
"Ayla, kau tidak papa? Tadi aku melihat Alya tergesa-gesa, namun aku tidak sempat bertanya karena harus mengantar nona Audi," ucap Genio sembari menghampiri Ayla yang berada di dapur paviliun. Ya, gadis itu mulai membangkang, ia pindah ke paviliun tanpa persetujuan sang suami.
Lagian ia tidak perlu takut lagi pada Marvel, karena beberapa kali Marvel bisa membunuhnya namun tak pria itu lakukan. Ayla yakin Marvel tak akan menghabisinya sebab masih berharap ia mengetahui keberadaan gadis bernama Lala itu.
"Aku baik-baik saja, Genio," balasnya dengan senyuman lebar. Menampilkan lesung pipi juga gigi gingsul yang terlihat sangat manis. Bahkan pria itu sampai tertegun sejenak menghadapi pesona itu.
"Hem, ka-kamu jangan tersenyum seperti itu. Nanti yang lihat bisa diabetes," candanya untuk menetralisir rasa kagum.
Namun bukannya berhenti, Ayla malah semakin tersenyum. Saling berbalas candaan dengan pria itu hingga suara tawa menghiasi dapur paviliun.
Para pelayan pun tak berani mengganggu karena telah diblokir Alya di depan pintu. Jarang-jarang ia bisa melihat sang nona bisa tersenyum dan tertawa seperti itu. Kebahagiaan Ayla entah kenapa membuatnya merasa bahagia pula, dan ia akan menjaga itu.
.
.
.
Ayla sedang duduk bersandar di sebuah kursi di balkon kamarnya. Ya, kamar sesungguhnya, kamar yang layak disebut kamar. Bukan lagi sebuah gudang dengan kardus atau kasur tipis sebagai alas tempat tidur.
Sembari memegang sebuah pulpen, wanita itu menghitung sudah berapa hari ia berada dalam belenggu seorang Marvelio Prado.
Empat puluh satu hari sudah sejak ia mulai melawan sang suami. Sejak ia dipaksa tidur di kamar luas ini, kamar di lantai dua mansion yang bersebelahan dengan kamar Audi. Gadis yang entah kenapa sangat membencinya, bahkan sering mencari masalah dengannya.
Sedangkan dengan Marvel, pria itu tetap sama, kejam dan pemaksa.
Hari mulai gelap, dari balkon itu terlihat jelas tiga mobil masuk berurutan ke dalam mansion. Ayla menghembuskan napasnya kasar, pria kejam itu sudah pulang kerja. Dan pekerjaan sudah menunggunya.
Dengan wajah datar nan dingin wanita itu menyiapkan semuanya. Air hangat untuk mandi, sebuah setelan piyama tidur hingga nanti menyiapkan makan malam.
Sejak beberapa hari terakhir Marvel memang sedikit melunak. Pria itu tak lagi menyiksanya jika ia mau patuh dan mendengar perintah pria itu. Ya, sudah Ayla putuskan untuk sedikit patuh agar tidak terlalu diawasi, sehingga ia bisa punya celah untuk kabur.
"Tuan," sapa Ayla setelah pria itu berjalan masuk ke dalam kamar. Ya, kamar pria itu kini boleh Ayla masuki, dan Marvel telah mengatur semuanya. Kini Ayla bukan lagi orang asing bagi si plafon.
"Cuci ini!" ujar Marvel sembari melempar kemeja berwarna maroon padanya.
"Tidak tahu malu," batin Ayla seraya membuang tatapannya pada dada telanjaang sang suami.
"Air hangatnya sudah saya siapkan," ujar Ayla. Setelah mengatakannya, gadis itu berbalik kemudian pergi dengan tak acuh.
__ADS_1
Dan Marvel tidak peduli, baginya asalkan Ayla tidak bertingkah dan sering melawannya seperti beberapa minggu yang lalu itu sudah lebih cukup.
"Hey, wanita jalaang," pekik Audi membuat Ayla memutar kedua bola matanya malas. Ia sedang tidak punya mood untuk meladeni gadis pembuat masalah yang sialnya mirip Kiara itu.
"Kau berani mengabaikan ku?" pekik Audi sembari berlari mengejar Ayla. Jangan lupakan Daisy sang provokator pun dengan senang hati mengikuti dari belakang.
"Argh, kau. Lepaskan aku!" pekik Ayla. Audi kembali menarik rambutnya dengan keras. Dan kali ini ia tidak akan tinggal diam, wanita itu balas melakukan hal yang sama.
"Argh, jalaang. Kau berani melawanku?"
"Ayo Nona Audi, lebih keras lagi!" pekik sang pelayan dengan tidak tahu dirinya.
"Lepaskan aku jalaang!"
"Kau yang lepaskan aku!"
"Kau pikir aku rela setiap hari melihatmu menggoda kakakku, hem?"
"Aku tidak menggodanya."
Di sisi lain, Genio tengah menaiki tangga setelah sayup-sayup mendengar keributan di lantai tiga yang tidak pernah ia sambangi.
Melihat itu membuat Daisy tersenyum smirk. Dengan gerakan cepat ia ikut dalam pertempuran itu, seakan ia ikut menjambak Ayla namun nyatanya ia mendorong tubuh sang majikan.
"ARGHH."
"NONA...," pekik Genio. Pria itu berlari ke atas dan berhasil menangkap tubuh Audi yang berguling ke bawah.
"Nona, nona tidak papa?" tanya Genio dengan wajah pucat, pucat karena takut terjadi apa-apa pada Audi.
"Kamu tidak papa?" tanya Ayla yang telah berdiri di hadapannya, membuat Audi mendengus.
Genio pun membantu Audi untuk duduk di salah satu anak tangga dengan memegang kedua lengannya. Tampak raut khawatir menghiasi wajah tampan itu, terlebih kedua matanya telah berkaca-kaca.
"Shiit, sakit bodoh!" maki Audi merasakan sakit pada lengan kanannya. Dengan kasar ia menghempas tangan Genio.
Mendengar makian itu Ayla akhirnya bisa bernapas lega, masih bisa memaki tentu Audi baik-baik saja. Dilihat dari kondisinya pun Audi memang tidak terluka, terlepas dari lengan kanannya yang terus ia elus dari tadi.
"Seharusnya kamu berterima kasih pada Genio, karena dia lah kamu tidak harus berguling ke ujung tangga," protes Ayla yang tidak terima sahabat baiknya itu dibentak-bentak.
__ADS_1
"Tau apa kau? Kau kan yang sengaja mendorongku," balas Audi dengan nada tinggi.
"Enak saja...."
"Ada apa ini?"
Tubuh Ayla terasa menegang kala mendengar interupsi suara dingin di belakangnya. Entah kenapa ia merasa ada hal buruk yang akan terjadi, terlebih Audi tiba-tiba malah menangis.
"Audi," pekik Marvel tanpa sadar, raut wajahnya cemas tatkala melihat keadaan sang adik sepupu yang berantakan dengan lengan kanan yang seperti nya terluka.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya pria itu dengan suara dingin menusuk.
"Jalaang itu kak, dia yang mendorongku," adu Audi dengan tangis yang semakin menjadi.
"Kau," geram Marvel menatap tajam pada Ayla.
"A-aku tidak, bukan aku yang mendorongnya. Aku, aku ...."
PLAK.
Suara tamparan keras itu terdengar sangat nyaring. Membuat semua yang ada di sana tertegun termasuk Audi yang tidak mengira sang kakak akan melakukan hal itu.
Diam-diam Daisy tersenyum senang, inilah tujuannya mencelakai Audi. Audi adalah adik kesayangan sang tuan yang tidak boleh tersentuh siapapun. Dengan membuat Audi terluka, siapapun itu Marvel tak akan memandang bulu lagi.
"Sepertinya aku sudah terlalu lunak padamu beberapa hari ini, sehingga kau mulai berani bahkan mencelakai adikku."
Dengan memegang pipinya memerah juga sudut bibir yang mengeluarkan darah, Ayla mendongak dan membalas tatapan Marvel tak kalah tajam meski ada genangan air mata di sana.
"Aku tidak pernah mendorong adikmu," pekik gadis itu tidak terima.
"Benar, Tuan. Saya melihatnya sendiri kalau Ayla tidak mendorong nona Audi." Genio mencoba membela Ayla.
"Kau diamlah!" bentak Audi yang merasa bahagia melihat jalaang itu menderita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc
🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1