keadaan nona sedang sangat tidak baik," mohon Alya dengan berderai air mata, gadis itu memberanikan diri untuk menatap sang tuan yang sekarang seperti ingin membelah-belah tubuhnya.
Marvel menarik napasnya kasar, kedua netra hazel itu beralih menatap sang istri yang tampak bergemetar di dalam pelukannya.
"Biarkan dia mengobati istriku terlebih dahulu, setelah selesai minta dia segera tinggalkan mansion ini."
Kendrick mengangguk, kedua matanya menatap Alya yang tersenyum di antara air matanya yang berderai. Sementara Austin langsung berlari dan mengikuti langkah Marvel.
"Aku tidak menyangka, gadis kecil sepertimu berani menyanggah tuan Marvel," ujar Ken sembari tersenyum mengejek.
Alya bangkit dari posisinya, membalas tatapan Kendrick dengan tajam. "Apapun yang aku lakukan, tidak ada urusannya denganmu," desis gadis itu dengan amarah yang meluap-luap. Entah apa yang salah dengan mereka berdua, sepertinya ada dendam di masa lalu.
"Cih, aku tidak sabar melihat hari dimana sebuah peluru bersarang di kepalamu bila kau terus melawannya."
"Sudah kubilang, hidup dan matiku bukan lagi urusanmu sejak hari itu." Setelah berkata demikian Alya berjalan pergi, meninggalkan Kendrick yang berdiri dengan tatapan yang entah.
.
__ADS_1
.
.
Di sisi lain, Marvel membawa sang istri ke dalam sebuah kamar.
Tunggu, kenapa dia tiba-tiba peduli pada wanita ini? Marvel baru sadar.
"Eng," gumam Ayla tanpa sadar. Wanita itu menggeliat kecil dalam pelukan sang suami. Membuat sang empu menghentikan langkahnya sejenak dan menunduk serta menatap wajah wanita itu dalam.
Setelah dirasa Ayla tidak terbangun, ia kembali bergerak. Meletakkan wanita itu dengan pelan ke tempat tidur.
Sementara Austin yang mengikuti dari belakang tampak mengerutkan kening. Apakah ancamannya berhasil hingga membuat pria ini sedikit melunak?
Meski sedikit sedih, tapi ia tidak masalah. Setidaknya Ayla-nya tidak akan diperlakukan dengan buruk lagi.
"Aku sudah memasang infus padanya dan ini resep yang harus ditebus. Demamnya akan turun dalam beberapa waktu ke depan. Aku harap kau menjaganya dengan baik," pesan Austin sebelum meninggalkan ruangan itu.
Sementara Marvel bergeming, sedikitpun tidak menghiraukan penjelasan sang dokter. Malah dengan santai pria itu menyeruput secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaannya.
Melihat itu Austin menghela napasnya kasar. "Saat ini aku akan memberimu satu kesempatan lagi, tapi mungkin tidak untuk nanti meski persahabatan kita akan putus atau aku harus mati di tanganmu sekalipun."
Setelah berucap seperti itu, pria itu melangkah pergi. Meninggalkan Marvel yang menggenggam cangkir kopi panas itu dengan erat, mungkin sesaat lagi bisa retak jikalau suara dering ponsel tak mengalihkan atensinya.
"Hem."
Entah apa yang dikatakan orang di sebrang telepon, namun wajah pria itu tampak mengetat. Sesaat kemudian ia sudah bangkit dan berlalu dari kamar sang istri. Sebelum benar-benar menutup pintu, kedua mata hazel itu tampak menatap tubuh yang terbaring lemah itu.
"Jaga dia! Aku berikan kamu tugas untuk melayaninya mulai dari sekarang."
Alya yang sangat khawatir hingga menunggu di depan pintu kamar itu tampak melonjak ketika pintu itu terbuka tiba-tiba. Namun perkataan sang tuan membuat ia lebih terpanah lagi, apa maksudnya? Dia akan melayani Ayla? Apa ini artinya Ayla akan diperlakukan baik mulai sekarang?
Melihat Alya yang bergeming, membuat Marvel kesal. Tatapannya menghunus hingga menyadarkan lamunan gadis itu. "Eh, ba-baik, Tuan. Saya akan mengerjakan tugas saya dengan baik."
Mendengar itu Marvel mengangguk sekilas, dan tanpa kata pergi dari hadapan sang pelayan.
Sementara Alya yang ditinggalkan akhirnya bisa bernapas tenang, sambil mengelus dada gadis itu tersenyum senang. Meski sebagai seorang pelayan, mulai sekarang ia bisa menjaga Ayla dengan terang-terangan tanpa takut pada sang tuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1