
"Wah, besar sekali? Bahkan lebih besar dan mewah dari mansion keluarga Darier," gumam Genio setelah berdiri di hadapan sebuah mansion besar yang sangat mewah.
"Kau Genio?" sapa seorang satpam. Sebelumnya ia sudah diberitahu bahwa akan ada seorang pemuda bernama Genio yang datang hari ini.
"Ya," jawab Genio sembari mengangguk.
"Baiklah, ayo ikut saya. Nona Audi sudah menunggu di dalam."
Genio kembali mengangguk, semalam ia memang sudah dihubungi untuk datang kemari karena diterima sebagai sopir. Ya, sopir, sebuah pekerjaan yang tetap harus pria itu syukuri. Terlebih ia hanyalah seorang tamatan SMA.
"Bik, tolong sampaikan pada nona Audi kalau sopir barunya sudah datang," pinta satpam itu pada salah satu pelayan yang kebetulan sedang membersihkan ruang tamu.
"Baik, Bang." Bibi itu pun beranjak untuk naik ke lantai dua, tempat dimana kamar sang nona terletak.
"Dimana dia, Bik?" tanya Audi yang sudah tidak sabar. Dengan adanya sopir dia tidak akan terkurung di mansion mewah ini lagi.
"Itu dia, Nona," jawab sang bibi sembari menunjuk seorang pria yang berdiri membelakangi mereka.
"Hei," sapa Audi sembari menepuk keras punggung Genio. Membuat pria itu berjingkat dan membalik tubuhnya. Seketika ia tertegun.
Audi tersenyum lebar di depannya. "Kiara?" batin Genio merasa sedikit pusing. Dan ....
Brukkk.
Pria itu limbung ke arah Audi, namun gadis itu menghindar dan jadilah wajah Genio harus mencium lantai. "Aduh, kenapa kau tidak menangkap ku?" gerutu Genio dengan kesal.
"Kau berani bergerutu padaku? Aku ini bos mu loh," balas Audi dengan angkuh. Membuat kesadaran Genio kembali, pria itu lalu bangkit berdiri sendiri.
"Gadis ini bukan Kiara, sikap dan penampilan mereka sangat berbeda," batinnya sedih.
"Hello," pekik Audi sembari melambaikan telapak tangannya di depan wajah Genio yang malah melamun.
"Sepertinya kak Willy salah pilih deh. Masa sopirnya modelan gini, sih? Kesan pertama aja udah buruk. Apalagi nanti." Gadis itu bergerutu sebal, lalu merogoh ponselnya.
"Halo, Kak. Aku tidak mau sopir baru ini. Kakak carikan yang lain saja!" titah gadis itu membuat Genio membelalakkan matanya.
"Maaf, Nona. Tapi saat ini kami sedang sibuk, kalau Nona tidak mau nanti Nona cari sendiri saja. Itu juga kalau Nona tidak takut pada tuan," jawab Willy di sebrang sana.
"Huh, semuanya sama saja." Gadis itu menutup telponnya dengan kesal kemudian kembali mengarahkan pandangan pada Genio.
"Aku akan memberikan kamu satu kesempatan selama satu minggu. Kalau tidak cocok, aku tidak akan menerima mu. Bagaimana?" tawar Audi yang merasa tidak punya pilihan lain.
Daripada sang kakak sepupu marah, lebih baik ia mencari aman saja. Mungkin dalam seminggu dia bisa menemukan pengganti yang lebih baik.
Dan Genio pun mengangguk setuju. Pria itu masih belum bicara karena sejak tadi berusaha menekan keinginannya untuk mendekap gadis itu. "Dia bukan Kiara, Gen. Sadarlah!" batinnya memperingati.
.
.
__ADS_1
.
Di tempat lain, Ayla masih berkutat pada kumpulan bus itu. Wanita itu berjalan dengan tertatih dari satu bus ke bus lain, namun sama sekali tidak menemukan bus dengan tujuan Kota Lotus.
"Apa benar Kota Lotus itu tidak pernah ada?" batinnya sendu.
Krukkk, krukkk.
Kembali perutnya berbunyi, wanita itu refleks memegang perutnya yang keroncongan. Ia pun memutuskan untuk beristirahat dan duduk di sebuah kursi tunggu.
"Nona, apa aku boleh meminjam ponselmu? Aku mau menelpon, tapi ...." tanyanya pada seorang gadis berseragam SMA yang duduk di sebelahnya.
"Ini," ujar gadis itu memotong ucapan Ayla dengan ketus, namun tetap meminjamkan ponselnya.
"Terima kasih," balas Ayla sembari tersenyum senang.
Ia pun mengetikkan nomor mansion Lawrence di sana. Nomor yang telah ia hapal saat terakhir kali ditinggal Lucy dan berakhir tersesat.
Namun dicoba berulang, nomor itu tetap dinyatakan tidak terdaftar. Membuat gadis yang meminjamkan ponsel merasa kesal. "Itu nomor apa? Aku belum pernah lihat ada nomor dengan kode seperti itu."
"Ini nomor Kota Lotus?"
"Hah? Kota Lotus?"
Ayla pun mengangguk dan menoleh, namun gadis dihadapannya membuat kedua matanya berkaca-kaca. "Lucy," panggilnya sembari memeluk gadis itu.
"Lucy, kamu adalah Lucy."
"Bukan, aku bukan ... eh, wajah ini. Aku pernah lihat dimana ya?"
"Ya, aku Alice," balas Ayla dengan senang. Akhirnya ada seseorang yang bisa mengenalinya.
"Ayla, Ayla Navara. Aku adalah haters garis keras mu," pekik gadis itu terkejut
"Hey, semuanya. Ada Ayla Navara disini, ayo kita balaskan dendam kita karena telah membuat drama True Love menjadi sad ending." Gadis itu berteriak.
Mendengar ada Ayla Navara yang dinyatakan koma sejak satu tahun yang lalu disana. Semuanya pun berkerumun. "Itu sungguh Ayla?" tanya salah satu dari mereka dengan tatapan tak percaya.
"A-ada apa ini?" tanya Ayla sedikit takut, nyatanya tatapan mereka semua menghujamnya dengan tajam.
"Dia benar-benar Ayla. Hanya tubuhnya saja yang lebih kurus."
"Ayo kita serang, berani sekali dia membunuh pemeran utama kita."
Ayla yang melihat keadaan sudah tidak kondusif, berdiri dengan pelan dan memundurkan langkahnya. Dalam detik ketiga, gadis itu mengambil langkah seribu.
Namun, tentu dia tidak bisa menang. Terlebih tubuhnya lemah dan kakinya juga masih kurang bertenaga. "Ouch," pekiknya ketika harus tersungkur karena didorong oleh salah satu haters.
Pada akhirnya Ayla harus takluk, gadis itu diserang oleh para haters sampai pingsan dengan wajah yang memiliki banyak memar.
__ADS_1
"Hey, apa yang kalian lakukan?" teriak seseorang hingga kerumunan itu buru-buru berlari bubar.
"Ei, ei. Jangan menabrakku. Aduh," pekik gadis yang mirip Lucy itu. Gadis itu juga mau melarikan diri, namun tangannya sudah dicegat terlebih dahulu oleh seorang security.
"Mau kemana kau? Sekarang kau harus bertanggung jawab! Bawa wanita ini ke rumah sakit."
"Hey, kenapa jadi aku? A-aku hanya lewat saja tadi. Aku tidak ikut menyerangnya."
"Jangan mengelak, tadi saya melihat sendiri kalau kamu yang berteriak dan memprovokasi mereka untuk menyerang wanita ini."
"Jika kamu tidak mau bertanggungjawab maka saya akan bawa ini ke jalur hukum."
"Eh, kok gitu sih? I-iya deh, aku bawa ke rumah sakit."
"Dasar. Sudah jahat, menyusahkan lagi." Dengan bergerutu, gadis itu memapah tubuh Ayla yang pingsan.
"Apa aku tinggalin di jalan aja, ya?" gumamnya.
"Tidak, tidak. Kalau dia mati nanti aku bisa masuk penjara. Apalagi satpam tadi sudah melihat wajahku. Huaa, bisa-bisa aku dibunuh papa."
"Itu dia!" teriak seorang pria berpakaian hitam sembari menunjuk pada gadis yang bernama Calia Cellica itu.
"Ei, siapa mereka? Ke-kenapa malah berlari ke sini. Aduh, ini lagi berat banget, padahal badannya kurus."
"Hei, tunggu!"
Panik, Calia menjatuhkan Ayla kembali di kursi tunggu. Dan ia berlari dari sana, namun sekuat apapun dia berlari entah kenapa tidak berpindah tempat sama sekali.
"Mau kemana?" tanya Willy saat Calia memandang ke arahnya.
"Hehe, Om. Eh, Kakak tampan. Tolong lepaskan kerah ku dulu."
"Kenapa? Sesak?" Dan Calia hanya bisa mengangguk.
"Baiklah." Willy melepaskan kerah gadis itu, tapi langsung menarik tangannya.
"Eh."
"Kau pikir bisa lari? Lihatlah apa yang kau lakukan pada nona kami, dia sampai pingsan seperti itu. Jadi kau harus bertanggungjawab, ayo!" marah Willy sembari menarik tangan Calia.
"Eh, a-aku ini masih anak SMA loh. A-aku bisa melaporkan Om dengan kasus penculikan anak di bawah umur."
"Kalau begitu laporkan saja," balas Willy sembari tersenyum smirk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1