
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini," ujar Genio pada seseorang yang sedang ia hubungi.
Pria itu berjalan dengan pelan, keluar dari paviliun menuju taman dan duduk di sebuah kursi panjang.
Dari kejauhan tampak seseorang mengawasi, Kendrick berdiri dengan tatapan dingin disana.
"Apakah dia pengkhianatnya?" batin pria itu.
Bukan tanpa alasan ia mencurigai Genio. Pasalnya pria itu begitu mudah mendapat pekerjaan di keluarga ini, ditambah Genio lumayan akrab dengan semua pelayan, terlebih juga pada nona Audi dan Ayla.
Kendrick terus memperhatikan setiap pergerakan Genio yang kini memainkan sebuah bolpoin di tangan dengan atensi yang terus terpatri pada ponselnya.
"Shiit, itu bukan bolpoin biasa," geram Kendrick yang menyadari kalau bolpoin itu bisa digunakan untuk merekam suara.
Dengan amarah membuncah pria itu menghampiri Genio yang telah ia yakini sebagai penyusup tak tahu diri itu.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membekukku?" pekik Genio sembari meronta, dirinya merasa tidak ada salah sehingga patut diperlakukan seperti itu.
Bugh.
"Argh, apa yang kau lakukan?"
Bugh, bugh, bugh.
"Sakit, bodoh! Kau mau apa sebenarnya. Argh."
Di tempat lain Ayla tengah memperhatikan keadaan sekitar dari balkon kamarnya. "Kenapa mereka berkumpul disana?" gumamnya melihat beberapa pengawal yang berjaga sedang berdiri di taman.
Melihat keadaan sekitar yang sepi membuat gadis itu seakan mendapat sebuah lampu terang di kepalanya. Sepi? Artinya ia bisa kabur.
Memandang jarak antara balkon dengan halaman di bawah membuatnya sedikit bergidik. Namun tidak apa, usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan.
Terburu-buru gadis itu mengunci pintu kamar, lalu beralih melepas gorden jendela hingga tirai balkon. Kemudian mengikatnya dengan erat.
Senyum menghiasi wajah itu kala ia berhasil membentangkan kain-kain yang disambung sampai di halaman bawah.
Bruk.
Berhasil, langkah pertama terlewati. Akhirnya ia bisa keluar dari sangkar emas berdalih mansion itu.
"Siapa disana?" pekik seorang pengawal membuat gadis itu terlonjak. Buru-buru ia berlari hingga bersembunyi di belakang paviliun.
"Ah, sial," umpatnya tertahan kala melihat bayangan-bayangan orang dari pantulan cahaya jendela yang belum tertutup.
"Aku tidak menyangka Genio yang humble itu seorang pengkhianat," ujar salah satu pelayan yang berhasil ditangkap indra pendengar Ayla.
"Genio pengkhianat?" batinnya.
"Benar, aku rasa dia tidak akan selamat. Apalagi tuan Marvel mendapat serangan karena dia."
Sejenak Ayla menjadi cengo.
Pengkhianat?
Diserang?
Apa Genio baru saja difitnah?
Ya, difitnah. Demi apapun Ayla tidak akan percaya jika Genio seorang pengkhianat. Pria itu begitu polos dengan segala candaan dan pemikiran sederhananya.
Dalam lamunannya, terdengar suara hentakan kaki yang lebih dari satu orang. Ayla waspada, para pengawal sedang bergerak kemari.
__ADS_1
"Cepat cari nona Ayla dan pengkhianat itu sampai ketemu!" geram Kendrick dengan napas memburu. Tidak hanya kehilangan Genio yang berhasil mengelabui ia dan para pengawal lain, Ayla juga berhasil kabur.
Lantas bagaimana cara ia menjelaskan semuanya pada sang tuan yang sedang dalam perjalanan pulang itu? Bisa-bisa ia akan dijadikan santapan lezat para binatang peliharaan sang tuan.
Krak.
"Sial," umpat Ayla saat tidak sengaja menginjak sesuatu, entah itu ranting atau daun kering.
"Disana."
Ayla berlari kencang, namun para bodyguard yang mengejar juga tak kalah kencang bahkan lebih kencang.
"Ouch." Keadaan yang gelap membuat wanita itu tersungkur, sementara anak buah Marvel hanya berjarak beberapa meter.
Tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Ayla dibawa berlari seperti melayang di udara, sangat cepat. "Pelan-pelan, aduh," pekik gadis itu, menyadari yang menariknya adalah Genio.
"Tidak ada waktu untuk pelan, Lak," balas Genio dengan napas tak beraturan. Pria itu terus menarik Ayla menuju gerbang utama.
"Ada mobil yang akan masuk, kita harus cepat!"
Genio membawa Ayla bersembunyi di balik sebuah pohon dekat gerbang. Terbiasa keluar masuk kediaman ini, membuat pria itu lumayan familiar dengan tempat-tempat seperti itu.
"Kau sembunyi disini, saat mobil-mobil itu masuk kau keluar lah. Ingat, keluar saat mobil terakhir masuk agar kau tidak terlihat!"
Ayla mengangguk, "Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka dulu, setelah itu aku akan menyusul mu."
"Tidak, tidak boleh. Apa kau yakin tidak akan tertangkap?"
"Kau tenang saja, aku kan pandai mengalihkan perhatian."
Ayla menggeleng, kedua tangannya menggenggam tangan kanan Genio dengan erat.
Genio menarik tangannya, namun Ayla masih menggenggamnya kencang dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku akan baik-baik saja, percayalah!"
Setelah itu Genio menarik tangannya dengan kuat hingga genggaman Ayla terlepas, kemudian pria itu berlari.
"Itu dia." Gerombolan pengawal mengejar, sementara beberapa mobil berderet memasuki gerbang tinggi mansion itu.
Kriet.
Gerbang terbuka otomatis. Satu per satu mobil dengan harga fantastis itu berangsur-angsur masuk melewati Ayla yang semakin menempelkan tubuhnya pada pohon besar itu.
Sekitar sepuluh mobil hingga tak terlihat ada cahaya yang mengikuti lagi. Sudah mobil terakhir dan gerbang akan segera menutup, namun Ayla bergeming. Kedua netra indah itu terus menatap keberadaan Genio yang entah hilang kemana.
Ragu-ragu Ayla melangkah, mobil terakhir telah masuk dan gerbang mulai bergerak menutup. Di saat ia telah memantapkan hati untuk berlari keluar, suara teriakan yang terdengar pilu memenuhi pendengarannya.
Dor.
"ARGHH."
"Genio."
Gadis itu berbalik, terlihat beberapa pengawal tengah menatapnya dengan datar.
...
"Katakan, siapa yang menyuruhmu!" tanya Marvel dengan dingin, tanpa peduli keberadaan seorang dokter wanita yang membalut lengannya. Ya, bukan Austin, karena Enzo lah yang memanggilnya kemari.
"Aku bukan pengkhianat, sudah berapa kali aku bilang," jawab Genio kukuh pada pendiriannya. Sesekali mendesis kesakitan saat seorang pengawal menekan kakinya yang tertembak.
__ADS_1
Marvel tersenyum smirk, senyuman dengan sudut bibir kanan yang sangat menyeramkan. Pria itu berdiri dan mengambil sebuah cambuk dari Kendrick. Melihat itu, Genio mendelik takut. Begitu juga dengan Ayla dan semua pelayan.
Sementara ketiga sahabat Marvel hanya duduk santai di sofa tanpa mau ikut campur. Enzo bahkan lebih tertarik dengan wanita yang kedua tangannya sedang ditahan seorang pengawal. Wanita yang memandang penuh kebencian pada sahabatnya.
"Menarik," batin pria itu.
"Masih tidak mau mengaku?"
"Mengaku apa? Aku memang tidak melakukan kesalahan apapun, lantas apa yang harus aku akui?"
Plak.
"Argh."
Ayla menggertakkan giginya.
Plak, plak, plak.
"Argh, aku tidak melakukan kesalahan apapun," geram Genio marah.
Plak.
"Hentikan!" pekik Ayla menginterupsi. Wanita itu meronta melepaskan diri dan berlari menghampiri Genio yang kini terbaring tidak berdaya dengan tubuh terbelenggu tali.
"Kau, pria bajiingan, bedebah, laknat, pria iblis. Hentikan menyiksa Genio lagi!" teriaknya dengan keras.
"Haha ... Hahahaha." Suara tawa Marvel menggema.
"Aku bahkan belum membuat perhitungan denganmu yang berani kabur. Sekarang kau sok berlagak menjadi tameng pria lain?" lanjutnya dengan suara meninggi.
"Dia tidak bersalah, aku percaya padanya. Genio tidak mungkin berkhianat."
"Baiklah, kau begitu membelanya? Kalau begitu kita lihat, dia akan mengaku atau tidak jika yang ku cambuk adalah kau."
Marvel mengangkat cambuknya, bersiap memberi Ayla sebuah luka panjang di punggung.
Plak.
"Argh."
"Genio."
"Oh, apa di belakangku kalian berselingkuh? Sampai pria ini tidak rela membiarkan mu terluka?" Semakin marah saja pria itu. Jika kepalanya bisa keluar tanduk, maka tanduk merah akan bersarang di sana.
Ia genggam erat cambuk di tangannya. Kali ini akan ia habisi pengkhianat itu.
Plak.
"Ayla."
Ayla bergeming, wanita itu tak sedikitpun berteriak sakit. Kedua tangannya memeluk tubuh lemah Genio dengan erat.
Sementara Marvel tercengang. Bukan karena Ayla yang berani mengorbankan diri untuk Genio. Tapi cambukan yang ia lakukan berhasil membuat kaos yang dikenakan wanita itu sedikit tersingkap.
Sebuah tanda bulan sabit di pinggang kirinya menyembul.
"Lala?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼